Berbagi Semerbak Bunga Ilmu

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TIPE PASAR INFORMASI                                                          PADA ASPEK TARIKH KELAS XII SEMESTER 2[1] 

Oleh : Khoirawati[2]

 

A.  PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Perkembangan teknologi dan komunikasi dewasa ini menuntut perubahan struktur kurikulum dan metode pembelajaran. Model-model pembelajaran lama akan menyebabkan kejenuhan belajar bagi siswa, penggunaan waktu belajar yang tidak efektif, dan sulitnya menerapkan konsep-konsep ilmu dan pengetahuan kepada siswa.

Media Pembelajaran merupakan salah satu jawaban. Hal ini didukung dengan semakin terjangkaunya harga piranti keras (hardware) komputer dan semakin berkembangnya dunia piranti lunak (software) saat ini. Dengan demikian mendekatkan pembelajaran siswa menuju model media pembelajaran mandiri akan mendekatkan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi kepada siswa.

Atas dasar itulah, dalam rangka mengikuti Lomba Kreasi Model Pembelajaran PAI Tingkat Nasional ini kami berusaha keras membuat Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan berbasis ICT dan Joyful Learning untuk siswa SMA/SMK kelas XII dengan mengacu kepada Standar Isi tahun 2006.

Muhammad Nur, Guru Besar Bidang Pendidikan Sains pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya mengutip pendapat Richard L Arends, yang mengatakan bahwa keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu curriculum, teaching, learning, and assesment. Khusus untuk faktor yang kedua yaitu teaching, keberhasilan sangat bergantung pada model pembelajaran yang diterapkan oleh guru.[3]

Tidak ada suatu model rancangan pembelajaran yang dapat memberikan resep ampuh untuk mengembangkan suatu program pembelajaran.[4] Oleh karena itu, dalam menentukan model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran tergantung pada pertimbangan si perancang (dalam hal ini adalah guru) terhadap model yang digunakan atau dipilih. Sebutan model pembelajaran[5] karena dua alasan yaitu : pertama. Konsep model menyiratkan sesuatu yang lebih besar dari pada strategi, metode atau taktik tertentu. Kedua, konsep model pengajaran berfungsi sebagai alat komunikasi yang penting bagi guru.[6] Sebenarnya terdapat banyak model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru, namun pada kesempatan ini penulis ingin memperkenalkan sebuah model yang dinamakan model pembelajaran inkuiri dengan menggunakan trik dan taktik mengajar “pasar informasi”. Model inkuiri ini membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains yang menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.[7] Tidak sedikit peserta didik yang kurang menyukai materi sejarah apalagi dalam penyajiannya materi sejarah disajikan pada akhir semester sehingga guru dan siswa tidak punya banyak waktu lagi untuk membahasnya. Guru kurang pintar mengemas penyajian materi sejarah menjadi proses pembelajaran yang menyenangkan.

2.      Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa permasalahan, antara lain :

a.       Apakah model inkuiri tipe pasar informasi itu?

b.      Bagaimana proses penerapan model inkuiri tipe pasar informasi pada aspek tarikh kelas XII semester 2?

 

3.      Manfaat

Secara teoritis, model pembelajaran inkuiri tipe pasar informasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi  konseptual, terutama terhadap studi analisis dan pengembangan standar isi dan standar proses PAI.

Sedangkan secara praktis, model pembelajaran inkuiri tipe pasar informasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas/Kejuruan, sebagai :

1.      Salah satu model dalam proses pembelajaran khususnya materi sejarah (tarikh)

  1. Pengembangan model-model pembelajaran PAI.

 

B.       NAMA MODEL KREASI PEMBELAJARAN

            Nama model kreasi pembelajaran yang akan disajikan dalam lomba kreasi model pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis ICT Tingkat Nasional tahun 2010 ini adalah MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TIPE PASAR INFORMASI.

Model pembelajaran inkuiri[8] adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa dan antara sesama siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan.[9] Inkuiri dapat dipandang sebagai suatu strategi pembelajaran yang berorientasi kepada pengalaman siswa. Bruce Joyce dan Marsha Weil  menjelaskan :

For more than a decade, “inquiry” has been one of the rallying cries of educational reformers. However, the term has actually had different meaning to its users. To some, inquiry has meant a general position toward child-centered learning and has referd to building most facets of education around the natural inquiry of the child. To others, it has meant the use of the models of inquiry of the academic disciplines as teaching models.[10]

Menurut Joyce, lebih dari satu abad istilah inkuiri mengandung makna sebagai salah satu usaha ke arah pembaharuan pendidikan. Namun demikian, istilah inkuiri sering digunakan dalam bermacam-macam arti. Ada yang menggunakan berhubungan dengan strategi mengajar yang berpusat pada siswa, ada juga yang menghubungkan istilah inkuiri dengan mengembangkan kemampuan siswa untuk menemukan dan merefleksikan sifat-sifat kehidupan sosial, terutama untuk melatih siswa agar hidup mandiri dalam masyarakatnya.

Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama. Pertama, model inkuiri menekankan kapada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya model inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri dari inti materi pelajaran itu sendiri.

Kedua, seluruh aktivitas[11] yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga dapat diharapkan dapat menumbuhkan sikap pecaya diri (self belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.

Ketiga, tujuan dari penggunaan pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secar sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam model pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut agar menguasai materi pembelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pembelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berfikir secara optimal; namun sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berfikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka. Syaiful Sagala mengatakan bahwa proses pembelajaran yang efektif dan efisien dan hasil belajar mengajar tidak selalu optimal, karena ada sejumlah hambatan. Karena itu guru dalam memberikan materi pelajaran hanya yang berguna dan bermanfaat bagi para siswanya.[12]

Model pembelajaran inkuiri[13] merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam model ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.

 

 

Model pembelajaran inkuiri akan efektif manakala:

1.      Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam model inkuiri penguasaan materi pembelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses belajar.

2.      Jika bahan pelajaran yang akan diajukan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.

3.      Jika proses pembelajaran berangkat dari cara ingin tahu siswa terhadap sesuatu.

4.      Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Model inkuiri akan kurang berhasil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.

5.      Jika jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.

6.      Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Model ini merupakan strategi yang menekankan pada pengembangan intelektual anak. Pengembangan mental (intelektual) itu menurut Piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu maturation, physical, experience, social experience dan equilibration.[14]

Maturation atau kematangan adalah proses perubahan psikologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem syaraf. Pertumbuhan otak merupakan suatu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir (intelektual) anak. Otak bisa dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Menurut Sigelman dan Shaffer (1995), otak terdiri dari 100 miliar sel saraf (neuron) dan setiap sel saraf itu rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel saraf lainnya. Neuron terdiri dari inti sel (nucleus) dan sel body yang yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel saraf yang satu ke sel saraf yang lainnya.

Physical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang berada di sekitarnya. Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan individu memungkinkan dapat mengembangkan aktivitas/daya pikir. Gerakan-gerakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan ditransfer akan menjadi gagasan atau ide-ide. Oleh karena itu, proses belajar yang murni tak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman. Bagi Piaget, aksi atau tindakan adalah komponen dasar pengalaman.

Social experience adalah aktivitas dalam hubungan dengan orang lain. Melalui pengalaman sosial, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan atau mendengar pandangan orang lain, tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturan lain di samping aturan sendiri. Ada dua aspek pengalaman sosial yang dapat membantu perkembangan intelektual. Pertama, pengalaman sosial akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa ini diperoleh dari percakapan, diskusi dan argumentasi dengan orang lain. Aktivitas-aktivitas semacam itu pada gilirannya dapat memunculkan pengalaman-pengalaman mental yang memungkinkan atau memaksa otak individu untuk bekerja. Kedua, melalui pengalaman sosial anak akan mengurangi egocentric-nya. Sedikit demi sedikit akan muncul kesadaran bahwa ada orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya. Pengalaman yang seperti itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan konsep mental seperti misalnya kerendahan hati, toleransi, kejujuran, etika, moral, dan lain sebagainya.

Equilibration adalah proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya. Adakalanya anak dituntut untuk memperbarui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi baru yang tidak sesuai.

Atas dasar penjelasan di atas, maka dalam penggunaan model pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru. Yaitu :

1.      Berorientasi Pada Pengembangan Intelektual

Tujuan utama dari model inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, model pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses belajar dengan menggunakan model inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Makna dari “sesuatu” yang harus ditemukan oleh siswa melalui proses berpikir adalah sesuatu yang harus ditemukan, bukan sesuatu yang tidak pasti, oleh sebab itu setiap gagasan yang harus dikembangkan adalah gagasan yang dapat ditemukan.

2.      Prinsip Interaksi

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dan lingkungannya. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir melalui interaksi mereka. Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukan pekerjaan mudah. Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya interaksi hanya berlangsung antara siswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja walaupun pada kenyataannya pemahaman siswa pada substansi permasalahan yang dibicarakan sangat kurang; atau guru meninggalkan peran sebagai interaksi itu sendiri.

3.      Prinsip Bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan model ini adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan bagian dari proses berpikir. Oleh kerena itu, kemampuan guru untuk bertanya pada setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu diketahui oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, atau bahkan bertanya untuk menguji.

4.      Prinsip Belajar untuk Berpikir

Belajar bukan hanya mengingat sejumkah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak kiri maupun kanan; baik otak reptile, otak limbie, maupun otak neokortek. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukan unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsur estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.

5.      Prinsip Keterbukaan

Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang dianjurkannya.

Model Pembelajaran Inkuiri adalah salah satu strategi pembelajaran yang dianggap baru khususnya di Indonesia. Sebagai suatu strategi baru, dalam penerapannya terdapat beberapa kesulitan.

Pertama, model ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang bersandar kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Selama ini guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses penyampain informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyak merasa keberatan untuk mengubah pola cara mengajarnya. Bahkan guru yang menganggap MPI sebagai strategi yang tidak mungkin dapat diterapkan karena tidak sesuai dengan budaya dan sistem pendidikan di Indonesia. Memang, untuk mengubah suatu kebiasaan bukanlah pekerjaan mudah, apalagi sikap guru yang cenderung konvensional, sulit untuk menerima pembaruan-pembaruan.

Kedua, sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran pada guru, dengan demikian bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama. Karna budaya semacam itu sudah terbentuk dan menjadi kebiasaan, maka akan sulit mengubah pola belajar mereka dengan menjadi belajar sebagi proses berpikir, mereka akan sulit manakala disuruh untuk bertanya. Demikian juga dalam menjawab pertanyaan, walaupun pertanyaan itu sederhana. Biasanya siswa memerlukan waktu yang cukup lama untuk merumuskan jawaban dari suatu pertanyaan.

Ketiga, berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Misalnya, sistem pendidikan menganjurkan bahwa proses pembelajaran sebaiknya menggunakan pola pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir melalui pendekatan student active learning atau yang kita kenal dengan CBSA, atau melalui anjuran penggunaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), namun di lain pihak sistem evaluasi yang masih digunakan misalnya sistem ujian akhir nasional (UAN) berorientasi pada pengembangan aspek kognitif. Tentu saja hal ini bisa menambah kebingungan guru sebagai pelaksana di lapangan. Guru akan mendua hati, apakah ia akan melaksanakan pola pembelajaran dengan menggunakan inkuiri sebagai strategi pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, atau akan mengembangkan pola pembelajaran yang diarahkan agar siswa dapat mengerjakan atau menjawab soal-soal hafalan.[15]

Untuk mendukung keberhasilan model inkuiri ini, penulis menggunakan trik/taktik/strategi Pasar Informasi. Pasar Informasi yang dimaksudkan di sini adalah perdagangan informasi di ruang kelas.[16] Dalam perdagangan informasi ini tentu saja banyak hal yang akan terjadi, antara lain akan ada sedikit kekacauan dan tawar menawar untuk memperoleh barang yang bagus. Dan pada strategi pasar informasi ini memerlukan tata ruang khusus, yaitu kelas ditata seperti layaknya kondisi pasar.

Kegiatan ini dilakukan melalui serangkain tahap yang dibatasi waktu ketat. Jumlah tahap dan batasan waktu dari masing-masing bervariasi berdasarkan topiknya, kerumitan materi dan kesiapan siswa. Pada strategi Pasar Informasi ini siswa akan bekerja secara berkelompok. Dalam satu kelas dibagi beberapa kelompok disesuaikan dengan sub materi yang tersedia. Misalnya jika dalam materi terdapat lima sub materi maka siswa dibagi ke dalam 5 kelompok. Jika dalam satu kelas terdiri dari 20 orang maka tiap-tiap kelompok dibagi menjadi empat orang tiap kelompoknya.

Siswa bekerja dalam kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan satu sub materi. Materi tersebut sebaiknya berupa teks. Juga beri tiap kelompok selembar kertas burem (kertas flipchart) atau karton dan tiga atau empat spidol/pena berbeda warna.

Sebelum proses pembelajaran dimulai guru menuliskan urutan dan batas waktu dari tahap-tahap di papan tulis, OHP atau LCD sehingga siswa dapat mengikuti kegiatan dengan mudah.

Sediakan gong atau bel untuk menandai awal dan akhir tiap tahap. Di tengah-tengah tahap, beri tahu siswa seberapa banyak waktu yang tersisa. Partikular (Elemen yang terdapat di dalam aktivitas ini) adalah :

1.      Kerja individu

2.      Kerja Kelompok

3.      Bergerak

4.      Berbicara

5.      Mendengarkan

6.      Membaca

7.      Menulis

8.      Melihat

 

C.      TUJUAN PEMBELAJARAN

Secara umum setelah mengikuti proses pembelajaran ini diharapkan peserta didik mampu menceritakan sejarah perkembangan Islam di Dunia, menjelaskan contoh, dan mengambil manfaat dari Perkembangan Islam di Dunia.

Namun secara khusus, setelah mengikuti proses pembelajaran ini peserta didik diharapkan :

1.      Mampu mengembangkan pola berpikir mereka dalam memproses data secara aktif, logos, lateral, imajinatif, dedukatif, dsb.

2.      Mampu belajar menangani emosi dan menghubungkan dengan yang lainnya secara terampil, mengembangkan ciri personal positif seperti kendali diri, dan nilai-nilai seperti keadilan. (Kecerdasan emosional)

3.      Mampu menguasai sikap dan kecakapan yang membuat mereka mampu memulai mempertahankan belajar tanpa guru. (Kemandirian)

4.      Mampu terlibat dalam mutualitas, yang merupakan inti dari kerjasama dan basis dari demokrasi. (Saling ketergantungan)

5.      Mendapat pengalaman melalui sejumlah indera bersama-sama dari efek melihat, mendengar dan melakukan. (Sensasi ganda)

6.      Mendapatkan kesenangan yang nyata. (Fun)

7.      Mampu membicarakan atau menulis pikiran, seringkali dalam bentuk “draft”, sebagai suatu bagian penting dari proses penciptaan pemahaman personal. (Artikulasi)

8.      Mampu menghargai perbedaan antara sesama teman.

9.      Belajar saling hormat dan percaya dalam hal berbagi kepemimpinan.

10.  Belajar untuk selalu mengucap syukur kepada Allah Swt.

D.      SOFTWARE/PROGRAM YANG DIGUNAKAN

            Software/Program yang digunakan dalam model ini antara lain : microsoft office word 2007, power point 2007 (SK-KD, materi, dll),  windows media player (video pendukung materi), winamp (music), flash player, dan media player classic. Media atau alat peraga lain yang digunakan dalam pembelajaran ini antara lain : peta, globe, foto-foto, gambar-gambar, kertas burem (flipchart), karton, dan spidol.

E.       STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

            Standar Kompetensi : Memahami Perkembangan Islam di Dunia

Kompetensi Dasar :  1.   Menjelaskan perkembangan Islam di dunia

2.      Memberikan contoh perkembangan Islam di dunia

3.      Mengambil hikmah dari perkembangan Islam di dunia

F.       LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN 

1.      Kegiatan Awal : Berdo’a, appersepsi dan motivasi.

Tahap 1  

Menayangkan cuplikan film untuk mengondisikan dan meng-up grade otak peserta didik agar lebih siap menerima pembelajaran. Guru menunjukan pada siswa tujuan pelajaran dan tes yang akan mereka hadapi dengan menggunakan slide. Siswa diberi satu menit saja untuk membaca seluruh teks, kemudian matikan. Mereka tidak diperbolehkan mencatat. Pastikan mereka memahami bahwa mereka akan menghadapi tes ini di bawah kondisi ujian, tanpa referensi ke materi apa pun atau siapa pun, di Tahap 5.

2.      Kegiatan Inti, meliputi;

Tahap 2  

Membagi siswa menjadi 5 kelompok. Pada saat pembagian kelompok siswa diajak bermain sambil menyisipkan materi-materi untuk masing-masing kelompok. Tiap kelompok mengubah materi sumber untuk sub divisinya ke dalam tampilan visual, sebuah “poster”, yang menggunakan kertas besar dan spidol. Poster tersebut harus dirancang untuk dilihat dan dipahami pengunjung (ditahap 3). Poster ini bisa memiliki hingga sepuluh kata dan tidak lebih (sesuai menurut materi, tetapi jangan biarkan mereka memiliki terlalu banyak kata atau aktivitas ini akan rusak). Kelompok dianjurkan mengunakan sebanyak mungkin angka, diagram, simbol, gambar, grafik, kartun, sketsa dan hurup inisial, tetapi tidak lebih dari sepuluh kata. Kelompok berkolaborasi di sini, memastikan bahwa tiap orang dalam kelompok memahami materi dan berkontribusi pada “poster” ini. Jika perlu, beri tiap anggota kelompok spidol dengan warna berbeda dan hadapkan melihat ketiga warna tersebut di produk akhirnya.

“PASAR INFORMASI”

STAND 1

 

STAND 2

 

STAND 3

 

STAND 4

 

STAND 5

 

 

Mendekati akhir tahap ini, beri tiap kelompok persyaratan minimum. Ini merupakan detail spesifik yang harus dimasukan dalam poster yang akan memastikan bahwa pengunjung mendapat akses ke informasi yang benar untuk tes. Persyaratan minimum hanya dapat berupa pertanyaan yang diambil dari tes yang sesuai dengan materi tiap kelompok. Sebagai contoh: “setidaknya pastikan bahwa poster anda memberi jawaban untuk pertanyaan ini …”

Misalnya : Tokoh-tokoh Islam di Amerika adalah… dsb.

Tahap 3  

Sekarang tiap kelompok hanya memiliki sepotong informasi yang diperlukan untuk berhasil dalam tes. Jadi, kelompok harus belajar dari yang lainnya. Dalam persiapan, tiap kelompok harus menentukan siapa salah satu anggotanya yang akan tinggal dan menjadi “penjaga stand”. Anggota lainnya pergi ke luar ke “pasar” untuk mengumpulkan informasi. Penjaga stand mengiklankan bisnisnya dengan meneriakan judul sub divisi kelompoknya, sehingga pelanggan dapat menemukan jalannya. Penjaga stand menjelaskan posternya kepada pengunjung, tetapi hanya diperbolehkan menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh pengunjung. Periset yang pergi ke pasar harus mengunjungi semua sub divisi lain dari topik tersebut. Mereka harus mengatur diri mereka sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan dalam batas waktu, sehingga mungkin mereka memutuskan membagi kerja dan bekerja secara individu. Mereka semua harus mencatat sehingga mereka dapat mengajar kelompoknya secara efektif pada tahap 4. Tugas mereka adalah melihat poster kelompok lain, mencoba memahami ide-ide dan informasi yang digambarkan dan bertanya kepada penjaga stand untuk klarifikasi, penjelasan dan perluasan. Jika mereka mempunyai cukup waktu, mereka dapat pergi ke versi lain dari sub divisi yang sama untuk informasi cek silang.

Situasi Pasar

Tahap 4  

Semua kembali ke home base. Mereka yang pergi ke pasar untuk meneliti informasi sekarang bergantian mengajarkan apa yang telah mereka ketahui. Ini adalah kesempatan untuk memperjelas pemahaman. Siswa dapat kembali untuk melihat poster atau mengajukan pertanyaaan cepat untuk mengecek detail. Tujuannya adalah agar setiap orang di akhir tahap ini siap untuk tes, dorong semua anggota kelompok membuat catatan melihat dan melakukan, mendengar, membantu, menyerap informasi. Selama tahap ini, bagikan kertas tes yang menghadap ke bawah untuk tiap kelompok sebagai persiapan tahap 5.

   Tahap 5

Semua catatan, poster dan materi sumber orisinil disingkirkan. Tes ini dilakukan di bawah kondisi ujian, secara individu dan dengan tenang.

 

 

 

3.      Kegiatan Akhir

Tahap 6

Sebelum guru membahas tes, siswa diajak relaksasi dengan bernyanyi bersama-sama dengan guru. Dalam setiap kelompok, siswa sekarang menggabungkan pikiran mereka bersama untuk melihat mereka jika dapat memperoleh jawaban yang lengkap dan akurat di antara mereka. Penting bahwa mereka tidak tahu tahap ini di awal.

Akhirnya, guru membahas tes, dengan perhatian pada pertanyaan yang pada umumnya dianggap sulit oleh kelompok. Untuk tiap pertanyaan sulit ini guru minta sukarelawan mencoba menjawabnya. Kemudian, sebagai usaha terakhir, guru mengajar. Guru mengajar dengan menggunakan alat bantu pembelajaran.[17] Dengan cara ini celah diisi lubang disumbat. Kemudian di akhir pembelajaran guru mengajak siswa untuk mendengarkan sebuah kisah/cerita.

Manfaat yang dapat diambil dari kegiatan pasar informasi ini adalah :

1.      Dengan meminta siswa menyampaikan informasi menggunakan kata-kata yang terbatas, mereka dipaksa memahami materi.

2.      Kegiatan ini berjalan dengan “grain of the brain” dengan meminta siswa melihat pola dan membuat kaitan. Hal ini sangat sesuai neokorteks.

3.      Kita tahu bahwa peer teaching itu efektif. Siswa diharuskan menyampaikan materi berkali-kali.

4.      Kegiatan ini memberi siswa suatu contoh pembuatan catatan yang dapat di transfer mengidentifikasi kata-kata kunci menggunakan tatanan non-linear dan berbagai simbol.

5.      Kegiatan ini mendorong penggunaan kecerdasan visual, mendukung siswa yang tidak mudah menangkap kata, dan menarik bagi siswa lain.

6.      Ini membangun keterampilan belajar mandiri, termasuk: memilih informasi; mengajukan pertanyaan yang benar; teknik presentasi verbal dan visual; mengingat; mengenai tekanan; bekerja dalam kondisi ujian.

7.      Kegiatan ini menciptakan suatu contoh kerjasama yang saling bergantung.[18]

 

G.      PENUTUP 

Tidak ada suatu model rancangan pembelajaran yang dapat memberikan resep paling ampuh untuk mengembangkan suatu program pembelajaran. Oleh karena itu, dalam menentukan model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran tergantung pada pertimbangan si perancang (guru) terhadap model yang akan digunakan atau dipilih.

Suatu model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya. Misalnya model inkuiri. Model inkuiri ini membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains yang menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Kriteria keberhasilan dari proses belajar dengan menggunakan model inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.

 

 

 

[1] Disampaikan pada Lomba Kreasi Model Pembelajaran PAI Berbasis ICT Tingkat Nasional Tahun 2010 Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Kementerian Agama Republik Indonesia.

 

[2] Peserta lomba adalah guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK N 1 Kota Pagar Alam Sumatera Selatan.

 

[3] Mohammad Nur, Pembelajaran Langsung, (Surabaya : Pusat Sains dan Matematika Sekolah Universitas Negeri Surabaya University Press., 2000).

 

[4] Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta : Bumi Aksara, 2007), hal. 89.

 

[5] Suatu model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran lainnya. Adapun jenis model mengajar atau pembelajaran secara umum ada 4 (empat) macam yaitu : The informational models (model pemrosesan informasi), personal models (model pribadi), interactive models (model interaksi), dan behavioral model (model prilaku). MD Dahlan, Model-model Mengajar: Beberapa Alternatif Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung : Diponegoro, 1900), cet. Ke-2, hal. 21 dan 30-31.

 

[6] Richard I. Arends, Learning to Teach Belajar untuk Mengajar (terjemah Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto), (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008), cet. 1, hal. 259.

 

[7] Burhan Yasin & Agus Gerrad Senduk, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, (Malang : UM Press, 2004), hal. 19.

 

[8] Model Pembelajaran Inkuiri berangkat dari asumsi bahwa sejak lahir manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahunannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera pengecap, pendengaran, penglihatan, dan indera-indera yang lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus-menerus berkembangan dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari rasa keingintahuan itu. Dalam rangka itulah strategi/model inkuiri dikembangkan.

 

[9] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta : Prenada Media Group, 2008), hal. 194.

 

[10] Bruce Joyce, Marsha Weil and Emily Calhoun, Models of Teaching, (New York : Pearson, 2009), hal. 310.

 

[11] Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa lain. Oleh karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.

 

[12] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta, 2009), hal. 58.

 

[13] Inkuiri (menemukan) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Ibid., hal. 89.

 

[14] Wina Sanjaya, op. cit., hal. 196.

 

[15] Wina Sanjaya, op. cit., hal. 205.

 

[16] Paul Ginnis, Trik dan Taktik Mengajar: Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran di Kelas, terj. Judul asli; Teacher’s Toolkit: Classroom Achievement with Strategies for Every Learner, (Jakarta : Indeks, 2008), hal. 140.

 

[17] Alat bantu pembelajaran adalah perlengkapan yang menyajikan satuan-satuan pengetahuan melalui stimulasi pendengaran atau penglihatan atau keduanya untuk membantu pembelajaran. Alat pembelajaran itu antara lain; Terbitan Berkala, Buku, Surat Kabar, Slide, Filmstrip, Model, Grafik & Bagan, Bahan-bahan Bergambar, Globe & Peta, Tape Recorder, Disc Foto, Radio, Gambar-gambar Bergerak dan Televisi. Kochar S. K., Pembelajaan Sejarah Teaching of History, (Jakarta : Grasindo, 2008), hal. 214, 218.

 

[18] Paul Ginnis, op. cit., hal. 143.Variasi 1. Gunakan ini untuk merevisi, bukan untuk mempelajari materi baru. 2. Sebagai ganti tes tanya jawab di akhir, bisa diadakan tugas. Contohnya, untuk menulis laporan atau esai, untuk membuat serangkaian rencana dengan kata kunci, atau membuat produk. 3. Sebagai ganti memproses ulang materi sumber yang diberi oleh guru, kelompok bisa menyiapkan poster untuk menjelaskan ide mereka untuk satu desain, solusi suatu masalah, percobaan, metode riset, atau serangkaian gerakan dalam tarian. Pada tahap 4, siswa dengan tidak kalutnya mencoba saling mengajarkan fakta dan konsep, tetapi menjelaskan ide kelompok lain dan mendiskusikan yang menurut mereka terbaik. 4. Bukannya membiarkan siswa berkeliling pasar dengan menentukan rutenya sendiri dalam jangka waktu mereka sendiri, gunakan pendekatan terstruktur. Gerakakanlah siswa secara memutar dalam sirkus dari satu stand ke stand lain dalam satu internal tertentu. 5. Pertahankan aktivitas ini dalam beberapa seri pelajaran. Kelompok bisa mengambil dua atau tiga pelajaran untuk meriset materi mereka dari berbagai sumber; mereka mungkin memerlukan satu pelajaran penuh untuk menyiapkan stand mereka, yang lebih dari pada sebuah poster sederhana tetapi memiliki rekaman audio, foto, atau presentasi power point di laptop. 6. Siswa menentukan pertanyaan untuk bagian tes mereka. Kemudian dicek, dan jika perlu diperbaiki, oleh guru.

SEJARAH ULUMUL QURAN[1]                                                                                                                                             Oleh : Khoirawati

 

  1. PENDAHULUAN

Alquran adalah mukjizat Islam yang abadi di mana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah SWT. membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya Ilahi dan menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW., demi membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah menyampaikannya kepada para sahabatnya sebagai penduduk asli Arab yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat yang mereka terima, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah.

Berbicara tentang sejarah, tentu saja yang ada dalam benak kita adalah kita seakan lari ke masa lalu, dengan kembali mengorek-ngorek fakta yang ada. Mempelajari sejarah diumpamakan seperti mencari mutiara di tengah lautan, sulit memang, namun akhir dari pencarian itu menjadi asa bagi mereka yang benar-benar mempelajarinya. Apalagi tentang Sejarah Ulumul Quran yang akan dipaparkan dalam makalah ini. Ulumul Quran atau ilmu-ilmu Alquran adalah suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan dengan kajian-kajian Alquran seperti; pembahasan yang berhubungan dengan Alquranul Majid yang abadi, baik dari segi penyusunannya, pengumpulannya, sistematikanya, perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyah, pengetahuan tentang nasikh dan mansukh, pembahasan tentang ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat, serta pembahasan-pembahasan lain yang berhubungan dan ada sangkut pautnya dengan Alquranul ‘Azhim.[2]

Adapun tujuan dari studi ilmu ini ialah : Pertama, agar dapat memahami Kalam Allah SWT., sejalan dengan keterangan dan penjelasan dari Rasul SAW., serta sejalan pula dengan keterangan yang dikutip oleh para sahabat dan tabi’in tentang interpretasi mereka perihal Alquran. Kedua, agar mengetahui cara dan gaya yang dipergunakan oleh para mufassir (ahli tafsir) dalam menafsirkan Alquran dengan disertai sekedar penjelasan tentang tokoh-tokoh ahli tafsir yang ternama serta kelebihan-kelebihannya. Ketiga, agar mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan Alquran. Keempat, agar mengetahui ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan untuk itu.[3]  Misalnya ilmu tafsir.

Ilmu tafsir penting sekali bagi kita untuk mengetahui secara singkat tentang ilmu-ilmu Alquran dan segala yang terkandung di dalamnya,[4] serta mendorong kita untuk mengetahui hal-hal yang menunjang pemahaman Alquran yang mulia ini, berupa usaha maksimal, kesungguhan yang optimal dalam pembahasan Alquran.

Kemunculan inovasi dalam bidang keilmuan adalah hal niscaya. Tapi, inovasi tersebut tidak mungkin dilakukan jika tanpa pengetahuan atas struktur dan konstruk ilmu yang hendak dikembangkan tersebut. Ulumul Quran misalnya, semenjak awal penyusunan dan sistematisasinya dari dulu hingga sekarang, muatan metodologi dan isi Ulumul Quran relatif tidak mengalami perubahan bahkan sangat cenderung reproduktif terhadap karya-karya sebelumnya.[5] Kecenderungan ini terjadi bukan tanpa alasan. Asumsi-asumsi pendahulu yang melatarbelakangi penyusunan Ulum Alquran dipastikan merupakan landasan tolak dalam pengembangannya. Dan jika diperhatikan, kecenderungan reproduktif sangat kental dalam Ulumul Quran. Sehingga ketika dihadapkan pada realitas kekinian mengalami degradasi relevansi. Para penulis Ulumul Quran yang belakangan sepertinya kurang abai terhadap keterlibatan historitas dalam setiap aktivitas, baik yang sifatnya keilmuan atau yang lainnya. Padahal, bagaimanapun juga rumusan (pemahaman) Islam baik dalam ranah keagamaan maupun keilmuan, termasuk Ulumul Quran, pada dasarnya terbentuk secara kultural dan sosial (culturally and socially constructed).

As-Suyuthi  mengatakan bahwa dalam Ulumul Quran yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Alquran masih sedikit atau bisa dikatakan tidak ada seorang ulamapun yang membahas tentangnya. Karena inilah ia memberanikan diri untuk menulis kitab mengenai ulumul Quran.[6] Dengan menggunakan metode istiqsha’ (sangat mendalam dan meluas).[7]

Makalah ini akan mencoba memaparkan bagaimana sejarah perkembangan Ulumul Quran, bagaimana lahirnya istilah Ulumul Quran, dan pembagian serta cabang-cabang Ulumul Quran.

 

  1. PERKEMBANGAN ULUMUL QUR’AN

Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, Ulumul Quran tidak lahir sekaligus. Ulumul Quran menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Alquran dari segi keberadaannya dan segi pemahamannya. Makalah ini akan memaparkan perkembangan Ulumul Quran pada masa Rasulullah SAW., masa Khulafa al-Rasyidin, dan masa Tadwin (Penulisan Ilmu).

 

1.      Perkembangan Ulumul Quran Pada Masa Rasulullah SAW

Pada masa Rasulullah SAW. ini Alquran belum dibukukan. Di masa Rasulullah SAW. dan para sahabat, Ulumul Quran belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Pada masa Rasulullah SAW., Ulumul Quran dipelajari secara lisan, hal ini berlangsung terus sampai beliau wafat.[8] Karena para sahabat yang menerima Alquran asli orang Arab dengan keistemewaan hafalan yang kuat, kecerdasan, kemampuan menangkap makna yang terkandung dalam Alquran. Para sahabat adalah orang-orang Arab asli yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Bila mereka menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasulullh SAW.

Sebagai contoh, ketika turun ayat :

óOs9ur (#þqÝ¡Î6ù=t OßguZ»yJÎ) AOù=ÝàÎ/

“Dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman …” (QS Al-An’am (6): 82). Para sahabatnya bertanya: “Siapa dari kami yang tidak menganiaya (menzalimi) dirinya !”. Nabi menjawab, “Pemahamannya tidak seperti yang kalian maksudkan, tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan seorang hamba yang soleh kepada anaknya”.[9] Nabi menafsirkan kata zulm di sini dengan syirk berdasarkan ayat di bawah ini :

(cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã

“Sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar” (QS Luqman (31): 13). “

Adapun tentang kemampuan Rasulullah SAW. memahami Alquran tentunya tidak diragukan lagi karena ialah yang menerimanya dari Allah dan Allah yang mengajari segala sesuatunya.

Dengan demikian ada tiga faktor yang menyebabkan Ulumul Quran tidak dibukukan di masa Rasulullah SAW. dan sahabat. Pertama, kondisinya tidak membutuhkan karena kemampuan mereka yang besar untuk memahami Alquran dan Rasulullah SAW. dapat menjelaskan maksudnya. Kedua,  para sahabat sedikit sekali yang pandai menulis. Ketiga, adanya larangan Rasul untuk menuliskan selain Alquran. Semua ini merupakan faktor yang menyebabkan tidak tertulisnya ilmu ini baik di masa Nabi SAW. maupun di zaman sahabat.[10]

Sebagian besar para sahabat Nabi terdiri dari orang-orang buta huruf, dan alat tulis menulis pun tidak dapat mereka peroleh dengan mudah. Itu juga merupakan halangan bagi kegiatan menulis buku tentang ilmu Alquran.[11]

Di lain pihak ada larangan dari Rasulullah SAW., untuk menuliskan selain Alquran. Hal ini seperti diriwayatkan oleh Muslim yang berbunyi :

ﻻﺘﻜﺘﺒﻭﺍﻋﻨﻰﻭﻤﻥﻜﺘﺏﻋﻨﻰﻏﻴﺭﺍﻠﻘﺭﺍﻥﻓﻠﻴﻤﺤﻪﻭﺤﺩﺜﻭﺍﻋﻨﻰﻭﻻﺤﺭﺝﻭﻤﻥﻜﺫﺏﻋﻠﻲﻤﺘﻌﻤﺩﺍﻓﻠﻴﺘﺒﻭﺃﻤﻘﻌﺩﻩﻤﻥﺍﻠﻨﺎﺭ

Artinya : “Janganlah sekali-kali kalian menulis apapun dariku. Dan barang siapa yang menuliskan selain Alquran maka harus menghapusnya, dan ceritakanlah apa yang kalian dengar dariku karena itu tidak apa-apa, barang siapa yang berbohong kepadaku dengan sengaja maka bersiaplah untuk mencari tempat duduk di neraka”.[12]

Larangan beliau itu didorong kekhawatiran akan terjadinya pencampuran Alquran dengan hal-hal yang bukan dari Alquran. Pada masa Rasulullah SAW., penulisan Alquran dilakukan oleh beberapa penulis wahyu yaitu Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Muawiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin dan sebagainya.[13]

 

2.      Perkembangan Ulumul Quran Pada Masa Khulafa al Rasyidin 

Pada zaman kekhalifaan Abu Bakar dan Umar, ilmu Alquran masih diriwayatkan melalui penuturan secara lisan.[14] Ketika Abu Bakar Shiddiq menjadi khalifah terjadi pertempuran yang sangat sengit antara kaum muslimin dengan pengikut Musailamah al-Kadzab yang menimbulkan banyak korban. Di pihak muslimin ada tujuh puluh penghafal Alquran yang gugur, sehingga Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menuliskan Alquran dalam satu mushaf.[15] Pada mulanya Abu Bakar merasa ragu untuk menerima usul Umar tersebut dan memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk menuliskan Alquran dalam bentuk mushaf.

Ketika di zaman Utsman di mana orang Arab mulai bergaul dengan orang-orang non Arab, pada saat itu Utsman memerintahkan supaya kaum muslimin berpegang pada mushaf induk dan membuat reproduksi menjadi beberapa buah naskah untuk dikirim ke daerah-daerah. Bersamaan dengan itu ia memerintahkan supaya membakar semua mushaf lainnya yang ditulis orang menurut caranya masing-masing.[16]

Di zaman Khalifah Utsman wilayah Islam bertambah luas sehingga terjadi perbauran antara penakluk Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa Arab dari bangsa Arab. Bahkan dikhawatirkan akan terjadinya perpecahan di kalangan kaum Muslimin tentang bacaan Alquran yang menjadi standar bacaan bagi mereka. Untuk menjaga terjadinya kekhawatiran itu, disalinlah dari tulisan-tulisan aslinya sebuah Alquran yang disebut Mushhaf Imam. Dengan terlaksananya penyalinan ini maka berarti Utsman telah meletakkan suatu dasar Ulumul Qur’an yang disebut Rasm al-Qur’an atau Ilm al Rasm al-Utsmani.[17]

Di masa Ali bin Abu Thalib terjadi perkembangan baru dalam bidang ilmu Alquran. Karena banyaknya melihat umat Islam yang berasal dari bangsa non-Arab, kemerosotan dalam bahasa Arab, dan kesalahan dalam pembacaan Alquran, Ali menyuruh Abu al-Aswad al-Duali (w.63 H.) untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab. Hal ini dilakukan untuk memelihara bahasa Arab dari pencemaran dan menjaga Alquran dari keteledoran pembacanya. Tindakan khalifah Ali ini dianggap perintis bagi lahirnya ilmu Nahwu dan I’rab Alquran.[18] 

 

 

3.      Perkembangan Ulumul Quran Pada Masa Tadwin (Penulisan Ilmu)

Setelah berakhirnya zaman khalifah yang Empat, timbul zaman Bani Umayyah. Kegiatan para sahabat dan Tabi’in terkenal dengan usaha-usaha mereka yang tertumpu pada penyebaran ilmu-ilmu Alquran melalui jalan periwayatan dan pengajaran secara lisan, bukan melalui tulisan atau catatan. Kegiatan-kegiatan ini dipandang sebagai persiapan bagi masa pembukuannya. Orang-orang yang paling berjasa dalam periwayatan ini adalah; khalifah yang Empat, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Zaid ibn Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah ibn al-Zubair dari kalangan sahabat. Sedangkan dari kalangan Tabi’in ialah Mujahid, ‘Atha, ‘Ikrimah, Qatadah, Al-Hasan al-Bashri, Sa’id ibn Jubair, dan Zaid ibn Aslam di Madinah. Dari Aslam ilmu ini diterima oleh putranya Abdul Rahman bin Zaid, Malik ibn Anas dari generasi Tabi’i al-tabi’in. Mereka ini semua dianggap sebagai peletak batu pertama bagi apa yang disebut ilmu tafsir, ilmu asbab al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu gharib Alquran dan lainnya.[19]

Kemudian, Ulumul Quran memasuki masa pembukuannya pada abad ke-2 H. Para ulama memberikan prioritas perhatian mereka terhadap ilmu tafsir karena fungsinya sebagai Umm al-‘Ulum al-Qur’aniah (Induk Ilmu-ilmu Alquran). Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syu’bah Ibn al-Hajjaj[20], Sufyan ibn Uyaynah[21], dan Waqi’ Ibn al-Jarrah[22]. Kitab-kitab tafsir mereka menghimpun pendapat-pendapat sahabat dan tabi’in.

Pada abad ke-3 menyusul tokoh tafsir Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H.).         Al-Thabari adalah mufassir pertama membentangkan bagi berbagai pendapat dan mentarjih  sebagiannya atas lainnya. Ia juga mengemukakan  i’rab dan istinbath (penggalian hukum dari Alquran). Di abad ke-3 ini juga lahir ilmu asbab al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu tentang ayat-ayat Makkiah dan Madaniah. Guru Imam al-Bukhari, Ali Ibn al- Madini[23]  mengarang asbab al-nuzul; Abu Ubaid al-Qasim Ibn Salam (w.224 H.) mengarang tentang nasikh dan mansukh, qirrat dan keutamaan-keutamaan Alquran. Muhammad Ibn Ayyub al-Dharis menulis tentang kandungan ayat-ayat yang turun di Mekkah dan Madinah[24]; Muhammad Ibn Khalaf Ibn al-Mirzaban (w. 309 H) mengarang kitab al-Hawi fi ’Ulum al-Qur’an.[25]

Di abad ke-4 lahir ilmu gharib al-Qur’an dan beberapa kitab Ulumul Quran. Di antara tokoh-tokoh Ulumul Quran ini ialah Abu Bakar Muhammad Ibn al-Qasim al-Anbari (w. 328 H.) dengan kitabnya ‘Ajaib ulum al-Qur’an. Di dalam kitab ini      al-Anbari berbicara tentang keutamaan-keutamaan Alquran,  turunnya atas tujuh huruf, penulisan mushhaf-mushhaf, jumlah surah, ayat, dan kata-kata Alquran.  Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H.) mengarang al-Mukhtazan fi’ulum al-Qur’an (Yang Tersimpan di Dalam Ilmu Alquran), kitab yang berukuran besar sekali.[26] Abu Bakar al-Sijistani[27] mengarang Grarib al-Qur’an; Abu Muhammad al-Qashshab Muhammad Ibn Ali al-Kharkhi (w. 360 H.) mengarang Nukat al-Qur’an al-Dallah ’ala al-Bayan fi Anwa’ al-‘Ulum wa al-Ahkam al-Munbiah ’an Ikhtilaf        al-Anam(Titik-Titik Alquran Menunjukkan Kejelasan Tentang Berbagai Ilmu dan Hukum yang Memberitakan Perbedaan Pikiran Insani)[28]; dan Muhammad Ibn Ali al-Adfawi (w. 388 H.) mengarang Al-istghna’ fi ’Ulum al-Qur’an (Kebutuhan Akan Ilmu Alquran).[29]

Di abad ke-5 muncul pula beberapa tokoh ilmu qirrat, di antaranya ialah     Ali Ibn Ibrahim Ibn Sa’id al-Hufi[30] mengarang Al-Burhan fi ’Ulum al-Qur’an dan i’rab al-Quran. Abu Amral-Dani (w. 444 H.) menulis kitab Al-Taisir fi al-Qiraat al-Sab’i dan Al-Mukham fi al-Nuqath. Dalam abad ini juga lahir ilmu amtsal al-Qur’an yang di antara lain dikarang oleh Al-Mawardi (w. 450 H.).[31]

Pada abad ke-6, di samping banyak ulama yang melanjutkan pengembangan ilmu-ilmu Alquran yang telah ada, lahir pula ilmu mubhamat al-Qur’an. Abu al-Qasim Abd al-Rahman al-Suhaili[32] (w. 581 H.) mengarang Mubhamat al-Qur’an. Ilmu ini menerangkan lafal-lafal Alquran yang maksudnya apa dan siapa tidak jelas. Misalnya kata rajulun (seorang lelaki) atau malikun (seorang raja). Ibn al-Jauzi ( w.597 H.) menulis kitab Funun al-Afnan fi’Ajaib al-Qur’an dan kitab Al-Mujtaba fi ’Ulum Tata’allaq bi al-Qur’an.[33]

Pada abad ke-7 Abd al-Salam yang terkenal dengan sebutan Al-‘Izz              (w. 660 H.) mengarang kitab Majaz al-Qur’an. ’Alam al-Din al-Sakhawi (w. 643 H.) mengarang tentang qirrat. Ia menulis kitab Hidayah al-Murtab fi al-Mutasyabih yang terkenal dengan nama Al-Sakhawiyah. Abu Syamah Abd al-Rahman Ibn Ismal al-Maqdisi (w. 665 H.) menulis kitab Al-Mursyid al-Wajiz fi ma Yata’allaq bi al-Qur’an al-‘Aziz.

Pada abad ke-8 muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang Alquran. Sementara itu penulis tentang kitab-kitab tentang ilmu-ilmu sebelumnya telah lahir terus berlangsung. Ibn Abi al-Ishba’ menulis tentang badai’al-Qur’an. Ilmu ini membahas keindahan bahasa dalam Alquran. Ibn al-Qayyim ( w.752 H.) menulis tentang Aqsam Alquran. Ilmu ini membahas tentang sumpah-sumpah Alquran. Najmuddin al-Thufi (w.716 H.) menulis tentang Hujaj Alquran. Ilmu ini membahas tentang bukti-bukti yang dipergunakan Alquran dalam menetapkan suatu hukum. Abu al-Hasan al-Mawardi menyusun ilmu amtsal Alquran. Ilmu ini membahas tentang perumpamaan-permpamaan yang ada dalam Alquran. Kemudian Badruddin al-Zarkasyi[34] (w. 794 H.) menyusun kitabnya Al-Burhan fi ’Ulum al-Qur’an.[35]

 

Pada abad ke-9, muncul beberapa ulama melanjutkan perkembangan ilmu-ilmu Alquran. Jalaluddin al-Bulqini[36], menyusun kitabnya Mawaqi’ al-‘Ulum min Mawaqi’al-Nujum. Menurut al-Suyuthi, Al-Bulqini dipandang sebagai ulama yang mempelopori penyusunan Ulumul Quran yang lengkap. Sebab dalam kitabnya mencakup 50 macam ilmu Alquran. Muhammad ibn Sulaiman al-Kafiaji[37] mengarang kitab Al-Tafsir fi Qawa’id al-Tafsir. Di dalamnya diterangkan makna tafsir, takwil, Alquran, surah dan ayat. Di dalamnya juga diterangkan tentang syarat-syarat mentafsirkan Alquran. Jalaluddin al-Suyuthi (w. 991 H.) menulis kitab al-Tahbir fi’Ulum al-Tafsir. Penulisan kitab ini selesai pada tahun 873 H. Kitab ini memuat 102 macam-macam ilmu Alquran. Karena itu, menurut sebagian ulama, kitab ini dipandang sebagai kitab Ulumul Quran yang paling lengkap. Namun Al-Suyuthi belum merasa puas dengan karya yang monumental ini sehingga ia menyusun lagi kitab Al-Itqan fi ’Ulum Al-Qur’an. Di dalamnya dibahas 80 macam ilmu-ilmu Alquran secara padat dan sistematis. Menurut Al-Zarqani, kitab ini sebagai pegangan kitab bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Setelah wafatnya Imam Al-Suyuthi pada tahun 991 H., seolah perkembangan karang-mengarang dalam Ulumul Quran sudah mencapai puncaknya sehingga tidak terlihat munculnya penulis yang memiliki kemampuan seperti kemampuannya.[38] Keadaan seperti ini dapat terjadi sebagai akibat meluasnya sikap taklid yang dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu agama umumnya  mulai berlangsung setelah masa Al-Suyuthi. Kondisi yang demikian berlangsung sejak wafatnya Iman Al-Suyuthi hingga akhir abad ke-13 H.

Abad ke-10, boleh dikatakan adalah abad kemunduran karena hanya seorang penulis yang aktif mengarang, yaitu Imam Jalaluddin Al-Suyuthi yang mengarang enam kitab antara lain Tanasubud Durar fi Tanasubis Suwar, at-Tahbir fi ‘Ulumit Tafsir, al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an yang terdiri dari dua juz dalam satu jilid, ad-Durral Mantsur fit Tafsiri bil Ma’tsur yang terdiri dari delapan jilid, Lubudun Nuqul fi Asbabin Nuzul, dan Thabaqatul Mufassirin.[39] Kitabnya yang lain, Turjuman Al-Qur’an fi Tafsir Al-Musnad, Al-Suyuti mengumpulkan hadis-hadis yang menafsirkan Alquran. Sayangnya, kitab ini belum ditemukan sampai sekarang.[40]

Sejak penghujung abad ke-13 H., sampai saat ini perhatian para ulama penyusunan terhadap kitab-kitab Ulumul Quran bangkit kembali. Kebangkitan kembali terhadap Ulumul Quran ini bersamaan dengan kebangkitan modern dalam  perkembangan ilmu-ilmu agama lainnya. Di antara ulama yang menulis tentang Ulumul Quran di abad ini adalah Syeikh Thahir al-Jazairi dengan kitabnya Al-Tiban li ba’dh al Mabahits al-Muta’alliqah bi’ al-Qur’an . Muhammad Jalaludin al Qasimi (w. 1332 H.) menulis kitab Mahasin al-Takwil. Jihad pertama dari kitab ini di khususkan bagi pembahasan Ulumul Quran. Muhammad Abd al-Azim al-Zarqani menyusun Manahil al-Irfan fi’ulum al-Qur’an. Muhammad Ali Salamah menulis Manhaj al-Furqan fi’ Ulum al-Qur’an. Syeikh Tanthawi mengarang Al-Jawa-hir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Mushthafa Shadiq al-Rafi’i menulis i’jaz al-Qur’an. Sayyid Quthub menulis Al-Thashwir al-Fanni fi al-Qur’an dan Fizilal al-Qur’an. Malik Ibn Nabi menulis  Al-Zawahir al-Qur’aniah. Kitab ini memuat pembahasan yang baik sekali dalam banyak persoalan Ulumul Quran. Muhammad Rasyid juga tidak ketinggalan memasukan  pembahasan-pembahasan Ulumul Quran dalam tafsirnya Tafsir al-Qur’an al-Karim yang terkenal dengan sebutan Tafsir al-Manar.  Syeikh Abd al-Azaiz al-Khuli menulis kitabnya berjudul Al-Qur’an al-Karim: Washfuh, Atsaruh, Hidayatuh, Wai’jazuh. Muhammad al-Ghazali menulis kitab Nazarat fi al-Qur’an, Muhammad Abdullah Daraz menulis Al-Nabau, Al-Azim.[41] Di samping itu masih banyak lagi buku-buku yang menyangkut Ulumul Quran, baik yang berbahasa Arab, seperti kitab Mabahits fi Ulum al-Qur’an karya Shubhi          al-Shalih dan ‘Ulum al-Qur’an al-Karim karya Abd al-Mun’im al-Namir, maupun dalam bahasa Indonesia, seperti Ilmu-ilmu Alquran karya Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Ilmu Tafsir karya Rif’at Syauki Nawawi dan Ali Hasan, dan yang baru terbit buku berjudul Membumikan Al-Qur’an karya ahli tafsir Indonesia                    M. Quraish Shihab. Bagian pertama dari buku terakhir ini banyak berbicara tentang ilmu Alquran atau lebih tepatnya ilmu tafsir yang merupakan bagian dari bahasan Ulumul Quran.

 

  1. LAHIRNYA ISTILAH ULUMUL QURAN        

Sejarah pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Quran telah menunjukan kelahiran ilmu ini melalui proses yang cukup panjang. Tahap demi tahap ilmu-ilmu ini yang menjadi bagian Ulumul Quran tumbuh dan berkembang, seperti ilmu tafsir, ilmu rasm al-Qur’an, ilmu qirrat, ilmu qharib al-Qur’an, dan seterusnya. Kemudian ilmu-ilmu ini membentuk kesatuan yang mempunyai hubungan dengan Alquran, baik dari segi keberadaan Alquran, maupun dari segi pemahamannya. Karena itu ilmu-ilmu ini disebut ilmu-ilmu Alquran yang dalam istilah bahasa Arabnya ”Ulum al-Qur’an” (Ulumul Quran). Namun, kapankah istilah ini muncul dan siapakah orang yang pertama menggunakannya. Mengenai sejarah lahirnya istilah ini terdapat tiga pendapat di kalangan para penulis Ulumul Quran.

  1. Pendapat umum di kalangan para sejarah Ulumul Quran mengatakan bahwa masa lahirnya Ulumul Quran  pertama kali pada abad ke-7.[42]
  2. Al-Zarqani berpendapat istilah ini lahir dengan lahirnya kitab Al-Burhan fi’ulum al-Qur’an, karya Ali Ibn Ibrahim Ibn Sa’id yang terkenal dengan sebutan Al-Hufi (w. 430 H.). Menurut Al-Zarqani, kitab ini terdiri dari 30 jilid dari padanya sekarang disimpan di balai perpustakaan di Kairo dengan tidak tersusun dan tidak berurutan. Berdasarkan ini, Al-Zarqani berpendapat bahwa lahirnya istilah Ulumul Quran pada permulaan abad ke-5.[43]
  3. Shubhi al-Shalih tidak setuju dengan dua pendapat terdahulu. Ia berpendapat bahwa orang yang pertama kali menggunakan istilah Ulumul Quran adalah Ibn al-Mirzaban (w. 309 H.). Pendapat ini berdasarkan pada penemuannya tentang beberapa kitab yang berbicara tentang kajian-kajian Alquran dengan menggunakan istilah Ulumul Quran pada namanya. Menurut dia, yang paling tua di antaranya adalah kitab Ibn al-Marzuban pada abad ke-3 H.[44]              Hasbi Ash-Shiddieqy juga setuju dengan pendapat terakhir ini.[45]

Dari ketiga pendapat di atas tersebut, pendapat Shubhi al- Shalih jelas lebih kuat. Sebab, berdasarkan sejarah pertumbuhan ilmu ini sebagai yang telah dipaparkan sebelumnya, Ibn al-Marzubanlah penulis yang paling pertama menggunakan istilah Ulumul Quran pada kitabnya yang berjudul Al-Hawi fi ‘Ulum al-Qur’an.

  1. PEMBAGIAN DAN CABANG-CABANG ULUMUL QURAN

Meskipun nama ilmu-ilmu yang menjadi pembahasan Ulumul Quran telah disebutkan secara sepintas lalu, namun untuk lebih mengenalnya perlu dikemukakan beberapa macam yang penting diketahui seorang yang hendak menafsirkan atau menerjemahkan Alquran. Ilmu-ilmu Alquran pada dasarnya terbagi ke dalam dua kategori. Pertama, ilmu riwayah, yaitu ilmu-ilmu yang hanya dapat diketahui melalui jalan riwayat, seperti bentuk-bentuk qiraat, tempat-tempat turunnya Alquran, waktu-waktu turunnya. Kedua, ilmu dirayah, yaitu ilmu-ilmu yang diketahui melalui jalan perenungan, berpikir, dan penyelidikan, seperti mengetahui pengertian lafal yang gharib, makna-makna yang menyangkut hukum, dan penafsiran ayat-ayat yang perlu ditafsirkan.

Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, ada tujuh belas ilmu-ilmu Alquran yang terpokok.[46]

  1. Ilmu Mawathin al-Nuzul

Ilmu ini menerangkan tempat-tempat turunnya ayat, masanya, awalnya, dan akhirnya. Di antara kitab yang membahas ilmu ini adalah Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an karya Al-Suyuthi.

  1. Ilmu Tawarikh al-Nuzul

Ilmu ini menerangkan masa turunnya ayat dan urutan turunnya satu persatu, dari permulaan turunnya sampai akhir serta urutan turun surah dengan sempurna.

  1. Ilmu Asbab al-Nuzul

Ilmu ini menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat.  Di antara kitab yang penting dalam hal ini adalah kitab  Lubab al-Nuqul karya Al-Suyuthi. Namun, perlu diingat bahwa  banyak riwayat dalam kitab ini yang tidak sahih.

  1. Ilmu Qiraat

Ilmu ini menerangkan bentuk-bentuk bacaan Alquran yang telah diterima dari Rasul SAW. Ada sepuluh qiraat yang sah dan beberapa macam pula yang tidak sah. Tulisan Alquran yang beredar di Indonesia adalah menurut qiraat Hafsh, salah satu qiraat yang ke tujuh.  Kitab yang paling baik untuk mempelajari ilmu ini adalah Al-Nasyr fi al-Qiraat al-Asyr karangan Imam Ibn al-Jazari.

  1. Ilmu Tajwid

Ilmu ini menerangkan cara membaca Alquran dengan baik. Ilmu ini menerangkan di mana tempat memulai, berhenti, bacaan yang panjang dan yang pendek, dan sebagainya.

  1. Ilmu Gharib Alquran

Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang ganjil dan tidak terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab yang biasa atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini berarti menjelaskan  makna kata-kata yang pelik dan tinggi. Di antara kitab penting dalam ilmu ini adalah Al-Mufradat li Alfaz al-Qur’an al-Karim karangan Al-Raghib al-Ashfahani. Kitab ini sangat penting bagi seorang mufassir atau penerjemah Alquran.

  1. Ilmu I’rab Alquran

Ilmu ini menerangkan baris kata-kata Alquran dan kedudukannya dalam susunan kalimat. Di antara kitab penting dalam ilmu ini adalah Imla’ al-Rahman karangan Abd al-Baqa al-Ukbari.

  1. Ilmu Wujuh wa al-Nazair

Ilmu ini menerangkan kata-kata Alquran yang mengandung banyak arti dan menerangkan makna yang dimaksud pada tempat tertentu. Ilmu ini dapat dipelajari dalam kitab Mu’tarak al-Aqran karangan Al-Suyuthi.

  1. Ilmu Ma’rifah al-Muhkam wa al- Mutasyabih

Ilmu ini menjelaskan ayat-ayat yang dipandang muhkam (jelas maknanya) dan yang mutasyabih (samar maknanya, perlu ditakwil). Salah satu kitab menyangkut ilmu ini ialah Al-Manzumah al-Sakhawiyah karangan               Al-Sakhawi.

  1. Ilmu Nasikh wa al-Mansukh

Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh (yang dihapuskan) oleh sebagian para mufassir. Di antara kitab-kitab yang membahas hal ini adalah Al-Nasikh wa al-Mansukh karangan Abu Ja’far al-Nahhas, Al-Itqan karangan Al-Suyuthi, Tarikh Tasyri’ dan Ushul al-Fiqh karangan Al-Khudhari.

  1. Ilmu Badai’ Alquran

Ilmu ini bertujuan menampilkan keindahan-keindahan Alquran dari sudut kesusastraan, keanehan-keanehan, dan ketinggian balaghahnya. Al-Suyuthi mengungkapkan yang demikian dalam kitabnya Al-Itqan dari halaman 83 s/d 96 dalam jilid II.

  1. Ilmu I’jaz Alquran

Ilmu ini menerangkan susunan dan kandungan ayat-ayat Alquran sehingga dapat membungkemkan para sastrawan Arab. Di antara kitab yang membahas ilmu ini adalah I’jaz al-Qur’an karangan Al-Bagillani.

  1. Ilmu Tanasub Ayat Alquran

Ilmu ini menerangkan penyesuaian dan keserasian antara suatu ayat dan ayat yang di depan dan yang di belakangnya. Di antara kitab yang memaparkan ilmu ini ialah Nazm al-Durar karangan Ibrahim al-Biqa’i.

  1. Ilmu Aqsam Alquran

Ilmu ini menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan yang terdapat dalam Alquran. Ibn al-Qayyim telah membahasnya dalam kitabnya Al-Tibyan.

  1. Ilmu Amtsal Alquran

Ilmu ini menerangkan maksud perumpamaan-perumpamaan yang dikemukakan Alquran. Al-Mawardi telah membahasnya dalam kitabnya berjudul Amtsl al-Qur’an.

  1. Ilmu Jidal Alquran

Ilmu ini membahas bentuk-bentuk dan cara-cara debat dan bantahan Alquran yang dihadapkan terhadap kaum Musyrik yang tidak bersedia menerima kebenaran dari Tuhan. Najmuddin telah mengumpulkan ayat-ayat yang menyangkut ilmu ini.

  1. Ilmu Adab Tilawah Alquran

Ilmu ini merupakan tata-cara dan kesopanan yang harus diikuti ketika membaca Alquran. Imam Al-Nawawi telah memaparkan dalam kitabnya berjudul kita Al-Tibyan.

Inilah tujuh belas macam ilmu Alquran yang sangat ditentukan oleh           Ash-Shiddieqy untuk memahirkan oleh setiap orang yang bermaksud menafsirkan atau menterjemahkan Alquran. Sebelum itu, ia juga harus menguasai ilmu balaghah, bahasa dan kaidah-kaidahnya, ilmu kalam dan ilmu ushul. Namun demikian, tampaknya masih banyak lagi ilmu-ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir atau penerjemah. Setidaknya satu ilmu lagi harus ditambahkan kepada ilmu-ilmu yang disebutkan Ash-Shiddieqy di atas, yaitu ilmu tafsir.[47]

Ilmu tafsir merupakan bagian dari Ulumul Quran. Ilmu tafsir berfungsi sebagai alat untuk mengungkap isi dan pesan yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran. Ulumul Quran lebih umum dari ilmu tafsir karena Ulumul Quran ialah  segala ilmu-ilmu yang mempunyai hubungan dengan Alquran. Ilmu tafsir tidak kurang penting dari ilmu-ilmu di atas, terutama setelah berkembangnya dengan menampilkan berbagai metodologi, corak, dan alirannya. Kadang-kadang Ulumul Quran ini juga disebut Ushul At-Tafsir (dasar-dasar/prinsip-prinsip penafsiran), karena memuat berbagai pembahasan dasar atau pokok yang wajib dikuasai dalam menafsirkan Alquran.

Dari uraian-uraian di atas, dapat dipahami bahwa Ulumul Quran merupakan kumpulan berbagai ilmu yang berhubungan dengan Alquran. Kemudian, pengertiannya dikembangkan kepada kajian berbagai masalah yang beragam dengan standar ilmiah. Dengan kata lain Ulumul Quran adalah suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan kajian-kajian Alquran seperti, pembahasan tentang asbabun nuzul, pengumpulan Alquran dan penyusunannya, masalah Makiyah dan Madaniyah, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabihat, dll. Pada dasarnya, ilmu-ilmu ini adalah ilmu Agama dan bahasa Arab. Namun, menyangkut ayat-ayat tertentu, seperti ayat-ayat kauniah dan perjalanan bulan dan bintang  diperlukan pengetahuan kosmologi dan astronomi. Karena itu, ilmu ini mempunyai ruang lingkup yang luas dan dalam sejarahnya selalu mengalami perkembangan.

Karena itu pula wajar Al-Suyuthi berkata bahwa pintu ilmu ini senantiasa terbuka kepada setiap ulama yang datang kemudian untuk memasuki persoalan-persoalan yang belum terjamah para ulama terdahulu karena faktor-faktor tertentu. Dengan demikian ilmu ini dapat dibenahi dengan sebaik-baik perhiasan di akhir masa.[48]

Uraian-uraian di atas juga menunjukan betapa pentingnya kedudukan ilmu ini dalam memahami, menafsirkan, dan menerjemahkan Alquran. Dengan ini juga maka seseorang akan dapat menunjukan dan mempertahankan kesucian dan kebenaran Alquran. Untuk menggambarkan pentingnya Ulumul Quran, para ulama memberikan perumpamaan yang berbeda-beda. Al-Zarqani mengumpamakan Ulumul Quran sebagai anak kunci bagi para mufassir. Ilmu ini seperti ulumul hadis bagi orang yang mempelajari ilmu hadis. Pengarang kitab Al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an mengibaratkan Ulumul Quran sebagai premis minor dari dua premis tafsir.[49] Menurut Manna Al-Qaththan, ilmu ini kadang-kadang disebut Ushul al-Tafsir karena ilmu ini meliputi unsur pembahasan-pembahasan yang harus diketahui oleh seorang mufassir untuk menjadi landasannya dalam menafsirkan Alquran.[50]

 

  1. SIMPULAN

Sejarah perkembangan Ulumul Quran dalam makalah ini dibagi kepada tiga bagian yaitu, Perkembangan Ulumul Quran pada masa Rasulullah SAW., Perkembangan Ulumul Quran pada masa Khulafa al Rasyidin dan Perkembangan Ulumul Quran pada masa Tadwin (Penulisan Ilmu).

Lahirnya istilah Ulumul Quran dapat disimpulkan bahwa Ibn al-Marzubanlah penulis yang paling pertama menggunakan istilah Ulumul Quran pada kitabnya yang berjudul Al-Hawi fi ‘Ulum al-Qur’an. Para perintis ilmu, Pertama, Empat orang Khalifah Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali), Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair. Mereka itu dari kalangan para sahabat Nabi. Kedua, Mujahid, Atha bin Yassar, Ikrimah, Qatadah, Hasan Bashri, Sa’id bin Jubair, dan Zaid bin Aslam dari kaum Tabiin di Mekkah. Ketiga, Malik bin Anas dari kaum Tabiit-Tabiin (generasi ketiga kaum muslimin). Ia memperoleh ilmunya dari Zaid bin Aslam.

Ilmu-ilmu Alquran pada dasarnya terbagi ke dalam dua kategori yaitu ilmu riwayah, dan ilmu dirayah. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy menyatakan ada tujuh belas ilmu-ilmu Alquran yang terpokok dan ditambah satu lagi yaitu Ilmu Tafsir. Dari uraian-uraian di atas, dapat dipahami bahwa Ulumul Quran merupakan kumpulan berbagai ilmu yang berhubungan dengan Alquran. Karena itu, ilmu ini mempunyai ruang lingkup yang luas dan dalam sejarahnya selalu mengalami perkembangan.

Al-Suyuthi berkata bahwa pintu ilmu ini senantiasa terbuka kepada setiap ulama yang datang kemudian untuk memasuki persoalan-persoalan yang belum terjamah para ulama terdahulu karena faktor-faktor tertentu. Dengan demikian ilmu ini dapat dibenahi dengan sebaik-baik perhiasan di akhir masa. Al-Zarqani mengumpamakan Ulumul Quran sebagai anak kunci bagi para mufassir.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Hasni, Muhammad Bin Alawi Al-Maliki, Zubdah Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an (Mutiara Ilmu-ilmu Al-Qur’an) Intisari Kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an As-Suyuthi, Alih bahasa; Rosihan Anwar, Pustaka Setia, Bandung, 1999.

 

Al-Shadr, Muhammad Bakir, al-Madrasah al-Qur’aniyyah, Syariat, Iran, 1426 H.

 

Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al ‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977.

 

Al-Shalih, Shubhi, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Mabahits fi Ulumil Qur’an), Cet. IX, Alih bahasa; Tim Pustaka Firdaus, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1990.

 

Al-Qaththan, Manna’, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an (Mabahits fi Ulumil Qur’an), Alih bahasa : Aunur Rafiq El-Mazni, Al-Kautsar, Jakarta, 2008.

 

Al-Qaththan, Manna’, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Al-Syarikah al-Muttahidah li al-Tauzi, Beirut, 1973.

 

Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al-Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir, (tt).

 

Ash-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Alam al-Kitab, Beirut, (tt).

 

Ash-Shobuny, Mohammad Aly, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Alih bahasa; Saiful Islam Jamaluddien, Al-Ikhlas, Surabaya, 1983.

 

Ash-Shobuny, Mohammad Aly, Pengantar Study Alquran (At-Tibyan fi Ulumil Qur’an), Alih bahasa; Moch. Chudlori Umar dan Moh. Matsna H.S., Al Maarif, Bandung, 1987.

 

Ash-Shiddieqy, T. M. Hasbi, Ilmu-Ilmu Alquran, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.

 

Ash-Shiddieqy, T. M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1972.

 

Al-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, I, Dar al-Fikr, Tanpa nama Kota, Tanpa Tahun.

 

As-Suyuthi, Jalaluddin, Samudera Ulumul Qur’an (Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an), Jilid I, Alih bahasa: Farikh Marzuqi Ammar, Wafi Marzuki Ammar dan Imam Fauzi Ja’iz,  Bina Ilmu, Surabaya, 2006.

 

Cf. Nashr Hamid Abu Zayd dalam Mafhum al-Nashsh: Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an, al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, Beirut.

 

Izzan, Ahmad, Ulumul Quran (Telaah Tekstual dan Kontekstual Alquran), Tafakur, Bandung, 2007.

 

Nawawi, Rif’at Syauqy dan M. Ali Hasan, Pengantar Ilmu Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1988.

 

Wahid, Ramli Abdul, Ulumul Quran, Rajawali Pers, Jakarta.

 

 

[1] Makalah disampaikan pada Seminar Mata Kuliah Ulumul Quran pada hari Selasa, tanggal 17 Februari 2009, dengan dosen pengampu Prof. DR. H. Nurwadjah Ahmad EQ., M.A.

 

[2] Ulumul Quran terkadang disebut juga ushul al-tafsir karena berisi pembahasan tetntang hal-hal (pengetahuan tertentu) yang harus diketahui seorang penafsir sebagai sandaran ketika menafsirkan Alquran. Manna al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an (Mabahits fi Ulumil Qur’an), Alih bahasa : Aunur Rafiq El-Mazni, Al-Kautsar, Jakarta, 2008, hlm. 10.

 

[3] Ash Shobuny, Mohammad Aly, Pengantar Study Alquran (At-Tibyan fi Ulumil Qur’an), Alih bahasa; Moch. Chudlori Umar dan Moh. Matsna H.S., Al Maarif, Bandung, 1987, hlm. 18.

 

[4] Ash Shobuny, Mohammad Aly, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Alih bahasa; Saiful Islam Jamaluddien, Al-Ikhlas, Surabaya, 1983, hlm. 15.

 

[5] Cf. Nashr Hamid Abu Zayd dalam Mafhum al-Nashsh: Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an, al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, Beirut.

 

[6] As-Suyuthi, Jalaluddin, Samudera Ulumul Qur’an (Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an), Jilid I, Alih bahasa: Farikh Marzuqi Ammar, Wafi Marzuki Ammar dan Imam Fauzi Ja’iz,  Bina Ilmu, Surabaya, 2006, hlm. vii.

 

[7] Ibid., hlm. xiii.

 

[8] Al-Shadr, Muhammad Bakir, al-Madrasah al-Qur’aniyyah, Syariat, Iran, 1426 H, hlm. 213.

 

[9] Manna al-Qaththan, Op. Cit., hlm. 4.

 

[10] Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al ‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977, hlm. 120.

 

[11] Al-Shalih, Shubhi, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Mabahits fi Ulumil Qur’an), Cet. IX, Alih bahasa; Tim Pustaka Firdaus, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1990, hlm. 156.

 

[12] Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al-Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir, (tt), hlm. 28.

 

[13] Al-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Alam al-Kitab, Beirut, (tt), hlm. 52.

 

[14] Al-Shalih, Shubhi, Loc. Cit.

 

[15] Ibid., hlm. 53.

 

[16] Ibid., hlm. 156.

 

[17] Al-Zarqani, Muhammad Abd al-Azim, Op. Cit., hlm. 30.

 

[18] Ibid.

 

[19] Wahid, Ramli Abdul, Ulumul Quran, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 17.

 

[20] Imam ahli Hadits terkemuka di Bashrah. Nama lengkapnya Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Ward al- ‘Atki al-Azdi al-Wasithi. Terkenal dengan nama panggilan Abu Busttman. Ia mengalami hidupnya Anas bin Malik ra. Dan mendengarkan pemikiran orang dari kaum Tabiin. Di kalangan semua imam ahli Hadits, ia dipandangan sebagai hujjah (pendapatnya dinilai sangat berbobot dan kuat dijadikan dalil). Wafat tahun 160 H.

 

[21] Seorang ulama ahli tafsir dan hadits di Hijaz. Nama lengkapnya Syufyan bin ‘Uyainah al-Hilali al-Kufi. Wafat tahun 198 H. (Lihat : Tadzkiratul-Hitfadz I, hal. 242).

 

[22] Waki’ bin al-Jarrah bin Malih bin ‘Adi’. Nama panggilannya Abu Sufyanar-Ruwasi al-Kufi, dari Tsauri. Hadis yang berasal darinya diketengahkan oleh ‘Abdullah bin al-Mubarrak, Yahya bin Adam,Ahmad bin Hanbal dan ‘Ali bin al-Madani. Lahir 128 H. dan wafat 197 H. Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Mu’in mengatakan: “Orang yang terpercaya di Iraq adalah Waki’”. (Lihat Tarikh Baghdad XIII, hlm. 466 – 481).

 

[23] Ia adalah Ali bin Abdullah bin Ja’far. Nama panggilannya Abu Ja’far, seorang dari kabilah Saad berdasarkan wala (perwalian). Wafat tahun 234 H. (Lihat: Tadzkiratul-Huffadz II hlm. 15 – 16, Syadzaratudz-Dzahab II hlm. 81).

 

[24] Kitabnya berjudul Tadha’ilul-Quran, naskahnya yang dalam keadaan lengkap tersimpan di Dzahiriyah.

 

[25] Al-Shalih, Shubhi, 1977, Op. Cit., hlm. 121-122.

 

[26] Sebagian naskahnya tersimpan di dalam perpustakaan Baladiyah di Alexandria, Mesir. Lihat ad-Dibaj 195.

 

[27] Muhammad bin Aziz bin al-Azizi as-Sajistani. Wafat tahun 330 H. (Lihat: Bughyatul-Wu’ah, 72). Dalam al-Itqan 1/195 Sayuthi mengatakan (dalam pembicaraannya mengenai kitab as-Sajistani yang berjudul Gharibul-Qur’an): “Ia menulis kitabnya selama 15 tahun bersama gurunya, Abu Bakar bin al-Anbari”.

 

[28] Naskahnya tersimpan di Muradmala.

 

[29] Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Ilmu-Ilmu Alquran, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hlm. 14.

 

[30] Ia adalah Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi al-Mishri, penulis kitab Al-Burhan Fi Ulumil Quran dan kitab I’rabul-Quran. Kitab ini selain menafsirkan Alquran seluruhnya, juga menerangkan Ilmu-ilmu Alquran yang ada hubungannya dengan ayat-ayat Alquran yang ditafsirkan. Karena itu, ilmu-ilmu Alquran tidak tersusun secara sistematis dalam kitab ini, sebab ilmu-ilmu Alquran diuraikan secara perpencar-pencar, tidak terkumpul dalam bab-bab menurut judulnya. Namun demikian, kitab ini merupakan karya ilmiah yang besar dari seorang Ulama yang telah merintis penulisan kitab tentang Ulumul Quran yang agak lengkap.Wafat 430 H. (Lihat: Husnul-Muhadharah II hal. 228 dan Inbahur Ruwah II hal. 219).

 

[31] Ash-Shiddiqieqy, T.M. Hasbi, Loc. Cit.

 

[32] Ia adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad as-Suhaili, nama panggilannya Abul-Qasim. Ia wafat di Marakesh pada tahun 581 H. Kitabnya berjudul Mubhamatul-Quran disebut oleh penulis kitab Kasyfudz-Dzunun dengan nama At-Ta’rif Wal-I’lam Bimaa Ubhima Fil-Quran Minal-Asma Wal-I’lam (Pengenalan dan Pemberitahuan Mengenai Nama-nama Dan Tanda-tanda di Dalam Alquran). Nama itu menjelaskan maksud kitab tersebut. Naskahnya yang berupa tukisan tangan tersimpan di Darul-Kutub, Kairo, dan di perpustakaan at-Timuriyyah. Kitabnya yang lain lagi ialah Ar-Raudhul-Anifu ‘Alaa Siratl Ibni Hisyam. (Lihat kutipannya di dalam Inbahur-Ruwah hal. 162).

 

[33] Nawawi, Rif’at Syauqi dan M. Ali Hasan, Pengantar Ilmu Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1988, hlm. 221.

 

[34] Beliau adalah imam Badruddin Muhamma bin Abdullah bin Bahadur Az-Zarkasyi, lahir di Kairo Mwsir tahun 745, pengikut madzhab Safi’I, ia berguru kepada Jamaluddin Al Isnawi ketua pengikut madzhab Syafi’i di Mesir, juga berguru kepada Syaikh Sirajuddin Al Baqy, ia telah mengarang kitab hadis, fiqih Syafi’i dan ushul fiqih. Beliau meninggal tahun 794. Al Suyuthi, Loc. Cit.

 

[35] Nawawi, Rif’at Syauqi dan M. Ali Hasan,  Op. Cit., hlm. 222.

 

[36] Abdurrahman bin Rusian Abul-Fadhi Jalaluddin al-Buqaini, seorang ulama yang cerdas ahli di bidang ilmu Fiqh, Ushuluddin, bahasa Arab, Tafsir, Ma’ani dan Bayan. La Ibham (Memahami Hal-hal Yang Samar Dalam Shahih al-Bukhari). Ia berulangkali diangkat sebagai Ketua Mahkamah Islam di Mesir hingg wafatnya pada tahun 824 H. (Syadzaratudz-Dzahab, VII,  hlm. 166).

 

[37] Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad bin Mas’ud Muhyiddin Abu Abdullah al-Kafiyaji. Dialah yang menekuni syair berakhiran huruf kaf dalam ilmu Nahwu, sehingga ia terkenal dengan Kafiyaji. As-Suyuthi pernah magang dengan mengikutinya selama 14 tahun. Al-Kafiyaji menulis banyak kitab mengenai Tafsir, Fiqh, Pokok-Pokok Bahasa Arab dan Nahwu. Kitabnya yang tidak disebut judulnya dalam al-Itqan, ternyata dalam al-Bughyah disebut oleh Suyuthi berjudul at-Tafsir fi Qawa’id-dit-Tafsir. Suyuthi mengatakan, al-Kafiyaji berkata, ia menemukan ilmu tersebut sebagai hal yang belum ada sebelumnya. Karenya al-Kafiyaji tidak membatasi dirinya pada al-burhan tulisan Zarkasyi dan tidak pula puas dengan Mawaaqi;ul-Ulum karya Jalaluddin al-Bulqaini. Ia wafat tahun 879 H.

 

[38] Al-Zarqani, Muhammad Abd al-Azim,  Op. Cit., hlm. 36-37.

 

[39] Izzan, Ahmad, Ulumul Quran (Telaah Tekstual dan Kontekstual Alquran), Tafakur, Bandung, 2007, hlm. 21.

 

[40] Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasni, Zubdah Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an (Mutiara Ilmu-ilmu Al-Qur’an) Intisari Kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an As-Suyuthi, Alih bahasa; Rosihan Anwar, Pustaka Setia, Bandung, 1999, hlm. 14.

 

[41] Ibid., hlm. 37-38; Al-Shalih, Shubhi, 1977, Op. Cit., hlm. 125-126.

 

[42] Al-Zarqani, Muhammad Abd al-Azim, Op. Cit., hlm. 24.

 

[43] Ibid., hlm. 34-35.

 

[44] Al-Shalih, Shubhi, 1990, Op. Cit., hlm. 162.

 

[45] Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Op. Cit., hlm. 16.

 

[46] Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1972, hlm. 105-108.

 

[47] Wahid, Ramli Abdul, Op. Cit., hlm. 27.

 

[48] Al-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, I, Dar al-Fikr, Tanpa nama Kota, Tanpa Tahun, hlm. 3.

 

[49] Al-Zarqani, Muhammad Abd al-‘Azim, Op. Cit., hlm. 28.

 

[50] Al-Qaththan, Manna’, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Al-Syarikah al-Muttahidah li al-Tauzi, Beirut, 1973, hlm. 16.

SEEING THE SYSTEM (MEMAHAMI SISTEM)                                                                                                                                                     (Thomas L. Friedman, National Book Award-Winning Author of From Beirut to Jerusalem, Understanding Globalizations :  The Lexus and The Olive Tree, New York : Straus and Giroux, LLC., 1999)

  1. A.      PENDAHULUAN

Dalam dekade terakhir wacana globalisasi terus menggelinding. Wacana ini, semakin diperkaya oleh praktik-praktik hubungan antar negara-bangsa, serta diperkaya pula oleh bagaimana sistem ekonomi dunia menggeliat, menuju apa yang disebut sebagai “free trade system”. Globalisasi, sebagaimana civil society, merupakan istilah yang hadir dan segera popular pasca perang dingin.

Globalisasi bukanlah merupakan gejala yang alami seperti angin topan, badai ataupun hujan. Globalisasi adalah gejala yang merupakan hasil pemikiran dan praktek dari manusia, seberapapun kompleks proses yang membentuknya. Dalam arti ruang, globalisasi mengacu pada kenyataan bahwa dunia semakin mengecil (the shringkening world) dan merupakan suatu ruang yang tunggal (single space atau juga disebut a planetary unit) dengan kenyataan ini mau tidak mau memaksa para perencana strategi untuk berfikir dalam kerangka global. Dalam arti kesadaran, manusia sekarang ini makin sadar bahwa setiap kejadian yang terjadi dipenghujung bumi utara dapat berimplikasi terhadap belahan bumi selatan.

Thomas L. Friedman memformulasikan pemikirannya tentang globalisasi dengan membagi globalisasi ke dalam tiga tahap atau fase. Tahap pertama, globalisasi 1.0, diawali dan disimbolkan oleh Columbus tahun 1492 saat mulai melangsungkan upaya pelayaran untuk menemukan belahan bumi lainnya. Era ini mengantarkan dunia pada dunia baru, opening trade between the old world and the new world, tulis Friedman. Era ini berlangsung sampai kurun waktu tahun 1800-an, abad ke- 18. Kekuatan pemicu perubahan era ini masih relative sederhana, diilustrasikan oleh Friedman sebagai situasi yang masih bertumpu pada seberapa besarnya kekuatan muscle (otot, tenaga manusia), kekuatan kuda (horsepower), kekuatan angin (windpower), sampai akhirnya oleh kekuatan mesin-mesin yang digerakkan oleh tebaga uap (steam power).

Globalization 2.0, berlangsung kurun waktu tahun 1800-an sampai tahun 2000. Era menyempitnya dunia dari ukuran medium (medium size) menjadi ukuran yang kecil (small size), ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional kelas dunia yang berkiprah diera pasar bebas dan ditandai dengan munculnya kekuatan tenaga kerja. Era ini ditandai pertamakali oleh ekspansi perusahaan-perusahaan Belanda dan Inggris dan terjadinya revolusi industry sejalan dengan ditemukannya mesin-mesin.

Globalization 3.0, abad ke-20 dan setelahnya, era ini semakin menyempitnya ukuran dunia dari ukuran yang kecil (small size) menjadi ukuran yang sangat kecil (tiny size). Bertumpu pada kekuatan individu untuk mampu membangun kolaborasi dan kompetisi pada era global ini. Teknologi software (perangkat lunak) menjadi pemicunya. Pertanyaan pada era ini bagaimana memberdayakan individu? “Kalau globalisasi 1.0 dan 2.0 sepertinya milik bangsa Eropa dan Amerika, maka globalisasi 3.0 milik semua orang, milik semua bangsa, semua Negara, milik siapa pun tanpa mengenal diskriminasi, bukan milik Barat ataupun orang-orang kulit putih.

Globalisasi telah membuat dunia kecil, semakin tipis, semakin dekat, adalah juga lahirnya berbagai kesepakatan dalam aktivitas perdagangan dan ekonomi global yang didorong oleh lahirnya IMF, The G8, The World Bank, WTO, dan sebagainya. Ke depan, kata Friedman, globalisasi akan semakin dahsyat.

  1. B.       PEMBAHASAN

Beberapa tahun yang lalu, jurnalis senior Thomas L Friedman menulis buku Lexus and the Olive Tree. Ia mengatakan, dunia baru yang ditandai oleh globalisasi selalu ditandai oleh pertarungan dua kepentingan, yaitu antara mereka yang mengejar kekayaan (the Lexus) dan mereka yang masih bertempur mempertahankan identitas lama (pohon zaitun, the Olive). Friedman melukiskan globalisasi dari pengalamannya menikmati sushi di atas kereta api secepat peluru di Jepang, sementara bacaannya adalah konflik tiada akhir di Timur Tengah. Konflik yang mempertahankan old identity, seperti petani di Mesuji, atau petambang di Bima dan para pemburu yang kehilangan lahan di Papua dan Kalimantan.

  1. 1.      Klarifikasi Tentang Liberalisasi Di Bidang Pendidikan Dan Dampaknya Pada Pendidikan Tinggi Di Indonesia Liberalisasi Dalam Globalisasi.

Berbicara tentang liberalisasi pada masa kini harus dikaitkan dengan pembicaraan tentang globalisasi, karena liberalisasi saat ini adalah liberalisasi global, bukan liberalisasi lokal, nasional, atau bahkan regional. Oleh karena itu pembicaraan akan dimulai dengan globalisasi. Sudah cukup lama globalisasi menghubungkan dan merakit dunia dan menciptakan semacam kesatuan dari keberagaman yang ada. CocaCola, McDonald, Disney merupakan simbol proses ini, bersamaan pula dengan Sony, Shell, IBM dan sebagainya. Itu adalah produk-produk yang dikenal dan dibeli di antero dan pelosok dunia. Mereka juga perusahaan yang sangat berkuasa yang mendorong ke arah globalisasi lebih lanjut, sehingga menciptakan hukum baru, cara baru dalam makan dan minum, harapan dan impian baru, pola hidup baru, dan cara berbisnis baru. Mereka yang optimis melihat itu sebagai suatu kesempatan baru, sebagai desa dunia yang dihubungkan menjadi satu dengan internet dan dunia mendapatkan keuntungan dengan melimpahnya kesejahteraan material.

Sedangkan yang pesimis melihatnya sebagai hal yang menakutkan, dimana perusahaan raksasa bertindak sebagai tirani yang menghancurkan lingkungan, dan menghilangkan hal-hal yang sehat dan berarti bagi eksistensi manusia. Sampai hari ini, globalisasi masih menjadi wacana yang hangat antara mereka yang pro dan mereka yang kontra dan masing-masing mempunyai dasar argumentasi yang kuat. Optimisme dan pesimisme juga dihadapi oleh dunia perguruan tinggi. Tetapi sebelum menelaah hal tersebut lebih lanjut, ada baiknya kalau disinggung secara singkat apa sebetulnya yang dimaksud dengan globalisasi itu ?

’Globalization refers to global economic integration of many formerly national economies into one global economy, mainly by free trade and free capital mobility, but also by easy or uncontrolled migration. It is the effective erasure of national boundaries for economic purposes’

‘Globalization is the increasing integration of economies around the world, particularly through trade and financial flows. It also refers to the movement of people (labor) and knowledge (technology) across international borders. It refers to an extention beyond national borders of the same market forces that have operated for centuries at all levels of human economic activity.’

Globalisasi ekonomi adalah suatu proses historis, dan istilah tersebut baru digunakan secara populer sejak tahun 1980-an, sejak perkembangan teknologi yang sangat memudahkan dan mempercepat menyelesaikan transaksi internasional, baik dalam hal arus perdagangan maupun keuangan. Dengan runtuhnya sistem ekonomi sosialis, maka tinggal satu sistem ekonomi besar yang bertahan, yaitu kapitalis. Sistem kapitalis yang bersifat liberal bercirikan pasar bebas dan terbuka, serta perdagangan bebas. Inilah yang terus mendorong ke arah globalisasi. Liberalisari ekonomi adalah tahap pertama globalisasi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa globalisasi berpengaruh pada semua tingkah-laku manusia dan berdampak dalam tingkat yang berbeda pada budaya, masyarakat, dan manusia.

Memang, intensifikasi hubungan global lebih mendekatkan manusia dan budaya, namun juga bahwa budaya lokal dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, yang asing terhadap realitas yang sudah ada. Globalisasi sering dilihat orang bukan hanya sebagai gejala atau proses baru, tetapi juga sebagai ideologi baru, bahkan juga sebagai budaya baru. Sebagai ideologi, globalisasi percaya pada faham kebebasan penuh khususnya kebebasan ekonomi dan perdagangan, yang telah terbukti mampu menyejahterakan banyak negara. Tumbangnya konsep ekonomi sosialis menguatkan keyakinan ini. Globalisasi dan kebebasan adalah semacam lawan dari nasionalisme dan proteksionisme. Oleh banyak negara yang sedang berkembang, globalisasi sering dirasakan dan dianggap sebagai neoliberalisme atau neokapitalisme. Kalau diperhatikan, ada empat aspek globalisasi yaitu perdagangan, pergerakan modal, pergerakan orang, serta penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perdagangan

Negara-negara yang sedang berkembang memang telah mampu meningkatkan penyertaannya dalam perdagangan dunia, dari 19% di tahun 1971 menjadi 29% di tahun 1999, namun tampak ketimpangan untuk beberapa regional. Misalnya negara-negara ekonomi industri baru di Asia memang mengalami kemajuan, sedangkan negara-negara Afrika secara keseluruhan tetap saja mengalami kemiskinan. Peningkatan adalah terutama pada perdagangan barang-barang hasil manufaktur. Perdagangan hasil industri primer yaitu pertanian, yang paling banyak diproduksi oleh negara-negara miskin, justru mengalami kemunduran.

Pergerakan Modal

Seperti yang banyak diasosiasikan orang dengan globalisasi yaitu pergerakan modal, maka memang selama tahun 1990-an terjadi kenaikan pergerakan besar-besaran modal swasta ke negara-negara yang sedang berkembang. Tetapi sejak tahun 1980-an, bantuan resmi dari pemerintah untuk negara-negara sedang berkembang mengalami pengurangan. Mengalirnya modal swasta tersebut terutama dalam bentuk investasi modal asing secara langsung.

Pergerakan Orang

Pekerja berpindah dari satu negara ke negara lain dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik. Pergerakan pekerja ini paling banyak adalah antar negara yang sedang berkembang, tetapi juga dari negara yang sedang berkembang ke negara yang sudah maju. Globalisasi memudahkan brain drain tenaga dari negara yang sedang berkembang ke negara-negara maju, di samping juga memudahkan perpindahan pekerja dari negara-negara yang sudah maju ke negara-negara yang sedang berkembang.

Penyebaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Pertukaran informasi adalah aspek yang tidak dapat dilepaskan dari globalisasi, yang sering kali dilupakan. Misalnya investasi asing secara langsung tidak hanya membawa modal fisik, tetapi juga membawa teknologi dan ketrampilan. Teknologi dan ketrampilan ini meliputi bidang teknik manajemen, metoda produksi, pasar ekspor, kebijakan ekonomi dan sebagainya. Apabila dapat dimanfaatkan, teknologi dan ketrampilan baru ini merupakan cara dan alat yang murah bagi pengenalan dan penguasaan teknologi bagi negara-negara yang sedang berkembang.

  1. 2.      Globalisasi Dan Internasionalisasi

Istilah globalisasi sering kali dikacaukan dengan istilah internasionalisasi, sedangkan sebetulnya keduanya mempunyai arti yang sangat berbeda. Oleh karena itu perlu adanya penjelasan seperlunya mengenai dua konsep yang kelihatannya hampir sama, tetapi sangat berbeda tersebut.

  1. Internasionalisasi

Internasionalisasi adalah makin berkembangnya kerja sama internasional dalam bidang ekonomi, perdagangan, pendidikan, politik, budaya dan sebagainya. Inter-nasional berarti antar negara dan di antara negara. Unit basis masih ekonomi nasional, identitas dan budaya masih budaya nasional masing-masing. Internasionalisasi adalah kegiatan atas dasar kesadaran masing-masing, atas dasar suka rela, atas dasar pilihan tertentu, bukan suatu tindakan yang terpaksa. Dalam perdagangan internasional, kompetisi berdasarkan keunggulan kompetitif, dan tata cara dapat diatur atas kesepakatan pihak-pihak yang terkait. Dalam teori klasik Adam Smith dan Ricardo, masyarakat nasional menerima baik pekerja nasional maupun kapital nasional dan dua kelas ini bekerja-sama, meskipun kadang-kadang dengan konflik, untuk menghasilkan produk nasional dari sumberdaya nasional. Produk nasional ini bersaing dalam pasar internasional dengan produk negara lain, yang dihasilkan dengan kapital, pekerja, dan sumbedaya negara masing-masing. Ini adalah internasionalisasi dalam perdagangan. Dalam internasionalisasi, masing-masing negara masih sepenuhnya berdaulat dan mengatur persyaratan perdagangan sedemikian rupa sehingga kepentingan rakyat negara dapat tetap diperhatikan.

Dalam perguruan tinggi, internasionalisasi dapat berupa pertukaran dosen dan mahasiswa, pengadaan program penelitian bersama, bantuan program studi lanjut bagi para dosen, pengadaan program ijasah ganda (dual degree programme), program kuliah bersama, dan sebagainya. Setiap perguruan tinggi bebas untuk memilih universitas mitra di luar negeri, memilih jenis program kerja-sama, memilih waktu dan durasi kerja-sama.

  1. Globalisasi

Globalisasi menunjuk pada integrasi ekonomi secara global dari mereka yang sebelumnya berbentuk ekonomi nasional, menjadi satu kesatuan ekonomi global. Kata ’integrasi’ berasal dari kata ’integer’ yang berarti satu, lengkap, atau keseluruhan. Integrasi adalah tindakan menggabungkan menjadi satu kesatuan. Karena hanya ada satu kesatuan, maka integrasi ekonomi global akan mendisintegrasikan ekonomi nasional. Seperti dijelaskan dalam definisi di atas, globalisasi menunjuk pada integrasi ekonomi secara global dari ekonomi negara-negara menjadi satu ekonomi global, terutama melalui perdagangan bebas dan pergerakan kapital secara leluasa, tetapi juga melalui migrasi yang gampang dan tidak terkendali. Globalisasi adalah suatu fenomena ekonomi yang tidak dapat dihindari. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap setiap negara harus menghadapinya. Istilah disintegrasi ekonomi nasional tidak berarti bahwa industri dan pabrik-pabrik ditiadakan, tetapi konteks nasionalnya dihilangkan, masuk ke dalam konteks baru, yaitu konteks ekonomi global. Dalam perdagangan global, kompetisi didasarkan atas keunggulan absolut, tanpa dapat diatur oleh pihak manapun.

Dalam globalisasi baik kapital, buruh, maupun produk bebas bergerak dari satu negara ke negara lain secara global. Hal ini berlawanan dengan teori Adam Smith dan Ricardo di atas yang mengandaikan bahwa tidak ada perpindahan kapital dari satu negara ke negara lain. Dalam globalisasi, yang ada adalah kapital, buruh, dan sumber daya global yang saling bersaing di antara buruh, sumber daya alam, dan pasar di seluruh negara. Dalam globalisasi, pemerintah negara secara de facto hampir tidak berdaulat, karena tidak dapat mengatur ekonominya sesuai dengan kehendak rakyat, tetapi tunduk pada mekanisme ekonomi global. Globalisasi berada di luar wewenang negara dan pemerintah untuk mengaturnya.

Dalam konteks pendidikan tinggi, globalisasi dapat berbentuk kebebasan masuk dan beroperasinya perguruan tinggi asing ke dalam negeri tanpa dapat dicegah atau dihindarkan.

  1. 3.      Pro Dan Kontra Globalisasi

Dari penjelasan di atas, sudah terdapat hal-hal yang baik dan hal-hal yang kurang baik mengenai globalisasi dipandang dari berbagai sudut kepentingan. Pandangan dan debat antara yang pro dan yang kontra globalisasi masih terus berlangsung dengan argumentasi masing-masing. Untuk memahami beberapa pandangan dari mereka, ada baiknya pendapat dari dua kubu tersebut dikutib dan dicatat sebagai berikut.

  1. Pandangan Yang Pro Globalisasi.

Mungkin pandangan dari kubu ini dapat diwakili oleh Thomas Friedman yang menulis buku best-selling berjudul The Lexus and the Olive Tree (LOT). Thomas Friedman adalah seorang kolumnis mengenai peristiwa internasional dari New York Time, yang karena bukunya tersebut, sering kali dikira sebagai yang berwenang membicarakan mengenai globalisasi. Thomas Friedman dikenal sebagai salah satu orang yang getol mengkritik gerakan sosial baru yang anti globalisasi. Thomas Friedman, sampai April 2002, telah memenangkan tiga Pulitzer Prize. Beberapa pokok pandangan dari Thomas Friedman yang dimuat dalam LOT tersebut, antara lain menyebutkan bahwa :

Kebenaran fundamental mengenai globalisasi adalah bahwa globalisasi itu timbul dari bawah, dari tingkat jalanan, dari dasar jiwa setiap orang, dan dari aspirasi terdalam mereka. Globalisasi adalah produk dari demokratisasi di bidang keuangan, teknologi, dan informasi, tetapi yang mendorong ketiganya adalah keinginan dasar setiap manusia yaitu kehidupan yang lebih baik, kehidupan dengan pilihan lebih banyak mengenai apa yang dimakan, apa yang dipakai, dimana bertempat tinggal, kemana bepergian, bagaimana bekerja, apa yang dibaca, apa yang ditulis, dan apa yang dipelajari.

Globalisasi meningkatkan perkembangan ekonomi dan neoliberalisme adalah satu-satunya bentuk globalisasi, yang justru menguntungkan negara-negara miskin. Pengembangan teknologi informasi dan peralatan serta praktek keuangan, kekuatan-kekuatan yang mendorong globalisasi, telah membuat kapitalis global bersifat egaliter dan demokratis. Orang dapat berbicara mengenai alternatif terhadap pasar bebas dan integrasi global dan mereka dapat menuntut alternatif, mereka bahkan bersikukuh pada jalan ke tiga, tetapi sampai sekarang, jalan lain itu tidak ada.

Thomas Friedman malah menyebutkan bahwa : Globalization is not just some economic fad, and it is not just a passing trend. It is an international system, the dominant international system that replaced the Cold War system.’

Beberapa slogan yang dicanangkan oleh kelompok yang pro globalisasi ini antara lain ialah : Aliran investasi global lebih tinggi dari selama ini. Globalisasi memegang kunci untuk mengakhiri kemiskinan dunia. Perdagangan bebas membantu negara sedang berkembang untuk menyusul. Pertumbuhan itu baik untuk yang miskin. Pemrotes perdagangan bebas ’memerangi musuh yang salah alamat’ Multinasional adalah kekuatan yang positif. Globalisasi menawarkan jalan keluar dari kemiskinan. Perdagangan dunia adalah tenaga pendorong pertumbuhan.

  1. Pandangan Yang Anti Globalisasi

Sebaliknya para pendukung anti globalisasi menganggap bahwa pada pendukung globalisasi umumnya menghindari analisis kuantitatif yang seimbang dan komprehensif mengenai kemajuan ekonomi dan kesejahteraan manusia di negara-negara yang sedang berkembang sejak berkembangnya globalisasi. Tindakan menghindar tersebut jelas kelihatan, karena pemaparan angka-angka statistik perkembangan ekonomi dan indikator kesejahteraan penduduk sejak tahun 1980 di negara-negara yang belum atau sedang berkembang akan menggagalkan argumentasi mereka sendiri. Globalisasi memang meningkatkan akses perdagangan dari negara-negara maju ke pasar negara-negara yang sedang berkembang, tetapi tidak berlaku sebaliknya, karena negara yang sedang berkembang belum cukup siap dalam permodalan, teknologi produksi, pemasaran dan sebagainya. Jadi negara kaya bertambah kaya dan negara miskin bertambah miskin. Khusus mengenai LOT dari Thomas Friedman, beberapa kritik telah disampaikan, antara lain ialah :

Referensi yang digunakan Thomas Friedman bukanlah literatur ilmiah yang bergengsi di bidang ekonomi dan perdagangan, tetapi majalah seperti The Economist yang nota bene dimiliki oleh korporasi raksasa. Argumentasi Thomas Friedman tidak disertai dengan catatan kaki, grafik, dan statistik, tetapi semata-mata oleh argumentasi kualitatif yang tidak meyakinkan.  Argumentasi Thomas Friedman sangat berat sebelah dan bukunya hanya sekedar semacamwho’s who mengenai kapitalisme global. Sifat egaliter dan demokratis dari kapitalisme global hanyalah merupakan fantasi Thomas Friedman belaka karena statistik tidak mendukung pendapat itu.

Sesuai dengan data Federal Reserve, pada tahun 1998, 10% orang terkaya Amerika memiliki lebih dari 82% stock, 86% bond dan 91% dari aset bisnis. Untuk daerah-daerah tertentu, kurang dari 0,5% orang terkaya memiliki lebih dari 31% stock, hampir 32% bond, dan hampir 55% dari aset bisnis. Menurut penduduk dunia hidup di negara-negara yang paling kaya yang menerima pendapatan 74 kali lebih banyak dari 20% penduduk termiskin. Angka ini lebih buruk dibandingkan dengan data tahun 1990, dimana perbandingan masih 60 : 1 dan 30:1 pada tahun 1960. Pemujaan Thomas Friedman terhadap kebebasan dan demokrasi secara implisit disangkal sendiri dengan mengatakan bahwa : ’Tangan pasar yang tidak kelihatan tidak akan bekerja tanpa tinju yang tidak kelihatan dan tinju yang tidak kelihatan ini yang menjaga teknologi Silicon Valley adalah Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Marinir Amerika’. Argumentasi Thomas Friedman untuk mengkritik penentangnya sangatlah dangkal seperti berikut ini : 1) neoliberalisme adalah satu-satunya bentuk globalisasi, 2) globalisasi mendorong pertumbuhan ekonomi, 3) pertumbuhan ekonomi dan tetesan-kebawah adalah satu-satunya cara membantu negara yang miskin, 4) oleh karena itu neoliberlisme adalah teman terbaik yang dimiliki negara-negara miskin dan siapa yang menentang neoliberalisme, berarti menyetujui kemiskinan global.

Para pendukung anti globalisasi atau sebetulnya lebih tepat dinamakan anti pengaruh buruk globalisasi adalah para aktivis, lembaga swadaya masyarakat, dan elemen lain yang merupakan gerakan masyarakat sipil yang tumbuh dan berkembang. Gerakan-gerakan ini secara aktif melancarkan usulan-usulan yang penting untuk meningkatkan dan menjaga dunia yang lebih lestari, egaliter, dan demokratis.

  1. 4.      Tantangan Globalisasi Bagi Perguruan Tinggi

Karena globalisasi seperti dikatakan di atas tidak hanya menyangkut dan berdampak pada bidang ekonomi, tetapi pada hampir seluruh elemen kehidupan manusia, maka globalisasi juga berdampak, cepat atau lambat, pada pendidikan tinggi dan perguruan tinggi. Secara formal memang globalisasi belum menyentuh pendidikan tinggi dan perguruan tinggi, namun agaknya tidak begitu lama lagi, kekuatan dan gejala ini tidak dapat dibendung lagi. Pergerakan bebas dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan salah satu aspek penting dalam globalisasi tentu akan menyentuh pula bidang pendidikan khususnya pendidikan tinggi.

Apa yang sudah lama terjadi di bidang pendidikan tinggi adalah masih dalam tahap internasionalisasi, namun karena internasionalisasi dalam bidang ekonomi dan perdagangan sudah mulai didesak oleh globalisasi dalam bidang yang sama, maka internasionalisasi di bidang pendidikan tinggi juga sudah mulai didesak oleh globalisasi. Perlu dicatat kiranya cukup ironis bahwa di negara-negara berkembang, yang sangat getol mendesakkan globalisasi bidang pendidikan bukan menteri atau para pemimpin di bidang pendidikan, tetapi menteri dan petinggi di bidang ekonomi dan perdagangan.

Namun lepas dari semua itu, menurut Richard C. Atkinson, Presiden dari University of California globalisasi bagi perguruan tinggi juga merupakan kekuatan yang merubah perguruan tinggi dari suatu institusi yang memonopoli ilmu pengetahuan menjadi suatu lembaga dari antara sekian banyak jenis organisasi yang menyediakan informasi, dan dari suatu institusi yang selalu dibatasi oleh waktu dan geografi menjadi suatu lembaga tanpa perbatasan. Dengan demikian, bagi perguruan tinggi, globalisasi berarti : Teknologi informasi dan komunikasi, seperti Internet dan World Wide Web, menyediakan peralatan baru yang sangat ampuh dalam membentuk jaringan global untuk pengajaran dan riset. Pada saat ini proses pembelajaran mungkin masih mengandalkan landasan yang masih kurang mencukupi untuk proses interaksi berkualitas tinggi. Namun sebentar lagi pasti telah dikembangkan landasan yang lebih canggih yang menunjang tayangan audio dan vidio yang lebih baik, bereaksi secara cepat terhadap masukan mahasiswa, dan sebagainya.

Dalam lingkungan baru tersebut, suatu organisasi apakah itu universitas atau pemberi jasa informasi lainnya, dapat memenuhi kebutuhan dan meneguk pendapatan dari pasar yang ada. Universitas global akan mampu mengajar mahasiswa di mana saja dan kapan saja dan demikian juga dapat mengambil dosen dari mana saja.

Universitas tidak lagi memonopoli produksi ilmu pengetahuan. Mereka harus bersaing dengan penyedia jasa informasi dan pengetahuan lainnya yang tidak memerlukan kampus dengan segala fasilitasnya yang mahal.

Dengan demikian, di perguruan tinggi, agaknya dampak yang perlu diantisipasi dan tantangan yang perlu dihadapi sekurang-kurangnya dalam tiga bidang persaingan yaitu dalam pengelolaan perguruan tinggi, proses belajar-mengajar, dan pendidikan nilai. Disamping itu ada juga bentuk-bentuk tantangan lain yang tidak hanya dihadapi universitas negara yang sedang berkembang, tetapi juga dihadapi oleh negara yang sudah berkembang.

  1. Tantangan pada Pengelolaan

Apabila bidang pendidikan akan disamakan dengan bidang perdagangan dan ekonomi, maka prinsip pasar bebas juga harus diberlakukan. Artinya ialah bahwa setiap negara harus membuka diri seluas-luasnya terhadap masuknya perguruan tinggi, dosen, peneliti, dan sebagainya tanpa hambatan sama sekali, dalam bentuk apapun. Apakah dengan demikian akan terjadi persaingan antara perguruan tinggi dalam negeri dan perguruan tinggi asing ? Bagaimana bentuk invasi perguruan tinggi asing ke negara-negara yang sedang berkembang ? Apakah dalam bentuk investasi langsung, ataukah berbentuk usaha bersama ? Apakah para penyelenggara perguruan tinggi di negara berkembang begitu saja akan tunduk pada tekanan para pengambil keputusan di bidang ekonomi dan perdagangan ? Agaknya investasi langsung dalam bentuk brick and mortal(bangunan dan bentuk fisik) kurang memberikan keunggulan kompetitif mengingat sebagian besar biaya perguruan tinggi adalah untuk gaji para dosen.

Dengan gaji dosen asing yang begitu tinggi, agaknya sulit bersaing dengan perguruan tinggi dalam negeri, seperti Indonesia, sehingga kemungkinan besar globalisasi universitas terutama bukan dalam bentuk ini. Tetapi argumentasi ini tidak berlaku apabila ada motif lain, sekurang-kurangnya sementara, yang mengelahkan pertimbangan ekonomis. Yang sudah tampak adalah penetrasi dalam bentuk kelas jarak jauh (distant learning programme) dan universitas terbuka dengan menggunakan internet. Tetapi apakah juga bahwa universitas akan sungguh-sungguh harus bersaing dengan perusahaan penyedia informasi dan pengetahuan ? Beberapa contoh perkembangan berikut mungkin dapat dijadikan bahan renungan.

The University of Michigan adalah satu diantara universitas yang sudah memulai program pendidikan global, yang telah menghasilkan lulusan kurang lebih 14.000 mahasiswa di luar Amerika Serikat. Leicester University juga sudah cukup lama mengadakan kelas jarak jauh ini di beberapa negara termasuk Indonesia. Beberapa universitas mengembangkan lembaganya menjadi usaha mencari keuntungan seperti University of Phoenix dan Pathom.com, demikian pula Universitas 21, suatu grup yang terdiri dari 18 universitas dari Eropa, Amerika Utara, Asia, Selandia Baru, dan Australia. Mereka menyediakan dan ’menjual’ bahan kuliah, dan lisensi dalam berbagai jenis. Mengenai Universitas 21 ini, akan dibicarakan lebih lanjut di belakang.

Pada bulan April tahun 2001 yang lalu, MIT (Massachusetts Institute of Technology) menarik perhatian dunia dengan melancarkan program OpenCourseWare, yang bernilai US$ 100 juta yang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk merancangnya. MIT menyebutkan bahwa program OpenCourseWare adalah usaha untuk menciptakan sebuah model penyebaran ilmu pengetahuan oleh universitas dalam era internet, yang tersedia bagi semua orang bahan yaitu bahan kuliah yang diajarkan di MIT. Dana pengembangan sebesar itu diharapkan dapat kembali dari sumbangan para donator. Program semacam itu bukan sesuatu yang unik di Amerika karena beberapa universitas lain juga melakukannya, namun memang skala dan biayanya tidak sebesar yang di MIT. Program ini merupakan pernyataan MIT untuk tetap mempertahankan misi dasar dari universitas dalam lingkungan akademis yang makin dikomersialkan.

Pada bulan Maret tahun 2001, University of California dan sejumlah universitas di Meksiko merayakan peluncuran hubungan berkecepatan tinggi yaitu Internet2 antara California dan Meksiko. Internet2 secara revolusioner merubah aplikasi Web yang mendukung kerjasama dalam pengajaran, riset, dan usaha lain antara University of California dan universitas-universitas di Meksiko.

University of California juga melakukan percobaan kerjasama internasional dengan Universitas Kyoto dengan menggunakan hubungan berkecepatan tinggi yang dinamakan TIDE (Transpacific Interactive Distance Education). Sejak akhir tahun 1999, University of California Los Angeles (UCLA) dan Kyoto University mulai menawarkan kuliah fisika secara simultan di kedua sisi lautan Pasifik. Kuliah yang diberikan di satu universitas ditransmisikan ke universitas lain melalui hubungan berkecepatan tinggi di mana dosen dan mahasiswa dapat bertanya jawab melalui hubungan tersebut. Mata kuliah fisika telah diperluas termasuk juga kuliah linguistik terapan, studi komunikasi, dan ekonomi.

Pemerintah Indonesia sudah pasti akan memperjuangkan dalam WTO untuk ’menahan’ pengaruh globalisasi tersebut dengan misalnya mengharuskan kerja sama dengan lembaga perguruan tinggi Indonesia dan dengan berbagai peraturan lain, namun hasilnya tergantung dari kekuatan negosiasi dalam sidang-sidang WTO.

Kalau melihat 4 jenis mode globalisasi perguruan tinggi yang ditentukan oleh WTO tersebut, mode 1 (cross border supply ) dan mode 2 (consumption abroad) sudah berjalan lama dan bukan merupakan ancaman lagi. Yang perlu diwaspadai dan diantisipasi adalah mode 3 (commercial presence) dan ke 4 (presence of natural persons).

  1. Tantangan pada Proses Belajar Mengajar

Globalisasi ternyata merubah cara belajar-mengajar, dari bertatap muka dan melalui hubungan personal antara dosen dan mahasiswa menjadi hubungan maya dan nonpersonal, melalui internet, dan video jarak jauh. Dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu, ahli manajemen Peter Drucker memang pernah meramalkan :

’Thirty years from now the big university campus will be a relic. Universities won’t survive in their present form. The main reason is the shift to thecontinuing education of already highly educated adults as the center and  growth sector of education.

Tetapi apakah prediksi Peter Drucker ini memang benar ? Apakah motivasi, interaksi dengan mahasiswa lain, pengembangan kemampuan khusus, preferensi, identifikasi kecondongan, deteksi keistimewaan mahasiswa dan sejenisnya dapat diajarkan lewat internet ? Apakah perhatian, konseling, afeksi, pendidikan, pendampingan, teladan, dapat dilakukan melalui media video dan audio ? Banyak yang berpendapat bahwa ramalan Peter Drucker tidak akan terwujud. Proses belajar-mengajar tradisional masih akan tetap diperlukan dan berkembang bersamaan dengan cara baru melalui berbagai alat teknologi informasi. Proses belajar-mengajar melalui internet tidak akan dapat mengganti proses belajar-mengajar seperti sekarang ini secara tatap muda di gedung universitas. Universitas riset tidak akan tergantikan oleh universitas maya. Meskipun demikian, tantangan yang mendasar tetap harus dijawab yaitu apakah pendidikan masih dapat dilakukan melalui jarak jauh dan secara maya ? Apakah yang tinggal hanya pembelajaran saja, jadi bukan pendidikan ?

  1. Tantangan pada Pendidikan Nilai

Globalisasi sering kali menghadirkan pengetahuan dan informasi yang berlebihan yang tidak dapat ditangkap oleh orang kebanyakan yang juga tidak mampu mencerna tantangan-tantangan yang menyertainya, sehingga hidup dalam alam globalisasi merupakan risiko dan merubah identitas seseorang, tempat tinggal, dan kehidupan masa depan. Globalisasi yang tidak sempurna, yaitu yang tidak lengkap tetapi tetap berjalan terus, justru meningkatkan perbedaan antar negara, menambah ketidak seimbangan dalam segala bidang : politik, ekonomi, budaya, agama, sosial. Globalisasi yang tidak terkendali membawa ancaman dan ketakutan yang memang dapat dimengerti dalam banyak hal.

Namun gejala yang tidak dapat dihindarkan dan dibalikkan ini juga membawa harapan dan kesempatan baru. Globalisasi tidak dapat dikatakan baik atau buruk. Globalisasi akan menjadi seperti apa yang dikehendaki dan diperbuat oleh manusia. Oleh karena itu bagi mereka yang berfikir secara kritis, antisipatif, dan analitis, termasuk dunia perguruan tinggi, beberapa pertanyaan mendasar sebagai berikut perlu direnungkan: Mampukah globalisasi menjaga nilai-nilai kemanusiaan, dan sekaligus juga menghormati identitas budaya, tradisi, dan agama yang merupakan kekayaan warisan budaya manusia ? Mampukan globalisasi meletakkan fondasi yang lebih kuat untuk pengembangan budaya manusia yang otektik dan universal ? Dapatkan pendidikan mempertemukan berbagai budaya dan tradisi dalam kontak satu sama lain, menanamkan semangat keberagaman dan meningkatkan hak-hak manusia untuk memelihara identitas masing-masing, dalam dialog secara timbal balik ? Dapatkah pendidikan tinggi menjawab pertanyaan dan menanggapi tantangan atas kesatuan dan keberagaman orang dan budaya ?

Perlu diakui bahwa globalisasi dapat menularkan nilai-nilai positif tetapi juga berpotensi menawarkan nilai-nilai negatif. Nilai-nilai positif yang dimaksud misalnya etos kerja, manajemen produksi, disiplin kerja, demokrasi dalam berbagai bidang kehidupan termasuk politik, penghormatan pada hak-hak asasi manusia, kehidupan masyarakat sipil, dan sebagainya. Nilai-nilai negatif misalnya konsumerisme, hidonisme, individualisme, sekularisme, dan sebagainya.

  1. Tantangan Lain

Di samping tantangan-tantangan yang disebutkan di atas, tantangan-tangan berikut juga perlu dipikirkan, termasuk bagi universitas di negara-negara yang sudah maju dan berkembang. Tantangan yang dimaksud adalah mengenai struktur institusi dan kebiasaan cara berfikir, misalnya yang berkenaan dengan akreditasi, milik intelektual, dan universitas sebagai suatu komunitas.

Teknologi mungkin mampu menjadikan universitas bersifat global dalam jangkauannya, namun ada sesuatu yang agaknya tetap dikehendaki secara lokal, yaitu akreditasi. Apakah akreditasi dapat dilakukan universitas secara global ? Jawabannya mungkin alternatif ya, tetapi bagaimana dengan program studi seperti seni drama, seni musik ? Akreditasi tidak hanya menyangkut peraturan tetapi menyangkut kepercayaan dan reputasi.

Pembelajaran berbasis internet memang menjanjikan cara baru menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga sekaligus menciptakan hambatan baru. Tradisi lama, ialah bahwa dalam universitas, ilmu pengetahuan terbuka dan gratis untuk semua orang. Dalam era internet, dimana para dosen dan para ahli menjadi ajang perebutan antara universitas dan perusahaan penyedia jasa informasi yang nota bene mencari keuntungan, hak intelektual menjadi sangat menonjol sehingga menjurus pada privatisasi ilmu pengetahuan.

Universitas sebagai komunitas akademis dengan segala kegiatannya memberikan suasana akademis yang menunjang hasrat belajar dan meneliti. Interaksi antar mahasiswa dan antara mahasiswa dan dosen memberi sumbangan dalam pembentukan watak dan pribadi mahasiswa. Apakah hal ini masih akan terjadi apabila pengajaran dilakukan melalui internet ?

Kebanyakan tantangan di atas memang hanya dapat disampaikan dalam bentuk pertanyaan, karena jawabannya memang belum dapat diberikan secara pasti.

  1. 5.      Apa Yang Harus Diperbuat Oleh Perguruan Tinggi

Mengingat potensi dampak negatif yang begitu besar yang dihadapi di bidang pendidikan nilai di pendidikan tinggi maupun pengembangan perguruan tinggi, maka globalisasi merupakan tantangan yang cukup besar yang sedang dan masih akan dihadapi untuk masa-masa yang akan datang. Bahkan dapat dikatakan bahwa globalisasi merupakan tantangan strategis pendidikan tinggi dewasa ini. Disebut strategis, karena menyangkut kelangsungan hidup maupun kelangsungan misi yang diemban oleh pendidikan tinggi. Oleh karena itu sudah banyak perguruan tinggi atau asosiasi perguruan tinggi membicarakan dan mengantisipasi hal ini. Salah satu refleksi mengenai hal ini adalah yang dilakukan oleh sejumlah universtias Katolik yang tergabung dalam International Federation of Catholic Universities (IFCU). Pada akhir tahun 2002, IFCU menyelenggarkan konferensi di Vatikan dengan tema ’Globalization and Catholic Higher Education, Hopes and Challenges’. Refleksi ini terfokus pada tantangan perguruan tinggi di bidang pendidikan nilai, yang secara singkat dapat dirumuskan sebagai berikut yang sekaligus juga dapat merupakan sikap dasar yang harus diambil.

  1. Sikap Dasar Menghadapi Globalisasi

Dalam refleksinya tersebut, globalisasi dilihat sebagai suatu fenomena dan proses yang memunculkan berbagai wajah, berbagai pendapat dan interpretasi yang menyebabkan berbagai jenis bahkan dampak yang dramatis pada manusia, budaya, dan masyarakat. Globalisasi tidak dapat direduksi hanya sebagai ekspresi ekonomi tentang perkembangan kebebasan dan persetujuan global dalam orientasi pasar secara eksklusif dan lingkungan persaingan. Globalisasi harus dimengerti dan dianalisis sebagai fenomena multidimensional yang menyangkut berbagai bidang kegiatan dan interaksi lintas batas dan lintas kontinen, termasuk ekonomi, politik, sosial-budaya, teknologi, etik, lingkungan, dan personal. Globalisasi menghadirkan tantangan dan persoalan serius bagi masa depan universitas. Globalisasi mempertanyakan nilai-nilai utama pemberian pelayanan bagi universitas maupun masyarakat. Globalisasi menekan nilai-nilai tradisional universitas seperti otonomi, kebebasan akademik, riset dan penilaian mahasiswa di dalam pasar baru pendidikan yang mengglobal tersebut dan membutuhkan pemecahan terhadap problema-problema umum seperti mobilitas mahasiswa dan dosen, pengurangan bantuan pemerintah, relevansi kurikulum, dan munculnya universitas yang berorientasi pada keuntungan.

Dalam premisnya, IFCU mengakui bahwa gelombang globalisasi membuka kesempatan baru dan keuntungan potensial namun sekaligus juga menciptakan risiko dan ancaman. Meskipun demikian cukup alasan untuk optimis bahwa globalisasi dapat diarahkan (kembali) atau dirubah agar dapat lebih memanusiakan (humanise) orang, martabat manusia, budaya, dan masyarakat.Globalisasi menawarkan kesempatan untuk memikirkan kembali dan memperkuat peran pendidikan dan universitas, yang menawarkan kebenaran, harapan, perikemanusiaan, perdamaian, persatuan, pembangunan sosial yang berkelanjutan dan penghapusan kemiskinan, kekerasan, dan ketiadaan toleransi. Oleh karena itu pendidikan tinggi terpanggil untuk memberikan pelayanan sebagai pemberi pedoman universal dan referensi praktis untuk menanamkan dan mengembangkan globalisasi yang berkasihan (compassionate globalization).

Menanggapi kebutuhan untuk memanusiakan globalisasi di pendidikan tinggi dan merumuskan orientasi pendidikan tinggi di masa depan, IFCU selanjutnya memberikan beberapa pedoman untuk universitas-universitas Katolik. Orientasi dan pedoman yang diberikan IFCU kepada para anggotanya ini mempunyai prinsip dan nilai universal, sehingga tidak hanya berlaku untuk universitas Katolik saja, tetapi dapat juga dijadikan bahan renungan untuk universitas-universitas lain. Pedoman tersebut terdiri dari tiga bagian yaitu mengenai formasi pengembangan manusia secara utuh, transmisi ilmu pengetahuan dalam pencarian akan kebenaran, dan pelayanan kepada masyarakat.

  1. Formasi Pengembangan Manusia Secara Utuh

1)      Meningkatkan pendidikan tinggi sebagai proses dinamik yang melayani masyarakat dan secara tidak langsung menyuburkan pengembangan manusia secara utuh dan mengakui dimensi spiritual dari berbagai budaya.

2)      Menyediakan alat pendidikan mengenai disiplin, inter-disiplin, dan trans-disiplin dan merangsang pertukaran yang menyumbangkan pembentukan warganegara yang bertanggung-jawab dan mampu bersikap kritis dalam menganggapi tantangan dari realitas globalisasi.

3)      Menguatkan persona manusia untuk mengembangkan budaya damai, solider, adil, murah hati dan sebagainya, di seluruh dunia, dengan perhatian khusus pada yang paling miskin.

4)      Menyumbangkan pembentukan kemanusiaan baru dengan berfokus pada visi umum mengenai martabat persona manusia.

  1. Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Pencarian Akan Kebenaran

1)      Mengakui diversifikasi, kekhususan dan otonomi dalam pengajaran dan riset yang menyebabkan pengalaman kultural setiap universitas unik dan istimewa.

2)      Mendorong kerjasama antar departemen, antar disiplin, dan antar universitas di seluruh kontinen, dengan menggunakan teknologi dan jaringan baru, dan menggabungkan dedikasi pada kebenaran, keyakinan akal sehat, dan penguatan dalam iman.

3)      Mendukung pertukaran para pengajar dan peneliti dari berbagai negara dan bidang akademis dengan tujuan pembentukan manusia yang mampu untuk membentuk kehidupan sosial, ekonomi, dan politik dengan fokus pada analisis kritis mengenai globalisasi, berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kemanusiaan.

4)      Memperlancar dialog terbuka antara para ahli teologi, filsafat, dan ilmu pengetahuan untuk pembaharuan sikap dalam pencarian bersama akan arti.

5)      Memperkuat nilai-nilai universal dalam pendidikan akan kebenaran dengan mengintegrasikan iman dan kehidupan dengan kompetensi profesional, dengan fokus khusus pada hak-hak asasi manusia, demokrasi, perdamaian yang berkelanjutan, penghapusan kemiskinan, dan sebagainya, dengan menghadapkan tantangan masa kini mengenai globalisasi pada masyarakat.

  1. Pelayanan Kepada Masyarakat

1)      Mendorong komunitas akademik mengambil bagian dalam tanggung-jawab, dengan melakukan analisis proses globalisasi dan meningkatkan refleksi yang berorientasi pada tindakan, dalam melayani masyarakat dari dalam.

2)      Menjadi tempat dan sarana perubahan di dunia akademi, budaya, dan ilmu pengetahuan di setiap tempat di mana berada dengan membawakan nilai-nilai keagamaan dan etis yang mendukung martabat manusia persona.

3)      Menciptakan budaya komunikasi dengan penemuan ilmu pengetahuan yang tersebar melampaui kepentingan komersial dan mengarahkan riset pada hasilnya yang memihak pada kemanusiaan yang utuh.

4)      Menekankan dialog antar budaya dan antar agama sebagai sarana yang penting untuk pemahaman bersama mengenai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sama-sama digunakan serta pencapaian kebaikan bersama.

Secara umum, universitas dapat bersikap dan menghadapi tantangan negatif yang dihadapi sehubungan dengan globalisasi secara internal dengan cara tetap setia pada misi universitas pada umumnya yaitu mencari kebenaran sejati melalui ilmu pengetahuan dan penelitian, untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia serta meningkatkan penghormatan atas martabat manusia. Secara eksternal dengan memberikan inspirasi, mengajak dan mendorong masyarakat luas untuk tetap mengembangkan budaya yang mendukung keberpihakan pada peningkatan penghormatan atas martabat manusia persona. Pendidikan sejati pada hakekatnya haruslah mampu menghadirkan visi yang lengkap dan transenden mengenai manusia persona dan mendidik kesadaran manusia.

Perguruan tinggi perlu mengambil sikap positif terhadap globalisasi, meskipun tetap harus bersikap kritis. Melihat segi positif dan negatif dari globalisasi, dan mengingat bahwa globalisasi tidak dapat dihindarkan, maka tugas perguruan tinggi adalah ’memanusiakan globalisasi’ tersebut. Globalisasi dipicu oleh faktor-faktor ekonomis, tetapi dewasa ini lebih dari sebelumnya, globalisasi juga memberikan bentuk keputusan politis, hukum, dan bioetis yang sering kali merugikan kepentingan sosial dan manusia. Dunia perguruan tinggi perlu menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi keputusan ini dan memberikan kontribusi agar keputusan tersebut betul-betul merupakan perbuatan yang bermoral, keputusan yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

  1. Pendekatan Komoditisasi, Bukan Komersialisasi.

Komersialisi pendidikan merupakan debat yang panjang, yang dikhawatirkan merupakan dampak negatif pula dari globalisasi. Sebetulnya perlu dibedakan dengan tajam antara ’komersialisasi’ dan ’komotitisasi’. Pada hakekatnya, perguruan tinggi mempunyai beberapa matra yaitu pusat pendidikan tinggi, pusat pengembangan ilmu pengetahuan, agen perubahan sosial, matra etis, dan lembaga korporasi. Komoditisasi merupakan salah satu bentuk matra lembaga korporasi. Komoditisasi perguruan tinggi adalah suatu pendekatan melihat perguruan tinggi sebagai lembaga yang menawarkan komoditas berupa jasa pendidikan tinggi, yang mengalami persaingan, yang tunduk pada hukum permintaan dan penawaran, yang mengenal segmen pasar dan pangsa pasar, yang memerlukan perhitungan akuntansi biaya, yang memerlukan strategi marketing, yang harus mengusahakan tetap hidup dan berkembang, dan sebagainya.

Komoditisasi perguruan tinggi tidak hanya sah, tetapi bahkan harus dilakukan pada masa sekarang ini, sepanjang tidak melupakan matra perguruan tinggi yang lain. Sedangkan komersialisasi merupakan suatu pendekatan yang melihat penyelenggaraan perguruan tinggi sebagai suatu usaha untuk mendapatkan keuntungan bagi pribadi atau kelompok tertentu, suatu pendekatan yang sama dengan penyelenggaraan suatu perseroan terbatas. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menghadapi globalisasi dari segi ancaman eksistensi adalah menggunakan pendekatan komoditisasi ini secara lebih tajam dan profesional.

  1. Peningkatan Mutu dan APTIK Sebagai Wahana Ampuh.

Secara umum, peningkatan mutu secara terus menerus merupakan jawaban atas segala tantangan yang mempengaruhi eksistensi dan pelaksanaan misi perguruan tinggi. Dalam kaitan ini, peranan APTIK menjadi sangat strategis, karena APTIK dapat digunakan sebagai wahana untuk peningkatan mutu tersebut. Selama ini terbukti APTIK merupakan asosiasi yang tidak hanya mampu membantu para anggotanya meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan cara peningkatan pendidikan para dosen, tetapi juga merupakan wadah untuk saling bertukar pengalaman, saling belajar, dan saling membantu dalam penyelenggaraan perguruan tinggi. Oleh karena itu, apabila dalam pertemuan ini APTIK merencanakan menyusun Rencana Strategis jangka panjang, maka rencana menghadapi tantangan globalisasi secara khusus harus merupakan salah satu butir strategi yang direncanakan.

  1. C.      KESIMPULAN

Thomas L. Friedman dalam bukunya Understanding Globalizations : The Lexus and The Olive Tree ini memahami sistem melalui berbagai wacana seperti adanya praktik-praktik hubungan antar negara-bangsa, serta diperkaya pula oleh bagaimana sistem ekonomi dunia menggeliat, menuju apa yang disebut sebagai “free trade system”. Kemudian menggunakan istilah globalisasi yang sedang populer dalam penjelasannya.

Thomas L. Friedman memformulasikan pemikirannya tentang globalisasi dengan membagi globalisasi ke dalam tiga tahap atau fase. Tahap pertama, globalisasi 1.0, kedua globalization 2.0, dan ketiga globalization 3.0. Di dalam pembahasan memahami sistem ini Thomas L. Friedman menjelaskan tentang; 1) Klarifikasi Tentang Liberalisasi di Bidang Pendidikan dan Dampaknya pada Pendidikan Tinggi di Indonesia Liberalisasi dalam Globalisasi; dari sisi perdagangan, pergerakan modal, pergerakan orang, dan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). 2) Globalisasi dan Internasionalisasi. 3) Pro dan Kontra Globalisasi; yang berbicara tentang pandangan yang pro globalisasi dan pandangan yang anti globalisasi. 4) Tantangan Globalisasi Bagi Perguruan Tinggi; tantangan pada pengelolaan, tantangan pada proses belajar mengajar, tantangan pada pendidikan nilai, dan tantangan lain. 5) Apa yang Harus Diperbuat oleh Perguruan Tinggi, yaitu tentang bagaimana sikap dasar menghadapi globalisasi, formasi pengambangan manusia secara utuh, transmisi ilmu pengetahuan dalam pencarian akan kebenaran, pelayanan kepada masyarakat, pendekatan komoditisasi bukan komersialisasi, dan peningkatan mutu dan APTIK sebagai wahana ampuh.

 

Critical Review sebuah artikel berjudul  Leading The Learning Organization                                                                                                 oleh Sapna Rijal,  Purbanchal University, Penerbit Business Education & Accreditation, Volume 1, Number 1, Tahun 2009.

PENDAHULUAN

Artikel yang akan dianalisis ini berjudul Leading The Learning Organization yang ditulis oleh Sapna Rizal di Purbanchal University, yang diterbitkan oleh Business Education & Accreditation, Volume 1, Number 1, Tahun 2009. Diawali dengan abstrak yang menjelaskan tentang garis besar dari isi artikel, di antaranya berisi tentang, bagaimana peran kepemimpinan transformasional dalam mempengaruhi pengembangan organisasi belajar. Menggunakan kata kunci learning, learning organization, dan tranformational leader.

Di awal artikel, Sapna Rijal menegaskan bahwa tujuan tulisan ini adalah untuk memahami peran kepemimpinan transformasional dalam pengembangan organisasi belajar. Artikel ini mengidentifikasi kepemimpinan sebagai salah satu faktor yang paling penting, di antara banyak faktor, yang mempengaruhi perkembangan pembelajaran organisasi (Senge, 1990; Johnson, 1998; Prewitt, 2003; Sadler, 2003). Para sarjana ini menunjukkan bahwa pembelajaran organisasi panggilan untuk jenis kepemimpinan yang berbeda dibandingkan dengan peran kepemimpinan tradisional. Transisi menuju organisasi pembelajaran melibatkan perubahan dalam sistem yang kompleks. Transformasi sistem yang kompleks adalah sulit tanpa seorang pemimpin yang mengerti kebutuhan situasi, orang dan tujuan dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai transisi. Para sarjana ini lebih lanjut menunjukkan bahwa penciptaan visi kolektif masa depan, memberdayakan dan mengembangkan karyawan sehingga mereka lebih mampu untuk menangani tantangan lingkungan, pemodelan perilaku belajar dan menciptakan lingkungan belajar, merupakan keterampilan penting bagi para pemimpin organisasi pembelajaran.

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kepemimpinan mempengaruhi perkembangan organisasi belajar. Jenis kepemimpinan yang ditinjau adalah “kepemimpinan transformasional”. Kepemimpinan transformasional telah menjadi subyek penelitian luas dalam dekade terakhir dan para pemimpin membawa perubahan dalam pengikut dan organisasi melalui ide-ide inovatif atau revolusioner dan visi dari kemungkinan masa depan (Bass, 1985). Namun, meskipun potensi pemimpin transformasional secara positif mempengaruhi perkembangan organisasi belajar. Mengingat kurangnya penelitian ke arah ini, maka Sapna Rijal dalam artikel ini berusaha untuk memahami peran kepemimpinan transformasional dalam pengembangan organisasi belajar.

Artikel yang ditulis oleh Sapna Rijal ini  disusun sebagai berikut. Bagian pertama berisi gambaran singkat mengenai literatur tentang organisasi belajar. Bagian kedua memberikan tinjauan terhadap teori-teori kepemimpinan dengan fokus pada kepemimpinan transformasional. Bagian ketiga kepemimpinan transformasional telah berdampak pada hasil bawahan dan berbagai organisasi. Bagian terakhir menyediakan dukungan untuk pengaruh kepemimpinan transformasional pada pengembangan organisasi belajar.

ANALISIS

Artikel ini juga mengkritik beberapa tulisan tentang  studi tentang pembelajaran organisasi, meskipun luas, tidak menawarkan saran untuk manajer senior tentang cara mengubah organisasi mereka menjadi organisasi belajar. Studi tentang kepemimpinan juga tidak menentukan peran pemimpin dalam organisasi pembelajaran. Artikel ditegaskan oleh penulis berupaya untuk memahami peran kepemimpinan yang tepat untuk organisasi belajar.

Sapna Rijal menjelaskan bahwa organisasi belajar memiliki struktur dan sistem dan dirancang dengan cara yang membantu untuk mengantisipasi dan bereaksi terhadap perubahan tersebut bahwa orang-orang dan organisasi dapat meningkatkan kinerja mereka dan bertahan di lingkungan yang bergejolak. Organisasi belajar adalah salah satu yang memiliki potensi untuk mengubah diri dengan; memanfaatkan belajar individu dan kolektif dari anggota organisasi, memberdayakan masyarakat baik di dalam maupun di luar organisasi, pengetahuan mengelola secara efektif , memanfaatkan teknologi efisien; sehingga untuk lebih beradaptasi dan berhasil dalam lingkungan yang berubah. Definisi ini mirip dengan definisi Marquardt. Transformasi merupakan komponen kunci dalam mendefinisikan suatu organisasi yang harus belajar dan harus terus berubah.

Definisi kepemimpinan yang dikemukakan dalam tulisan ini tidak banyak, antara lain yang definisi kepemimpinan menurut Burns (1978) dan Yukl (2002). Jadi tidak mendapatkan definisi secara luas. Kepemimpinan dalam arti luas, tidak hanya melibatkan beberapa komponen kecil dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan. Robbins mengartikan kepemimpinan suatu kemampuan mempengaruhi sekelompok orang untuk mencapai tujuan[1]. Definisi ini mengungkapkan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan atau kecakapan untuk mempengaruhi orang lain. Untuk mendapatkan pengaruh yang signifikan dalam sebuah organisasi, Warren Bennis menjelaskan bahwa faktor integritas merupakan hal yang sangat penting.[2]

Ralf M. Stogdil mendefinisikan “kepemimpinan manajerial sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas dari anggota kelompok”.[3]  Hal ini menunjukkan terdapat  tiga implikasi yang penting dari kepemimpinan, pertama kepemimpinan harus melibatkan orang lain, bawahan, atau pengikut; kedua kepemimpinan adalah kemampuan mengarahkan orang lain untuk dapat bekerja sesuai tujuan yang dikehendaki pemimpin. ketiga selain secara sah dapat mengarahkan bawahan atau pengikut,  pemimpin juga mempunyai tugas untuk mendelegasikan wewenang yang dimilikinya.

John Adair juga menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain.[4] Robert W. Terry memaknai kepemimpinan dengan, interaksi anggota kelompok. Pemimpin adalah orang yang membawa  perubahan, orang yang bekerja untuk orang lain melebihi orang lain bekerja untuk mereka)[5]. Dalam pandangan Burt Nanus dan Stephen M. Dobbs bahwa “a leader is a person who marshals the people, capital, and intellectual resources of the organization to move it in the right direction[6] Bila memperhatikan definisi tersebut, maka seorang pemimpin mereka yang mampu bertindak sebagai komandan, mereka yang mempunyai kemampuan finansial yang cukup serta mempunyai integritas mendorong sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, pengaruh seorang pemimpin dapat tumbuh ketika ia mempunyai kekuatan memaksa, kemampuan materi serta kemampuan mendayagunakan organisasi.

Gary Yukl mengemukakan bahwa kepemimpinan merupakan proses pemimpin mempengaruhi pengikut untuk menginterprestasikan keadaan, pemilihan tujuan organisasi, pengorganisasian kerja, motivasi pengikut untuk mencapai tujuan organisasi, mempertahankan kerjasama dan tim kerja, mengorganisir dukungan dan kerjasama dengan orang dari luar organisasi.[7] Bila pendapat ini dianalisis lebih jauh, maka apapun yang dilakukan, apakah itu fokus pada tujuan, pengorganisasian kerja, motivasi, mengorganisasi, pada hakekatnya cuma satu yaitu mempertahankan kerjasama untuk mencapai tujuan.

Berdasarkan kajian beberapa teori yang dikemukakan di atas, maka yang dimaksud dengan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan mengerahkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama dengan indikator kemampuan mempengaruhi, berkomunikasi, mengambil keputusan, pencapaian tujuan dan memberikan motivasi. Pemimpin transformasional memiliki peran yang sangat kuat dalam mempengaruhi pengembangan organisasi belajar.

Dalam artikel ini Sapna Rijal memaparkan beberapa definisi tentang kepemimpinan transformasional antara lain menurut Burns (1978), Bennis dan Nanus (1985),  Bass (1985), Dvir et. Al (2002), dan Tichy dan Devanna (1990).

Sedangkan menurut Leithwood (1999) transformational leadership is seen to be sensitive to organization building developing shared vision, distributing leadership and building school culture necessary to current restructuring efforts in school. Gaya kepemimpinan semacam ini akan mampu membawa kesadaran para pengikut (followers) dengan memunculkan ide-ide produktif, hubungan yang bersinergi, kebertanggungjawaban, kepedulian edukasi, dan cita-cita bersama. Menurut Bennis dan Nanus yang dikutip Cunningham, kepemimpinan transformasional adalah proses untuk mencukur dan meningkatkan tujuan dan kemampuan sehingga mencapai perbaikan yang signifikan melalui kepentingan bersama dan tindakan kolektif.[8]

Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mempunyai dimensi, kharismatik, stimulus intelektual, konsiderasi individual, sumber inspirasi serta idealisme. Kepemimpinan transformasional menekankan terbentuknya rasa memiliki bagi setiap individu sebagai bagian dari kelompok. Oleh karena itu kepemimpinan transformasional diproposisikan berpengaruh positif terhadap komitmen bawahan pada organisasi sehingga dalam perjalanannya organisasi belajar dapat berkembang secara kompetitif.

Pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki visi ke depan dan mampu mengidentifikasi perubahan lingkungan serta mampu mentransformasi perubahan tersebut ke dalam organisasi, memelopori perubahan dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada individu-individu karyawan untuk kreatif dan inovatif, serta membangun team work yang solid, membawa pembaharuan dalam etos kerja kinerja manajemen, berani dan bertanggung jawab memimpin dan mengendalikan organisasi. Esensinya kepemimpinan transformasional adalah sharing of power dengan melibatkan bawahan secara bersama-sama untuk melakukan perubahan.

Pemimpin transformasional sesungguhnya merupakan agen perubahan, karena memang erat kaitannya dengan transformasi yang terjadi dalam suatu organisasi. Fungsi utamanya adalah berperan sebagai katalis perubahan, bukannya sebagai pengontrol perubahan. Seorang pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas, memiliki gambaran holistis tentang bagaimana organisasi di masa depan ketika semua tujuan atau sasaran telah tercapai (Peter Senge, 1992).

Dalam kesimpulan, artikel ini menyimpulkan bahwa peran penting kepemimpinan transformasional memainkan dalam pengembangan organisasi belajar. Berangkat dari organisasi tradisional yang bergantung pada aturan dan peraturan untuk organisasi yang mendorong karyawan untuk berpikir di luar kotak membutuhkan kepemimpinan visioner, yang membawa keluar yang terbaik dalam individu-individu. Sebuah organisasi belajar memerlukan pemimpin yang dapat membantu mengatasi perubahan lingkungan serta memotivasi para pengikut untuk bekerjasama menuju pencapaian kolektif serta tujuan individu. Pemimpin transformasional percaya bawahan mereka dan memberikan mereka kebebasan untuk bernafas dan tumbuh. Oleh karena itu, ini adalah bentuk yang lebih konstruktif perkembangan dan kepemimpinan bagi karyawan individu dan organisasi secara keseluruhan.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Cuningham bahwa pemimpin yang sukses mengeluarkan upaya yang luar biasa untuk mencapai tujuan melalui:

  1. Vision. Tahu hasil yang diinginkan dan metode pencapaian melalui banyak pengembangan gagasan dan penciptaan visi.
  2. Communication. Mengekspresikan ide-ide Anda melalui berbagai bentuk presentasi, termasuk tindakan simbolis dan makna bersama.
  3. Trust. Yang diprediksi, akuntabel, gigih, dan dapat diandalkan dan memiliki integritas.
  4. Deployment. Mengetahui dan memelihara kekuatan, kompensasi untuk kelemahan, evaluasi dalam kaitannya dengan persyaratan pekerjaan, dan berfokus pada tujuan positif tidak masalah.[9]

Dengan upaya ini pemimpin transformasional memastikan keberadaan penetapan tujuan secara kolaboratif, berbagi kekuasaan dan tanggung jawab, pertumbuhan profesional lanjutan, dapat menyelesaikan berbagai perbedaan, bekerja sama dengan tim, banyak keterlibatan dalam kegiatan baru, timbul berbagai perspektif, asumsi divalidasi, refleksi berkala, kemajuan-kemajuan dapat dipantau dengan baik, dan intervensi terhadap berbagai macam progres/kemajuan. Dengan demikian peran pemimpin transformasional benar-benar dapat mempengaruhi perkembangan organisasi belajar yang dapat meningkatkan tujuan dan kemmapuan sehingga perbaikan dalam organisasi belajar dapat terjadi secara signifikan melalui kepentingan dan tindakan bersama secara kolektif.

Dalam artikel ini juga Sapna Rijal menjelaskan beberapa peran kepemimpinan menurut Senge dan Marquardt. Senge mengidentifikasi peran kepemimpinan tiga yang penting untuk membangun suatu organisasi belajar. Pemimpin sebagai  desainer, yang merancang arsitektur sosial, di mana orang lain beroperasi, membangun visi bersama dan menumbuhkan lingkungan belajar di mana bisa berkembang. Pemimpin sebagai guru, yang mengartikulasikan konsep dan realitas sehingga pengikut tampil di tingkat yang lebih tinggi kinerja. Para pemimpin sebagai pelayan yang mengembangkan rasa tujuan dan memberi contoh kepada para pengikut.

Demikian pula, Marquardt (1996) telah mengidentifikasi peran kepemimpinan enam dalam organisasi belajar. Seperti peran Senge tentang “guru, ia menganggap peran instruktur, pelatih dan mentor, sebagai aspek yang paling penting dari kepemimpinan dalam belajar organisasi.

Marquardt (1996) selanjutnya mengidentifikasi peran pemimpin sebagai manajer pengetahuan. Sebagai co-learners dan model untuk belajar, ia menganggap pemimpin harus menjadi pembelajar sendiri. Sebagai desainer dan arsitek, mereka bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar. Dalam peran sebagai koordinator, membawa para pemimpin yang terbaik dalam pengikut dan memotivasi mereka untuk melakukan yang terbaik mereka.

Dalam bagian ini Sapna Rijal kurang memasukkan satu lagi yang terakhir, yaitu pemimpin sebagai advocate for learning processes and projects. Yaitu advokat untuk belajar proses dan proyek. Pembelajaran organisasi yang kuat memerlukan lebih dari satu advokat, atau sang juara, jika ingin berhasil. Hal ini terutama berlaku pembelajaran yang akan menyebabkan perubahan dalam menghargai nilai dasar atau pendekatan jangka panjang. Semakin besar jumlah pendukung untuk ide pembelajaran baru atau program, kemampuan pembelajaran organisasi lebih cepat dan ekstensif akan terjadi.[10]

KESIMPULAN

Tulisan Sapna Rijal yang mengangkat masalah peran kepemimpinan transformasional dengan judul Leading The Learning Organization merupakan pemikiran yang dapat dipandang sebagai kontribusi positif dalam membangun sebuah kerangka kerja konseptual pada learning organization, terutama peran kepemimpinan transformasional dalam mengembangkan individu dan organisasi belajar dengan berbagai komponen yang ada di dalamnya. Yaitu pemimpin sebagai instruktur, pelatih dan mentor, pemimpin sebagai manajer pengetahuan, pemimpin sebagai co-learners dan model untuk belajar, pemimpin sebagai arsitek dan desainer, pemimpin sebagai koordinator, dan pemimpin sebagai advokat untuk belajar proses dan proyek.

Selain mengemukakan beberapa pokok pikiran yang dapat dijadikan kajian dalam penelitian ilmiah untuk sebuah learning organization, referensi literatur yang dimuat dalam tulisan ini merupakan referensi yang memang sesuai dengan pembahasan tentang kepemimpinan dalam organisasi belajar.

Sumber Bacaan

Adair,  John. (2003), Not Bosses But Leaders, London: Great Britain Clesys ltd.

Marquardt, MJ., (1996), Building the Learning Organization, New York: McGraw-Hill.

Nanus, Burt and Stephen M. Dobbs, (1999), Leaders Who Make a Difference,  Joosey-Boss Publisher.

Robbins, Stephans P., (2003), Organization Behavior, New Jersey: Pearson Education, inc.

Senge, Peter  (2000), Schools that Learn: A Fifth Disciplines Fieldbook for Educators, Parents and Everyone Who Cares About Education, New York: Doubleday.

Shelton, K (ed) (1997), A New Paradigm of Leadership: Vision of Exellence for 21st Century Organizations, Provo: Executive Exellence Publishing.

Stogdil,  Ralf M. (1974), Hand Book of Leadership, A Survey of Theory and Research.

Terry, Robert W. (1993), Authentic Leadership Courage in Action, Sab Fransisco, Josse-Boss Publisher.

Yukl, Gary. (2002), Leadership in Organization, Fifth Editation, New Jersey: Upper Saddle Rives.


[1]Stephans P. Robbins, Organization Behavior, (New Jersey: Pearson Education, inc, 2003), h. 314.

[2]Shelton, K (ed), A New Paradigm of Leadership: Vision of Exellence for 21 st Century Organization.  (Provo: Executive Exellence Publishing, 1997), h. 19.

[3]Ralf M. Stogdil (1974), Hand Book of Leadership, A Survey of Theory and Research, h. 7, dikutip langsung atau tidak langsung oleh Yayat Hayati Jatmiko, Prilaku Organisasi (Bandung: Alfabeta, 2005), h. 47.

[4]John Adair, Not Bosses But Leaders, (London: Great Britain Clesys ltd., 2003), h. 7.

[5]Robert W. Terry, Authentic Leadership Courage in Action, (San Fransisco: Josse-Boss Publisher, 1993), h. 11.

[6]Burt Nanus & Stephen, M. D, Leaders Who Make A Difference: Essential Strategies for Meeting the Nonprofit Challenge, (San Fransisco: Jossey-Bass, 1999), h. 6.

[7]Gary Yukl, Leadership in Organization. Fifth Editation, (New Jersey: Upper Saddle Rives, 2002), h. 5.

[8] Cunningham, WG. & Cordeiro, PA.,  Educational Leadership: A Problem Based Approach, (Boston, MA: Allyn & Bacon, 2003), h. 167.

[9] Ibid.

[10] Marquardt, MJ.,  Building the Learning Organization, (New York: McGraw-Hill, 1996), h. 115.

Learning Organization Profile

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 PAGAR ALAM

SMK N 1 Pagar Alam telah menerapkan sebagian tertentu dari strategi-strategi membangun organisasi. Ini mencerminkan bahwa langkah awal sekolah dalam membentuk kondisi untuk terjadinya pembelajaran yang dinamis sudah cukup baik. Walaupun belum maksimal. Langkah sekolah dalam menciptakan terjadinya pembelajaran baik yang sudah ada maupun langkah-langkah penyempurnaan diharapkan dapat mengantisipasi segala perubahan dan ketidakpastian, sehingga pada akhirnya dapat pula menciptakan keunggulan bersaing berkelanjutan. Berikut perolehan skor dan penjelasan aspek-aspek yang terdapat pada insrumen Learning Organization :

Dinamika belajar : Individu, Group dan Organisasi.

Skor yang diperoleh adalah : 11 dan rata-rata skor adalah 2.2 Hal ini menggambarkan tidak seluruh guru dan pegawai yang merasakan kebutuhan secara kontinyu sebagai prioritas utama. Kenyataan ini mencerminkan sekolah belum cukup berhasil menanamkan keinginan agar guru dan pegawai terus berkembang untuk menciptakan karir yang optimal. Menurut Marquardt, program menciptakan karis ini meliputi langkah oraganisasi untuk membiarkan para anggotanya engembangkan diri melalui kursus, belajar sendiri, mentoring serta enyediakan pembelajaran secara berjenjang.

Transformasi organisasi : visi, budaya, strategi dan struktur.

Skor yang diperoleh adalah : 12 dan rata-rata skor untuk aspek ini adalah 2,4 ini berarti aspek transformasi organisasi telah diterapkan lebih baik. Ini berarti mayoritas guru dan karyawan merasa bahwa sebagian besar pimpinan mendukung visi organisasi pembelajar. Sedangkan yang berhubungan dengan pemberdayaan budaya organisasi pembelajar mayoritas menjawab bahwa sekolah telahmenerapkan sebagian tertentu dari seluruh upaya untuk membangun budaya organisasi menuju organisai belajar. Marquardt menyatakan perlu adanya iklim inovasi yang mendukung budaya organisasi belajar. Iklim inovasi ini digambarkan dengan tindakan organisasi yang memberikan penghargaan terhadap semua upaya kegiatan belajar. Pembentukan iklim yang menghargai kegiatan belajar telah menjadi perhatian organisasi.

Kemudian, sekolah baru menerapkan sebagian tertentu dari seluruh strategi untuk membangun strategi organisasi belajar menuju organisasi belajar. Ini mencermikan hanya guru dan pegawai tertentu yang melakukan pembelajaran pada pekerjaan. Dan sekolah ini belum menerapkan seluruh strategi untuk membangun struktur organisasi menuju organisasi belajar. Marquardt berpendapat bahwa organisasi belajar harus mempunyai hirarki yang pendek. Sedangkan sekolah ini terlihat masih cukup panjang.

Pemberdayaan masyarakat : pekerja, manager, pelanggan, dan komunitas

Skor yang diperoleh adalah : 11 dan rata-rata skor untuk aspek ini adalah 2,2 artinya organisasi sudah melakukan pemberdayaan orang-orang dengan cukup baik, namun sekolah baru menerapkan bagian tetentu saja dari seluruh strategi untuk membangun pemberdayaan guru dan pegawai menuju organisasi belajar. Dalam hal memaksimalkan tanggungjawab dan kekuasaan, sekolah menunjukkan bahwa masih kurangnya kewenangan yang diberikan kepada guru dan karyawan. Seharusnya guru dan pegawai dilibatkan dalam program pengembangan strategi dan perencanaan, karena hal ini akan menimbukan rasa dihargai. Namun di sekolah ini hanya guru atau pegawai ataupejabat tertentu saja yang turut terlibat dan berhak menentukannya. Begitu juga dengan pemberdayaan manajer, pelanggan dan komunitas belum dilaksanakan sepenuhnya oleh sekolah.

Manajemen pengetahuan : akuisisi, penciptaan, menyimpan dan menemukan kembali, mentransfer dan menggunakan.

Skor yang diperoleh adalah : 11, dan rata-rata pade aspek ini adalah 2,2 hal ini berarti sekolah telah menerapkan sebagian besar dari seluruh strategi untuk membangun penguasaan pengetahuan menuju organisasi belajar.

Dalam hal penyebaran pengetahuan, program penyebaran informasi melalui lintas unit, lintas departemen dan lintas divisi dirasakan guru dan pegawai masih jarang dilakukan. Garvin (2000: 11) menambahkan untuk menjadi organisasi belajar, pengetahuan/informasi selain harus dapat diinterpretasikan, juga harus diserap secara cepat melalui organisasi, yaitu dari individu ke individu, dari departemen ke departemen, dan dari divisi ke divisi.

Aplikasi Teknologi : Sistem Informasi, Pembelajaran Berbasis Teknologi, Sistem Dukungan Kinerja Elektronik.

Skor yang diperoleh pada aspek ini adalah 11 dan berarti rata-rata skor pada aspek ini adalah 2,2. Hal ini mengindikasikan penerapan teknologi pada sekolah ini dikategorikan sudah cukup baik, meskipun hanya beberapa poin diatas level sedang. Ini berarti pada umumnya guru dan pegawai berpendapat bahwa sekolah ini telah menerapkan sebagian besar namun belum sepenuhnya dari semua strategi yang diperlukan untuk memberdayakana teknologi informasi menuju organisasi belajar. Pada aspek pembelajaran berbasis teknologi, sekolah ini baru menerapkan bagian tertentu dari seluruh strategi untuk membangun penciptaan informasi menuju organisasi belajar.

Kesimpulannya bahwa, SMK N 1 Pagar Alam telah mBerdasarkan angket yang telah diisi, diperoleh data bahwa SMK N 1 Pagar Alam pada skor 56. Di mana skor ini berada pada interval 40 – 60 yang artinya : “A good beginning. Your organization has gathered some important building block to become a learning organization”.  Ini mengindikasikan bahwa SMK N 1 Pagar Alam, pada tahap awal sudah bisa dikategorikan sebagai organisasi yang mulai belajar atau dengan kata lain belum bisa disebut sebagai organisasi belajar, namun sudah memiliki pondasi untuk membangun dirinya sebagai organisasi belajar.

Tag Cloud