Berbagi Semerbak Bunga Ilmu

TENTANG BUKU AJAR

Oleh : Khoirawati

A.      Buku Ajar   

1.      Pengertian Buku Ajar

Buku adalah jendela dunia.[1] Melalui buku, seseorang dipersilahkan masuk menatap dan menjelajah dunia yang sangat luas. Buku[2] ajar dipahami sebagai alat pengajaran yang paling banyak digunakan di antara semua alat pengajaran lainnya.[3] Buku ajar memberikan ajaran dalam suatu bidang studi.[4]

Kedua pengertian itu berbeda. Pengertian pertama menekankan fungsinya sebagai alat pengajaran. Kedua memfokuskan kepada isinya.[5] Buku ajar adalah buku yang digunakan dalam proses kegiatan belajar. Buku ajar dikenal pula dengan sebutan buku teks, buku materi, buku paket, atau buku panduan belajar.[6] Menilik isi dan luasnya buku teks sama saja dengan buku ajar.[7] Jadi buku ajar yang dimaksudkan identik dengan buku teks, buku paket, buku materi atau buku panduan belajar.

Buku ajar yang diterbitkan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama (dulu Dinas Pendidikan Nasional dan Departemen Agama) disebarluarkan ke semua sekolah di tanah air sebagai buku pegangan wajib serta tidak diperdagangkan. Jadi, dalam menerangkan apa yang dimaksud dengan buku ajar, penulis mendasarkan diri pada teori-teori yang berhubungan dengan buku teks.

Banyak ahli yang mengemukakan batasan tentang buku ajar (paket, teks) ini. Di antaranya Hall-Quest dalam buku Tarigan[8] mengatakan “buku ajar adalah rekaman pemikiran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan instruksional”. Ahli lain seperti Lange menyatakan “buku teks (ajar) adalah buku standar atau buku setiap cabang khusus studi dan terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok atau utama dan suplemen atau tambahan”.[9] Lebih terperinci lagi Bacon mengemukakan bahwa “buku teks (ajar) buku yang dirancang buat penggunaan di kelas, dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau ahli dalam bidang itu dan dilengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi”.[10]

Buckingham mengutarakan bahwa “buku teks (ajar) adalah sarana belajar yang bisa digunakan di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi untuk menunjang suatu program  pengajaran dan pengertian modern dan yang umum dipahami”.[11] Hal senada juga terdapat dalam Wikipedia, “A textbook or coursebook is a manual of instruction in any branch of study. A textbook can also be any standard book on a subject, which is not necessarily used in a particular course. Textbooks are produced according to the demands of educational institutions”.[12]

Dari berbagai pendapat para ahli di atas, Tarigan menyimpulkan beberapa hal mengenai buku ajar tersebut sebagai berikut .

  1. Buku ajar merupakan buku pelajaran yang ditujukan bagi siswa pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SLTP, SMA/SMK, dan sebagainya).
  2. Buku ajar selalu berkaitan  dengan bidang studi tertentu (Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika, Sejarah, dan sebagainya).
  3. Buku ajar selalu merupakan buku yang standar. Pengertian standar di sini ialah baku, menjadi acuan berkualitas dan biasanya ada tanda pengesahan dari badan wewenang di bawah Dinas Pendidikan Nasional.
  4. Buku ajar ditulis oleh pakar di bidangnya masing-masing.
  5. Buku ajar ditulis untuk tujuan intruksional tertentu.
  6. Buku ajar dilengkapi dengan sarana pengajaran.[13]

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat dikatakan buku ajar merupakan buku yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh pemerintah (Kemendiknas dan Kemenag)) sebagai buku pelajaran dalam bidang studi tertentu, yang merupakan buku standar dan disusun oleh para pakar dalam bidang itu untuk maksud-maksud dan tujuan intruksional dilengkapi dengan sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah-sekolah sehingga menunjang suatu program pengajaran.

Dalam perkembangannya buku ajar tidak lagi diterbitkan oleh pemerintah, melainkan oleh pihak swasta. Dalam kaitan ini, pemerintah hanya diberi wewenang untuk pengadaan buku ajar, bukan untuk penggandaannya. Selanjutnnya pemerintah menetapkan standar tertentu yang harus dipenuhi oleh setiap penerbitan buku yang akan digunakan oleh satuan pendidikan. Dalam hal ini standar tersebut ditetapkan dan dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).[14]

Selain itu, dalam Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008  Pasal 1 menjelaskan bahwa ”Buku teks adalah buku acuan wajib untuk digunakan di satuan pendidikan dasar dan menengah atau perguruan tinggi yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, dan kepribadian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan kepekaan dan kemampuan estetis, peningkatan kemampuan kinestetis dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan”.[15]

Seperti terlihat dari namanya, buku ajar adalah jenis buku yang digunakan dalam aktivitas belajar dan mengajar. Prinsipnya semua buku dapat digunakan untuk bahan kajian pembelajaran. Namun, yang ingin disampaikan adalah pengertian buku ajar terkait dengan cara menyusun, penggunaannya dalam pembelajaran, dan penyebarannya, sehingga buku tersebut termasuk kategori buku ajar.

Buku ajar disusun dengan alur dan logika sesuai dengan rencana pembelajaran. Buku ajar disusun sesuai kebutuhan belajar siswa atau mahasiswa. Buku ajar disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi tertentu.[16]

Penulisan buku ajar harus mengacu kepada kurikulum dan harus tercermin adanya bahan yang tingkat kedalaman dan keluasannya berbeda antara kelas X dengan kelas XI. Bahan di kelas XI relatif lebih luas, lebih dalam dari bahan yang diberikan di kelas X, bukan sebaliknya.[17] Buku ajar disusun sesuai dengan kebutuhan pelajar. Pertama kebutuhan akan pengetahuan, misalnya tentang ilmu alam, kepada siswa SD kebutuhannya hanya sampai tingkatan mengetahui. Tetapi pada tingkat SMA/SMK sudah harus mampu memahami, bahkan mungkin sampai aplikasi. Di tingkat ini dibutuhkan latihan dan pendampingan. Ketiga adalah kebutuhan umpan balik terhadap apa yang disampaikan kepada siswa.

Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata pelajaran yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan.[18]

Untuk menyempurnakan pengertian tentang buku ajar yang dimaksudkan dengan Kepmen No: 36/D/O/2001, Pasal 5, ayat 9 (a); “Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan”. Kata kuncinya adalah buku ajar disusun sesuai dengan mata pelajaran/mata kuliah tertentu, diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan, artinya buku tersebut haruslah ber- ISBN.

2.      Fungsi Buku Ajar

Greene dan Petty, merumuskan beberapa peranan dan kegunaan buku ajar sebagai berikut :

  1. Mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemontrasikan aplikasi dalam bahan pengajaran yang disajikan.
  2. Menyajikan suatu sumber pokok masalah atau subject matter yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa, sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang disarankan di mana keterampilan-keterampilan ekspresional diperoleh pada kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya.
  3. Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional.
  4. Menyajikan (bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya) metode-metode dan sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi siswa.
  5. Menyajikan fiksasi awal yang perlu sekaligus juga sebagai penunjang bagi latihan dan tugas praktis.
  6. Menyajikan bahan atau sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna.[19]

Buku ajar haruslah mempunyai sudut pandang yang jelas, terutama mengenai prinsip-prinsip yang digunakan, pendekatan yang dianut, metode yang digunakan serta teknik-teknik pengajaran yang digunakan. Buku ajar sebagai pengisi bahan haruslah menyajikan sumber bahan yang baik. Susunannya teratur, sistematis, bervariasi, dan kaya akan informasi. Di samping itu harus mempunyai daya tarik kuat karena akan mempengaruhi minat siswa terhadap buku tersebut. Oleh karena itu, buku ajar itu hendaknya menantang, merangsang, dan menunjang aktivitas dan kreativitas siswa.

Tidak kalah pentingnya, buku ajar harus berfungsi sebagai penarik minat dan motivasi[20] peserta didik dan pembacanya.[21] Motivasi pembaca bisa timbul karena bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dipahami. Motivasi bisa timbul karena banyak gagasan dan ide-ide baru. Motivasi bisa timbul, karena buku ajar tersebut mengandung berbagai informasi yang relevan dengan kebutuhan belajar peserta didik dan pembaca. Namun dalam penelitian ini tidak akan dibahas lebih jauh tentang ini tetapi difokuskan kepada kelayakan buku ajarnya saja.

3.      Kualitas Buku Ajar yang Baik

Buku ajar sesungguhnya merupakan media yang sangat penting dan strategis dalam pendidikan. Ia adalah penafsir pertama dan utama dari visi dan misi sebuah pendidikan. Apalagi, menurut Chekley yang dikutip oleh Tim Penilai Buku Ajar Direktorat PAIS buku sebenarnya juga bisa jadi untuk melakukan “jalan pintas” (by pass) dalam peningkatan mutu pendidikan apabila dapat mengeksplorasi lebih dalam topik-topik yang dibahas dalam buku tersebut. Untuk itu diperlukan suatu sinergi bagaimana guru dapat menghasilkan buku yang bukan hanya mencerdaskan, namun juga mencerahkan dan menggugah nalar dan spiritual untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Kita sering menyamakan antara cerdas dengan intelligent, padahal buku yang perlukan bukan hanya melulu untuk membuat orang cerdas. Yang diperlukan saat ini dan ke depan adalah buku yang bukan hanya intelligent textbook, melainkan harus mindful textbook.[22]

Buku yang mindful adalah buku yang memberi banyak perspektif bagi anak untuk berpikir yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Selain itu buku tersebut juga dapat mengaitkan persepsi lingkungan yang dihadapi anak dan mendorong anak mampu mempersepsi solusi yang mungkin penting untuk anak. Untuk agama, hal ini menjadi penting karena situasi ini menjadi a novel situation, situasi yang senantiasa baru. Ini membuat para guru maupun siswa akan senantiasa merasa tercerahkan dengan situasi dan tantangan-tantangan baru yang menggoda nalar untuk selalu memperbaharui cara pandang kita terhadap situasi yang dirasakan atau diamati di lingkungan kita. Dan ini tentunya tidak mudah, sekalipun bukan mustahil. 

Buku ibarat lautan yang seolah tak bertepi. Saat seseorang membaca sebuah buku yang cocok dengan seleranya, ia akan tenggelam ke dalam lautan gagasan, pikiran, dan pengalaman penulisnya.[23] Dalam pengamatan Bahrul Hayat yang dikutip oleh tim penilai buku ajar dalam Pedoman Penilaian Buku Ajar, mengatakan bahwa textbook yang baik adalah textbook yang mindful, yang menggoda otak kita untuk berfikir dengan nalar yang  dinamis.[24] Menurutnya, Ciri-ciri buku yang baik adalah sebagai berikut :

Pertama, textbook harus meaningful. Ketika seorang anak membaca sebuah buku pelajaran, maka anak dipastikan akan dapat menangkap pesan dan makna yang terkandung. Jangan sampai membaca lima halaman buku, namun tidak mendapat sense apa-apa. Sebuah buku yang baik harus mampu menjadikan anak bisa tahu makna dan hasil yang diharapkan.

Kedua, buku yang baik harus mengandung aspek motivational to learn dan motivational to unlearn. Ketika membaca sebuah buku pelajaran, anak akan termotivasi untuk belajar tanpa harus dipaksakan oleh guru. Karena buku adalah medium belajar, maka dia juga harus memuat motivational to unlearn. Ketika sesuatu dipersepsi secara salah, maka buku pelajaran juga harus bicara salah. Buku harus berperan untuk mencopot hal-hal yang salah. Banyak pendapat umum yang beredar selama ini yang salah, dan buku harus mengatakan ini salah. Dengan begitu anak tidak lagi bertanya mana yang benar dan mana yang salah.

Ketiga, buku yang baik harus keep attentive. Buku yang baik adalah buku yang mendorong anak untuk memiliki atensi, perhatian, terhadap apa yang dia pelajari. Ini memang sulit. Tetapi ketika membaca Kho Ping Hoo atau Harry Potter misalnya, orang akan sulit untuk berhenti. Ada apa ? Ada magnet attentive dimana penulis berhasil menanamkan kepada pembaca agar pembaca terus mengikuti apa yang akan disampaikan penulis.

Keempat, buku pelajaran harus bisa self study. Karena peran guru di kelas juga terbatas, maka buku harus bisa membantu atau mengisi kelemahan ini. Kalau buku-buku dikembangkan secara luas dengan self study, maka para siswa akan terbiasa untuk mengembangkan pola belajar yang mandiri.

Kelima, buku yang baik juga harus punya makna untuk menemukan nilai dan etika yang relevan dengan kehidupan kekinian dan moral yang berlaku. Tanpa hal ini, maka anak-anak akan menemukan hal-hal yang kontradiktif dalam dirinya. Kita harus saling melihat seluruh komponen pendidikan itu menyatu dan mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia ini. 

Dengan kondisi tersebut maka diperlukan suatu buku yang memadai pada dunia sekolah kita sehingga setiap sekolah dapat menyiapkan dunia akademiknya dengan mandiri sesuai dengan kebutuhan dan tantangannya. Sebagai salah satu indikator adalah, apabila guru-guru sekolah tersebut dapat menyiapkan bahan pembelajarannya sendiri. Namun demikian, keterlibatan kalangan penerbit dalam menyiapkan buku-buku juga patut didukung, sehingga guru-guru mempunyai bahan yang memadai untuk mereka dalam menyiapkan bahan pembelajaran.

Di antara ahli lain yang menetapkan buku ajar yang baik adalah Greene dan Petty yang dikutip oleh Tarigan. Kedua ahli ini menetapkan 10 (sepuluh) kriteria buku ajar  yang baik. Kriteria itu sebagai berikut :

  1. Buku ajar itu haruslah menarik minat anak-anak, yaitu para siswa yang    memakainya.
  2. Buku ajar itu haruslah memberi motivasi kepada para siswa yang memakainya.
  3. Buku ajar itu haruslah memuat ilustrasi yang menarik hati para siswa yang memanfaatkannya.
  4. Buku ajar seyogyanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya.
  5. Isi buku ajar haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi kalau dapat didukung dengan perencanaan, sehinga semuanya merupakan kebulatan yang utuh dan terpadu.
  6. Buku ajar haruslah dapat menstimulasi, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunakannya.
  7. Buku ajar harus dengan sadar dan tegas menghindari konsep-konsep yang samar-samar dan tidak biasa agar tidak sempat membingungkan para siswa yang menggunakannya.
  8. Buku ajar harus mempunyai sudut pandang atau point of view yang jelas dan tegas sehingga juga pada akhirnya menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia.
  9. Buku ajar harus mampu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa.
  10. Buku ajar harus dapat menghargai pribadi-pribadi para siswa.[25]

Ke sepuluh kriteria di atas harus diupayakan penemuannya oleh penulis buku ajar. Di samping itu, penulisan buku ajar perlu memperhatikan kesesuaiannya dengan standar isi dan mengarah kepada tujuan pendidikan, baik tujuan nasional, institusional, maupun tujuan instruksional.

Menurut Greene dan Petty dalam buku Tarigan terdapat beberapa pedoman penilaian buku ajar, yaitu sebagai berikut :

  1. Sudut pandang (point of view). Buku ajar harus mempunyai landasan, prinsip, dan sudut pandang tertentu yang melandasi atau menjiwai buku ajar secara keseluruhan. Sudut pandang ini dapat berupa teori psikologi, bahasa, dan sebagainya.
  2. Kejelasan konsep. Konsep-konsep yang digunakan dalam buku paket harus jelas. Adanya penafsiran ganda perlu dihindari agar siswa atau pembaca dapat menangkap dan memahami kandungan buku ajar dengan tepat.
  3. Relevan dengan kurikulum. Buku paket digunakan di sekolah-sekolah sebagai sumber bahan pelajaran. Oleh karena itu, buku ajar harus relevan dengan kurikulum yang berlaku.
  4. Menarik Minat. Buku ajar ditulis untuk siswa. Karena itu penulisan buku ajar harus mempertimbangkan minat para siswa pemakai buku tersebut. Semakin sesuai buku ajar itu dengan minat siswa, semakin tinggi daya tarik buku tersebut.
  5. Menumbuhkan Motivasi. Motivasi[26] yang dimaksudkan di sini adalah penciptaan kondisi yang ideal sehingga seseorang ingin, mau, senang mengerjakan sesuatu. Buku ajar yang baik adalah buku ajar yang dapat membuat siswa ingin, mau, senang mengerjakan apa yang diintruksikan dalam buku tersebut.
  6. Menstimulasi aktivitas siswa. Buku ajar yang baik adalah buku ajar yang merangsang, menantang dan mengingatkan aktivitas siswa. Hal ini sesuai dengan konsep CBSA.
  7. Ilustratif. Buku ajar harus disertai dengan ilustrasi yang mengena dan menarik. Ilustrasi yang relevan akan memperjelas hal yang dibicarakan.
  8. Dapat dipahami siswa. Pemahaman harus didahului oleh komunikasi yang tepat. Faktor utama yang berperan adalah bahasa. Bahasa buku ajar hendaknya sesuai dengan bahasa siswa, kalimat efektif, terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan, dan menarik.
  9. Menunjang mata pelajaran lain. Buku ajar PAI misalnya, di samping menunjang mata pelajaran lain seperti Olahraga, Sejarah, Ekonomi, Matematika, Kesenian, Geografi, dan sebagainya.
  10. Menghargai perbedaan individu. Buku ajar yang baik tidak membesar-besarkan perbedaan individu tertentu. Perbedaan dalam kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial, budaya dan setiap individu tidak dipermasalahkan tetapi diterima sebagaimana adanya.
  11. Memantapkan nilai-nilai. Buku ajar yang baik berusaha memantapkan nilai-nilai yang belaku di masyarakat. Uraian-uraian yang menjurus kepada penggoyahan nilai-nilai harus dihindarkan.[27]

Untuk meningkatkan mutu buku, telah ditempuh langkah-langkah konkret mulai dari menyusun kriteria buku pelajaran yang baik. Kriteria itu kemudian disosialisasikan kepada penulis dan penerbit. Menstandarkan bukan berarti menyeragamkan. Di satu pihak, pemerintah memberikan kriteria sebagai pegangan, di pihak lain pemerintah memberikan kebebasan pengembangan buku kepada penulis. Sejalan dengan Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) menjelaskan bahwa ”Buku teks pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dinilai kelayakan-pakainya terlebih dahulu oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebelum digunakan oleh pendidik dan/atau peserta didik sebagai sumber belajar di satuan pendidikan”.[28] Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh buku teks pelajaran yang memiliki kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan pada jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK.

Dengan cara ini mudah-mudahan kita bisa menghasilkan buku pelajaran yang baik. Bahwa mungkin proses standardisasi itu ada kekurangannya akan diperbaiki berdasarkan pengalaman, baik pengalaman si penulis ketika menggunakan kriteria yang terlihat dari buku hasil tulisannya maupun pikiran-pikiran para penyusun standar tersebut yang terus berkembang.

Buku ajar yang baik tentu memuat materi pembelajaran secara lengkap, tersusun baik, dan tidak mengandung hal-hal yang dapat menimbulkan gejolak yang tidak baik pada diri siswa. Dengan buku ajar yang baik, siswa dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan cara yang mudah.

Dalam buku Telaah Kurikulum Bahasa Indonesia, menjelaskan kriteria buku ajar yang dianggap baik paling tidak memenuhi delapan kriteria sebagai berikut :[29]

a.  Organisasi dan Sistematika

Pengertian organisasi mengandung arti susunan (atau cara bersusun) sesuatu yang terdiri atas komponen atau topik dengan tujuan tertentu, sedangkan sistematika mengandung arti kaidah atau aturan dalam buku ajar yang harus diikuti. Sebuah buku ajar berisi berbagai informasi yang disusun sedemikian rupa sehingga buku tersebut dapat digunakan untuk memenuhi tujuan pembuatan buku ajar tersebut.

Buku ajar PAI SMK tentu mempunyai organisasi dan sistematika yang baik. Dalam arti, buku ajar PAI setidaknya memuat pokok-pokok pembelajaran secara berurutan dan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam standar isi PAI.

Organisasi buku ajar sebaiknya memenuhi semua komponen pembelajaran yang dibuat secara terpadu antara pendekatan komunikatif dan kontekstual (CTL).  Keterampilan berbahasa dan bersastra, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis harus diurut sesuai dengan tingkat kesulitan dan keterkaitan antara topik yang satu dengan yang lainnya.

b.  Kesesuaian isi dengan kurikulum,

Maslow, sebagaimana dikutip dari Sudirman dan dikutip lagi oleh Pupuh Fathurrahman berkeyakinan bahwa minat seseorang akan muncul bila suatu itu terkait dengan kebutuhannya. Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu.[30]

Suharsimi Arikunto yang dikutip Pupuh Fathurrohman mengatakan bahwa materi atau bahan pelajaran merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik. Karena itu pula, guru khususnya, atau pengembangan kurikulum umumnya, harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan atau topik yang tertera dalam silabus berkaitan dengan kebutuhan peserta didik di masa depan. Sebab, minat peserta didik akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhannya.[31]

Materi merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajaran yang dikonsumsi oleh peserta didik. Bahan ajar merupakan materi yang terus berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Bahan ajar/materi yang diterima anak didik harus mampu merespon setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu persyaratan materi yang harus dipelajari oleh anak didik menghendaki buku ajar PAI SMK harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pembelajaran. Ketentuan itu tertuang dalam standar isi kurikulum mata pelajaran PAI.

Selain ketentuan di atas, ada juga ketentuan lain yang tidak bisa diabaikan oleh buku ajar, yaitu:

1)      Tujuan pembelajaran

2)      Program pembelajaran

3)      Alokasi waktu, dan

4)      Pendekatan pembelajaran

Tujuan pembelajaran mengarahkan ke mana sebuah pembelajaran. Jika ketentuan ini tidak dipenuhi, maka pengajaran akan berpoli arah tak menentu. Tujuan tidak tercapai atau malah tidak dapat diukur ketercapaianya. Penyebutan pembelajaran itu pada dasarnya menyuratkan adanya tujuan.

Program pembelajaran juga amat penting untuk disajikan dalam buku ajar. Menurut Crow & Crow yang dikutip oleh Sutari Imam Barnadib mengatakan bahwa buku termasuk salah satu dari alat-alat pengajaran atau pembelajaran.[32] Penyusunan program sebenarnya dilakukan agar tujuan  pembelajaran dapat dicapai dengan baik. Tidak adanya program pembelajaran akan bermuara pada tidak tercapainya tujuan pembelajaran.

Demikian pula dengan alokasi waktu, juga sangat menentukan tercapainya tujuan. Tidak efisien dalam mengalokasikan waktu akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Mungkin terlalu cepat selesai sehingga banyak materi yang terlalu cepat dibahas, mungkin juga harus menambah banyak waktu tambahan karena terlalu terlena dengan materi yang disukai guru.

Akhirnya pendekatan pun sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Pendekatan kognitif menjadikan siswa memahami bahan ajar  sebatas pengetahuannya saja, sedangkan pendekatan keterampilan proses lebih melibatkan unsur kreativitas siswa untuk mencari lebih banyak informasi yang terdapat dalam buku ajar itu.

c.  Kesesuaian Pengembangan Materi dengan Tema/Topik

Materi-materi pembelajaran dalam buku ajar dikembangkan oleh penulisnya dengan memperhatikan topik-topik pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum. Tujuan pengembangan materi adalah agar materi-materi pembelajaran mudah dicerna oleh pemakai buku, yaitu siswa.

Supaya pengembangan materi terarah dan memenuhi sasaran penulisan buku, maka pengembangan materi harus didasarkan pada tema/topik. Tema/topik merupakan titik tolak pembelajaran PAI. Tema/topik selanjutnya akan mengarahkan penyusunan tujuan pembelajaran.

Dengan dasar pijak alur penyusunan tersebut, penilaian terhadap buku ajar juga harus diarahkan pada kriteria sesuai tidaknya pengembangan materi dengan tema/topik.

d.  Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif siswa juga perlu dipertimbangan dalam penulisan dan pemilihan buku ajar. Jadi untuk dapat memanfaatkan materi-materi pembelajaran yang menunjang kemampuan siswa, sebaiknya memilih materi yang memiliki tingkat kesulitan sedikit di atas rata-rata pada saat proses pembelajaran. Namun demikian, variasi materi tetap diutamakan untuk menghindari kesulitan menangkap maksud yang ingin disampaikan atau sebaliknya menimbulkan kebosanan pada siswa.

e.  Pemakaian/Penggunaan Bahasa

Bahasa adalah alat komunikasi.[33] Dalam kaitan dengan pemakaian bahasa, buku ajar harus memenuhi kriteria pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dan mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan zaman dimaksud adalah perkembangan penggunaan bahasa Indonesia dalam buku ajar baik sebagai kutipan maupun bahasa tulis (pemakaian bahasa Indonesia saat ini).

Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia dan situasi dan kondisi (konteks) komunikasi. Kriteria bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut : 1) siapa yang mengajarkan, 2) siapa yang menerima ajaran,        3) apa yang diajarkan, 4) kapan diajarkan, 5) di mana diajarkan, dan 6) melalui medium apa diajarkan.

f.  Keserasian Ilustrasi dengan Wacana/Teks Bacaan

Agar buku ajar menarik bagi siswa, buku ajar harus selalu disertai dengan ilustrai atau gambar. Di samping untuk tujuan menarik perhatian, ilustrasi atau gambar di dalam buku ajar juga mempunyai kegunaan lain, yaitu untuk mempermudah pemahaman dan untuk merangsang pembelajaran PAI secara komunikatif.

Supaya kehadiran gambar di dalam buku ajar dapat berfungsi secara optimal, pemilihan dan peletakan gambar harus disesuaikan dengan teks bacaan atau wacana.

Teks bacaan atau wacana harus berkaitan atau sejalan dengan ilustrasi atau gambar yang dicantumkan berkenaan dengan teks bacaan tersebut. Kaitan itu tidak cukup hanya dengan informasi-informasi yang ada di dalam buku suatu teks bacaan melainkan juga dengan gagasan-gagasan utama di dalam teks bacaan itu. Dengan demikian, pemilihan dan pencantuman ilustrasi juga akan dengan sendirinya berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan tema/topik yang telah ditetapkan.

g.  Segi Moral/Akhlak

Moral atau akhlak juga merupakan kriteria penilaian buku ajar. Buku ajar PAI SMK, sebagaimana buku ajar lainnya, harus mempertimbangkan segi moral/akhlak. Hal ini penting karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat memelihara kerukunan umat beragama, yang sangat memperhatikan aspek-aspek moral dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Kalau begitu, faktor-faktor apakah yang berkaitan dengan aspek akhlak yang harus dipertimbangkan dalam penulisan buku ajar atau penilaian isi buku ajar  saat ini yang telah digunakan di sekolah. Faktor-faktor tersebut meliputi pertama, sifat-sifat baik seperti kejujuran, sifat amanah (terpercaya), keberanian, selalu menyampaikan hal-hal yang baik, kesopanan, ketaatan beribadah, persaudaraan, kesetiakawanan, mencintai/mengasihi sesama makhluk, berbakti kepada orang tua, taat kepada pemimpin, dan sebagainya. Kedua, hendaknya dalam buku ajar tidak mencantumkan sesuatu yang dapat membangkitkan sifat-sifat buruk seperti kecurangan, pengecut, ketidaksopanan, keingkaran, kemungkaran, kejahilan, kekerasan, keberingasan, permusuhan, kekejian, kemalasan, sering berbohong, dan sebagainya.

h.  Idiom Tabu Kedaerahan

Kriteria terakhir dalam penilaian buku ajar adalah apakah terdapat idiom tabu kedaerahan? Idiom adalah bahasa dan dialek yang khas menandai suatu bangsa/daerah, suku, kelompok, dan lain-lain, sedangkan tabu adalah sesuatu yang terlarang atau dianggap suci, tidak boleh diraba dan sebagai (pantangan atau larangan). Idiom tabu adalah suatu bahasa atau dialek yang khas dimiliki oleh suatu daerah dan dianggap suci/baik serta tidak boleh dipermainkan.

Buku ajar PAI sebagai media dalam proses belajar mengajar, sedapat mungkin terhindar dari idiom-idiom tabu kedaerahan. Suatu idiom dinyatakan tabu oleh suatu kebudayaan biasanya karena kebudayaan atau masyarakat yang memiliki kebudayaan itu mempunyai pengalaman yang tidak baik, sakral atau dapat menyinggung perasaan orang lain. Bisa jadi juga kebudayaan atau suatu masyarakat itu memiliki sistem nilai yang menolak idiom-idiom tersebut. Oleh karena itu, pencantuman idiom-idiom tabu dapat menyebabkan siswa menjadi terbiasa dengan idiom-idiom itu. Berhati-hatilah dengan pemakaian bahasa yang mengarah ke sana.

Akibat sesaat yang ditimbulkan oleh penyebutan idiom-idiom tabu kedaerahan adalah rasa risih, jijik, atau kesan tidak sopan. Akibat yang lebih jauh dari penyebutan idiom-idiom tabu kedaerahan yang berkali-kali adalah rusaknya sistem nilai yang dianut oleh masyarakat atau kebudayaan. Paling tidak penyebutan itu dapat mempengaruhi perkembangan psikhis siswa secara negatif.

Selain itu, unsur-unsur yang harus dihindari adalah instabilitas nasional termasuk unsur-unsur SARA. Perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masing-masing suku, agama, ras, dan antargolongan seharusnya tidak dipertajam. Lebih baik apabila menghindari atau menjauhinya.

Sedangkan Syamsul Arifin dan Adi Kusrianto memberikan tolok ukur buku ajar yang baik sebagai berikut : 1) Format buku sesuai dengan format ketentuan UNESCO, yaitu ukuran kertas A4 (21 x 29,7 cm), 2) Memiliki ISBN (International Standard Book Number)[34], 3) Dengan gaya bahasa semi formal, 4) Struktur kalimat minimal SPOK, 5) Mencantumkan TIU, 6) TIK dan kompetensi, 7) Disusun sesuai dengan Rencana Pembelajaran, 8) Menyertakan pendapat atau mengutip hasil penelitian pakar, 9) Menggunakan catatan kaki/catatan akhir/daftar pustaka dan jika mungkin menyertakan indek, 10) Mengakomodasi hal-hal/ ide-ide baru, 11) Diterbitkan oleh penerbit yang kredibel, dan 12) Tidak menyimpang dari falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Setiap halaman buku hendaknya mengacu pada hal-hal berikut; setiap alinea berisi satu pokok pikiran, menggunakan alinea yang pendek, menggunakan kalimat-kalimat pendek, agar mudah diingat (10-14 kata per kalimat), setiap halaman dibuat menarik dan mudah diingat secara verbal maupum visual (mengindahkan kaidah penggunaan tipografi dan tata letak yang baik), setiap halaman berisi teks, grafik/diagram, tabel, gambar (berupa foto maupun ilustrasi), inset pengingat, inset history, dan menuliskan kalimat motivasi dan inspirasi.


[1] R Masri Sareb Putra dan Yennie Hardiwidjaya, How to Write and Market a Novel : Panduan Bagi Novelis, Pendidik, dan Industri Penerbitan, (Bandung : Kolbu, 2007), hlm. 82.

[2] Buku diartikan sebagai “beberapa helai kertas yang terjilid berisi tulisan untuk dibaca atau halaman-halaman kosong untuk ditulisi”. A Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah : Proses Kreatif Menulis dan Menerbitkan Buku Sekolah dan Perguruan Tinggi, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2008), hlm. 93. Lihat juga KBBI, 1984 : 161. Pengertian buku yang dimaksudkan bukan buku cetakan, melainkan buku bacaan yang diterbitkan oleh penerbit. Buku yang diterbitkan itu terdaftar secara resmi di Perpustakaan Nasional dengan memiliki nomor seri yang disebut International Series Book Number (ISBN). Buku yang ditulis tidak cukup sekeda terbit, kemudian diedarkan, lalu dijual. Yang terpenting dari kehadiran buku di tengah pembacanya adalah buku itu harus bergizi, tidak kering. Buku yang bergizi harus mampu menggerakkan pikiran pembacanya. Hernowo, Mengikat Makna, (Bandung : Kaifa, 2001), hlm. 88.

[3] Nasution S., Metode Research, (Bandung : Jemmars, 1982), hlm. 119.

[4] Wilardjo L., Buku Teks di Bidang Ilmu dan Teknologi: dalam Kritis, (No. 3 th. III, Januari 1989), hlm. 34.

[5] Berdasarkan isinya, buku diklasifikasikan menjadi dua, yaitu buku fiksi dan buku nonfiksi. Berdasarkan peruntukan-nya, buku diklasifikasikan menjadi buku umum dan buku sekolah. Berdasarkan tujuannya, buku diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu buku ajar dan buku pengayaan.

[6] Johan Wahyudi, Menulis untuk Masa Depan, Sunday 22 March 2009 (05:52).

[7] R Masri Sareb Putra,How to Write Your Own Text Book Cara Cepat dan Asyik Membuat Buku Ajar yang Powerful, (Bandung : Kolbu, 2007), hlm.11.

[8] Tarigan, Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, (Bandung : Angkasa, 1986), hlm. 11.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Taylor Barbara, Reading Difficulties, (New York : Random House, 1988), hlm. 1523.

[13] Tarigan, Loc. Cit.

[14] Selengkapnya lihat  PP Nomor  19 tahun 2005 pasal 43.

[15] Lihat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 1 (3) tentang Buku.

[16] Ibid. Karena buku ajar disusun berdasarkan rencana pembelajaran, biasanya dimulai dengan menetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran (learning objective), kemudian membuat diagram alir yang dikenal dengan sebutan analisis pembelajaran (instructional analysis), dilanjutkan dengan membuat rencana pembelajaran, dan kemudian menyusun buku ajar.

[17]Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru Algesindo, 1995), hlm. 6.

[18] Syamsul Arifin dan Adi Kusrianto, op. cit., hlm. 58.

[19] Greene dan Petty, Developing Language Skill in The Elementary Schools, (Boston : Alyn and Bacon Inc., 1981), hlm. 540-2.

[20] “Motivasi merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menuntun Anda menggapai sukses. Orang yang tak memiliki motivasi belajar dalam dirinya, maka hadirnya guru profesional (sebagai motivator dari luar) sangat diperlukan.” (M. Sobri Sutikno). Istilah motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan sebagai sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi kesiapsiagaan. Adapun menurut Mc. Donald (dalam Sardiman, 1986), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Motivasi ada dua, yaitu (1) motivasi Intrinsik dan (2) motivasi ekstrinsik, yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain. Motivasi ini sering disebut “motivasi murni”, atau motivasi yang sebenarnya, yang timbul dari dalam diri siswa, misalnya keinginan untuk mendapatkan keterampilan tertentu, mengembangkan sikap untuk berhasil, dan sebagainya. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu. Ini diperlukan di sekolah sebab pembelajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat, atau sesuai dengan kebutuhan siswa. Kalau keadaan seperti ini, maka siswa yang bersangkutan perlu dimotivasi agar belajar, dan guru harus berusaha membangkitkan motivasi belajar siswa sesuai dengan keadaan siswa itu sendiri. Sobri Sutikno M., Belajar dan Pembelajaran Upaya Kreatif dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil, (Bandung : Prospect, 2009), hlm. 71-73.

[21] Syamsul Arifin dan Adi Kusrianto, Loc.  cit.

[22] Tim Penilai Buku Ajar, Pedoman Penilaian Buku Ajar, (Jakarta : Departemen Agama Direktorat PAIS).

 

[23] Bambang Trim, Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku, (Bandung : Kolbu, 2006), hlm. xiv.

[24] Tim Penilai Buku Ajar, op. cit.

[25] Tarigan, Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, (Bandung : Angkasa 1993), hlm. 20. Lihat juga Greene and Petty, Developing Language Skills in The Elementary Schools, (Boston : Allyn and Bacon, Inc.), hlm. 545-8.

[26] Motivasi berarti pemberian atau penimbulan motif atau hal yang menjadi motif. Tegasnya, motivasi adalah motif atau hal yang sudah menjadi aktif pada saat tertentu, teritama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan terasa sangat mendesak. Abd. Rachman Abror, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm. 114. Atkitson, (et al) mengatakan “Motivation refers to the factors that energize and direct behavior” (Motivasi mengacu kepada faktor-faktor yang menggerakkan dan mengarahkan tingkah laku). Atkinson, Rita L., (et al.), Introduction to Psychology, (New York : Harcourt Brace Jovanovich, Inc., 1983), hlm. 314. Motivasi (motivation) adalah keseluruhan dorongan, keinginan, kebutuhan, dan daya yang sejenis yang mengarahkan perilaku. Harold Koontz O. Donnel dan Heinz Weihrich, Management, (McGraw Hill : Kogaguska, 1980), hlm. 115. Motivasi juga diartikan suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulka faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju satu sasaran. James P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono, judul asli “Dictionary of Psychology”, (Jakarta : Rajawali, 1999), hlm. 310. Dalam diri seseorang, motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan, usaha, keinginan, menentukan arah, dan menyeleksi tingkah laku. Richard M. Hodgetts dan Donal F. Kurako, Management, (Sandiego : Harcourt Brace Pub., 1988), hlm. 284. Kemampuan adalah tenaga, kapasitas atau kesanggupan untuk melakukan suatu perbuatan yang dihasilkan dari bawaan sejak lahir atau merupakan hasil dari pengalaman. Usaha adalah penyelesaian suatu tugas untuk mencapai keinginan. Sedang keinginan adalah satu harapan, kemauan, atau dorongan untuk mencapai sesuatu atau untuk membebaskan diri dari suatu perangsang yang tidak menyenangkan. Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 243.

[27] Ibid., hlm. 23.

[28] Lihat Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) tentang Buku.

[29] Telaah Kurikulum Bahasa Indonesia, hlm. 143-150.

[30] Pupuh Fathurrohman & M Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar : Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, (Bandung : Refika Aditama, 2009), hlm. 14.

[31] Ibid.

[32] Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta : Andi Offset, 1993), hlm. 95.

[33] Jabrohim, Chairul Anwar, dan Suminto A. Sayuti, Cara Menulis Kreatif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 3.

[34] ISBN sebenarnya lebih berhubungan pada proses pemesanan sebuah buku pada penerbit. Setiap buku yang diterbitkan pasti mempunyai ISBN yang berbeda. Oleh karena itu jika seseorang pembaca ingin memesan suatu buku, ia cukup menyebutkan judul buku dan ISBN-nya. Jika penyebutan ISBN-nya tepat, pasti pembaca akan mendpatkan buku sesuai dengan pesanannya dan tidak akan tertukar dengan judul buku lain atau tertukar dengan buku yang mempunyai judul sama, tetapi dijilid dengan sampul berbeda. Kadang-kadang, di belakang ISBN terdapat kode hb dan pb. Kode hb adalah kde untuk buku bersampul tebal (hb = hardback/hardcover), sedangkan kode pb adalah kode untuk buku yang bersampul tipis (pb = paperback/softcover). ISBN juga merupakan sarana promosi buku. Informasi ISBN ini disebarluaskan oleh Badan Nasional yang berada di Jakarta dan Badan Internasional yang berlokasi di Berlin. Badan Nasional ISBN menyebarkan informasi ISBN melalui berbagai terbitan, Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan majalah berita ISBN. ISBN terdiri atas 10 digit, di mana 1 sampai 3 digit pertama adalah group identity, 2 hingga 7 digit kedua disebut publisher identity, 1 hingga 6 digit adalah title identity (nomor urut buku), dan satu digit terakhir adalah check digit (nomor pemeriksa). Check digit selalu satu angka, jika angkanya lebih dari satu, ditulis dengan huruf romawi, misalnya X untuk 10. Contoh kode ISBN : ISBN 979-20-7304-3 atau 1-85172-034-0.

Comments on: "TENTANG BUKU AJAR" (2)

  1. Roy Irvany said:

    The Best Matery. I like Your Opinion. Nexs forever…=)* Thank’s,smga Alloh memuliakan dan membarokahi ilmumu, krna telah sudi berbagi dan terus berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: