SEJARAH ULUMUL QURAN

SEJARAH ULUMUL QURAN[1]                                                                                                                                             Oleh : Khoirawati

 

  1. PENDAHULUAN

Alquran adalah mukjizat Islam yang abadi di mana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah SWT. membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya Ilahi dan menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW., demi membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah menyampaikannya kepada para sahabatnya sebagai penduduk asli Arab yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat yang mereka terima, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah.

Berbicara tentang sejarah, tentu saja yang ada dalam benak kita adalah kita seakan lari ke masa lalu, dengan kembali mengorek-ngorek fakta yang ada. Mempelajari sejarah diumpamakan seperti mencari mutiara di tengah lautan, sulit memang, namun akhir dari pencarian itu menjadi asa bagi mereka yang benar-benar mempelajarinya. Apalagi tentang Sejarah Ulumul Quran yang akan dipaparkan dalam makalah ini. Ulumul Quran atau ilmu-ilmu Alquran adalah suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan dengan kajian-kajian Alquran seperti; pembahasan yang berhubungan dengan Alquranul Majid yang abadi, baik dari segi penyusunannya, pengumpulannya, sistematikanya, perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyah, pengetahuan tentang nasikh dan mansukh, pembahasan tentang ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat, serta pembahasan-pembahasan lain yang berhubungan dan ada sangkut pautnya dengan Alquranul ‘Azhim.[2]

Adapun tujuan dari studi ilmu ini ialah : Pertama, agar dapat memahami Kalam Allah SWT., sejalan dengan keterangan dan penjelasan dari Rasul SAW., serta sejalan pula dengan keterangan yang dikutip oleh para sahabat dan tabi’in tentang interpretasi mereka perihal Alquran. Kedua, agar mengetahui cara dan gaya yang dipergunakan oleh para mufassir (ahli tafsir) dalam menafsirkan Alquran dengan disertai sekedar penjelasan tentang tokoh-tokoh ahli tafsir yang ternama serta kelebihan-kelebihannya. Ketiga, agar mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan Alquran. Keempat, agar mengetahui ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan untuk itu.[3]  Misalnya ilmu tafsir.

Ilmu tafsir penting sekali bagi kita untuk mengetahui secara singkat tentang ilmu-ilmu Alquran dan segala yang terkandung di dalamnya,[4] serta mendorong kita untuk mengetahui hal-hal yang menunjang pemahaman Alquran yang mulia ini, berupa usaha maksimal, kesungguhan yang optimal dalam pembahasan Alquran.

Kemunculan inovasi dalam bidang keilmuan adalah hal niscaya. Tapi, inovasi tersebut tidak mungkin dilakukan jika tanpa pengetahuan atas struktur dan konstruk ilmu yang hendak dikembangkan tersebut. Ulumul Quran misalnya, semenjak awal penyusunan dan sistematisasinya dari dulu hingga sekarang, muatan metodologi dan isi Ulumul Quran relatif tidak mengalami perubahan bahkan sangat cenderung reproduktif terhadap karya-karya sebelumnya.[5] Kecenderungan ini terjadi bukan tanpa alasan. Asumsi-asumsi pendahulu yang melatarbelakangi penyusunan Ulum Alquran dipastikan merupakan landasan tolak dalam pengembangannya. Dan jika diperhatikan, kecenderungan reproduktif sangat kental dalam Ulumul Quran. Sehingga ketika dihadapkan pada realitas kekinian mengalami degradasi relevansi. Para penulis Ulumul Quran yang belakangan sepertinya kurang abai terhadap keterlibatan historitas dalam setiap aktivitas, baik yang sifatnya keilmuan atau yang lainnya. Padahal, bagaimanapun juga rumusan (pemahaman) Islam baik dalam ranah keagamaan maupun keilmuan, termasuk Ulumul Quran, pada dasarnya terbentuk secara kultural dan sosial (culturally and socially constructed).

As-Suyuthi  mengatakan bahwa dalam Ulumul Quran yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Alquran masih sedikit atau bisa dikatakan tidak ada seorang ulamapun yang membahas tentangnya. Karena inilah ia memberanikan diri untuk menulis kitab mengenai ulumul Quran.[6] Dengan menggunakan metode istiqsha’ (sangat mendalam dan meluas).[7]

Makalah ini akan mencoba memaparkan bagaimana sejarah perkembangan Ulumul Quran, bagaimana lahirnya istilah Ulumul Quran, dan pembagian serta cabang-cabang Ulumul Quran.

 

  1. PERKEMBANGAN ULUMUL QUR’AN

Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, Ulumul Quran tidak lahir sekaligus. Ulumul Quran menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Alquran dari segi keberadaannya dan segi pemahamannya. Makalah ini akan memaparkan perkembangan Ulumul Quran pada masa Rasulullah SAW., masa Khulafa al-Rasyidin, dan masa Tadwin (Penulisan Ilmu).

 

1.      Perkembangan Ulumul Quran Pada Masa Rasulullah SAW

Pada masa Rasulullah SAW. ini Alquran belum dibukukan. Di masa Rasulullah SAW. dan para sahabat, Ulumul Quran belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Pada masa Rasulullah SAW., Ulumul Quran dipelajari secara lisan, hal ini berlangsung terus sampai beliau wafat.[8] Karena para sahabat yang menerima Alquran asli orang Arab dengan keistemewaan hafalan yang kuat, kecerdasan, kemampuan menangkap makna yang terkandung dalam Alquran. Para sahabat adalah orang-orang Arab asli yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Bila mereka menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasulullh SAW.

Sebagai contoh, ketika turun ayat :

óOs9ur (#þqÝ¡Î6ù=t OßguZ»yJÎ) AOù=ÝàÎ/

“Dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman …” (QS Al-An’am (6): 82). Para sahabatnya bertanya: “Siapa dari kami yang tidak menganiaya (menzalimi) dirinya !”. Nabi menjawab, “Pemahamannya tidak seperti yang kalian maksudkan, tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan seorang hamba yang soleh kepada anaknya”.[9] Nabi menafsirkan kata zulm di sini dengan syirk berdasarkan ayat di bawah ini :

(cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã

“Sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar” (QS Luqman (31): 13). “

Adapun tentang kemampuan Rasulullah SAW. memahami Alquran tentunya tidak diragukan lagi karena ialah yang menerimanya dari Allah dan Allah yang mengajari segala sesuatunya.

Dengan demikian ada tiga faktor yang menyebabkan Ulumul Quran tidak dibukukan di masa Rasulullah SAW. dan sahabat. Pertama, kondisinya tidak membutuhkan karena kemampuan mereka yang besar untuk memahami Alquran dan Rasulullah SAW. dapat menjelaskan maksudnya. Kedua,  para sahabat sedikit sekali yang pandai menulis. Ketiga, adanya larangan Rasul untuk menuliskan selain Alquran. Semua ini merupakan faktor yang menyebabkan tidak tertulisnya ilmu ini baik di masa Nabi SAW. maupun di zaman sahabat.[10]

Sebagian besar para sahabat Nabi terdiri dari orang-orang buta huruf, dan alat tulis menulis pun tidak dapat mereka peroleh dengan mudah. Itu juga merupakan halangan bagi kegiatan menulis buku tentang ilmu Alquran.[11]

Di lain pihak ada larangan dari Rasulullah SAW., untuk menuliskan selain Alquran. Hal ini seperti diriwayatkan oleh Muslim yang berbunyi :

ﻻﺘﻜﺘﺒﻭﺍﻋﻨﻰﻭﻤﻥﻜﺘﺏﻋﻨﻰﻏﻴﺭﺍﻠﻘﺭﺍﻥﻓﻠﻴﻤﺤﻪﻭﺤﺩﺜﻭﺍﻋﻨﻰﻭﻻﺤﺭﺝﻭﻤﻥﻜﺫﺏﻋﻠﻲﻤﺘﻌﻤﺩﺍﻓﻠﻴﺘﺒﻭﺃﻤﻘﻌﺩﻩﻤﻥﺍﻠﻨﺎﺭ

Artinya : “Janganlah sekali-kali kalian menulis apapun dariku. Dan barang siapa yang menuliskan selain Alquran maka harus menghapusnya, dan ceritakanlah apa yang kalian dengar dariku karena itu tidak apa-apa, barang siapa yang berbohong kepadaku dengan sengaja maka bersiaplah untuk mencari tempat duduk di neraka”.[12]

Larangan beliau itu didorong kekhawatiran akan terjadinya pencampuran Alquran dengan hal-hal yang bukan dari Alquran. Pada masa Rasulullah SAW., penulisan Alquran dilakukan oleh beberapa penulis wahyu yaitu Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Muawiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin dan sebagainya.[13]

 

2.      Perkembangan Ulumul Quran Pada Masa Khulafa al Rasyidin 

Pada zaman kekhalifaan Abu Bakar dan Umar, ilmu Alquran masih diriwayatkan melalui penuturan secara lisan.[14] Ketika Abu Bakar Shiddiq menjadi khalifah terjadi pertempuran yang sangat sengit antara kaum muslimin dengan pengikut Musailamah al-Kadzab yang menimbulkan banyak korban. Di pihak muslimin ada tujuh puluh penghafal Alquran yang gugur, sehingga Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menuliskan Alquran dalam satu mushaf.[15] Pada mulanya Abu Bakar merasa ragu untuk menerima usul Umar tersebut dan memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk menuliskan Alquran dalam bentuk mushaf.

Ketika di zaman Utsman di mana orang Arab mulai bergaul dengan orang-orang non Arab, pada saat itu Utsman memerintahkan supaya kaum muslimin berpegang pada mushaf induk dan membuat reproduksi menjadi beberapa buah naskah untuk dikirim ke daerah-daerah. Bersamaan dengan itu ia memerintahkan supaya membakar semua mushaf lainnya yang ditulis orang menurut caranya masing-masing.[16]

Di zaman Khalifah Utsman wilayah Islam bertambah luas sehingga terjadi perbauran antara penakluk Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa Arab dari bangsa Arab. Bahkan dikhawatirkan akan terjadinya perpecahan di kalangan kaum Muslimin tentang bacaan Alquran yang menjadi standar bacaan bagi mereka. Untuk menjaga terjadinya kekhawatiran itu, disalinlah dari tulisan-tulisan aslinya sebuah Alquran yang disebut Mushhaf Imam. Dengan terlaksananya penyalinan ini maka berarti Utsman telah meletakkan suatu dasar Ulumul Qur’an yang disebut Rasm al-Qur’an atau Ilm al Rasm al-Utsmani.[17]

Di masa Ali bin Abu Thalib terjadi perkembangan baru dalam bidang ilmu Alquran. Karena banyaknya melihat umat Islam yang berasal dari bangsa non-Arab, kemerosotan dalam bahasa Arab, dan kesalahan dalam pembacaan Alquran, Ali menyuruh Abu al-Aswad al-Duali (w.63 H.) untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab. Hal ini dilakukan untuk memelihara bahasa Arab dari pencemaran dan menjaga Alquran dari keteledoran pembacanya. Tindakan khalifah Ali ini dianggap perintis bagi lahirnya ilmu Nahwu dan I’rab Alquran.[18] 

 

 

3.      Perkembangan Ulumul Quran Pada Masa Tadwin (Penulisan Ilmu)

Setelah berakhirnya zaman khalifah yang Empat, timbul zaman Bani Umayyah. Kegiatan para sahabat dan Tabi’in terkenal dengan usaha-usaha mereka yang tertumpu pada penyebaran ilmu-ilmu Alquran melalui jalan periwayatan dan pengajaran secara lisan, bukan melalui tulisan atau catatan. Kegiatan-kegiatan ini dipandang sebagai persiapan bagi masa pembukuannya. Orang-orang yang paling berjasa dalam periwayatan ini adalah; khalifah yang Empat, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Zaid ibn Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah ibn al-Zubair dari kalangan sahabat. Sedangkan dari kalangan Tabi’in ialah Mujahid, ‘Atha, ‘Ikrimah, Qatadah, Al-Hasan al-Bashri, Sa’id ibn Jubair, dan Zaid ibn Aslam di Madinah. Dari Aslam ilmu ini diterima oleh putranya Abdul Rahman bin Zaid, Malik ibn Anas dari generasi Tabi’i al-tabi’in. Mereka ini semua dianggap sebagai peletak batu pertama bagi apa yang disebut ilmu tafsir, ilmu asbab al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu gharib Alquran dan lainnya.[19]

Kemudian, Ulumul Quran memasuki masa pembukuannya pada abad ke-2 H. Para ulama memberikan prioritas perhatian mereka terhadap ilmu tafsir karena fungsinya sebagai Umm al-‘Ulum al-Qur’aniah (Induk Ilmu-ilmu Alquran). Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syu’bah Ibn al-Hajjaj[20], Sufyan ibn Uyaynah[21], dan Waqi’ Ibn al-Jarrah[22]. Kitab-kitab tafsir mereka menghimpun pendapat-pendapat sahabat dan tabi’in.

Pada abad ke-3 menyusul tokoh tafsir Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H.).         Al-Thabari adalah mufassir pertama membentangkan bagi berbagai pendapat dan mentarjih  sebagiannya atas lainnya. Ia juga mengemukakan  i’rab dan istinbath (penggalian hukum dari Alquran). Di abad ke-3 ini juga lahir ilmu asbab al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu tentang ayat-ayat Makkiah dan Madaniah. Guru Imam al-Bukhari, Ali Ibn al- Madini[23]  mengarang asbab al-nuzul; Abu Ubaid al-Qasim Ibn Salam (w.224 H.) mengarang tentang nasikh dan mansukh, qirrat dan keutamaan-keutamaan Alquran. Muhammad Ibn Ayyub al-Dharis menulis tentang kandungan ayat-ayat yang turun di Mekkah dan Madinah[24]; Muhammad Ibn Khalaf Ibn al-Mirzaban (w. 309 H) mengarang kitab al-Hawi fi ’Ulum al-Qur’an.[25]

Di abad ke-4 lahir ilmu gharib al-Qur’an dan beberapa kitab Ulumul Quran. Di antara tokoh-tokoh Ulumul Quran ini ialah Abu Bakar Muhammad Ibn al-Qasim al-Anbari (w. 328 H.) dengan kitabnya ‘Ajaib ulum al-Qur’an. Di dalam kitab ini      al-Anbari berbicara tentang keutamaan-keutamaan Alquran,  turunnya atas tujuh huruf, penulisan mushhaf-mushhaf, jumlah surah, ayat, dan kata-kata Alquran.  Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H.) mengarang al-Mukhtazan fi’ulum al-Qur’an (Yang Tersimpan di Dalam Ilmu Alquran), kitab yang berukuran besar sekali.[26] Abu Bakar al-Sijistani[27] mengarang Grarib al-Qur’an; Abu Muhammad al-Qashshab Muhammad Ibn Ali al-Kharkhi (w. 360 H.) mengarang Nukat al-Qur’an al-Dallah ’ala al-Bayan fi Anwa’ al-‘Ulum wa al-Ahkam al-Munbiah ’an Ikhtilaf        al-Anam(Titik-Titik Alquran Menunjukkan Kejelasan Tentang Berbagai Ilmu dan Hukum yang Memberitakan Perbedaan Pikiran Insani)[28]; dan Muhammad Ibn Ali al-Adfawi (w. 388 H.) mengarang Al-istghna’ fi ’Ulum al-Qur’an (Kebutuhan Akan Ilmu Alquran).[29]

Di abad ke-5 muncul pula beberapa tokoh ilmu qirrat, di antaranya ialah     Ali Ibn Ibrahim Ibn Sa’id al-Hufi[30] mengarang Al-Burhan fi ’Ulum al-Qur’an dan i’rab al-Quran. Abu Amral-Dani (w. 444 H.) menulis kitab Al-Taisir fi al-Qiraat al-Sab’i dan Al-Mukham fi al-Nuqath. Dalam abad ini juga lahir ilmu amtsal al-Qur’an yang di antara lain dikarang oleh Al-Mawardi (w. 450 H.).[31]

Pada abad ke-6, di samping banyak ulama yang melanjutkan pengembangan ilmu-ilmu Alquran yang telah ada, lahir pula ilmu mubhamat al-Qur’an. Abu al-Qasim Abd al-Rahman al-Suhaili[32] (w. 581 H.) mengarang Mubhamat al-Qur’an. Ilmu ini menerangkan lafal-lafal Alquran yang maksudnya apa dan siapa tidak jelas. Misalnya kata rajulun (seorang lelaki) atau malikun (seorang raja). Ibn al-Jauzi ( w.597 H.) menulis kitab Funun al-Afnan fi’Ajaib al-Qur’an dan kitab Al-Mujtaba fi ’Ulum Tata’allaq bi al-Qur’an.[33]

Pada abad ke-7 Abd al-Salam yang terkenal dengan sebutan Al-‘Izz              (w. 660 H.) mengarang kitab Majaz al-Qur’an. ’Alam al-Din al-Sakhawi (w. 643 H.) mengarang tentang qirrat. Ia menulis kitab Hidayah al-Murtab fi al-Mutasyabih yang terkenal dengan nama Al-Sakhawiyah. Abu Syamah Abd al-Rahman Ibn Ismal al-Maqdisi (w. 665 H.) menulis kitab Al-Mursyid al-Wajiz fi ma Yata’allaq bi al-Qur’an al-‘Aziz.

Pada abad ke-8 muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang Alquran. Sementara itu penulis tentang kitab-kitab tentang ilmu-ilmu sebelumnya telah lahir terus berlangsung. Ibn Abi al-Ishba’ menulis tentang badai’al-Qur’an. Ilmu ini membahas keindahan bahasa dalam Alquran. Ibn al-Qayyim ( w.752 H.) menulis tentang Aqsam Alquran. Ilmu ini membahas tentang sumpah-sumpah Alquran. Najmuddin al-Thufi (w.716 H.) menulis tentang Hujaj Alquran. Ilmu ini membahas tentang bukti-bukti yang dipergunakan Alquran dalam menetapkan suatu hukum. Abu al-Hasan al-Mawardi menyusun ilmu amtsal Alquran. Ilmu ini membahas tentang perumpamaan-permpamaan yang ada dalam Alquran. Kemudian Badruddin al-Zarkasyi[34] (w. 794 H.) menyusun kitabnya Al-Burhan fi ’Ulum al-Qur’an.[35]

 

Pada abad ke-9, muncul beberapa ulama melanjutkan perkembangan ilmu-ilmu Alquran. Jalaluddin al-Bulqini[36], menyusun kitabnya Mawaqi’ al-‘Ulum min Mawaqi’al-Nujum. Menurut al-Suyuthi, Al-Bulqini dipandang sebagai ulama yang mempelopori penyusunan Ulumul Quran yang lengkap. Sebab dalam kitabnya mencakup 50 macam ilmu Alquran. Muhammad ibn Sulaiman al-Kafiaji[37] mengarang kitab Al-Tafsir fi Qawa’id al-Tafsir. Di dalamnya diterangkan makna tafsir, takwil, Alquran, surah dan ayat. Di dalamnya juga diterangkan tentang syarat-syarat mentafsirkan Alquran. Jalaluddin al-Suyuthi (w. 991 H.) menulis kitab al-Tahbir fi’Ulum al-Tafsir. Penulisan kitab ini selesai pada tahun 873 H. Kitab ini memuat 102 macam-macam ilmu Alquran. Karena itu, menurut sebagian ulama, kitab ini dipandang sebagai kitab Ulumul Quran yang paling lengkap. Namun Al-Suyuthi belum merasa puas dengan karya yang monumental ini sehingga ia menyusun lagi kitab Al-Itqan fi ’Ulum Al-Qur’an. Di dalamnya dibahas 80 macam ilmu-ilmu Alquran secara padat dan sistematis. Menurut Al-Zarqani, kitab ini sebagai pegangan kitab bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Setelah wafatnya Imam Al-Suyuthi pada tahun 991 H., seolah perkembangan karang-mengarang dalam Ulumul Quran sudah mencapai puncaknya sehingga tidak terlihat munculnya penulis yang memiliki kemampuan seperti kemampuannya.[38] Keadaan seperti ini dapat terjadi sebagai akibat meluasnya sikap taklid yang dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu agama umumnya  mulai berlangsung setelah masa Al-Suyuthi. Kondisi yang demikian berlangsung sejak wafatnya Iman Al-Suyuthi hingga akhir abad ke-13 H.

Abad ke-10, boleh dikatakan adalah abad kemunduran karena hanya seorang penulis yang aktif mengarang, yaitu Imam Jalaluddin Al-Suyuthi yang mengarang enam kitab antara lain Tanasubud Durar fi Tanasubis Suwar, at-Tahbir fi ‘Ulumit Tafsir, al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an yang terdiri dari dua juz dalam satu jilid, ad-Durral Mantsur fit Tafsiri bil Ma’tsur yang terdiri dari delapan jilid, Lubudun Nuqul fi Asbabin Nuzul, dan Thabaqatul Mufassirin.[39] Kitabnya yang lain, Turjuman Al-Qur’an fi Tafsir Al-Musnad, Al-Suyuti mengumpulkan hadis-hadis yang menafsirkan Alquran. Sayangnya, kitab ini belum ditemukan sampai sekarang.[40]

Sejak penghujung abad ke-13 H., sampai saat ini perhatian para ulama penyusunan terhadap kitab-kitab Ulumul Quran bangkit kembali. Kebangkitan kembali terhadap Ulumul Quran ini bersamaan dengan kebangkitan modern dalam  perkembangan ilmu-ilmu agama lainnya. Di antara ulama yang menulis tentang Ulumul Quran di abad ini adalah Syeikh Thahir al-Jazairi dengan kitabnya Al-Tiban li ba’dh al Mabahits al-Muta’alliqah bi’ al-Qur’an . Muhammad Jalaludin al Qasimi (w. 1332 H.) menulis kitab Mahasin al-Takwil. Jihad pertama dari kitab ini di khususkan bagi pembahasan Ulumul Quran. Muhammad Abd al-Azim al-Zarqani menyusun Manahil al-Irfan fi’ulum al-Qur’an. Muhammad Ali Salamah menulis Manhaj al-Furqan fi’ Ulum al-Qur’an. Syeikh Tanthawi mengarang Al-Jawa-hir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Mushthafa Shadiq al-Rafi’i menulis i’jaz al-Qur’an. Sayyid Quthub menulis Al-Thashwir al-Fanni fi al-Qur’an dan Fizilal al-Qur’an. Malik Ibn Nabi menulis  Al-Zawahir al-Qur’aniah. Kitab ini memuat pembahasan yang baik sekali dalam banyak persoalan Ulumul Quran. Muhammad Rasyid juga tidak ketinggalan memasukan  pembahasan-pembahasan Ulumul Quran dalam tafsirnya Tafsir al-Qur’an al-Karim yang terkenal dengan sebutan Tafsir al-Manar.  Syeikh Abd al-Azaiz al-Khuli menulis kitabnya berjudul Al-Qur’an al-Karim: Washfuh, Atsaruh, Hidayatuh, Wai’jazuh. Muhammad al-Ghazali menulis kitab Nazarat fi al-Qur’an, Muhammad Abdullah Daraz menulis Al-Nabau, Al-Azim.[41] Di samping itu masih banyak lagi buku-buku yang menyangkut Ulumul Quran, baik yang berbahasa Arab, seperti kitab Mabahits fi Ulum al-Qur’an karya Shubhi          al-Shalih dan ‘Ulum al-Qur’an al-Karim karya Abd al-Mun’im al-Namir, maupun dalam bahasa Indonesia, seperti Ilmu-ilmu Alquran karya Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Ilmu Tafsir karya Rif’at Syauki Nawawi dan Ali Hasan, dan yang baru terbit buku berjudul Membumikan Al-Qur’an karya ahli tafsir Indonesia                    M. Quraish Shihab. Bagian pertama dari buku terakhir ini banyak berbicara tentang ilmu Alquran atau lebih tepatnya ilmu tafsir yang merupakan bagian dari bahasan Ulumul Quran.

 

  1. LAHIRNYA ISTILAH ULUMUL QURAN        

Sejarah pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Quran telah menunjukan kelahiran ilmu ini melalui proses yang cukup panjang. Tahap demi tahap ilmu-ilmu ini yang menjadi bagian Ulumul Quran tumbuh dan berkembang, seperti ilmu tafsir, ilmu rasm al-Qur’an, ilmu qirrat, ilmu qharib al-Qur’an, dan seterusnya. Kemudian ilmu-ilmu ini membentuk kesatuan yang mempunyai hubungan dengan Alquran, baik dari segi keberadaan Alquran, maupun dari segi pemahamannya. Karena itu ilmu-ilmu ini disebut ilmu-ilmu Alquran yang dalam istilah bahasa Arabnya ”Ulum al-Qur’an” (Ulumul Quran). Namun, kapankah istilah ini muncul dan siapakah orang yang pertama menggunakannya. Mengenai sejarah lahirnya istilah ini terdapat tiga pendapat di kalangan para penulis Ulumul Quran.

  1. Pendapat umum di kalangan para sejarah Ulumul Quran mengatakan bahwa masa lahirnya Ulumul Quran  pertama kali pada abad ke-7.[42]
  2. Al-Zarqani berpendapat istilah ini lahir dengan lahirnya kitab Al-Burhan fi’ulum al-Qur’an, karya Ali Ibn Ibrahim Ibn Sa’id yang terkenal dengan sebutan Al-Hufi (w. 430 H.). Menurut Al-Zarqani, kitab ini terdiri dari 30 jilid dari padanya sekarang disimpan di balai perpustakaan di Kairo dengan tidak tersusun dan tidak berurutan. Berdasarkan ini, Al-Zarqani berpendapat bahwa lahirnya istilah Ulumul Quran pada permulaan abad ke-5.[43]
  3. Shubhi al-Shalih tidak setuju dengan dua pendapat terdahulu. Ia berpendapat bahwa orang yang pertama kali menggunakan istilah Ulumul Quran adalah Ibn al-Mirzaban (w. 309 H.). Pendapat ini berdasarkan pada penemuannya tentang beberapa kitab yang berbicara tentang kajian-kajian Alquran dengan menggunakan istilah Ulumul Quran pada namanya. Menurut dia, yang paling tua di antaranya adalah kitab Ibn al-Marzuban pada abad ke-3 H.[44]              Hasbi Ash-Shiddieqy juga setuju dengan pendapat terakhir ini.[45]

Dari ketiga pendapat di atas tersebut, pendapat Shubhi al- Shalih jelas lebih kuat. Sebab, berdasarkan sejarah pertumbuhan ilmu ini sebagai yang telah dipaparkan sebelumnya, Ibn al-Marzubanlah penulis yang paling pertama menggunakan istilah Ulumul Quran pada kitabnya yang berjudul Al-Hawi fi ‘Ulum al-Qur’an.

  1. PEMBAGIAN DAN CABANG-CABANG ULUMUL QURAN

Meskipun nama ilmu-ilmu yang menjadi pembahasan Ulumul Quran telah disebutkan secara sepintas lalu, namun untuk lebih mengenalnya perlu dikemukakan beberapa macam yang penting diketahui seorang yang hendak menafsirkan atau menerjemahkan Alquran. Ilmu-ilmu Alquran pada dasarnya terbagi ke dalam dua kategori. Pertama, ilmu riwayah, yaitu ilmu-ilmu yang hanya dapat diketahui melalui jalan riwayat, seperti bentuk-bentuk qiraat, tempat-tempat turunnya Alquran, waktu-waktu turunnya. Kedua, ilmu dirayah, yaitu ilmu-ilmu yang diketahui melalui jalan perenungan, berpikir, dan penyelidikan, seperti mengetahui pengertian lafal yang gharib, makna-makna yang menyangkut hukum, dan penafsiran ayat-ayat yang perlu ditafsirkan.

Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, ada tujuh belas ilmu-ilmu Alquran yang terpokok.[46]

  1. Ilmu Mawathin al-Nuzul

Ilmu ini menerangkan tempat-tempat turunnya ayat, masanya, awalnya, dan akhirnya. Di antara kitab yang membahas ilmu ini adalah Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an karya Al-Suyuthi.

  1. Ilmu Tawarikh al-Nuzul

Ilmu ini menerangkan masa turunnya ayat dan urutan turunnya satu persatu, dari permulaan turunnya sampai akhir serta urutan turun surah dengan sempurna.

  1. Ilmu Asbab al-Nuzul

Ilmu ini menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat.  Di antara kitab yang penting dalam hal ini adalah kitab  Lubab al-Nuqul karya Al-Suyuthi. Namun, perlu diingat bahwa  banyak riwayat dalam kitab ini yang tidak sahih.

  1. Ilmu Qiraat

Ilmu ini menerangkan bentuk-bentuk bacaan Alquran yang telah diterima dari Rasul SAW. Ada sepuluh qiraat yang sah dan beberapa macam pula yang tidak sah. Tulisan Alquran yang beredar di Indonesia adalah menurut qiraat Hafsh, salah satu qiraat yang ke tujuh.  Kitab yang paling baik untuk mempelajari ilmu ini adalah Al-Nasyr fi al-Qiraat al-Asyr karangan Imam Ibn al-Jazari.

  1. Ilmu Tajwid

Ilmu ini menerangkan cara membaca Alquran dengan baik. Ilmu ini menerangkan di mana tempat memulai, berhenti, bacaan yang panjang dan yang pendek, dan sebagainya.

  1. Ilmu Gharib Alquran

Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang ganjil dan tidak terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab yang biasa atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini berarti menjelaskan  makna kata-kata yang pelik dan tinggi. Di antara kitab penting dalam ilmu ini adalah Al-Mufradat li Alfaz al-Qur’an al-Karim karangan Al-Raghib al-Ashfahani. Kitab ini sangat penting bagi seorang mufassir atau penerjemah Alquran.

  1. Ilmu I’rab Alquran

Ilmu ini menerangkan baris kata-kata Alquran dan kedudukannya dalam susunan kalimat. Di antara kitab penting dalam ilmu ini adalah Imla’ al-Rahman karangan Abd al-Baqa al-Ukbari.

  1. Ilmu Wujuh wa al-Nazair

Ilmu ini menerangkan kata-kata Alquran yang mengandung banyak arti dan menerangkan makna yang dimaksud pada tempat tertentu. Ilmu ini dapat dipelajari dalam kitab Mu’tarak al-Aqran karangan Al-Suyuthi.

  1. Ilmu Ma’rifah al-Muhkam wa al- Mutasyabih

Ilmu ini menjelaskan ayat-ayat yang dipandang muhkam (jelas maknanya) dan yang mutasyabih (samar maknanya, perlu ditakwil). Salah satu kitab menyangkut ilmu ini ialah Al-Manzumah al-Sakhawiyah karangan               Al-Sakhawi.

  1. Ilmu Nasikh wa al-Mansukh

Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh (yang dihapuskan) oleh sebagian para mufassir. Di antara kitab-kitab yang membahas hal ini adalah Al-Nasikh wa al-Mansukh karangan Abu Ja’far al-Nahhas, Al-Itqan karangan Al-Suyuthi, Tarikh Tasyri’ dan Ushul al-Fiqh karangan Al-Khudhari.

  1. Ilmu Badai’ Alquran

Ilmu ini bertujuan menampilkan keindahan-keindahan Alquran dari sudut kesusastraan, keanehan-keanehan, dan ketinggian balaghahnya. Al-Suyuthi mengungkapkan yang demikian dalam kitabnya Al-Itqan dari halaman 83 s/d 96 dalam jilid II.

  1. Ilmu I’jaz Alquran

Ilmu ini menerangkan susunan dan kandungan ayat-ayat Alquran sehingga dapat membungkemkan para sastrawan Arab. Di antara kitab yang membahas ilmu ini adalah I’jaz al-Qur’an karangan Al-Bagillani.

  1. Ilmu Tanasub Ayat Alquran

Ilmu ini menerangkan penyesuaian dan keserasian antara suatu ayat dan ayat yang di depan dan yang di belakangnya. Di antara kitab yang memaparkan ilmu ini ialah Nazm al-Durar karangan Ibrahim al-Biqa’i.

  1. Ilmu Aqsam Alquran

Ilmu ini menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan yang terdapat dalam Alquran. Ibn al-Qayyim telah membahasnya dalam kitabnya Al-Tibyan.

  1. Ilmu Amtsal Alquran

Ilmu ini menerangkan maksud perumpamaan-perumpamaan yang dikemukakan Alquran. Al-Mawardi telah membahasnya dalam kitabnya berjudul Amtsl al-Qur’an.

  1. Ilmu Jidal Alquran

Ilmu ini membahas bentuk-bentuk dan cara-cara debat dan bantahan Alquran yang dihadapkan terhadap kaum Musyrik yang tidak bersedia menerima kebenaran dari Tuhan. Najmuddin telah mengumpulkan ayat-ayat yang menyangkut ilmu ini.

  1. Ilmu Adab Tilawah Alquran

Ilmu ini merupakan tata-cara dan kesopanan yang harus diikuti ketika membaca Alquran. Imam Al-Nawawi telah memaparkan dalam kitabnya berjudul kita Al-Tibyan.

Inilah tujuh belas macam ilmu Alquran yang sangat ditentukan oleh           Ash-Shiddieqy untuk memahirkan oleh setiap orang yang bermaksud menafsirkan atau menterjemahkan Alquran. Sebelum itu, ia juga harus menguasai ilmu balaghah, bahasa dan kaidah-kaidahnya, ilmu kalam dan ilmu ushul. Namun demikian, tampaknya masih banyak lagi ilmu-ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir atau penerjemah. Setidaknya satu ilmu lagi harus ditambahkan kepada ilmu-ilmu yang disebutkan Ash-Shiddieqy di atas, yaitu ilmu tafsir.[47]

Ilmu tafsir merupakan bagian dari Ulumul Quran. Ilmu tafsir berfungsi sebagai alat untuk mengungkap isi dan pesan yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran. Ulumul Quran lebih umum dari ilmu tafsir karena Ulumul Quran ialah  segala ilmu-ilmu yang mempunyai hubungan dengan Alquran. Ilmu tafsir tidak kurang penting dari ilmu-ilmu di atas, terutama setelah berkembangnya dengan menampilkan berbagai metodologi, corak, dan alirannya. Kadang-kadang Ulumul Quran ini juga disebut Ushul At-Tafsir (dasar-dasar/prinsip-prinsip penafsiran), karena memuat berbagai pembahasan dasar atau pokok yang wajib dikuasai dalam menafsirkan Alquran.

Dari uraian-uraian di atas, dapat dipahami bahwa Ulumul Quran merupakan kumpulan berbagai ilmu yang berhubungan dengan Alquran. Kemudian, pengertiannya dikembangkan kepada kajian berbagai masalah yang beragam dengan standar ilmiah. Dengan kata lain Ulumul Quran adalah suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan kajian-kajian Alquran seperti, pembahasan tentang asbabun nuzul, pengumpulan Alquran dan penyusunannya, masalah Makiyah dan Madaniyah, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabihat, dll. Pada dasarnya, ilmu-ilmu ini adalah ilmu Agama dan bahasa Arab. Namun, menyangkut ayat-ayat tertentu, seperti ayat-ayat kauniah dan perjalanan bulan dan bintang  diperlukan pengetahuan kosmologi dan astronomi. Karena itu, ilmu ini mempunyai ruang lingkup yang luas dan dalam sejarahnya selalu mengalami perkembangan.

Karena itu pula wajar Al-Suyuthi berkata bahwa pintu ilmu ini senantiasa terbuka kepada setiap ulama yang datang kemudian untuk memasuki persoalan-persoalan yang belum terjamah para ulama terdahulu karena faktor-faktor tertentu. Dengan demikian ilmu ini dapat dibenahi dengan sebaik-baik perhiasan di akhir masa.[48]

Uraian-uraian di atas juga menunjukan betapa pentingnya kedudukan ilmu ini dalam memahami, menafsirkan, dan menerjemahkan Alquran. Dengan ini juga maka seseorang akan dapat menunjukan dan mempertahankan kesucian dan kebenaran Alquran. Untuk menggambarkan pentingnya Ulumul Quran, para ulama memberikan perumpamaan yang berbeda-beda. Al-Zarqani mengumpamakan Ulumul Quran sebagai anak kunci bagi para mufassir. Ilmu ini seperti ulumul hadis bagi orang yang mempelajari ilmu hadis. Pengarang kitab Al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an mengibaratkan Ulumul Quran sebagai premis minor dari dua premis tafsir.[49] Menurut Manna Al-Qaththan, ilmu ini kadang-kadang disebut Ushul al-Tafsir karena ilmu ini meliputi unsur pembahasan-pembahasan yang harus diketahui oleh seorang mufassir untuk menjadi landasannya dalam menafsirkan Alquran.[50]

 

  1. SIMPULAN

Sejarah perkembangan Ulumul Quran dalam makalah ini dibagi kepada tiga bagian yaitu, Perkembangan Ulumul Quran pada masa Rasulullah SAW., Perkembangan Ulumul Quran pada masa Khulafa al Rasyidin dan Perkembangan Ulumul Quran pada masa Tadwin (Penulisan Ilmu).

Lahirnya istilah Ulumul Quran dapat disimpulkan bahwa Ibn al-Marzubanlah penulis yang paling pertama menggunakan istilah Ulumul Quran pada kitabnya yang berjudul Al-Hawi fi ‘Ulum al-Qur’an. Para perintis ilmu, Pertama, Empat orang Khalifah Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali), Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair. Mereka itu dari kalangan para sahabat Nabi. Kedua, Mujahid, Atha bin Yassar, Ikrimah, Qatadah, Hasan Bashri, Sa’id bin Jubair, dan Zaid bin Aslam dari kaum Tabiin di Mekkah. Ketiga, Malik bin Anas dari kaum Tabiit-Tabiin (generasi ketiga kaum muslimin). Ia memperoleh ilmunya dari Zaid bin Aslam.

Ilmu-ilmu Alquran pada dasarnya terbagi ke dalam dua kategori yaitu ilmu riwayah, dan ilmu dirayah. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy menyatakan ada tujuh belas ilmu-ilmu Alquran yang terpokok dan ditambah satu lagi yaitu Ilmu Tafsir. Dari uraian-uraian di atas, dapat dipahami bahwa Ulumul Quran merupakan kumpulan berbagai ilmu yang berhubungan dengan Alquran. Karena itu, ilmu ini mempunyai ruang lingkup yang luas dan dalam sejarahnya selalu mengalami perkembangan.

Al-Suyuthi berkata bahwa pintu ilmu ini senantiasa terbuka kepada setiap ulama yang datang kemudian untuk memasuki persoalan-persoalan yang belum terjamah para ulama terdahulu karena faktor-faktor tertentu. Dengan demikian ilmu ini dapat dibenahi dengan sebaik-baik perhiasan di akhir masa. Al-Zarqani mengumpamakan Ulumul Quran sebagai anak kunci bagi para mufassir.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Hasni, Muhammad Bin Alawi Al-Maliki, Zubdah Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an (Mutiara Ilmu-ilmu Al-Qur’an) Intisari Kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an As-Suyuthi, Alih bahasa; Rosihan Anwar, Pustaka Setia, Bandung, 1999.

 

Al-Shadr, Muhammad Bakir, al-Madrasah al-Qur’aniyyah, Syariat, Iran, 1426 H.

 

Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al ‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977.

 

Al-Shalih, Shubhi, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Mabahits fi Ulumil Qur’an), Cet. IX, Alih bahasa; Tim Pustaka Firdaus, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1990.

 

Al-Qaththan, Manna’, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an (Mabahits fi Ulumil Qur’an), Alih bahasa : Aunur Rafiq El-Mazni, Al-Kautsar, Jakarta, 2008.

 

Al-Qaththan, Manna’, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Al-Syarikah al-Muttahidah li al-Tauzi, Beirut, 1973.

 

Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al-Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir, (tt).

 

Ash-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Alam al-Kitab, Beirut, (tt).

 

Ash-Shobuny, Mohammad Aly, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Alih bahasa; Saiful Islam Jamaluddien, Al-Ikhlas, Surabaya, 1983.

 

Ash-Shobuny, Mohammad Aly, Pengantar Study Alquran (At-Tibyan fi Ulumil Qur’an), Alih bahasa; Moch. Chudlori Umar dan Moh. Matsna H.S., Al Maarif, Bandung, 1987.

 

Ash-Shiddieqy, T. M. Hasbi, Ilmu-Ilmu Alquran, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.

 

Ash-Shiddieqy, T. M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1972.

 

Al-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, I, Dar al-Fikr, Tanpa nama Kota, Tanpa Tahun.

 

As-Suyuthi, Jalaluddin, Samudera Ulumul Qur’an (Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an), Jilid I, Alih bahasa: Farikh Marzuqi Ammar, Wafi Marzuki Ammar dan Imam Fauzi Ja’iz,  Bina Ilmu, Surabaya, 2006.

 

Cf. Nashr Hamid Abu Zayd dalam Mafhum al-Nashsh: Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an, al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, Beirut.

 

Izzan, Ahmad, Ulumul Quran (Telaah Tekstual dan Kontekstual Alquran), Tafakur, Bandung, 2007.

 

Nawawi, Rif’at Syauqy dan M. Ali Hasan, Pengantar Ilmu Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1988.

 

Wahid, Ramli Abdul, Ulumul Quran, Rajawali Pers, Jakarta.

 

 

[1] Makalah disampaikan pada Seminar Mata Kuliah Ulumul Quran pada hari Selasa, tanggal 17 Februari 2009, dengan dosen pengampu Prof. DR. H. Nurwadjah Ahmad EQ., M.A.

 

[2] Ulumul Quran terkadang disebut juga ushul al-tafsir karena berisi pembahasan tetntang hal-hal (pengetahuan tertentu) yang harus diketahui seorang penafsir sebagai sandaran ketika menafsirkan Alquran. Manna al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an (Mabahits fi Ulumil Qur’an), Alih bahasa : Aunur Rafiq El-Mazni, Al-Kautsar, Jakarta, 2008, hlm. 10.

 

[3] Ash Shobuny, Mohammad Aly, Pengantar Study Alquran (At-Tibyan fi Ulumil Qur’an), Alih bahasa; Moch. Chudlori Umar dan Moh. Matsna H.S., Al Maarif, Bandung, 1987, hlm. 18.

 

[4] Ash Shobuny, Mohammad Aly, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Alih bahasa; Saiful Islam Jamaluddien, Al-Ikhlas, Surabaya, 1983, hlm. 15.

 

[5] Cf. Nashr Hamid Abu Zayd dalam Mafhum al-Nashsh: Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an, al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, Beirut.

 

[6] As-Suyuthi, Jalaluddin, Samudera Ulumul Qur’an (Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an), Jilid I, Alih bahasa: Farikh Marzuqi Ammar, Wafi Marzuki Ammar dan Imam Fauzi Ja’iz,  Bina Ilmu, Surabaya, 2006, hlm. vii.

 

[7] Ibid., hlm. xiii.

 

[8] Al-Shadr, Muhammad Bakir, al-Madrasah al-Qur’aniyyah, Syariat, Iran, 1426 H, hlm. 213.

 

[9] Manna al-Qaththan, Op. Cit., hlm. 4.

 

[10] Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al ‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977, hlm. 120.

 

[11] Al-Shalih, Shubhi, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Mabahits fi Ulumil Qur’an), Cet. IX, Alih bahasa; Tim Pustaka Firdaus, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1990, hlm. 156.

 

[12] Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al-Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir, (tt), hlm. 28.

 

[13] Al-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Alam al-Kitab, Beirut, (tt), hlm. 52.

 

[14] Al-Shalih, Shubhi, Loc. Cit.

 

[15] Ibid., hlm. 53.

 

[16] Ibid., hlm. 156.

 

[17] Al-Zarqani, Muhammad Abd al-Azim, Op. Cit., hlm. 30.

 

[18] Ibid.

 

[19] Wahid, Ramli Abdul, Ulumul Quran, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 17.

 

[20] Imam ahli Hadits terkemuka di Bashrah. Nama lengkapnya Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Ward al- ‘Atki al-Azdi al-Wasithi. Terkenal dengan nama panggilan Abu Busttman. Ia mengalami hidupnya Anas bin Malik ra. Dan mendengarkan pemikiran orang dari kaum Tabiin. Di kalangan semua imam ahli Hadits, ia dipandangan sebagai hujjah (pendapatnya dinilai sangat berbobot dan kuat dijadikan dalil). Wafat tahun 160 H.

 

[21] Seorang ulama ahli tafsir dan hadits di Hijaz. Nama lengkapnya Syufyan bin ‘Uyainah al-Hilali al-Kufi. Wafat tahun 198 H. (Lihat : Tadzkiratul-Hitfadz I, hal. 242).

 

[22] Waki’ bin al-Jarrah bin Malih bin ‘Adi’. Nama panggilannya Abu Sufyanar-Ruwasi al-Kufi, dari Tsauri. Hadis yang berasal darinya diketengahkan oleh ‘Abdullah bin al-Mubarrak, Yahya bin Adam,Ahmad bin Hanbal dan ‘Ali bin al-Madani. Lahir 128 H. dan wafat 197 H. Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Mu’in mengatakan: “Orang yang terpercaya di Iraq adalah Waki’”. (Lihat Tarikh Baghdad XIII, hlm. 466 – 481).

 

[23] Ia adalah Ali bin Abdullah bin Ja’far. Nama panggilannya Abu Ja’far, seorang dari kabilah Saad berdasarkan wala (perwalian). Wafat tahun 234 H. (Lihat: Tadzkiratul-Huffadz II hlm. 15 – 16, Syadzaratudz-Dzahab II hlm. 81).

 

[24] Kitabnya berjudul Tadha’ilul-Quran, naskahnya yang dalam keadaan lengkap tersimpan di Dzahiriyah.

 

[25] Al-Shalih, Shubhi, 1977, Op. Cit., hlm. 121-122.

 

[26] Sebagian naskahnya tersimpan di dalam perpustakaan Baladiyah di Alexandria, Mesir. Lihat ad-Dibaj 195.

 

[27] Muhammad bin Aziz bin al-Azizi as-Sajistani. Wafat tahun 330 H. (Lihat: Bughyatul-Wu’ah, 72). Dalam al-Itqan 1/195 Sayuthi mengatakan (dalam pembicaraannya mengenai kitab as-Sajistani yang berjudul Gharibul-Qur’an): “Ia menulis kitabnya selama 15 tahun bersama gurunya, Abu Bakar bin al-Anbari”.

 

[28] Naskahnya tersimpan di Muradmala.

 

[29] Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Ilmu-Ilmu Alquran, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hlm. 14.

 

[30] Ia adalah Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi al-Mishri, penulis kitab Al-Burhan Fi Ulumil Quran dan kitab I’rabul-Quran. Kitab ini selain menafsirkan Alquran seluruhnya, juga menerangkan Ilmu-ilmu Alquran yang ada hubungannya dengan ayat-ayat Alquran yang ditafsirkan. Karena itu, ilmu-ilmu Alquran tidak tersusun secara sistematis dalam kitab ini, sebab ilmu-ilmu Alquran diuraikan secara perpencar-pencar, tidak terkumpul dalam bab-bab menurut judulnya. Namun demikian, kitab ini merupakan karya ilmiah yang besar dari seorang Ulama yang telah merintis penulisan kitab tentang Ulumul Quran yang agak lengkap.Wafat 430 H. (Lihat: Husnul-Muhadharah II hal. 228 dan Inbahur Ruwah II hal. 219).

 

[31] Ash-Shiddiqieqy, T.M. Hasbi, Loc. Cit.

 

[32] Ia adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad as-Suhaili, nama panggilannya Abul-Qasim. Ia wafat di Marakesh pada tahun 581 H. Kitabnya berjudul Mubhamatul-Quran disebut oleh penulis kitab Kasyfudz-Dzunun dengan nama At-Ta’rif Wal-I’lam Bimaa Ubhima Fil-Quran Minal-Asma Wal-I’lam (Pengenalan dan Pemberitahuan Mengenai Nama-nama Dan Tanda-tanda di Dalam Alquran). Nama itu menjelaskan maksud kitab tersebut. Naskahnya yang berupa tukisan tangan tersimpan di Darul-Kutub, Kairo, dan di perpustakaan at-Timuriyyah. Kitabnya yang lain lagi ialah Ar-Raudhul-Anifu ‘Alaa Siratl Ibni Hisyam. (Lihat kutipannya di dalam Inbahur-Ruwah hal. 162).

 

[33] Nawawi, Rif’at Syauqi dan M. Ali Hasan, Pengantar Ilmu Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1988, hlm. 221.

 

[34] Beliau adalah imam Badruddin Muhamma bin Abdullah bin Bahadur Az-Zarkasyi, lahir di Kairo Mwsir tahun 745, pengikut madzhab Safi’I, ia berguru kepada Jamaluddin Al Isnawi ketua pengikut madzhab Syafi’i di Mesir, juga berguru kepada Syaikh Sirajuddin Al Baqy, ia telah mengarang kitab hadis, fiqih Syafi’i dan ushul fiqih. Beliau meninggal tahun 794. Al Suyuthi, Loc. Cit.

 

[35] Nawawi, Rif’at Syauqi dan M. Ali Hasan,  Op. Cit., hlm. 222.

 

[36] Abdurrahman bin Rusian Abul-Fadhi Jalaluddin al-Buqaini, seorang ulama yang cerdas ahli di bidang ilmu Fiqh, Ushuluddin, bahasa Arab, Tafsir, Ma’ani dan Bayan. La Ibham (Memahami Hal-hal Yang Samar Dalam Shahih al-Bukhari). Ia berulangkali diangkat sebagai Ketua Mahkamah Islam di Mesir hingg wafatnya pada tahun 824 H. (Syadzaratudz-Dzahab, VII,  hlm. 166).

 

[37] Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad bin Mas’ud Muhyiddin Abu Abdullah al-Kafiyaji. Dialah yang menekuni syair berakhiran huruf kaf dalam ilmu Nahwu, sehingga ia terkenal dengan Kafiyaji. As-Suyuthi pernah magang dengan mengikutinya selama 14 tahun. Al-Kafiyaji menulis banyak kitab mengenai Tafsir, Fiqh, Pokok-Pokok Bahasa Arab dan Nahwu. Kitabnya yang tidak disebut judulnya dalam al-Itqan, ternyata dalam al-Bughyah disebut oleh Suyuthi berjudul at-Tafsir fi Qawa’id-dit-Tafsir. Suyuthi mengatakan, al-Kafiyaji berkata, ia menemukan ilmu tersebut sebagai hal yang belum ada sebelumnya. Karenya al-Kafiyaji tidak membatasi dirinya pada al-burhan tulisan Zarkasyi dan tidak pula puas dengan Mawaaqi;ul-Ulum karya Jalaluddin al-Bulqaini. Ia wafat tahun 879 H.

 

[38] Al-Zarqani, Muhammad Abd al-Azim,  Op. Cit., hlm. 36-37.

 

[39] Izzan, Ahmad, Ulumul Quran (Telaah Tekstual dan Kontekstual Alquran), Tafakur, Bandung, 2007, hlm. 21.

 

[40] Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasni, Zubdah Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an (Mutiara Ilmu-ilmu Al-Qur’an) Intisari Kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an As-Suyuthi, Alih bahasa; Rosihan Anwar, Pustaka Setia, Bandung, 1999, hlm. 14.

 

[41] Ibid., hlm. 37-38; Al-Shalih, Shubhi, 1977, Op. Cit., hlm. 125-126.

 

[42] Al-Zarqani, Muhammad Abd al-Azim, Op. Cit., hlm. 24.

 

[43] Ibid., hlm. 34-35.

 

[44] Al-Shalih, Shubhi, 1990, Op. Cit., hlm. 162.

 

[45] Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Op. Cit., hlm. 16.

 

[46] Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1972, hlm. 105-108.

 

[47] Wahid, Ramli Abdul, Op. Cit., hlm. 27.

 

[48] Al-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, I, Dar al-Fikr, Tanpa nama Kota, Tanpa Tahun, hlm. 3.

 

[49] Al-Zarqani, Muhammad Abd al-‘Azim, Op. Cit., hlm. 28.

 

[50] Al-Qaththan, Manna’, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Al-Syarikah al-Muttahidah li al-Tauzi, Beirut, 1973, hlm. 16.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: