Archive for the ‘Uncategorized’ Category

ELEMENTS OF DIFFUSION (EVERETT M. ROGERS)

ELEMENTS OF DIFFUSION (EVERETT M. ROGERS)

Diffusion (Difusi) adalah proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dari waktu ke waktu di antara para anggota suatu sistem sosial. Difusi adalah jenis khusus dari komunikasi, terkait dengan penyebaran pesan yang dianggap sebagai ide-ide baru. Komunikasi adalah proses di mana peserta membuat dan berbagi informasi dengan satu sama lain untuk mencapai saling pengertian.

Definisi ini berarti bahwa komunikasi adalah proses konvergensi (atau perbedaan) sebagai dua atau lebih individu bertukar informasi dalam rangka untuk bergerak ke arah satu sama Odier (atau terpisah) dalam makna-makna yang mereka berikan kepada peristiwa-peristiwa tertentu.

Beberapa penulis membatasi “difusi” untuk mati spontan, tidak direncanakan penyebaran ide-ide baru dan menggunakan konsep “penyebaran” untuk difusi yang diarahkan dan dikelola. Dalam buku ini kita menggunakan kata “difusi” untuk mencakup baik yang direncanakan dan spontan penyebaran ide-ide baru.

ELEMENTS OF DIFFUSION

  1. Innovation (Inovasi)

Inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau benda dianggap baru oleh individu atau unit lain dari adopsi. Sebagian besar ide-ide baru yang dibahas adalah inovasi teknologi. Teknologi adalah desain untuk tindakan instrumental yang mengurangi ketidakpastian dalam hubungan sebab-akibat yang terlibat dalam mencapai hasil yang diinginkan.

Kebanyakan teknologi memiliki dua komponen:

  1. Hardware (Perangkat keras), yang terdiri dari alat yang mewujudkan teknologi sebagai bahan atau objek fisik, dan
  2. Software (Perangkat lunak), yang terdiri dari basis pengetahuan untuk perangkat.
  1. Communication Channels (Saluran Komunikasi)

Sebuah saluran komunikasi adalah sarana yang mendapatkan pesan dari satu orang ke orang lain. Media massa saluran yang lebih efektif dalam penciptaan pengetahuan inovasi, sedangkan saluran interpersonal yang lebih efektif dalam membentuk dan mengubah sikap terhadap ide baru, dan dengan demikian dalam mempengaruhi keputusan untuk mengadopsi atau menolak ide baru.

  1. Time (Waktu)

Dimensi waktu terlibat dalam difusi :

  1. a.      The Innovation-Diffusion Process (Proses Inovasi-Difusi)

Proses inovasi-difusi yang seorang individu melewati dari pengetahuan pertama inovasi melalui adopsi atau penolakan.

  1. b.      Innovativeness (Daya Inovasi)

Inovasi dari unit individu atau adopsi (yaitu, pencegahan dini/ keterlambatan dengan dimana suatu inovasi diadopsi) dibandingkan dengan anggota lain dari sistem, dan

  1. c.       An Innovation’s Rate of Adoption (Laju Inovasi Adopsi)

Tingkat inovasi dari adopsi dalam suatu sistem, biasanya diukur sebagai nomor kepala anggota dari sistem yang mengadopsi inovasi dalam suatu periode tertentu waktu. Proses keputusan inovasi adalah proses melalui mana seseorang (atau pengambilan keputusan unit) melewati dari pengetahuan pertama dari sebuah inovasi untuk membentuk sikap terhadap inovasi, untuk keputusan untuk mengadopsi atau menolak, untuk pelaksanaan ide baru, dan untuk konfirmasi keputusan ini.

Lima langkah konsep dalam proses ini:

  1. Pengetahuan,
  2. Persuasi,
  3. Keputusan,
  4. Implementasi, dan
  5. Konfirmasi

Seorang individu mencari informasi pada berbagai tahap dalam proses inovasi-keputusan untuk mengurangi ketidakpastian tentang konsekuensi sebuah inovasi yang diharapkan.

Tahap keputusan mengarah :

  1. Untuk adopsi, keputusan untuk membuat penuh penggunaan inovasi sebagai tindakan yang terbaik yang tersedia, atau
  2. Untuk penolakan, keputusan untuk tidak mengadopsi suatu inovasi. kategori adopter lima, mengelompokkan anggota mati suatu sistem sosial berdasarkan inovasi mereka: (1) inovator, (2) pengadopsi awal, (3) mayoritas awal, (4) mayoritas akhir, dan (5) lamban. Tingkat adopsi adalah kecepatan relatif dasi dengan dimana suatu inovasi diadopsi oleh anggota sistem sosial.

 

  1. Social System (Sistem Sosial)

Sistem sosial didefinisikan sebagai satu set unit yang saling terkait yang terlibat dalam pemecahan masalah secara bersama untuk mencapai tujuan bersama. Para anggota atau unit dari suatu sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi, dan / atau subsistem. Sistem dianalisis dalam studi difusi dapat terdiri dari semua keluarga petani di sebuah desa Peru, doctofs medis di rumah sakit, atau semua konsumen di Amerika Serikat. Setiap unit dalam sistem sosial dapat dibedakan dari unit lain. Semua anggota-anggota bekerja sama setidaknya sampai sebatas berusaha untuk memecahkan masalah yang umum untuk mencapai tujuan bersama. Ini berbagi tujuan umum mengikat sistem bersama.

PERCEIVED ATTRIBUTES OF INNOVATION

  1. 1.      Relative Advantage

Relative advantage (Keuntungan relatif) adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik daripada gagasan itu menggantikan. Tingkat keuntungan relatif dapat diukur dari segi ekonomi, tetapi faktor prestise sosial, kenyamanan, dan kepuasan juga faktor penting. Tidak peduli begitu banyak apakah inovasi memiliki banyak keunggulan “obyektif”. Apa masalah adalah apakah seorang individu memandang inovasi mati sebagai menguntungkan. Semakin besar keuntungan relatif yang dirasakan dari sebuah inovasi, tingkat adopsi yang akan lebih cepat.

  1. 2.      Compability

Compatibility (Kompatibilitas/Kesesuaian) adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan pengadopsi potensial. Sebuah ide yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma sistem sosial tidak akan diadopsi secepat sebuah inovasi yang kompatibel. Penerapan suatu inovasi tidak sesuai sering membutuhkan adopsi sebelumnya dari sistem nilai baru, yang adalah proses yang relatif lambat.

  1. 3.      Complexity

            Complexity (Kompleksitas) adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi yang mudah dipahami oleh sebagian besar anggota suatu sistem sosial, yang lainnya adalah lebih rumit dan diadopsi lebih lambat.

  1. 4.      Trialability

Trialability adalah derajat dimana suatu inovasi dapat bereksperimen dengan secara terbatas. Ide-ide baru yang dapat dicoba pada rencana angsuran umumnya akan diadopsi lebih cepat daripada inovasi yang tidak habis dibagi.

  1. 5.      Observability

Observability adalah derajat dimana hasil suatu inovasi dapat dilihat orang lain. Semakin mudah bagi individu untuk melihat hasil dari suatu inovasi, mengikat semakin besar kemungkinan mereka untuk mengadopsi.

 

TYPES OF INNOVATION-DECISIONS

  1. 1.      Optional Innovation-Decisions

Inovasi-Keputusan Opsional adalah pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi yang dibuat oleh independen individu keputusan anggota lain dari sistem. Bahkan dalam kasus ini, keputusan individu dapat dipengaruhi oleh norma-norma sistem dan dengan komunikasi melalui jaringan interpersonal.

  1. 2.      Collective Innovation Decision

Inovasi-Keputusan Kolektif adalah pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi yang dibuat oleh konsensus di antara anggota suatu sistem. Semua unit dalam sistem biasanya harus sesuai dengan keputusan sistem setelah dibuat.

  1. 3.      Authority Innovation Decision

Inovasi-Keputusan Otoritas adalah pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi yang dibuat oleh individu relatif sedikit dalam suatu sistem yang memiliki kekuasaan, status, atau keahlian teknis.

 

THREE CLASSIFICATIONS OF CONSEQUENCES

  1. 1.      Desirable Versus Undesirable Consequences

Konsekuensi yang diinginkan dibandingkan yang tidak diinginkan, tergantung pada apakah dampak dari inovasi dalam sistem sosial yang fungsional atau disfungsional.

  1. 2.      Direct Versus Indirect Consequences

Konsekuensi langsung dan tidak langsung, tergantung pada apakah perubahan pada individu atau sebuah sistem sosial terjadi sebagai respon langsung terhadap suatu inovasi atau sebagai akibat orde kedua dari konsekuensi langsung dari suatu inovasi.

  1. 3.      Anticipated Versus Unanticipated Consequences

Konsekuensi diduga dibandingkan tak terduga, tergantung pada apakah atau tidak perubahan diakui dan dimaksudkan oleh Anggota sistem sosial.

Dialogue (Senge)

Senge draws dialogue is establishing actual communication in groups requires that members define each other as colleagues, not enemies, and that each person dares to be vulnerable and to admit to ignorance, otherwise no learning can take place. Dialogue important to starts The discipline of team learning. Dialogue is a way of helping people to “see the representative and participatory nature of thought to become more sensitive to and make it safe to acknowledge the incoherence in our thought.” In dialogue people become observers of their own thinking. In team learning, discussion is the necessary counterpart of dialogue. In a discussion, different views are presented and defended, and as explained earlier this may provide a useful analysis of the whole situation. In dialogue, different views are presented as a means toward discovering a new view. In a discussion, decisions are made. In a dialogue, complex issues are explored. When a team must reach agreement and decisions must be taken, some discussion is needed. Thanks a lot Prof..

Similarity and Defference The Books of Senge and Marquardt

SIMILARITY AND DEFFERENCE THE BOOKS OF SENGE AND MARQUARDT

Note : not complete yet, to be continue..

SENGE

MARQUARDT

  • The purpose of the Fifth Discipline is to describe how to manage the success and development of a company and how to create an organization which excels.
Why are learning organizations so important (purpose):

  • Reorganization, restructuring, and reengineering for success, not just survival
  • Increased skills shortages caused by schools that have not adequately prepared people for work in the 21st century
  • Doubling of knowledge every 2 to 3 years
  • Global competition from the world’s most powerful companies
  • Overwhelming breakthroughs in new and advanced technologies
  • Spiraling need for organizations to adapt to change
  • Senge proposes a framework of five disciplines:
  1. Systems Thinking,
  2. Mental Models,
  3. Team Learning,
  4. Personal Mastery and
  5. Shared Vision.
  • the five disciplines develop as an ensemble, but he also admits that it is challenging to integrate several things at the same time.
The core subsystem of the learning organization, of course, is learning at the individual, group, and organization levels including the skills of :

  1. Systems Thinking,
  2. Mental Models,
  3. Personal Mastery,
  4. Self-Directed Learning And
  5. Dialogue.

 

  • Senge makes the distinction between a genuine shared vision and the familiar “vision statement”.
  • explains how a vision should be successfully implemented; through communication and invitation to confirm commitment to the vision or through criticism.
  • He also states that the vision should come from all levels in the organization and not be applied “top down”.
what is the new learning in organizations

  • It is performance based and tied to business objectives.
  • It emphasizes the importance of learning processes, or learning how to learn.
  • The ability to define learning is as important as finding answers to specific questions.
  • Organization-wide opportunities exist to develop knowledge, skills, and attitudes.
  • Learning is part of everybody’s job.

 

  • The book is approaching the problem on many levels, such as strategy, operations management, psychology and philosophy.
  • The analysing approach is based on theoretical and practical science with a philosophical touch.
  • One of the book’s strengths is the sometimes spiritual and philosophical approach, which facilitates the creation of a sense for the five disciplines.
    • This book presents each subsystem and explores how all five interface with and complement one another.
    • This book is not talking about simply changing the external elements of the organization its products, activities, or structures; but, rather, about altering its intrinsic way of operating: its values, mind-set, and even its primary purpose.
  • We have to understand the correlation between actions and consequences, and that they can occur in different time spans.
emergence of learning organizationsIn the 1980s, Shell Oil began to consider organizational learning in relation to strategic planning. Shell spent 12 months experimenting

with work groups and researching the implications of the organizational learning concept.

During the 1990s, the number of firms committing themselves to becoming learning organizations increased dramatically. Companies such as General Electric, Johnsonville Foods, Quad Graphics, and Pacific Bell in the United States; Sheerness Steel, Nokia, Sun Alliance, and ABB in Europe; and Honda and Samsung in Asia were among the early pioneers.

Peter Senge’s The Fifth Discipline and feature articles on learning organizations in the Harvard Business Review, The Economist, BusinessWeek, Fortune, and Asiaweek have led many other companies to begin considering the process of transforming themselves into learning organizations.

 

  • The book also evokes the curiosity of discovering companies that have introduced the “learning organization”, as the biggest challenge is to implement all the ideas and change the way people think.
  • The explanations to the two disciplines Systems thinking and Shared vision the most interesting and probably also the most important disciplines to a company.
    • Chapter 1 assesses rising social, political, and economic forces as well as the new expectations of workers, customers, and even communities that have necessitated the emergence of learning organizations. The eight key forces causing this shift from institutions based on manufacturing (manual labor) to those based on mentofacturing (mental labor) are discussed.
    • Chapter 2 introduces the total Systems Learning Organization model with an overview and brief synopsis of the five subsystems: learning, organization, people, knowledge, and technology. The interactional and complementary nature of the subsystems is also discussed.
    • The dimensions, principles, practices, and ideals of the five subsystems are explored in chapters 3–7. Each chapter contains examples of best practices from learning organizations around the world.
    • At the end of each chapter, I list 10 top implementation strategies for building the subsystem under discussion.
    • Chapter 8 provides a general framework and guidelines, as well as 16 steps, for becoming a learning organization.
 

 

 

 

 

 

 

Senge draws…

Senge used The Fifth Discipline not The Five Disciplines because he draws “The fifth discipline” is systems thinking that integrates the disciplines, fusing them into a coherent body of theory and practice. Without a systemic orientation, there is no motivation to look at how the disciplines interrelate.

ORGANISASI BELAJAR

ORGANISASI BELAJAR VERSI SENGE DAN MARQUARDT

A. Definisi

  1. Menurut Senge

Learning Organization is an organization where people continually expand their capacity to create the results they truly desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning how to learn together.

Organisasi belajar adalah organisasi dimana orang-orang secara terus menerus memperbesar kapasitasnya untuk menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola berfikir yang expansif dan baru terpelihara dengan baik, dimana aspirasi kolektif terwadahi dan dimana orang terus menerus belajar melihat keseluruhan secara bersama-sama.

  1. Menurut Marquardt

Learning organization is systematic, accelerated learning that is accomplish by the organizational system as a whole rather than the learning of individual members within the system. Learning organizations are able to transform data into value knowledge and thereby increase the long-term adaptive capacity.”

Organisasi belajar adalah sistematis, percepatan belajar yang dicapai melalui system organisasi sebagai satu kesatuan belajar tiap individu-individu dalam sebuah sistem. Organisasi belajar memungkinkan transformasi data ke dalam nilai ilmu pengetahuan dan dengan demikian meningkatkan kapasitas jangka panjang yang adaptif.

Jadi dapat disimpulkan bahwa organisasi belajar itu terdiri dari beberapa individu, menjadi satu kesatuan kelompok yang memiliki visi dan tujuan yang sama dimana mereka ingin selalu belajar, mau mengeksplorasi lingkungan yang baru, tidak hanya bisa beradaptasi namun mencoba belajar memproduksi, memiliki motivasi untuk selalu aktif dan berinovasi mengoptimalkan potensi yang dimiliki menjadi orang yang berpengetahuan untuk keberhasilan perusahaan.

Dalam buku Building the Learning Organization, Marquardt memberikan manual untuk membangun sebuah organisasi belajar. Dalam pandangan Marquardt, sebuah organisasi belajar harus dibangun menjadi sebuah sistem holistik yang didalamnya akan dipraktekan lima disiplin yaitu system thinking, personal mastery, mental model, shared vision dan team learning; ditambah lagi disiplin dialog yang menurut Marquardt harus dipisahkan menjadi disiplin tersendiri.

Gagasan sistem organisasi belajar yang disebut oleh Marquardt sebagai Systems Learning Organization Model terdiri dari lima sub sistem yaitu learning, people, organization, knowledge, dan technology. Setiap sub sistem tersebut memiliki komponen-komponen yang menentukan optimalnya kerja setiap sub sistem. Dalam sistem tersebut sub system learning merupakan jantung dari sistem organisasi belajar dan sub system tersbut dapat diyakinkan akan berjalan ketika ada topangan dari keempat sub sistem lainnya.

B. Persamaan dan Perbedaan

Persamaannya adalah baik Senge maupun Marquardt mengemukakan bahwa organisasi belajar sama-sama penekanannya pada peningkatan kapasitas individu dan percepatan belajar bersama-sama dalam sistem organisasi. Sedangkan perbedaannya, Peter Senge melihat organisasi belajar dari segi institusinya sedangkan Marquardt melihat dari segi proses dan sistemnya. Jadi kalau dikombinasikan maka organisasi belajar berarti organsisasi yang berupaya untuk meningkatkan kemampuannya dengan cara membangun sebuah sistem pembelajaran untuk memfasilitasi semua stakeholder untuk belajar secara beregu dan sepanjang hayat.

Menurut Marquardt inti atas sub sistem Organisasi Belajar adalah belajar itu sendiri. Kecepatan, kualitas, dan leverage proses belajar dan konten mereka membentuk media yang mendukung, memberi nutrisi, dan memperpanjang ke subsistem lain dari organisasi belajar. Langkah pertama dan mungkin paling penting untuk menjadi organisasi belajar adalah membangun dasar yang kuat berdasarkan visi belajar bersama. Mungkin strategi yang paling penting untuk menginspirasi dan memotivasi sebuah seluruh organisasi untuk bergerak cepat dan tegas untuk menjadi organisasi belajar adalah untuk menghubungkan belajar meningkat dengan peningkatan kesuksesan organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa belajar adalah satu-satunya sumber keunggulan strategis berkelanjutan bagi perusahaan. Dia juga mengatakan bahwa menjadi organisasi belajar bukanlah kondisi statis.

Peter Senge seperti dikutip oleh Yusufhadi Miarso mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline. Menurutnya, untuk melatih disiplin, salah satu harus menjadi pembelajar seumur hidup. sebagai berikut:

1) Berpikir Sistem (Systems Thinking)

Setiap usaha manusia, termasuk bisnis, merupakan sistem karena senantiasa merupakan bagian dari jalinan tindakan atau peristiwa yang saling berhubungan, meskipun hubungan itu tidak selalu tampak. Oleh karena itu organisasi harus mampu melihat pola perubahan secara keseluruhan, dengan cara berpikir bahwa segala usaha manusia saling berkaitan, saling mempengaruhi dan membentuk sinergi.

2) Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)

Setiap orang harus mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan sebagai anggota organisasi perlu mengembangkan potensinya secara optimal. Penguasaan pribadi ini merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan enerji, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Kenyataan menunjukkan bahwa seseorang memasuki suatu organisasi dengan penuh semangat, tetapi setelah merasa “mapan” dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya. Oleh karena itu, disiplin ini sangat penting artinya bahkan menjadi landasan untuk organisasi belajar.

3) Pola Mental (Mental Models)

Setiap orang mempunyai pola mental tentang bagaimana ia memandang dunia di sekitarnya dan bertindak atas dasar asumsi atau generalisasi dari apa yang dilihatnya itu. Seringkali seseorang tidak menyadari pola mental yang mempengaruhi pikiran dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu setiap orang perlu berpikir secara reflektif dan senantiasa memperbaiki gambaran internalnya mengenai dunia sekitarnya, dan atas dasar itu bertindak dan mengambil keputusan yang sesuai.

4) Visi Bersama (Shared Vision)

Organisasi yang berhasil berusaha mempersatukan orang-orang berdasarkan identitas yang sama dan perasaan senasib. Hal ini perlu dijabarkan dalam suatu visi yang dimiliki bersama. Visi bersama ini bukan sekedar rumusan keinginan suatu organisasi melainkan sesuatu yang merupakan keinginan bersama. Visi bersama adalah komitmen dan tekad dari semua orang dalam organisasi, bukan sekedar kepatuhan terhadap pimpinan.

5) Belajar Beregu (Team Learning)

Dalam suatu regu atau tim telah terbukti bahwa regu dapat belajar dengan menampilkan hasil jauh lebih berarti daripada jumlah penampilan perorangan masing-masing anggotanya. Belajar beregu diawali dengan dialog yang memungkinkan regu itu menemukan jati dirinya. Dengan dialog ini berlangsung kegiatan belajar untuk memahami pola interaksi dan peran masing-masing anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan unsur penting, karena – regu bukan perorangan – merupakan unit belajar utama dalam organisasi.

Senge menyatakan bahwa lima disiplin ilmu berkembang sebagai satu kesatuan itu adalah penting, tetapi ia juga mengakui bahwa lima disiplin ilmu itu merupakan tantangan untuk mengintegrasikan beberapa hal pada saat yang sama. Akibatnya, Sistem berpikir sengaja disebut sebagai disiplin kelima, karena disiplin kelima itu adalah disiplin yang mengintegrasikan semua disiplin ilmu lain dan landasan yang mendasari semua disiplin ilmu. Sistem berpikir adalah tentang memahami bagaimana sebuah sistem bekerja secara keseluruhan, karena tanpa orientasi sistemik, tidak ada motivasi untuk melihat bagaimana disiplin ilmu saling berhubungan.

Sedangkan Marquardt mengidentifikasi ciri organisasi belajar:

1)  Belajar dilakukan melalui sistem organisasi secara keseluruhan dan  organisasi seakan-akan mempunyai satu otak;

2)  Semua anggota organisasi menyadari betapa pentingnya organisasi belajar 1.secara terus menerus untuk keberhasilan organisasi pada waktu    sekarang dan akan datang;

3)  Belajar merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus serta dilakukan berbarengan dengan kegiatan bekerja;

4)  Berfokus pada kreativitas dan generative learning;

5)  Menganggap berpikir system adalah sangat penting,

6)  Dapat memperoleh akses ke sumber informasi dan data untuk keperluan keberhasilan organisasi;

7)  Iklim organisasi mendorong, memberikan imbalan, dan mempercepat masing-masing individu dan kelompok untuk belajar;

8)  Orang saling berhubungan dalam suatu jaringan yang inovatif sebagai suatu komunitas di dalam dan di luar orgaisasi;

9)   Perubahan disambut dengan baik, kejutan-kejutan dan bahkan kegagalan dianggap sebagai kesempatan belajar;

10) Mudah bergerak cepat dan  fleksibel;

11)  Setiap orang terdorong untuk meningkatkan mutu secara terus menerus;

12)  Kegiatan didasarkan pada aspirasi, reffleksi, dan konseptualisasi;

13)  Memiliki kompetensi inti (core competence) yang dikembangkan dengan baik sebagai acuan untuk pelayanan dan produksi; dan

14)   Memiliki kemampu untuk melakukan adaptasi, pembaharuan, dan revitalisasi sebagai jawaban atas lingkungan yang berubah.

Sumber :

Michael J. Marquardt, (2002). Building The Learning Organization; Mastering the 5 Elements for Corporate Learning. Palo Alto, CA: Davies-Black Publishing, Inc.

Peter M. Senge, (1990). The Fifth Discipline; The Art & Practice of The Learning Organization. New York: A Division of Bantam Doubleday Dell Publishing Group, Inc.

Yusufhadi Miarso, (2011). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Pembelajaran TBTQ di SMA/SMK

Pembelajaran Tuntas Baca Tulis Alquran (TBTQ) di Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan
Oleh: Khoirawati
A.   Standar Kompetensi

Kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik SMA/SMK setelah mengikuti program pembelajaran TBTQ terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu : aspek membaca, menulis, dan aspek menghafal (tahfidz), dengan uraian sebagai berikut:

a.      Aspek MembacaKompetensi bimbingan TBTQ untuk peserta  didik tingkat SMA/SMK meliputi kemampuan mengusai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagaimana tertuang dalam Peraturan Mendiknas Rl No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA/SMK pada aspek kemampuan membaca Al-Qur’an. Standar kompetensi yang dikembangkan melalui TBTQ tidak hanya mampu membaca ayat-ayat yang ada. pada SK,KD PAI, tetapi juga diharapkan dapat membaca ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an di luar SK.KD tersebut.

Dalam Kompetensi Dasar (KD) tersebut ada tiga kemampuan yang harus dikuasai peserta didik, yaitu kemampuan membaca, menjelaskan arti dan menampilkan perilaku. Dalam program bimbingan pembelajaran TBTQ ini yang menjadi prioritas adalah kemampuan membaca dan menulis ayat-ayat Al-Qur’an.

Sementara dua kompetensi lainnya yakni kemampuan menjelaskan arti, dan menampilkan perilaku diperoleh melalui proses pembelajaran tatap muka di kelas atau kegiatan intrakurikuler. Kompetensi membaca Al-Qur’an dapat diperoleh melalui pembelajaran, yang secara gradual dapat dimulai dari:

  • Pengenalan huruf-huruf hijaiyah, meliputi huruf tunggal dan huruf sambung di awal, di tengah dan di akhir dalam rangkaian kalimat (kata) dan jumlah  (kalimat).
  • Untuk penguasaan huruf hijaiyah sebaiknya diiringi dengan pelajaran menulis agar peserta didik dapat mengidentifikasi masing-masing huruf dan penempatannya dengan benar.
  • Penguasaan makharijul huruf, yaitu bagaimana cara mengucapkan atau mengeluarkan bunyi huruf hijaiyah dengan benar saat dibaca.
  • Penguasaan ilmu tajwid, yaitu kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah membaca Al-Qur’an sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

b.      Aspek MenulisKompetensi menulis merupakan salah satu aspek yang juga harus dimiliki oleh peserta didik di SMA/SMK. Kompetensi menulis yang dimaksud, minimal peserta didik SMA/SMK mampu menulis dengan cara menyalin ayat Al-Quran dengan baik dan benar sesuai kaidah penulisan huruf Arab atau kaligrafi dengan standar Khat Naskhi. Seorang peserta didik, dapat dikatakan telah mencapai kompetensi menulis Al-Quran apabila ia telah dapat menulis ayat-ayat Al-Quran dengan baik dan benar dengan tulisan standar Khat Naskhi.

Disarankan kepada guru PAI atau pembimbing TBTQ untuk mengembangkan jenis-jenis Khat Riq’ah, Tsulus, Diwani, dan Farisi. Untuk lebih jelasnya, ada beberapa macam tulisan kaligrafi yang biasa di gunakan untuk menulis Arab (Alqur’an):

1)      Naskh

Digunakan untuk menulis mushaf Alqur’an, buku pelajaran, kutipan ayat-ayat atau Hadits yang terdapat dalam buku-buku, surat kabar, majalah dan Iain-Iain karena keindahan dan kejelasan hurup-hurupnya terutama karena penerapan harakat yang sering menyertainya.

2)      Riq’ah

Tulisan (khat) ini sebagai tulisan yang biasa digunakan keseharian, baik di sekolah atau pun dalam berbagai kebutuhan, misalnya urusan bisnis dan rumah tangga. Tulisan bergaya Riq.ah ini juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan surat menyurat karena kecepatan goresan dan kaidah-kaidahnya yang simpel.

3)         Tsulus

Digunakan dalam berbagai macam medium kaligrafi dan sampul buku, juga banyak digunakan untuk mendekorasi interior masjid.

4)         Diwani

Biasanya diwani ini digunakan untuk urusan-urusan advertising atau iklan spanduk dan brosur-brosur perdagangan, tema pameran dan label dagang atau pesan-pesan mainan dan teater.

5)      Farisi

Dalam penggunaannya dan penyebarannya sama dengan Sulus. Jenis tulisan ini paling banyak digunakan di Negara Iran, Afganistan, Pakistan dan India.

Berikut ini contoh jenis-jenis khat tersebut:

  1. Naskhi
  2. Riq’ah
  3. Tsulus
  4. Kufi
  5. Diwani
  6. Farisi

Sarana dan alat yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran menulis Al-Qur’an adalah:

  • Alat tulis

Alat tulis berupa pensil/spidol white board atau kapur tulis berwarna dan buku streemin digunakan untuk menulis dan menjelaskan tatacara menulis huruf dan kalimat.

  • Buku contoh atau CD

Buku contoh atau CD ini berfungsi sebagai contoh huruf/tulisan dan tata cara menulis khat atau jenis kaligrafi lainnya

  • Tulisan kaligraf

Tulisan kaligrafi ini berfungsi untuk menguraikan huruf-huruf dalam kata, dan kata-kata dalam kalimat serta menjelaskan bentuk umum jenis khat.

c.       Menghapal Setelah para peserta didik pandai membaca dan menulis Al-Qur’an, maka sebaiknya para peserta didik juga diajari dan dibimbing untuk bisa menghafal surat-surat atau ayat-ayat pilihan dalam Al-Qur’an. Setidaknya surat/ayat-ayat pilihan dan surat-surat pendek yang terdapat dalam Juz’amma. Ini penting sekali, mengingat ada harapan besar di kemudian hari peserta didik SMA/SMK ini mampu menjadi imam shalat fardlu baik untuk lingkungan teman sebayanya di sekolah, maupun imam shalat di masyarakat.

Seorang peserta didik, dapat dikatakan telah mencapai kompetensi menghafal Al-Quran apabila ia telah dapat menghafal Surat-surat pendek Juz 30 (Juz ‘amma). Jadi kompetensi utama menghafal ini adalah  agar peserta didik SMA/SMK mampu menghafal juz 30 (juz ‘amma).

Metode menghafal Al-Quran seperti dalam buku “Cara Mudah Membaca Al-Quran” yang ditulis oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim, Imam dan Khatib di Masjid Nabawi, menyebutkan: Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan proses   penghafalan, tidak bisa dihafalkan dengan baik tanpa proses muraja’ah/pengulangan.

Demikian seterusnya sampai selesai, ikutilah cara ini dalam menghafal Al-Quran, dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak terlalu berat untuk menjaganya. Ada beberapa tahapan bagi seseorang yang ingin menghapal Al-Qur’an:

1)      Niat ikhlash karena Allah SWT semata.

2)      Senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menghafal Alqur’an.

3)      Berakhlakul karimah. Bagi seseorang yang menghafal Al-Qur’an hendaknya menghiasi diri dengan akhlakul karimah, agar Allah SWT senantiasa membimbingNya dan memberi kemudahan-kemudahan.

4)      Setiap kali shalat fardlu atau shalat-shalat sunnah, diusahakan ayat-ayat atau surat-surat yang sudah dihafal itu dibaca.

5)      Sering membacanya berulang-ulang (muraja,ah)  agar supaya tidak cepat lupa, dan menjadikannya hafalan tersebut sebagai wiridan harian.

6)      Diusahakan memperbanyak mendengar sebelum menghafal, dari seorang imam shalat magrib, isya, dan subuh.

7)      Sering mengulang-ulang bacaan surat-surat pendek, sehingga apabila kita memulai menghafalnya, maka sudah akrab dengan ayat-ayat tersebut.

8)      Sesekali membacanya dihadapan seseorang yang bacaan dan hafalan Alqur’annya lebih baik untuk menyimak bacaan kita.

9)      Bila menghafal surat-surat pendek diusahakan membacanya sesuai dengan urutan surat-surat dalam Alqur’an, misalnya menghafalnya dimulai dari surat Al Lail, surat Ad Duha, Surat AI Insyirah, sampai terus ke surat An Naas.

Tabel 1

Nama-nama Surat dalam Juz Amma

 

No

Nama Surat

Artinya

Diturunkan

Jumlah Ayat

Keterangan

An-Naas Manusia Makkah 6 SKL SD
Al-Falaq Waktu Subuh Makkah 5 SKL SD
Al-lkhlas Mem, ke Esaan Allah Makkah 4 SKL SD
Al-Lahab Gejolak Api Makkah 5 SKL SD
An-Nasr Pertolongan Makkah 3 SKL SD
Al-Kafirun Orang-orang Kafir Makkah 6 SKL SD
Al-Kautsar Nikmat yang banyak Makkah 3 SKL SD
Al-Maun Barang- barang yang berguna Makkah 7 SKL SD
Al-Quraisy Suku Quraisy Makkah 4 SKL SD
Al-Fil Gajah Makkah 5 SKL SD
Al-  Humazah Pengumpat Makkah 9 SKL SD
Al-Asr Masa Makkah 3 SKL SD
At-Takasur Bermegah-megahan Makkah 8 SKL SD
Al-Qaari’ah Hari Kiamat Makkah 11 SKL SD
Al-Adiyat Berlari Kencang Makkah 11 SKL SD
Al-Zalzalah Kegoncangan Makkah 8 SKL SD
Al-Bayyinah Bukti Makkah 8 SKL SD
Al-Qadr Kemuliaan Makkah 5 SKL SD
Al-Alaq Segumpal Darah Makkah 19 SKL SD
At-Tin Buah Tin Makkah 8 SKL SMP
Al-lnsyrah Lapang Makkah 8 SKL SMP
Ad-Duha Waktu Matahari Naik Makkah 11 SMA/ SMK
Al-Lail Malam Makkah 11 SMA/ SMK
Asy-Syams Matahari Makkah 15 SMA/ SMK
Al-Balad Negeri Makkah 20 SMA/ SMK
Al-Fajr Fajar Makkah 30 SMA/ SMK
Al-Gasyiyah Peristiwa yang dahsyat Makkah 26 SMA/ SMK
AI-Afa Yang Paling Tinggi Makkah 19 SMA/ SMK
At-Tariq Yang Datang di Malam Hari Makkah 17 SMA/ SMK
AI-Bufuz Gugusan Bintang Makkah 22 SMA/ SMK
Al-lnsyiqaq Terbelah Makkah 25 SMA/ SMK
Al-Mutaffifin Orang yang curang Makkah 36 SMA/ SMK
Al-lnfitar Terbelah Makkah 19 SMA/ SMK
At-Takwir Menggulung Makkah 29 SMA/ SMK
Abasa Bermuka Masam Makkah 42 SMA/ SMK
An-Naziat Yang Mencabut Makkah 46 SMA/ SMK
An-Naba Berita Besar Makkah 40 SMA/ SMK

Selama mengikuti pendidikan di SMA/SMK peserta didik diharapkan mampu menghafal seluruh surat-surat juz 30. Untuk menguasai hafalan seluruh surat-surat pada juz ‘amma tersebut dapat digunakan tahapan berikut ini :

Kelas

Semester

Target Hafalan

Jumlah Surat

X 1 Surat Annas s.d.  Al- ‘ashr 12
X 2 At-Takatsur s.d. Al-’alaq 7
XI 1 At-Tin s.d. Asy-Syamsi 5
XI 2 Al-Balad s.d. At-Thariq 5
XII 1 At-Buruj s.d. Al-Infithar 4
XII 2 At-Takwir s.d. Annaba 4
Jumlah Surat Seluruhnya 37

 

2.      Target KompetensiTarget minimal yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa SD, SMP, dan SMA/SMK yang mengikuti kegiatan bimbingan TBTQ di sekolah adalah sebagai berikut:

Jenjang pendidikan

Kompetensi Umum

Membaca

Menulis

Mengapal

SD
  1. Mampu membaca Al-Qur’an dengan benar;
  2. Khatam Juz 30.
ü Menyalin surat-surat piIihan Juz-30.  ü Q.S.Annas s.d AI-’Alaq (19 surat) 
     
SMP
  1. Mampu membaca Al-Qur’an dengan benar dan memahami ilmu tajwid;
  2. Khatam Juz 1 s.d Juz 15
ü Menyalin surat-surat dalam Juz 30  Q.S Annas s.d Al-Balad (25 surat) 
     
SMA/SMK
  1. Mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, fasih, memahami tajwid;
  2. Khatam Juz 1 s.d.Juz 30.
ü Menyalin Juz 30 dan mengenal Khat Al-Qur’an Q.S Annas s.d An-Naba  (37surat) 
     

Target ini diharapkan dapat dicapai selama peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah. Khusus untuk peserta didik SMA/SMK, selain mampu membaca dan menulis Al-Qur’an, mereka juga diharapkan dapat menamatkan bacaan Al-Qur’an (khatam) miminal sekali selama mengikuti pendidikan di SMA/SMK.

3.      PengembanganPeserta didik SMA/SMK yang telah mencapai target minimal kompetensi TBTQ dapat diberikan bimbingan melalui pengayaan yang lebih luas dalam bidang Al-Qur’an. Sebagai contoh bagi peserta didik yang telah mampu membaca Al-Qur’an dengan benar

dapat diberikan pengayaan berupa :

1)      Khatamul Qur’an’; membaca Al-Qur’an sampai tamat    yang dilakukan secara periodik;

2)      Tahsin Al-Qur’an. Agar mereka semakin baik bacaannya dan mengenal jenis-jenis qiro’ah;

3)      Bimbingan menulis indah (Khat Al-Qur’an);

4)      Bimbingan Tahfid Al-Qur’an yang lebih dari Juz ‘Amma;

5)      Kajian Tafsir Al-Qur’an.

Hal bergantung kepada kondisi atau kekhususaan satuan pendidikan.

 

B.    Metode TBTQ di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
1.      Metode MembacaSaat ini banyak buku-buku “metode praktis” tentang cara cepat, mudah dan praktis belajar membaca dan menulis Al-Qur’an yang sudah di kenal di masyarakat. Mulai dari metode yang sangat cepat, cepat, dan yang konvensional. Tetapi itu semua tergantung kepada siapa yang mengunakannya. Sebab, pada prinsipnya tidak ada suatu metode pembelajaran yang terbaik, dan sebaliknya yang terburuk. Baik buruknya suatu metode, atau cocok tidaknya suatu metode sangat bergantung kepada orang yang menggunakannya, situasi, kondisi, dan potensi serta karakter para peserta didik yang belajar. Oleh karena itu, para guru PAI atau pembimbing TBTQ di sekolah perlu bijak dalam memilih dan menentukan metode yang tepat.

Ada beberapa metode praktis membaca Al-Qur’an yang bisa dijadikan acuan oleh guru PAI atau pembimbing dalam menyelenggarakan Tuntas Baca Tulis Al-Qur’an (TBTQ) di sekolahnya. Metode-metode tersebut relative sudah dikenal dikalangan masyarakat luas, yaitu sebaqai berikut:

a.      Metode Baghdadiyah.Metode ini berasal dari Bagdad, mulai berkembang pada masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Metode ini juga telah berabad-abad berkembang secara merata di tanah air Indonesia. Metode ini dikenal dengan methode “Eja”. Secara penyajian materi-materinya diurutkan dari mulai yang lebih mudatr ke yang sukar, dari yang kongkrit kepada yang abstraki; dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang terinci (khusus).

Beberapa kelebihan dari metode ini antara lain :

1)         Bahan dan materi pelajarannya disusun secara sistematis.

2)         Tema sentral terfokus pada penampilan 30 huruf secara utuh.

3)         Pola bunyi dan susunan huruf {wazan) disusun secara rapi.

4)         Methode mengeja yang dikembangkan mempunyai daya tarik tersendiri.

5)         llmu tajwid terintegrasi daiam setiap bacaan.

6)         Penampilan surat-surat pendek didahulukan.

b.      Metode IqroMetode IQRO disusun olen UstadzAs’ad Humam dari Kota Gede Yogyakarta, terdiri dari (enam) Jilid. Metode ini sangat populer dikalangan masyarakat, terutama di kalangan anak-anak usia dim, seperti siswa Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar (SD). Tetapi metode ini bisa juga digunakan oleh berbagai Kaiangan, tua dan muda termasuk peserta didik SMAdan SMK.

Beberapa kelebihan dari metode IQRO ini antara lain:

1)      Setiap jilid oleh penulisnya disertai petunjuk cara mengajarkannya

2)      Petunjuk mengajar jilid 1 berlaku pula untuk jilid 2, demikian pula seterusnya samapai jilid 6.

3)      Materi jilid 1 “bacaan langsung,” tidak diurai atau  dieja.

4)      Setelah mengenal huruf hijaiyah, langsung diperkenalkan dengan huruf sambung.

5)      Sudah dikondisikan mengenal ayat-ayat Al-Qur’an walaupun hanya potongan-potongan ayat.

6)      Dilengkapi dengan pelajaran ilmu tajwid.

Ada 10 sifat dar metode IQRO, yaitu :

v  Bacaan langsung.

v  CBSA

v  Privat

v  Modul

v  Asistensi

v  Praktis

v  Disusun secara lengkap dan sempurna

v  Variatif

v  Komunikatif

v  Fleksibel

Bentuk-bentuk pengajaran dengan metode IQR antara lain :

1)      TK AI-Qur’an

2)      TP AI-Qur’an

3)      Digunakan pada pengajian anak-anak di masjid dai musholla

4)      Menjadi materi dalam kursus baca tulis Al-Qur’an

5)      Menjadi program ekstrakurikuler di sekolah

6)      Digunakan di majelis-majelis ta’lim.

c.       Metode Qiro’ati

Metode Qiroati adalah metode praktis belajar membaca Al-Qur,an yang terdiri dari 6 (enam) jilid, diterbitkan pertamakali tanggal 1 Juli 1986, bertepatan dengan berdirinya TK Al-Qur’an yang pertama di Indonesia. Metode Qiroati disusun oleh H. Dachlan Safim Zarkasyi.   Metode Qiroati ini pada dasarnya diperuntukkan >agi peserta didik TK. Al- Qur,an, tapi dapat pula digunakan untuk para remaja atau peserta didik SMA/SMK, bahkan untuk orang tua sekalipun yang belum bisa nembaca Al-Qur’an. Karena di dalamnya menguraikan materi pelajaran yang esensial, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah sampai huruf sambung.

Beberapa keistimewaan dari metode ini, antara lain :

1)      Metode ini sudah lama dikenal di masyarakat sehingga sudah teruji keterlaksanaannya.

2)      Setiap jilid dilengkapi petunjuk pengajarannya dengan sangat rinci, sehingga guru atau pembimbing TBTQ  tidak kesulitan mengajamya. Sudah diperkenalkan ayat-ayat Al-Qur’an walaupun hanya potongan-potongan ayat.

3)      Setiap kelasnya ditentukan 20 orang dengan seorang guru tanpa harus ada guru bantu.

4)      Khusus yang belajar pada jilid 1, jumlah muridnya ditentukan yaitu 15 orang dengan seorang guru tanpa guru bantu.

5)      Mengajar jilid 1 dan jilid 2 materinya diberikan secara perorangan. Mengajar jilid 3 dan jilid 4 materinya diberikan secara klasikal. Dilengkapi dengan pelajaran ilmu tajwid.

d.      Metode Al-Barqy

Methode Al-Barqy pertama dikembangkan oleh dosen fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya yaitu Muhadzir Sulthan pada tahun 1965. Hasil penelitian Deprtemen Agama Rl pada saat itu menjelaskan bahwa methode ini dapat di implementasikan bagi anak-anak hingga orang dewasa dengan mudah, singkat dan cepat. Metode Al-Barqy dapat dinilai sebagai metode membaca Al-Qur’an yang paling awal. Metode ini di temukan oleh dosen fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya yaitu Muhadzir Sulthan pada tahun 1965. Awalnya, al-Barqy iperuntukan bagi siswa SD Islam At-Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar metode ini lebih cepat mampu membaca Al-Qur’an. Muhajir lantas dibukukan metodenya pada tahun 1978, dengan judul Cara Cepat mempelajari Bacaan Al-Quran Al-Barqy.

Kelebihan metode ini sebagai berikut:

1)      Guru dapat mengajar Al-Quran lebih praktis dan cepat

2)      Mengurangi kejenuhan siswa, karena pembelajarannya lebih singkat

3)      Tidak berjilid-jilid

e.       Metode Tilawati

Metode tilawati disusun pada tahun 2002 oleh Tim yang terdiri Drs. H. Hasan Sadzili dan Drs. H. Ali Muaffa dll. Karakteristik dan keunggugulan metode ini antara lain:

  1. Menyeimbangkan pendekatan pembelajaran secara klasikal dan individual
  2. Metode ini disusun secara praktis sehingga mudah dipelajari
  3. Menekankan pada kemampuan peserta didik untuk dapat membaca Al-Qur’an secara tartil
  4. Menggunakan variasi lagu-lagu tilawah dalam membaca Al-Qur’an sehngga tidak membosankan.
  5. Metode ini menggunakan sistem sima’an (menyimak) sehingga peserta didik mampu membenarkan dan mengoreksi bacaan Al-Qur’an peserta didik yang

f.       Metode Iqro Dewasa Dan Terpadu

Metode Iqro Dewasa dan Terpadu ini disusun oleh Drs. Tasrifin Karim dari Kalimantan Selatan. Iqro terpadu merupakan penyempurnaan dari Iqro Dewasa. Kelebihan Iqro Terpadu dibandingkan dengan Iqro Dewasa antara lain bahwa Iqro Dewasa dengan pola 20 kali pertemuan sedangkan Iqro Terpadu hanya 10 kali pertemuan dan dilengkapi dengan latihan membaca dan menulis. Kedua metode ini diperuntukkan bagi orang dewasa.

g.      Metode Dirosa (Dirasah Orang Dewasa)

Metode ini merupakan sistem pembinaan Islam berkelanjutan yang diawali dengan belajar baca Al-Qur’an. Panduan baca Al-Qur’an metode Dirosa disusun tahun 2006 yang dikembangkan oleh Wahdah Islamiyah Gowa. Panduan ini khusus bagi orang dewasa dengan sistem klasikal 20 kali pertemuan.

Buku panduan ini lahir dari sebuah proses yang panjang, dari sebuah perjalanan pengajaran Al-Qur’an di kalangan ibu-ibu yang dialami sendiri oleh Pencetus dan Penulis buku ini. Telah terjadi proses pencarian format yang terbaik pada pengajaran Al-Qur’an di kalangan ibu-ibu selama kurang lebih 15 tahun dengan berganti-ganti metode. Dan akhirnya ditemukanlah satu format yang sementara dianggap paling ideal, paling baik dan efektif, yaitu memadukan pembelajaran baca Al-Qur’an dengan pengenalan dasar-dasar keislaman. Buku panduan belajar baca AI-Qur’an-nya disusun tahun 2006.

Sedangkan buku-buku penunjangnya juga yang dipakai pada santri TK-TP Al-Qur’an. Panduan Dirosa sudah mulai berkembang di daerah-daerah, baik Sulawesi, Kalimantan maupun beberapa daerah kepulauan Maluku, yang dibawa oleh para da’i .

Secara garis besar metode pengajarannya adalah Baca-Tunjuk-Simak-Ulang, yaitu pembina membacakan, peserta menunjuk tulisan, mendengarkan dengan seksama kemudian mengulangi bacaan tadi. Teknik ini dilakukan bukan hanya bagi bacaan pembina, tetapi juga bacaan dari sesama peserta. Semakin banyak mendengardan mengulang, semakin besarkemungkinan untuk bisa baca Al-Qur’an lebih cepat.

h.      Metode Al-Jabari

Metode Al-Jabari merupakan bimbingan praktis membaca dan menulis Al-Quran. Pelajaran pertama dalam metode ini adalah tanda fatah dengan lafal A, sebagaimana arti dari kata Jabardari bahasa Parsi yang berarti fatah. Hal ini diulang terus sehingga dalam 2-3 kali pertemuan sudah hapal. Selanjutnya akan disusun olahan kata-kata dan secara otomotis olahan kata tersebut dapat dimengerti.

Metode ini dikembangkan oleh tiga orang pakar dibidangnya, yaitu diantaranya adalah ahli Al-Quran, Kaligrafer Eksibisi ASEAN, serta Qori Internasional, dimana ketiganya merupakan warga asli Karawang Jawa Barat. Metode ini dikembangkan sesuai dengan kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam membaca dan menulis Al-Quran dan merupakan bimbingan praktis membaca dan menulis Al-Quran.

Arti Jabar lainnya ialah singkatan dari Jawa Barat, yang berarti metode tersebut diterbitkan di Jawa Barat. Metode ini bukan metode mambaca huruf Arab, tapi membaca dan menulis Al-Quran sehingga selesai pelajaran ini dapat dilanjutkan dengan membaca Al-Quran.

 2.      Metode Menulis

a.       Metode Uktub

Metode uktub adalah metode yang digunakan untuk mendampingi metode pembelajaran Iqra’. Penyebutan metode uktub sebenarnya bukan merupakan istilah baku, namun lebih populer di kalangan para penggunanya. Pengarangnya sendiri menggunakan istilah yang diambil dari Al-Qur’an yang merupakan rangkaian dari perintah “Iqra” yakni “Allama bil qalam”. Metode ini memiliki karakteristik kemampuan peserta didik dalam menyalin atau menirukan tulisan berupa huruf, lafadz ataupun ayat.

Metode ini diterapkan untuk melatih keterampilan peserta didik menulis seeara Germat sesuai dengan naskah yang ia salin, baik dari jenis huruf, bentuk huruf ataupun ketepatan tulisan. Selain itu- dengan menyalinpeserta didik diharapkan dapat membaca secara berulang-ulang ayat/kalimat yang ia sajin sehingga dapat mendukung terhadap aspek hafalannya.

b.      Metode Lemka

Metode ini ditemukan oleh Sirojuddin AR, dosen Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 1986. istilah Lemka diambilkan dari nama organisasi yang dibinanya yaitu; Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an.

Metode ini disusun berdasarkan karakteristik kesamaan huruf-huruf Hijaiyah dengan mengikuti rumus baku yang ditemukan oleh Ibnu Muqlah, seorang khattat yang termasyhur pada jamankekhalifahan Abbasiyyah.

Menurut Ibnu Muqlah, tulisan huruf-huruf Al-Qur’an akan tampak indah dan serasi dalam komposisi huruf yang tepat dan harmonis, jika menggunakan standar “Alif, titik belah ketupat dan lingkaran.

Secara sederhana, gambar rumus-rumus tersebut  adalah sebagai berikut:

Peserta didik dapat mengikuti pelajaran dengan mudah karena dalam metode ini dijelaskan langkah-langkah menggoreskan pena secara terperinci disertai dengan contoh yang jelas.

c.       Metode Imla’

Metode ini di masyarakat lebih dikenal dengan sebutan dikte, yaitu menulis huruf atau kalimat Al-Qur’an sesuai dengan apa yang dilafalkan oleh pendidik/pembimbing. Metode ini bermanfaat untuk melatih keterampilan peserta didik menuliskan bacaan-bacaan yang dilafalkan oleh pendidik/orang lain.

Karakteristik metode ini menuntut konsentrasi peserta didik dalam mendengarkan dan memahami setiap bacaan ayat Al-Qur’an yang dilafalkan oleh pendidik dalam proses pembelajaran sehingga ketepatan tulisan sesuai dengan yang diucapkan oleh pendidik. Demikian halnya pendidik pun dituntut untuk melafalkan secara tegas dan jelas makharijul huruf ayat Al-Qur’an sehingga tidak menimbulkan kesalahan dalam menulis.

Keterampilan menulis melalui metode imla ini dapat pula digunakan dalam latitian diantara sesama peserta didik, sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif.

C.      Pola Penyelenggaraan TBTQ SMK

1.      Seleksi Peserta

Peserta didik muslim SMA/SMK kelas IX yang baru diterima, perludiketahuitingkatkemampuan membaca, menulis, dan hafalanAI-Qu’an-nya. Untuk mengetahui tingkat kemampuan tersebut harus dilakukan melalui tes, yang disebut dengan tes penempatan (placement test). Setelah diketahui, guru PAI atau pembimbing  melakukan tindak lanjut berupa bimbingan pelaksanaan TBTQ yang disesuaikan dengan kemampuan hasil tes  masing-masing.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan tes awal baca tulis Al-Qur’an adalah:

1)      Dilakukan secara individual oleh guru PAI berhadapan langsung dengan peserta didik.

2)      Peserta didik membaca dengan suara yang cukup lantang, yang memungkinkan guru penguji dapat mendengar secara jelas kalimat atau ayat yang dibaca.

3)      Guru memberikan nilai secara obyektif, untuk melakukan pengelompokkan pada kelas rombongan pembelajaran TBTQ.

4)      Peserta didik membaca ayat-ayat Al-Qur’an ditunjukkan oleh guru secara acak dari Juz 30, atau ayat-ayat Al-Qur’an tertentu pada Juz-1 s.d Juz-15.

5)      Peserta didik diminta menyampaikan beberapa hafalan dari Juz-30 pada Juz Amma.

Ayat yang dibaca pada tes awal ini bisa membaca sembarang ayat dari surat-surat Juz 30 Juz Amma atau ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Atau dapat juga mengggunakan instrument tertentu, seperti contoh di bawah ini.

Contoh Instrumen Tes Awal

Kemampuan Membaca Al-Qur’an

Adalah sebagai berikut:

Keterangan:

  1. Tidak lulus nomor 1= tidak bias membaca Al-Quran (D)
  2. Lulus nomor 1, belum lulus no.2=kurang lancer (C)
  3. Lulus nomor 2, belum lulus no 3= lancer (B)
  4. Lulus no 3=fasih (A)

Contoh : Format Penilaian membaca Al-Quran

Nama sekolah  :

Kelas                           :

No

Nama

Nilai

Kelompok

Keterangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Pengelompokan

Peserta didik SMA/SMK yang telah mengikuti tes awal membaca Al-Qur’an ditempatkan pada kelompok belajar tertentu berdasarkan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki. Untuk menempatkan peserta didik pada kelompok membaca Al-Qur’an dapat digunakan skala penempatan sebagai berikut:

No

Kelompok

Skala Nilai

Indikator Kemampuan

A 81 – 100 Mampu membaca dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid dan lagu qira’ah.
B 61 – 80 Mampu membaca dengan benar sesuai ilmu tajwid tanpa lagu qira’ah
C 41 – 60 Masih ditemukan kesalahan dalam ilmu tajwid
D 21 – 40 Dapat membaca Alqur’an tanpa tajwid, dan sudah mengenal Huruf hihjaiyyah

Fokus bimbingan TBTQ SMA/SMK ditujukan kepada peserta didik yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Yaitu mereka yang menurut hasil tes penempatanberada di kelompok D, C dan B. Mereka yang di kelompok B, C, dan D diberikan layanan bimbingan TBTQ sesuai dengan kemampuannya.  Misalnya peserta didik yang memiliki nilai 41-60 berarti  masih banyak salah dalam membacanya. la ditempatkan pada kelompok C dan mendapat bimbingan bersama temannya yang memiliki kemampuan yang sama.

Sementara bagi peserta didik SMA/SMK yang berada pada kelompok A dapat diberikan bimbingan dan pengayaan seperti halnya :

1)      Tahsin AI-Qur’an.

2)      Bimbingan menulis indah (KhatAI-Qur’an).

3)      Bimbingan tambahan Tahfid Juz ‘Amma atau surat-   surat pilihan dalam Al-Qur’an.

4)      Kajian tentang arti dan kandungan ayat-ayat Al-   Qur’an

 

3.      Pola Bimbingan

Pola bimbingan pembelajaran TBTQ bagi siswa SMA/SMK dapat dilakukan secara fleksibel melalui3 (tiga) pola, yaitu pola Diniyyah di Sekolah, pola Kerjasama, dan pola Mandiri.

a.      Pola Dinniyah di Sekolah

Pola Diniyyah di Sekolah, adalah penyelenggaraan bimbingan pembelajaran TBTQ yang dilaksanakan di sekolah dengan menggunakan fasilitas ruang kelas atau mushalla sekolah, dilakukan di luar jam pembelajaran tatap muka terstruktur. Tenaga pembimbingnya adalah guru PAI sekolah yang bersangkutan, atau guru PAI dari sekolah lain,/ atau tenaga lainnya yang berkompeten, seperti guru kelas, guru pengajian, pengurus BKPMRI yang ada di lingkungan masyarakat terdekat.

Penanggungjawab pola Diniyyah di Sekolah adalah kepala sekolah, dan penanggungjawab teknis operasionalnya adalah guru PAI dibantu oleh guru kelas yang beragama Islam di sekolah yang  bersangkutan.

  • Pengelompokan peserta TBTQ

Peserta didik TBTQ dikelompokan berdasarkan tingkat kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai hasil tes awal. Jumlahnya setiap 1 (satu) rombongan belajar diharapkan tidak lebih dari 24 orang, dan  pengelompokannya tidak harus sama satu tingkat,  tetapi bisa dicampur untuk tingkat kelas yang berbeda.

  • Guru Pembimbing

Guru pembimbing TBTQ di SMA/SMK tidak harus guru PAI pada sekolah yang bersangkutan, tetapi bisa  juga dilakukan oleh orang lain yang berkompeten di bidang baca tulis Al-Qur’an. Karena itu pembimbing TBTQ blsa melibatkan, antara lain :

a)   Gruru PAI.

b)   Guru mata pelajaran umum.

c)   Alumni sekolah.

d)  Ustad di lingkungan masayarakat sekitar.

e)   Pengurus BKPRMI.

  • Waktu dan Tempat

Waktu untuk penyelenggaraan bimbingan pembelajaran TBTQ di SMA/SMK dilaksanakan dalam waktu yang disediakan secara khusus di luar jam tatap muka intrakurikuler. Pengaturan hari dan durasi waktu untuk setiap kali pertemuan dapat disesuaikan  dengan situasi, kondisi, dan potensi sekolah masing-masing. Untuk 1 (satu) kelompok atau rombongan belajar dapat dilakukan 2 x pertemuan dalam satu minggu, dan setiap kali pertemuan bisa 60 menit atau 90 menit. Kegiatan ini dilakukan secara rutin sampai peserta didik memiliki kompetensi sesuai target /ang ditetapkan. Dengan demikian maka peserta jidik tersebut sudah tuntas membaca, menulis, dan nenghafal Al-Qur’an.

  • Sarana dan Instrumen

Untuk pelaksanaan bimbingan TBTQ di SMA/SMK       diperlukan sarana dan media pembelajaran sebagai berikut :

a)   Ruang/kelas untuk kegiatan belajar

b)   Panduan belajar Al-Qur’an, sesuai metode yang digunakan, seperti buku Iqra.

c)   MushafAl-Qur’an.

d)  AlatTulis.

e)   Lekar / alas mushaf

f)    Peralatan lain yang dianggap perlu.

Selain sarana diperlukan pula instrumen pendukung,     seperti:

a)      Daftar hadir peserta.

b)      Daftar hadir guru/pembimbing.

c)      Daftar nilai kemajuan hasil belajar.

Contoh format untuk instrument ini dapat dilihat pada lampiran buku panduan TBTQ ini.

b.      Pola Mandiri

Bimbingan TBTQ pola mandiri adalah pembelajaran baca tulis Al-Qur’an yang dilakukan secara rutin oleh peserta didik di rumahnya, di Madrasah, Pesantren atau pengajian lembaga lain yang ada di lingkungan masyarakat. Penanaggungjawab pola ini adalah orang tua/wali siswa. Untuk memastikan peserta didik yang mengikuti pola ini sudah memenuhi target kompetensi yang ditetapkan, maka peserta didik yang bersangkutan harus mengikuti ujian sertifikasi TBTQ di sekolahnya. Untuk menjamin bahwa pola ini terlaksana dengan baik diperlukan komunikasi intensif antara guru PAI dengan orang tua melalui kartu kendali seperti format berikut ini.

Kartu kendali TBTQ Mandiri

Nama  :                                   Kelas :                        Alamat:

No

Hari, Tanggal

Materi BTQ

Halaman

Tandatangan Orangtua/Ustad

         
         
         
         

 

c.       Pola Kerjasama

Bimbingan TBTQ pola kerjasama, dilakukan dalam bentuk kerjasama antara Sekolah dengan suatu lembaga pengajian seperti Madrasah Diniyyah, Majelis Ta’lim, atau BKPRMI. Pola ini dapat dilaksanakan dengan rambu-rambu sebagi berikut:

a)      Dibuat perjanjian kerjasama tertulis yang disepakati oleh kedua belah pihak antara pihak sekolah dengan lembaga pihak ke-ll.

b)      Tempat pelaksanaan dapat dilaksanakan sekolah, atau di tempat pihak ke-ll yang diajak kerjasama.

c)      Tenaga pembimbing TBTQ dapat melibatkan guru PAI sekolah dan ustadz dari pihak ke-ll.

d)     Penanggungjawab pola inia dalah kepala sekolah, dan teknis opersionalnya tanggungjawab guru PAI dan pihak ke-ll.

e)      Biaya penyelenggaraaw ditanggung oleh pihak sekolah sesuai kesepakatan bersama.

f)       Sertifikat TBTQ ditandataMgan oleh kedua belah pihak yang melakukan kerjasama.

Untuk menjamin terselenggaranya kegiatan bimbingan TBTQ siswa SMA/SMK melalui pola kerjasama ada baiknya dipantau melalui kartu kendali TBTQ seperti contoh di bawah ini:

Kartu Kendali TBTQ

Nama:                         Tempat Bimbingan :                                     Alamat:

No

Hari, Tanggal

Materi BTQ

Halaman

Tandatangan Orangtua/Ustad

         
         
         
         
         

Pembiayaan

Biaya pelaksanaan bimbingan Tuntas Baca Tulis Al-Qur’an (TBTQ) dapat bersumber dari:

1)      RAPBS (RencanaAnggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah). APBN/APBD

2)      Bantuan Pemerintah

3)      luran Komite Sekolah

4)      Bantuan Masyarakat peduli pendidikan

5)      Sumber lain yang halal dan tidak mengikat.

6)      Kh’usus untuk TBTQ pola mandiri, biaya sepenuhnya ditanggung oleh orang tua siswa yang bersangkutan.

Komponen yang dapat dibiayai dalam penyelenggaraan bimbingan TBTQ antara lain dapat berupa :

1)                              Pengadaan instrumen BTQ

2)                              Pengadaan Buku Panduan/Metode Iqro

3)                              Honorarium/transport pembimbing

4)                              Penilaian

5)                              Pengadaan sertifikat TBTQ;

6)                              Pembiayaan lain yang diperfukan.

Mentari di Atas Gunung

by : Tri Aru W
Sapuan angin menandakan fajar
Menyelimuti Pagar Alam
Perlahan gunung itu bangun dari tidurnya
Kabut mengurai nan cerita
Menghadirkan embun menjelang fajar
Banyak petuah nan pantun menghiasi Pagar Alam
Senandung  luhur mewarnai keindahan budaya
Seperti Bunga Dempo dalam harapan
Tak akan hilang di atas gunung
Karena nyanyian meresap dalam sukma
Keelokan rupa cermin Bunga Dempo
Mentari tersenyum menghampiri kerinduannya
Bunga Pagar Alam bersenandung puisi
Kehadiran alam memanjangkan kerinduan
Kampung nan elok bunga Pagar Alam
Meraih cita nan cinta Pagar Alam
Bunga Dempo mewangi nan indah merindukan halaman
Sujud syukur mengurai keikhlasan dalam sanubarinya

Alhamdulillah…

TENTANG BUKU AJAR

Oleh : Khoirawati

A.      Buku Ajar   

1.      Pengertian Buku Ajar

Buku adalah jendela dunia.[1] Melalui buku, seseorang dipersilahkan masuk menatap dan menjelajah dunia yang sangat luas. Buku[2] ajar dipahami sebagai alat pengajaran yang paling banyak digunakan di antara semua alat pengajaran lainnya.[3] Buku ajar memberikan ajaran dalam suatu bidang studi.[4]

Kedua pengertian itu berbeda. Pengertian pertama menekankan fungsinya sebagai alat pengajaran. Kedua memfokuskan kepada isinya.[5] Buku ajar adalah buku yang digunakan dalam proses kegiatan belajar. Buku ajar dikenal pula dengan sebutan buku teks, buku materi, buku paket, atau buku panduan belajar.[6] Menilik isi dan luasnya buku teks sama saja dengan buku ajar.[7] Jadi buku ajar yang dimaksudkan identik dengan buku teks, buku paket, buku materi atau buku panduan belajar.

Buku ajar yang diterbitkan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama (dulu Dinas Pendidikan Nasional dan Departemen Agama) disebarluarkan ke semua sekolah di tanah air sebagai buku pegangan wajib serta tidak diperdagangkan. Jadi, dalam menerangkan apa yang dimaksud dengan buku ajar, penulis mendasarkan diri pada teori-teori yang berhubungan dengan buku teks.

Banyak ahli yang mengemukakan batasan tentang buku ajar (paket, teks) ini. Di antaranya Hall-Quest dalam buku Tarigan[8] mengatakan “buku ajar adalah rekaman pemikiran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan instruksional”. Ahli lain seperti Lange menyatakan “buku teks (ajar) adalah buku standar atau buku setiap cabang khusus studi dan terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok atau utama dan suplemen atau tambahan”.[9] Lebih terperinci lagi Bacon mengemukakan bahwa “buku teks (ajar) buku yang dirancang buat penggunaan di kelas, dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau ahli dalam bidang itu dan dilengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi”.[10]

Buckingham mengutarakan bahwa “buku teks (ajar) adalah sarana belajar yang bisa digunakan di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi untuk menunjang suatu program  pengajaran dan pengertian modern dan yang umum dipahami”.[11] Hal senada juga terdapat dalam Wikipedia, “A textbook or coursebook is a manual of instruction in any branch of study. A textbook can also be any standard book on a subject, which is not necessarily used in a particular course. Textbooks are produced according to the demands of educational institutions”.[12]

Dari berbagai pendapat para ahli di atas, Tarigan menyimpulkan beberapa hal mengenai buku ajar tersebut sebagai berikut .

  1. Buku ajar merupakan buku pelajaran yang ditujukan bagi siswa pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SLTP, SMA/SMK, dan sebagainya).
  2. Buku ajar selalu berkaitan  dengan bidang studi tertentu (Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika, Sejarah, dan sebagainya).
  3. Buku ajar selalu merupakan buku yang standar. Pengertian standar di sini ialah baku, menjadi acuan berkualitas dan biasanya ada tanda pengesahan dari badan wewenang di bawah Dinas Pendidikan Nasional.
  4. Buku ajar ditulis oleh pakar di bidangnya masing-masing.
  5. Buku ajar ditulis untuk tujuan intruksional tertentu.
  6. Buku ajar dilengkapi dengan sarana pengajaran.[13]

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat dikatakan buku ajar merupakan buku yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh pemerintah (Kemendiknas dan Kemenag)) sebagai buku pelajaran dalam bidang studi tertentu, yang merupakan buku standar dan disusun oleh para pakar dalam bidang itu untuk maksud-maksud dan tujuan intruksional dilengkapi dengan sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah-sekolah sehingga menunjang suatu program pengajaran.

Dalam perkembangannya buku ajar tidak lagi diterbitkan oleh pemerintah, melainkan oleh pihak swasta. Dalam kaitan ini, pemerintah hanya diberi wewenang untuk pengadaan buku ajar, bukan untuk penggandaannya. Selanjutnnya pemerintah menetapkan standar tertentu yang harus dipenuhi oleh setiap penerbitan buku yang akan digunakan oleh satuan pendidikan. Dalam hal ini standar tersebut ditetapkan dan dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).[14]

Selain itu, dalam Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008  Pasal 1 menjelaskan bahwa ”Buku teks adalah buku acuan wajib untuk digunakan di satuan pendidikan dasar dan menengah atau perguruan tinggi yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, dan kepribadian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan kepekaan dan kemampuan estetis, peningkatan kemampuan kinestetis dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan”.[15]

Seperti terlihat dari namanya, buku ajar adalah jenis buku yang digunakan dalam aktivitas belajar dan mengajar. Prinsipnya semua buku dapat digunakan untuk bahan kajian pembelajaran. Namun, yang ingin disampaikan adalah pengertian buku ajar terkait dengan cara menyusun, penggunaannya dalam pembelajaran, dan penyebarannya, sehingga buku tersebut termasuk kategori buku ajar.

Buku ajar disusun dengan alur dan logika sesuai dengan rencana pembelajaran. Buku ajar disusun sesuai kebutuhan belajar siswa atau mahasiswa. Buku ajar disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi tertentu.[16]

Penulisan buku ajar harus mengacu kepada kurikulum dan harus tercermin adanya bahan yang tingkat kedalaman dan keluasannya berbeda antara kelas X dengan kelas XI. Bahan di kelas XI relatif lebih luas, lebih dalam dari bahan yang diberikan di kelas X, bukan sebaliknya.[17] Buku ajar disusun sesuai dengan kebutuhan pelajar. Pertama kebutuhan akan pengetahuan, misalnya tentang ilmu alam, kepada siswa SD kebutuhannya hanya sampai tingkatan mengetahui. Tetapi pada tingkat SMA/SMK sudah harus mampu memahami, bahkan mungkin sampai aplikasi. Di tingkat ini dibutuhkan latihan dan pendampingan. Ketiga adalah kebutuhan umpan balik terhadap apa yang disampaikan kepada siswa.

Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata pelajaran yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan.[18]

Untuk menyempurnakan pengertian tentang buku ajar yang dimaksudkan dengan Kepmen No: 36/D/O/2001, Pasal 5, ayat 9 (a); “Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan”. Kata kuncinya adalah buku ajar disusun sesuai dengan mata pelajaran/mata kuliah tertentu, diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan, artinya buku tersebut haruslah ber- ISBN.

2.      Fungsi Buku Ajar

Greene dan Petty, merumuskan beberapa peranan dan kegunaan buku ajar sebagai berikut :

  1. Mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemontrasikan aplikasi dalam bahan pengajaran yang disajikan.
  2. Menyajikan suatu sumber pokok masalah atau subject matter yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa, sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang disarankan di mana keterampilan-keterampilan ekspresional diperoleh pada kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya.
  3. Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional.
  4. Menyajikan (bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya) metode-metode dan sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi siswa.
  5. Menyajikan fiksasi awal yang perlu sekaligus juga sebagai penunjang bagi latihan dan tugas praktis.
  6. Menyajikan bahan atau sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna.[19]

Buku ajar haruslah mempunyai sudut pandang yang jelas, terutama mengenai prinsip-prinsip yang digunakan, pendekatan yang dianut, metode yang digunakan serta teknik-teknik pengajaran yang digunakan. Buku ajar sebagai pengisi bahan haruslah menyajikan sumber bahan yang baik. Susunannya teratur, sistematis, bervariasi, dan kaya akan informasi. Di samping itu harus mempunyai daya tarik kuat karena akan mempengaruhi minat siswa terhadap buku tersebut. Oleh karena itu, buku ajar itu hendaknya menantang, merangsang, dan menunjang aktivitas dan kreativitas siswa.

Tidak kalah pentingnya, buku ajar harus berfungsi sebagai penarik minat dan motivasi[20] peserta didik dan pembacanya.[21] Motivasi pembaca bisa timbul karena bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dipahami. Motivasi bisa timbul karena banyak gagasan dan ide-ide baru. Motivasi bisa timbul, karena buku ajar tersebut mengandung berbagai informasi yang relevan dengan kebutuhan belajar peserta didik dan pembaca. Namun dalam penelitian ini tidak akan dibahas lebih jauh tentang ini tetapi difokuskan kepada kelayakan buku ajarnya saja.

3.      Kualitas Buku Ajar yang Baik

Buku ajar sesungguhnya merupakan media yang sangat penting dan strategis dalam pendidikan. Ia adalah penafsir pertama dan utama dari visi dan misi sebuah pendidikan. Apalagi, menurut Chekley yang dikutip oleh Tim Penilai Buku Ajar Direktorat PAIS buku sebenarnya juga bisa jadi untuk melakukan “jalan pintas” (by pass) dalam peningkatan mutu pendidikan apabila dapat mengeksplorasi lebih dalam topik-topik yang dibahas dalam buku tersebut. Untuk itu diperlukan suatu sinergi bagaimana guru dapat menghasilkan buku yang bukan hanya mencerdaskan, namun juga mencerahkan dan menggugah nalar dan spiritual untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Kita sering menyamakan antara cerdas dengan intelligent, padahal buku yang perlukan bukan hanya melulu untuk membuat orang cerdas. Yang diperlukan saat ini dan ke depan adalah buku yang bukan hanya intelligent textbook, melainkan harus mindful textbook.[22]

Buku yang mindful adalah buku yang memberi banyak perspektif bagi anak untuk berpikir yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Selain itu buku tersebut juga dapat mengaitkan persepsi lingkungan yang dihadapi anak dan mendorong anak mampu mempersepsi solusi yang mungkin penting untuk anak. Untuk agama, hal ini menjadi penting karena situasi ini menjadi a novel situation, situasi yang senantiasa baru. Ini membuat para guru maupun siswa akan senantiasa merasa tercerahkan dengan situasi dan tantangan-tantangan baru yang menggoda nalar untuk selalu memperbaharui cara pandang kita terhadap situasi yang dirasakan atau diamati di lingkungan kita. Dan ini tentunya tidak mudah, sekalipun bukan mustahil. 

Buku ibarat lautan yang seolah tak bertepi. Saat seseorang membaca sebuah buku yang cocok dengan seleranya, ia akan tenggelam ke dalam lautan gagasan, pikiran, dan pengalaman penulisnya.[23] Dalam pengamatan Bahrul Hayat yang dikutip oleh tim penilai buku ajar dalam Pedoman Penilaian Buku Ajar, mengatakan bahwa textbook yang baik adalah textbook yang mindful, yang menggoda otak kita untuk berfikir dengan nalar yang  dinamis.[24] Menurutnya, Ciri-ciri buku yang baik adalah sebagai berikut :

Pertama, textbook harus meaningful. Ketika seorang anak membaca sebuah buku pelajaran, maka anak dipastikan akan dapat menangkap pesan dan makna yang terkandung. Jangan sampai membaca lima halaman buku, namun tidak mendapat sense apa-apa. Sebuah buku yang baik harus mampu menjadikan anak bisa tahu makna dan hasil yang diharapkan.

Kedua, buku yang baik harus mengandung aspek motivational to learn dan motivational to unlearn. Ketika membaca sebuah buku pelajaran, anak akan termotivasi untuk belajar tanpa harus dipaksakan oleh guru. Karena buku adalah medium belajar, maka dia juga harus memuat motivational to unlearn. Ketika sesuatu dipersepsi secara salah, maka buku pelajaran juga harus bicara salah. Buku harus berperan untuk mencopot hal-hal yang salah. Banyak pendapat umum yang beredar selama ini yang salah, dan buku harus mengatakan ini salah. Dengan begitu anak tidak lagi bertanya mana yang benar dan mana yang salah.

Ketiga, buku yang baik harus keep attentive. Buku yang baik adalah buku yang mendorong anak untuk memiliki atensi, perhatian, terhadap apa yang dia pelajari. Ini memang sulit. Tetapi ketika membaca Kho Ping Hoo atau Harry Potter misalnya, orang akan sulit untuk berhenti. Ada apa ? Ada magnet attentive dimana penulis berhasil menanamkan kepada pembaca agar pembaca terus mengikuti apa yang akan disampaikan penulis.

Keempat, buku pelajaran harus bisa self study. Karena peran guru di kelas juga terbatas, maka buku harus bisa membantu atau mengisi kelemahan ini. Kalau buku-buku dikembangkan secara luas dengan self study, maka para siswa akan terbiasa untuk mengembangkan pola belajar yang mandiri.

Kelima, buku yang baik juga harus punya makna untuk menemukan nilai dan etika yang relevan dengan kehidupan kekinian dan moral yang berlaku. Tanpa hal ini, maka anak-anak akan menemukan hal-hal yang kontradiktif dalam dirinya. Kita harus saling melihat seluruh komponen pendidikan itu menyatu dan mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia ini. 

Dengan kondisi tersebut maka diperlukan suatu buku yang memadai pada dunia sekolah kita sehingga setiap sekolah dapat menyiapkan dunia akademiknya dengan mandiri sesuai dengan kebutuhan dan tantangannya. Sebagai salah satu indikator adalah, apabila guru-guru sekolah tersebut dapat menyiapkan bahan pembelajarannya sendiri. Namun demikian, keterlibatan kalangan penerbit dalam menyiapkan buku-buku juga patut didukung, sehingga guru-guru mempunyai bahan yang memadai untuk mereka dalam menyiapkan bahan pembelajaran.

Di antara ahli lain yang menetapkan buku ajar yang baik adalah Greene dan Petty yang dikutip oleh Tarigan. Kedua ahli ini menetapkan 10 (sepuluh) kriteria buku ajar  yang baik. Kriteria itu sebagai berikut :

  1. Buku ajar itu haruslah menarik minat anak-anak, yaitu para siswa yang    memakainya.
  2. Buku ajar itu haruslah memberi motivasi kepada para siswa yang memakainya.
  3. Buku ajar itu haruslah memuat ilustrasi yang menarik hati para siswa yang memanfaatkannya.
  4. Buku ajar seyogyanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya.
  5. Isi buku ajar haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi kalau dapat didukung dengan perencanaan, sehinga semuanya merupakan kebulatan yang utuh dan terpadu.
  6. Buku ajar haruslah dapat menstimulasi, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunakannya.
  7. Buku ajar harus dengan sadar dan tegas menghindari konsep-konsep yang samar-samar dan tidak biasa agar tidak sempat membingungkan para siswa yang menggunakannya.
  8. Buku ajar harus mempunyai sudut pandang atau point of view yang jelas dan tegas sehingga juga pada akhirnya menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia.
  9. Buku ajar harus mampu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa.
  10. Buku ajar harus dapat menghargai pribadi-pribadi para siswa.[25]

Ke sepuluh kriteria di atas harus diupayakan penemuannya oleh penulis buku ajar. Di samping itu, penulisan buku ajar perlu memperhatikan kesesuaiannya dengan standar isi dan mengarah kepada tujuan pendidikan, baik tujuan nasional, institusional, maupun tujuan instruksional.

Menurut Greene dan Petty dalam buku Tarigan terdapat beberapa pedoman penilaian buku ajar, yaitu sebagai berikut :

  1. Sudut pandang (point of view). Buku ajar harus mempunyai landasan, prinsip, dan sudut pandang tertentu yang melandasi atau menjiwai buku ajar secara keseluruhan. Sudut pandang ini dapat berupa teori psikologi, bahasa, dan sebagainya.
  2. Kejelasan konsep. Konsep-konsep yang digunakan dalam buku paket harus jelas. Adanya penafsiran ganda perlu dihindari agar siswa atau pembaca dapat menangkap dan memahami kandungan buku ajar dengan tepat.
  3. Relevan dengan kurikulum. Buku paket digunakan di sekolah-sekolah sebagai sumber bahan pelajaran. Oleh karena itu, buku ajar harus relevan dengan kurikulum yang berlaku.
  4. Menarik Minat. Buku ajar ditulis untuk siswa. Karena itu penulisan buku ajar harus mempertimbangkan minat para siswa pemakai buku tersebut. Semakin sesuai buku ajar itu dengan minat siswa, semakin tinggi daya tarik buku tersebut.
  5. Menumbuhkan Motivasi. Motivasi[26] yang dimaksudkan di sini adalah penciptaan kondisi yang ideal sehingga seseorang ingin, mau, senang mengerjakan sesuatu. Buku ajar yang baik adalah buku ajar yang dapat membuat siswa ingin, mau, senang mengerjakan apa yang diintruksikan dalam buku tersebut.
  6. Menstimulasi aktivitas siswa. Buku ajar yang baik adalah buku ajar yang merangsang, menantang dan mengingatkan aktivitas siswa. Hal ini sesuai dengan konsep CBSA.
  7. Ilustratif. Buku ajar harus disertai dengan ilustrasi yang mengena dan menarik. Ilustrasi yang relevan akan memperjelas hal yang dibicarakan.
  8. Dapat dipahami siswa. Pemahaman harus didahului oleh komunikasi yang tepat. Faktor utama yang berperan adalah bahasa. Bahasa buku ajar hendaknya sesuai dengan bahasa siswa, kalimat efektif, terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan, dan menarik.
  9. Menunjang mata pelajaran lain. Buku ajar PAI misalnya, di samping menunjang mata pelajaran lain seperti Olahraga, Sejarah, Ekonomi, Matematika, Kesenian, Geografi, dan sebagainya.
  10. Menghargai perbedaan individu. Buku ajar yang baik tidak membesar-besarkan perbedaan individu tertentu. Perbedaan dalam kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial, budaya dan setiap individu tidak dipermasalahkan tetapi diterima sebagaimana adanya.
  11. Memantapkan nilai-nilai. Buku ajar yang baik berusaha memantapkan nilai-nilai yang belaku di masyarakat. Uraian-uraian yang menjurus kepada penggoyahan nilai-nilai harus dihindarkan.[27]

Untuk meningkatkan mutu buku, telah ditempuh langkah-langkah konkret mulai dari menyusun kriteria buku pelajaran yang baik. Kriteria itu kemudian disosialisasikan kepada penulis dan penerbit. Menstandarkan bukan berarti menyeragamkan. Di satu pihak, pemerintah memberikan kriteria sebagai pegangan, di pihak lain pemerintah memberikan kebebasan pengembangan buku kepada penulis. Sejalan dengan Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) menjelaskan bahwa ”Buku teks pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dinilai kelayakan-pakainya terlebih dahulu oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebelum digunakan oleh pendidik dan/atau peserta didik sebagai sumber belajar di satuan pendidikan”.[28] Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh buku teks pelajaran yang memiliki kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan pada jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK.

Dengan cara ini mudah-mudahan kita bisa menghasilkan buku pelajaran yang baik. Bahwa mungkin proses standardisasi itu ada kekurangannya akan diperbaiki berdasarkan pengalaman, baik pengalaman si penulis ketika menggunakan kriteria yang terlihat dari buku hasil tulisannya maupun pikiran-pikiran para penyusun standar tersebut yang terus berkembang.

Buku ajar yang baik tentu memuat materi pembelajaran secara lengkap, tersusun baik, dan tidak mengandung hal-hal yang dapat menimbulkan gejolak yang tidak baik pada diri siswa. Dengan buku ajar yang baik, siswa dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan cara yang mudah.

Dalam buku Telaah Kurikulum Bahasa Indonesia, menjelaskan kriteria buku ajar yang dianggap baik paling tidak memenuhi delapan kriteria sebagai berikut :[29]

a.  Organisasi dan Sistematika

Pengertian organisasi mengandung arti susunan (atau cara bersusun) sesuatu yang terdiri atas komponen atau topik dengan tujuan tertentu, sedangkan sistematika mengandung arti kaidah atau aturan dalam buku ajar yang harus diikuti. Sebuah buku ajar berisi berbagai informasi yang disusun sedemikian rupa sehingga buku tersebut dapat digunakan untuk memenuhi tujuan pembuatan buku ajar tersebut.

Buku ajar PAI SMK tentu mempunyai organisasi dan sistematika yang baik. Dalam arti, buku ajar PAI setidaknya memuat pokok-pokok pembelajaran secara berurutan dan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam standar isi PAI.

Organisasi buku ajar sebaiknya memenuhi semua komponen pembelajaran yang dibuat secara terpadu antara pendekatan komunikatif dan kontekstual (CTL).  Keterampilan berbahasa dan bersastra, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis harus diurut sesuai dengan tingkat kesulitan dan keterkaitan antara topik yang satu dengan yang lainnya.

b.  Kesesuaian isi dengan kurikulum,

Maslow, sebagaimana dikutip dari Sudirman dan dikutip lagi oleh Pupuh Fathurrahman berkeyakinan bahwa minat seseorang akan muncul bila suatu itu terkait dengan kebutuhannya. Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu.[30]

Suharsimi Arikunto yang dikutip Pupuh Fathurrohman mengatakan bahwa materi atau bahan pelajaran merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik. Karena itu pula, guru khususnya, atau pengembangan kurikulum umumnya, harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan atau topik yang tertera dalam silabus berkaitan dengan kebutuhan peserta didik di masa depan. Sebab, minat peserta didik akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhannya.[31]

Materi merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajaran yang dikonsumsi oleh peserta didik. Bahan ajar merupakan materi yang terus berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Bahan ajar/materi yang diterima anak didik harus mampu merespon setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu persyaratan materi yang harus dipelajari oleh anak didik menghendaki buku ajar PAI SMK harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pembelajaran. Ketentuan itu tertuang dalam standar isi kurikulum mata pelajaran PAI.

Selain ketentuan di atas, ada juga ketentuan lain yang tidak bisa diabaikan oleh buku ajar, yaitu:

1)      Tujuan pembelajaran

2)      Program pembelajaran

3)      Alokasi waktu, dan

4)      Pendekatan pembelajaran

Tujuan pembelajaran mengarahkan ke mana sebuah pembelajaran. Jika ketentuan ini tidak dipenuhi, maka pengajaran akan berpoli arah tak menentu. Tujuan tidak tercapai atau malah tidak dapat diukur ketercapaianya. Penyebutan pembelajaran itu pada dasarnya menyuratkan adanya tujuan.

Program pembelajaran juga amat penting untuk disajikan dalam buku ajar. Menurut Crow & Crow yang dikutip oleh Sutari Imam Barnadib mengatakan bahwa buku termasuk salah satu dari alat-alat pengajaran atau pembelajaran.[32] Penyusunan program sebenarnya dilakukan agar tujuan  pembelajaran dapat dicapai dengan baik. Tidak adanya program pembelajaran akan bermuara pada tidak tercapainya tujuan pembelajaran.

Demikian pula dengan alokasi waktu, juga sangat menentukan tercapainya tujuan. Tidak efisien dalam mengalokasikan waktu akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Mungkin terlalu cepat selesai sehingga banyak materi yang terlalu cepat dibahas, mungkin juga harus menambah banyak waktu tambahan karena terlalu terlena dengan materi yang disukai guru.

Akhirnya pendekatan pun sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Pendekatan kognitif menjadikan siswa memahami bahan ajar  sebatas pengetahuannya saja, sedangkan pendekatan keterampilan proses lebih melibatkan unsur kreativitas siswa untuk mencari lebih banyak informasi yang terdapat dalam buku ajar itu.

c.  Kesesuaian Pengembangan Materi dengan Tema/Topik

Materi-materi pembelajaran dalam buku ajar dikembangkan oleh penulisnya dengan memperhatikan topik-topik pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum. Tujuan pengembangan materi adalah agar materi-materi pembelajaran mudah dicerna oleh pemakai buku, yaitu siswa.

Supaya pengembangan materi terarah dan memenuhi sasaran penulisan buku, maka pengembangan materi harus didasarkan pada tema/topik. Tema/topik merupakan titik tolak pembelajaran PAI. Tema/topik selanjutnya akan mengarahkan penyusunan tujuan pembelajaran.

Dengan dasar pijak alur penyusunan tersebut, penilaian terhadap buku ajar juga harus diarahkan pada kriteria sesuai tidaknya pengembangan materi dengan tema/topik.

d.  Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif siswa juga perlu dipertimbangan dalam penulisan dan pemilihan buku ajar. Jadi untuk dapat memanfaatkan materi-materi pembelajaran yang menunjang kemampuan siswa, sebaiknya memilih materi yang memiliki tingkat kesulitan sedikit di atas rata-rata pada saat proses pembelajaran. Namun demikian, variasi materi tetap diutamakan untuk menghindari kesulitan menangkap maksud yang ingin disampaikan atau sebaliknya menimbulkan kebosanan pada siswa.

e.  Pemakaian/Penggunaan Bahasa

Bahasa adalah alat komunikasi.[33] Dalam kaitan dengan pemakaian bahasa, buku ajar harus memenuhi kriteria pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dan mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan zaman dimaksud adalah perkembangan penggunaan bahasa Indonesia dalam buku ajar baik sebagai kutipan maupun bahasa tulis (pemakaian bahasa Indonesia saat ini).

Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia dan situasi dan kondisi (konteks) komunikasi. Kriteria bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut : 1) siapa yang mengajarkan, 2) siapa yang menerima ajaran,        3) apa yang diajarkan, 4) kapan diajarkan, 5) di mana diajarkan, dan 6) melalui medium apa diajarkan.

f.  Keserasian Ilustrasi dengan Wacana/Teks Bacaan

Agar buku ajar menarik bagi siswa, buku ajar harus selalu disertai dengan ilustrai atau gambar. Di samping untuk tujuan menarik perhatian, ilustrasi atau gambar di dalam buku ajar juga mempunyai kegunaan lain, yaitu untuk mempermudah pemahaman dan untuk merangsang pembelajaran PAI secara komunikatif.

Supaya kehadiran gambar di dalam buku ajar dapat berfungsi secara optimal, pemilihan dan peletakan gambar harus disesuaikan dengan teks bacaan atau wacana.

Teks bacaan atau wacana harus berkaitan atau sejalan dengan ilustrasi atau gambar yang dicantumkan berkenaan dengan teks bacaan tersebut. Kaitan itu tidak cukup hanya dengan informasi-informasi yang ada di dalam buku suatu teks bacaan melainkan juga dengan gagasan-gagasan utama di dalam teks bacaan itu. Dengan demikian, pemilihan dan pencantuman ilustrasi juga akan dengan sendirinya berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan tema/topik yang telah ditetapkan.

g.  Segi Moral/Akhlak

Moral atau akhlak juga merupakan kriteria penilaian buku ajar. Buku ajar PAI SMK, sebagaimana buku ajar lainnya, harus mempertimbangkan segi moral/akhlak. Hal ini penting karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat memelihara kerukunan umat beragama, yang sangat memperhatikan aspek-aspek moral dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Kalau begitu, faktor-faktor apakah yang berkaitan dengan aspek akhlak yang harus dipertimbangkan dalam penulisan buku ajar atau penilaian isi buku ajar  saat ini yang telah digunakan di sekolah. Faktor-faktor tersebut meliputi pertama, sifat-sifat baik seperti kejujuran, sifat amanah (terpercaya), keberanian, selalu menyampaikan hal-hal yang baik, kesopanan, ketaatan beribadah, persaudaraan, kesetiakawanan, mencintai/mengasihi sesama makhluk, berbakti kepada orang tua, taat kepada pemimpin, dan sebagainya. Kedua, hendaknya dalam buku ajar tidak mencantumkan sesuatu yang dapat membangkitkan sifat-sifat buruk seperti kecurangan, pengecut, ketidaksopanan, keingkaran, kemungkaran, kejahilan, kekerasan, keberingasan, permusuhan, kekejian, kemalasan, sering berbohong, dan sebagainya.

h.  Idiom Tabu Kedaerahan

Kriteria terakhir dalam penilaian buku ajar adalah apakah terdapat idiom tabu kedaerahan? Idiom adalah bahasa dan dialek yang khas menandai suatu bangsa/daerah, suku, kelompok, dan lain-lain, sedangkan tabu adalah sesuatu yang terlarang atau dianggap suci, tidak boleh diraba dan sebagai (pantangan atau larangan). Idiom tabu adalah suatu bahasa atau dialek yang khas dimiliki oleh suatu daerah dan dianggap suci/baik serta tidak boleh dipermainkan.

Buku ajar PAI sebagai media dalam proses belajar mengajar, sedapat mungkin terhindar dari idiom-idiom tabu kedaerahan. Suatu idiom dinyatakan tabu oleh suatu kebudayaan biasanya karena kebudayaan atau masyarakat yang memiliki kebudayaan itu mempunyai pengalaman yang tidak baik, sakral atau dapat menyinggung perasaan orang lain. Bisa jadi juga kebudayaan atau suatu masyarakat itu memiliki sistem nilai yang menolak idiom-idiom tersebut. Oleh karena itu, pencantuman idiom-idiom tabu dapat menyebabkan siswa menjadi terbiasa dengan idiom-idiom itu. Berhati-hatilah dengan pemakaian bahasa yang mengarah ke sana.

Akibat sesaat yang ditimbulkan oleh penyebutan idiom-idiom tabu kedaerahan adalah rasa risih, jijik, atau kesan tidak sopan. Akibat yang lebih jauh dari penyebutan idiom-idiom tabu kedaerahan yang berkali-kali adalah rusaknya sistem nilai yang dianut oleh masyarakat atau kebudayaan. Paling tidak penyebutan itu dapat mempengaruhi perkembangan psikhis siswa secara negatif.

Selain itu, unsur-unsur yang harus dihindari adalah instabilitas nasional termasuk unsur-unsur SARA. Perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masing-masing suku, agama, ras, dan antargolongan seharusnya tidak dipertajam. Lebih baik apabila menghindari atau menjauhinya.

Sedangkan Syamsul Arifin dan Adi Kusrianto memberikan tolok ukur buku ajar yang baik sebagai berikut : 1) Format buku sesuai dengan format ketentuan UNESCO, yaitu ukuran kertas A4 (21 x 29,7 cm), 2) Memiliki ISBN (International Standard Book Number)[34], 3) Dengan gaya bahasa semi formal, 4) Struktur kalimat minimal SPOK, 5) Mencantumkan TIU, 6) TIK dan kompetensi, 7) Disusun sesuai dengan Rencana Pembelajaran, 8) Menyertakan pendapat atau mengutip hasil penelitian pakar, 9) Menggunakan catatan kaki/catatan akhir/daftar pustaka dan jika mungkin menyertakan indek, 10) Mengakomodasi hal-hal/ ide-ide baru, 11) Diterbitkan oleh penerbit yang kredibel, dan 12) Tidak menyimpang dari falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Setiap halaman buku hendaknya mengacu pada hal-hal berikut; setiap alinea berisi satu pokok pikiran, menggunakan alinea yang pendek, menggunakan kalimat-kalimat pendek, agar mudah diingat (10-14 kata per kalimat), setiap halaman dibuat menarik dan mudah diingat secara verbal maupum visual (mengindahkan kaidah penggunaan tipografi dan tata letak yang baik), setiap halaman berisi teks, grafik/diagram, tabel, gambar (berupa foto maupun ilustrasi), inset pengingat, inset history, dan menuliskan kalimat motivasi dan inspirasi.


[1] R Masri Sareb Putra dan Yennie Hardiwidjaya, How to Write and Market a Novel : Panduan Bagi Novelis, Pendidik, dan Industri Penerbitan, (Bandung : Kolbu, 2007), hlm. 82.

[2] Buku diartikan sebagai “beberapa helai kertas yang terjilid berisi tulisan untuk dibaca atau halaman-halaman kosong untuk ditulisi”. A Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah : Proses Kreatif Menulis dan Menerbitkan Buku Sekolah dan Perguruan Tinggi, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2008), hlm. 93. Lihat juga KBBI, 1984 : 161. Pengertian buku yang dimaksudkan bukan buku cetakan, melainkan buku bacaan yang diterbitkan oleh penerbit. Buku yang diterbitkan itu terdaftar secara resmi di Perpustakaan Nasional dengan memiliki nomor seri yang disebut International Series Book Number (ISBN). Buku yang ditulis tidak cukup sekeda terbit, kemudian diedarkan, lalu dijual. Yang terpenting dari kehadiran buku di tengah pembacanya adalah buku itu harus bergizi, tidak kering. Buku yang bergizi harus mampu menggerakkan pikiran pembacanya. Hernowo, Mengikat Makna, (Bandung : Kaifa, 2001), hlm. 88.

[3] Nasution S., Metode Research, (Bandung : Jemmars, 1982), hlm. 119.

[4] Wilardjo L., Buku Teks di Bidang Ilmu dan Teknologi: dalam Kritis, (No. 3 th. III, Januari 1989), hlm. 34.

[5] Berdasarkan isinya, buku diklasifikasikan menjadi dua, yaitu buku fiksi dan buku nonfiksi. Berdasarkan peruntukan-nya, buku diklasifikasikan menjadi buku umum dan buku sekolah. Berdasarkan tujuannya, buku diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu buku ajar dan buku pengayaan.

[6] Johan Wahyudi, Menulis untuk Masa Depan, Sunday 22 March 2009 (05:52).

[7] R Masri Sareb Putra,How to Write Your Own Text Book Cara Cepat dan Asyik Membuat Buku Ajar yang Powerful, (Bandung : Kolbu, 2007), hlm.11.

[8] Tarigan, Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, (Bandung : Angkasa, 1986), hlm. 11.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Taylor Barbara, Reading Difficulties, (New York : Random House, 1988), hlm. 1523.

[13] Tarigan, Loc. Cit.

[14] Selengkapnya lihat  PP Nomor  19 tahun 2005 pasal 43.

[15] Lihat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 1 (3) tentang Buku.

[16] Ibid. Karena buku ajar disusun berdasarkan rencana pembelajaran, biasanya dimulai dengan menetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran (learning objective), kemudian membuat diagram alir yang dikenal dengan sebutan analisis pembelajaran (instructional analysis), dilanjutkan dengan membuat rencana pembelajaran, dan kemudian menyusun buku ajar.

[17]Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru Algesindo, 1995), hlm. 6.

[18] Syamsul Arifin dan Adi Kusrianto, op. cit., hlm. 58.

[19] Greene dan Petty, Developing Language Skill in The Elementary Schools, (Boston : Alyn and Bacon Inc., 1981), hlm. 540-2.

[20] “Motivasi merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menuntun Anda menggapai sukses. Orang yang tak memiliki motivasi belajar dalam dirinya, maka hadirnya guru profesional (sebagai motivator dari luar) sangat diperlukan.” (M. Sobri Sutikno). Istilah motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan sebagai sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi kesiapsiagaan. Adapun menurut Mc. Donald (dalam Sardiman, 1986), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Motivasi ada dua, yaitu (1) motivasi Intrinsik dan (2) motivasi ekstrinsik, yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain. Motivasi ini sering disebut “motivasi murni”, atau motivasi yang sebenarnya, yang timbul dari dalam diri siswa, misalnya keinginan untuk mendapatkan keterampilan tertentu, mengembangkan sikap untuk berhasil, dan sebagainya. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu. Ini diperlukan di sekolah sebab pembelajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat, atau sesuai dengan kebutuhan siswa. Kalau keadaan seperti ini, maka siswa yang bersangkutan perlu dimotivasi agar belajar, dan guru harus berusaha membangkitkan motivasi belajar siswa sesuai dengan keadaan siswa itu sendiri. Sobri Sutikno M., Belajar dan Pembelajaran Upaya Kreatif dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil, (Bandung : Prospect, 2009), hlm. 71-73.

[21] Syamsul Arifin dan Adi Kusrianto, Loc.  cit.

[22] Tim Penilai Buku Ajar, Pedoman Penilaian Buku Ajar, (Jakarta : Departemen Agama Direktorat PAIS).

 

[23] Bambang Trim, Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku, (Bandung : Kolbu, 2006), hlm. xiv.

[24] Tim Penilai Buku Ajar, op. cit.

[25] Tarigan, Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, (Bandung : Angkasa 1993), hlm. 20. Lihat juga Greene and Petty, Developing Language Skills in The Elementary Schools, (Boston : Allyn and Bacon, Inc.), hlm. 545-8.

[26] Motivasi berarti pemberian atau penimbulan motif atau hal yang menjadi motif. Tegasnya, motivasi adalah motif atau hal yang sudah menjadi aktif pada saat tertentu, teritama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan terasa sangat mendesak. Abd. Rachman Abror, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm. 114. Atkitson, (et al) mengatakan “Motivation refers to the factors that energize and direct behavior” (Motivasi mengacu kepada faktor-faktor yang menggerakkan dan mengarahkan tingkah laku). Atkinson, Rita L., (et al.), Introduction to Psychology, (New York : Harcourt Brace Jovanovich, Inc., 1983), hlm. 314. Motivasi (motivation) adalah keseluruhan dorongan, keinginan, kebutuhan, dan daya yang sejenis yang mengarahkan perilaku. Harold Koontz O. Donnel dan Heinz Weihrich, Management, (McGraw Hill : Kogaguska, 1980), hlm. 115. Motivasi juga diartikan suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulka faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju satu sasaran. James P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono, judul asli “Dictionary of Psychology”, (Jakarta : Rajawali, 1999), hlm. 310. Dalam diri seseorang, motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan, usaha, keinginan, menentukan arah, dan menyeleksi tingkah laku. Richard M. Hodgetts dan Donal F. Kurako, Management, (Sandiego : Harcourt Brace Pub., 1988), hlm. 284. Kemampuan adalah tenaga, kapasitas atau kesanggupan untuk melakukan suatu perbuatan yang dihasilkan dari bawaan sejak lahir atau merupakan hasil dari pengalaman. Usaha adalah penyelesaian suatu tugas untuk mencapai keinginan. Sedang keinginan adalah satu harapan, kemauan, atau dorongan untuk mencapai sesuatu atau untuk membebaskan diri dari suatu perangsang yang tidak menyenangkan. Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 243.

[27] Ibid., hlm. 23.

[28] Lihat Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) tentang Buku.

[29] Telaah Kurikulum Bahasa Indonesia, hlm. 143-150.

[30] Pupuh Fathurrohman & M Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar : Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, (Bandung : Refika Aditama, 2009), hlm. 14.

[31] Ibid.

[32] Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta : Andi Offset, 1993), hlm. 95.

[33] Jabrohim, Chairul Anwar, dan Suminto A. Sayuti, Cara Menulis Kreatif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 3.

[34] ISBN sebenarnya lebih berhubungan pada proses pemesanan sebuah buku pada penerbit. Setiap buku yang diterbitkan pasti mempunyai ISBN yang berbeda. Oleh karena itu jika seseorang pembaca ingin memesan suatu buku, ia cukup menyebutkan judul buku dan ISBN-nya. Jika penyebutan ISBN-nya tepat, pasti pembaca akan mendpatkan buku sesuai dengan pesanannya dan tidak akan tertukar dengan judul buku lain atau tertukar dengan buku yang mempunyai judul sama, tetapi dijilid dengan sampul berbeda. Kadang-kadang, di belakang ISBN terdapat kode hb dan pb. Kode hb adalah kde untuk buku bersampul tebal (hb = hardback/hardcover), sedangkan kode pb adalah kode untuk buku yang bersampul tipis (pb = paperback/softcover). ISBN juga merupakan sarana promosi buku. Informasi ISBN ini disebarluaskan oleh Badan Nasional yang berada di Jakarta dan Badan Internasional yang berlokasi di Berlin. Badan Nasional ISBN menyebarkan informasi ISBN melalui berbagai terbitan, Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan majalah berita ISBN. ISBN terdiri atas 10 digit, di mana 1 sampai 3 digit pertama adalah group identity, 2 hingga 7 digit kedua disebut publisher identity, 1 hingga 6 digit adalah title identity (nomor urut buku), dan satu digit terakhir adalah check digit (nomor pemeriksa). Check digit selalu satu angka, jika angkanya lebih dari satu, ditulis dengan huruf romawi, misalnya X untuk 10. Contoh kode ISBN : ISBN 979-20-7304-3 atau 1-85172-034-0.

GUNUNG DEMPO

Gunung Dempo (3159 mdpl) terletak di perbatasan provinsi Sumatera Selatan dan provinsi Bengkulu. Untuk mencapai desa terdekat, terlebih dahulu anda harus mencapai kota Pagar Alam, kurang lebih 7 jam perjalanan darat dari Palembang. Dari ibukota Sumatera Selatan ini tersedia banyak bus ke arah Pagar Alam. Atau apabila anda dari Jakarta, sebelumnya dapat menumpang bus jurusan Bengkulu atau Padang, dan turun di Lahat.

Kota Pagar Alam, memang sesuai dengan namanya, kota ini jelas dikelilingi oleh pegunungan Bukit Barisan dan yang tertinggi dari barisan tersebut adalah Gunung Dempo. Gunung ini sangat indah menjulang tegak menggapai langit nan biru apabila dilihat pada pagi hari.

Oleh karena itu sangat tepat bila bermalam dulu di kota ini, disini banyak tersedia losmen atau motel, berkisar Rp. 00.000 semalam. Budaya kota yang sudah berbaur dari berbagai suku baik pendatang maupun asli menciptakan kedamaian yang anda tidak peroleh di kota-kota besar.

Dari terminal Pagar Alam, terlebih dulu mencarter mobil/taksi untuk jurusan Pabrik Teh PTPN III yang jaraknya mencapai 15 km dari terminal. Di pabrik ini ada baiknya anda berkenalan dengan seseorang yang biasa dipanggil pak Anton, beliau termasuk yang dituakan oleh para pencinta alam seantero Sumsel-Lampung. Dengan meminta bantuannya, mobil carteran akan membawa anda ke desa terdekat dari kaki gunung Dempo, yang dapat memakan waktu lebih dari 20 menit, karena jalannya cukup terjal, berkelok dengan melewati hamparan kebun teh nan hijau.

Jalur menuju ke puncak gunung inipun sudah sangat jelas dan bahkan di hari-hari biasa pun banyak orang desa yang sengaja naik ke puncak baik itu untuk mencari kayu ataupun sekedar berhiking.

Meski gunung ini cukup tinggi, tetapi air jernih yang ada terdapat sampai setengah perjalanan ke gunung ini sehingga para pendaki tidak perlu khawatir kehabisan air minum selama perjalanan. Sebuah sungai kecil yang jernih, mengalir di perbatasan hutan pertanda kita mulai memasuki daerah hutan yang ditumbuhi dengan tumbuhan yang mirip seperti yang kita dapati di gunung Gede-Pangrango, yaitu hutan montana. Jalan setapak penuh dengan akar-akar yang melintang, kemiringan lereng sendiri cukup curam untuk memeras keringat. Tidak ada tanda-tanda khusus, keadaan hutan ini hampir homogen dan sangat hening.

Empat atau lima jam kemudian, kita akan memasuki daerah dengan vegetasi tumbuhan berpohon rendah dan semakin rendah, beberapa daerah agak terbuka, pandangan pun menjadi luas. Gunung Dempo memiliki dua puncak yang satunya bernama Puncak Api. Menjelang puncak pertama Dempo yang merupakan dataran masif, Puncak pertama ditumbuhi tanaman yang rendah mirip perdu. Dari puncak pertama ini kita turun kembali ke lembah yang diapit oleh puncak pertama dan puncak utama. Dilembah ini terdapat sebuah sumber mata air mengalir di sini. Hanya airnya yang jernih ini sedikit kecut rasanya, mungkin pengaruh rembesan belerang.

Pendakian kepuncak utama tidak terlalu sulit. Lerengnya terdiri dari kerikil dan batu-batu dengan kemitingan lereng sekitar 40°, cukup stabil untuk didaki. Puncak utama gunung Dempo (3158 m), Merupakan kawah gunung berapi yang masih bergejolak dengan diameter sekitar seratus meter persegi. Dinding kawah cukup terjal dan tidak mungkin bisa dituruni tanpa batuan tali temali. Pemandangan dari puncak cukup mengasyikan. Selain kawah yang memberikan kesan khusus, tampak juga terhamparan provinsi Bengkulu dengan Lautan Hindia dengan hamparan lembah yang sunyi dan hening. Perjalanan turun hanya memakan waktu dua jam. Bila kemalaman anda bisa menginap di Dusuun VI, dengan terlebih dahulu minta izin kepala keamanan di sana. (sumber; wikipedia.org)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.