Berbagi Semerbak Bunga Ilmu

Critical Review sebuah artikel berjudul  Leading The Learning Organization                                                                                                 oleh Sapna Rijal,  Purbanchal University, Penerbit Business Education & Accreditation, Volume 1, Number 1, Tahun 2009.

PENDAHULUAN

Artikel yang akan dianalisis ini berjudul Leading The Learning Organization yang ditulis oleh Sapna Rizal di Purbanchal University, yang diterbitkan oleh Business Education & Accreditation, Volume 1, Number 1, Tahun 2009. Diawali dengan abstrak yang menjelaskan tentang garis besar dari isi artikel, di antaranya berisi tentang, bagaimana peran kepemimpinan transformasional dalam mempengaruhi pengembangan organisasi belajar. Menggunakan kata kunci learning, learning organization, dan tranformational leader.

Di awal artikel, Sapna Rijal menegaskan bahwa tujuan tulisan ini adalah untuk memahami peran kepemimpinan transformasional dalam pengembangan organisasi belajar. Artikel ini mengidentifikasi kepemimpinan sebagai salah satu faktor yang paling penting, di antara banyak faktor, yang mempengaruhi perkembangan pembelajaran organisasi (Senge, 1990; Johnson, 1998; Prewitt, 2003; Sadler, 2003). Para sarjana ini menunjukkan bahwa pembelajaran organisasi panggilan untuk jenis kepemimpinan yang berbeda dibandingkan dengan peran kepemimpinan tradisional. Transisi menuju organisasi pembelajaran melibatkan perubahan dalam sistem yang kompleks. Transformasi sistem yang kompleks adalah sulit tanpa seorang pemimpin yang mengerti kebutuhan situasi, orang dan tujuan dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai transisi. Para sarjana ini lebih lanjut menunjukkan bahwa penciptaan visi kolektif masa depan, memberdayakan dan mengembangkan karyawan sehingga mereka lebih mampu untuk menangani tantangan lingkungan, pemodelan perilaku belajar dan menciptakan lingkungan belajar, merupakan keterampilan penting bagi para pemimpin organisasi pembelajaran.

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kepemimpinan mempengaruhi perkembangan organisasi belajar. Jenis kepemimpinan yang ditinjau adalah “kepemimpinan transformasional”. Kepemimpinan transformasional telah menjadi subyek penelitian luas dalam dekade terakhir dan para pemimpin membawa perubahan dalam pengikut dan organisasi melalui ide-ide inovatif atau revolusioner dan visi dari kemungkinan masa depan (Bass, 1985). Namun, meskipun potensi pemimpin transformasional secara positif mempengaruhi perkembangan organisasi belajar. Mengingat kurangnya penelitian ke arah ini, maka Sapna Rijal dalam artikel ini berusaha untuk memahami peran kepemimpinan transformasional dalam pengembangan organisasi belajar.

Artikel yang ditulis oleh Sapna Rijal ini  disusun sebagai berikut. Bagian pertama berisi gambaran singkat mengenai literatur tentang organisasi belajar. Bagian kedua memberikan tinjauan terhadap teori-teori kepemimpinan dengan fokus pada kepemimpinan transformasional. Bagian ketiga kepemimpinan transformasional telah berdampak pada hasil bawahan dan berbagai organisasi. Bagian terakhir menyediakan dukungan untuk pengaruh kepemimpinan transformasional pada pengembangan organisasi belajar.

ANALISIS

Artikel ini juga mengkritik beberapa tulisan tentang  studi tentang pembelajaran organisasi, meskipun luas, tidak menawarkan saran untuk manajer senior tentang cara mengubah organisasi mereka menjadi organisasi belajar. Studi tentang kepemimpinan juga tidak menentukan peran pemimpin dalam organisasi pembelajaran. Artikel ditegaskan oleh penulis berupaya untuk memahami peran kepemimpinan yang tepat untuk organisasi belajar.

Sapna Rijal menjelaskan bahwa organisasi belajar memiliki struktur dan sistem dan dirancang dengan cara yang membantu untuk mengantisipasi dan bereaksi terhadap perubahan tersebut bahwa orang-orang dan organisasi dapat meningkatkan kinerja mereka dan bertahan di lingkungan yang bergejolak. Organisasi belajar adalah salah satu yang memiliki potensi untuk mengubah diri dengan; memanfaatkan belajar individu dan kolektif dari anggota organisasi, memberdayakan masyarakat baik di dalam maupun di luar organisasi, pengetahuan mengelola secara efektif , memanfaatkan teknologi efisien; sehingga untuk lebih beradaptasi dan berhasil dalam lingkungan yang berubah. Definisi ini mirip dengan definisi Marquardt. Transformasi merupakan komponen kunci dalam mendefinisikan suatu organisasi yang harus belajar dan harus terus berubah.

Definisi kepemimpinan yang dikemukakan dalam tulisan ini tidak banyak, antara lain yang definisi kepemimpinan menurut Burns (1978) dan Yukl (2002). Jadi tidak mendapatkan definisi secara luas. Kepemimpinan dalam arti luas, tidak hanya melibatkan beberapa komponen kecil dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan. Robbins mengartikan kepemimpinan suatu kemampuan mempengaruhi sekelompok orang untuk mencapai tujuan[1]. Definisi ini mengungkapkan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan atau kecakapan untuk mempengaruhi orang lain. Untuk mendapatkan pengaruh yang signifikan dalam sebuah organisasi, Warren Bennis menjelaskan bahwa faktor integritas merupakan hal yang sangat penting.[2]

Ralf M. Stogdil mendefinisikan “kepemimpinan manajerial sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas dari anggota kelompok”.[3]  Hal ini menunjukkan terdapat  tiga implikasi yang penting dari kepemimpinan, pertama kepemimpinan harus melibatkan orang lain, bawahan, atau pengikut; kedua kepemimpinan adalah kemampuan mengarahkan orang lain untuk dapat bekerja sesuai tujuan yang dikehendaki pemimpin. ketiga selain secara sah dapat mengarahkan bawahan atau pengikut,  pemimpin juga mempunyai tugas untuk mendelegasikan wewenang yang dimilikinya.

John Adair juga menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain.[4] Robert W. Terry memaknai kepemimpinan dengan, interaksi anggota kelompok. Pemimpin adalah orang yang membawa  perubahan, orang yang bekerja untuk orang lain melebihi orang lain bekerja untuk mereka)[5]. Dalam pandangan Burt Nanus dan Stephen M. Dobbs bahwa “a leader is a person who marshals the people, capital, and intellectual resources of the organization to move it in the right direction[6] Bila memperhatikan definisi tersebut, maka seorang pemimpin mereka yang mampu bertindak sebagai komandan, mereka yang mempunyai kemampuan finansial yang cukup serta mempunyai integritas mendorong sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, pengaruh seorang pemimpin dapat tumbuh ketika ia mempunyai kekuatan memaksa, kemampuan materi serta kemampuan mendayagunakan organisasi.

Gary Yukl mengemukakan bahwa kepemimpinan merupakan proses pemimpin mempengaruhi pengikut untuk menginterprestasikan keadaan, pemilihan tujuan organisasi, pengorganisasian kerja, motivasi pengikut untuk mencapai tujuan organisasi, mempertahankan kerjasama dan tim kerja, mengorganisir dukungan dan kerjasama dengan orang dari luar organisasi.[7] Bila pendapat ini dianalisis lebih jauh, maka apapun yang dilakukan, apakah itu fokus pada tujuan, pengorganisasian kerja, motivasi, mengorganisasi, pada hakekatnya cuma satu yaitu mempertahankan kerjasama untuk mencapai tujuan.

Berdasarkan kajian beberapa teori yang dikemukakan di atas, maka yang dimaksud dengan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan mengerahkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama dengan indikator kemampuan mempengaruhi, berkomunikasi, mengambil keputusan, pencapaian tujuan dan memberikan motivasi. Pemimpin transformasional memiliki peran yang sangat kuat dalam mempengaruhi pengembangan organisasi belajar.

Dalam artikel ini Sapna Rijal memaparkan beberapa definisi tentang kepemimpinan transformasional antara lain menurut Burns (1978), Bennis dan Nanus (1985),  Bass (1985), Dvir et. Al (2002), dan Tichy dan Devanna (1990).

Sedangkan menurut Leithwood (1999) transformational leadership is seen to be sensitive to organization building developing shared vision, distributing leadership and building school culture necessary to current restructuring efforts in school. Gaya kepemimpinan semacam ini akan mampu membawa kesadaran para pengikut (followers) dengan memunculkan ide-ide produktif, hubungan yang bersinergi, kebertanggungjawaban, kepedulian edukasi, dan cita-cita bersama. Menurut Bennis dan Nanus yang dikutip Cunningham, kepemimpinan transformasional adalah proses untuk mencukur dan meningkatkan tujuan dan kemampuan sehingga mencapai perbaikan yang signifikan melalui kepentingan bersama dan tindakan kolektif.[8]

Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mempunyai dimensi, kharismatik, stimulus intelektual, konsiderasi individual, sumber inspirasi serta idealisme. Kepemimpinan transformasional menekankan terbentuknya rasa memiliki bagi setiap individu sebagai bagian dari kelompok. Oleh karena itu kepemimpinan transformasional diproposisikan berpengaruh positif terhadap komitmen bawahan pada organisasi sehingga dalam perjalanannya organisasi belajar dapat berkembang secara kompetitif.

Pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki visi ke depan dan mampu mengidentifikasi perubahan lingkungan serta mampu mentransformasi perubahan tersebut ke dalam organisasi, memelopori perubahan dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada individu-individu karyawan untuk kreatif dan inovatif, serta membangun team work yang solid, membawa pembaharuan dalam etos kerja kinerja manajemen, berani dan bertanggung jawab memimpin dan mengendalikan organisasi. Esensinya kepemimpinan transformasional adalah sharing of power dengan melibatkan bawahan secara bersama-sama untuk melakukan perubahan.

Pemimpin transformasional sesungguhnya merupakan agen perubahan, karena memang erat kaitannya dengan transformasi yang terjadi dalam suatu organisasi. Fungsi utamanya adalah berperan sebagai katalis perubahan, bukannya sebagai pengontrol perubahan. Seorang pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas, memiliki gambaran holistis tentang bagaimana organisasi di masa depan ketika semua tujuan atau sasaran telah tercapai (Peter Senge, 1992).

Dalam kesimpulan, artikel ini menyimpulkan bahwa peran penting kepemimpinan transformasional memainkan dalam pengembangan organisasi belajar. Berangkat dari organisasi tradisional yang bergantung pada aturan dan peraturan untuk organisasi yang mendorong karyawan untuk berpikir di luar kotak membutuhkan kepemimpinan visioner, yang membawa keluar yang terbaik dalam individu-individu. Sebuah organisasi belajar memerlukan pemimpin yang dapat membantu mengatasi perubahan lingkungan serta memotivasi para pengikut untuk bekerjasama menuju pencapaian kolektif serta tujuan individu. Pemimpin transformasional percaya bawahan mereka dan memberikan mereka kebebasan untuk bernafas dan tumbuh. Oleh karena itu, ini adalah bentuk yang lebih konstruktif perkembangan dan kepemimpinan bagi karyawan individu dan organisasi secara keseluruhan.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Cuningham bahwa pemimpin yang sukses mengeluarkan upaya yang luar biasa untuk mencapai tujuan melalui:

  1. Vision. Tahu hasil yang diinginkan dan metode pencapaian melalui banyak pengembangan gagasan dan penciptaan visi.
  2. Communication. Mengekspresikan ide-ide Anda melalui berbagai bentuk presentasi, termasuk tindakan simbolis dan makna bersama.
  3. Trust. Yang diprediksi, akuntabel, gigih, dan dapat diandalkan dan memiliki integritas.
  4. Deployment. Mengetahui dan memelihara kekuatan, kompensasi untuk kelemahan, evaluasi dalam kaitannya dengan persyaratan pekerjaan, dan berfokus pada tujuan positif tidak masalah.[9]

Dengan upaya ini pemimpin transformasional memastikan keberadaan penetapan tujuan secara kolaboratif, berbagi kekuasaan dan tanggung jawab, pertumbuhan profesional lanjutan, dapat menyelesaikan berbagai perbedaan, bekerja sama dengan tim, banyak keterlibatan dalam kegiatan baru, timbul berbagai perspektif, asumsi divalidasi, refleksi berkala, kemajuan-kemajuan dapat dipantau dengan baik, dan intervensi terhadap berbagai macam progres/kemajuan. Dengan demikian peran pemimpin transformasional benar-benar dapat mempengaruhi perkembangan organisasi belajar yang dapat meningkatkan tujuan dan kemmapuan sehingga perbaikan dalam organisasi belajar dapat terjadi secara signifikan melalui kepentingan dan tindakan bersama secara kolektif.

Dalam artikel ini juga Sapna Rijal menjelaskan beberapa peran kepemimpinan menurut Senge dan Marquardt. Senge mengidentifikasi peran kepemimpinan tiga yang penting untuk membangun suatu organisasi belajar. Pemimpin sebagai  desainer, yang merancang arsitektur sosial, di mana orang lain beroperasi, membangun visi bersama dan menumbuhkan lingkungan belajar di mana bisa berkembang. Pemimpin sebagai guru, yang mengartikulasikan konsep dan realitas sehingga pengikut tampil di tingkat yang lebih tinggi kinerja. Para pemimpin sebagai pelayan yang mengembangkan rasa tujuan dan memberi contoh kepada para pengikut.

Demikian pula, Marquardt (1996) telah mengidentifikasi peran kepemimpinan enam dalam organisasi belajar. Seperti peran Senge tentang “guru, ia menganggap peran instruktur, pelatih dan mentor, sebagai aspek yang paling penting dari kepemimpinan dalam belajar organisasi.

Marquardt (1996) selanjutnya mengidentifikasi peran pemimpin sebagai manajer pengetahuan. Sebagai co-learners dan model untuk belajar, ia menganggap pemimpin harus menjadi pembelajar sendiri. Sebagai desainer dan arsitek, mereka bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar. Dalam peran sebagai koordinator, membawa para pemimpin yang terbaik dalam pengikut dan memotivasi mereka untuk melakukan yang terbaik mereka.

Dalam bagian ini Sapna Rijal kurang memasukkan satu lagi yang terakhir, yaitu pemimpin sebagai advocate for learning processes and projects. Yaitu advokat untuk belajar proses dan proyek. Pembelajaran organisasi yang kuat memerlukan lebih dari satu advokat, atau sang juara, jika ingin berhasil. Hal ini terutama berlaku pembelajaran yang akan menyebabkan perubahan dalam menghargai nilai dasar atau pendekatan jangka panjang. Semakin besar jumlah pendukung untuk ide pembelajaran baru atau program, kemampuan pembelajaran organisasi lebih cepat dan ekstensif akan terjadi.[10]

KESIMPULAN

Tulisan Sapna Rijal yang mengangkat masalah peran kepemimpinan transformasional dengan judul Leading The Learning Organization merupakan pemikiran yang dapat dipandang sebagai kontribusi positif dalam membangun sebuah kerangka kerja konseptual pada learning organization, terutama peran kepemimpinan transformasional dalam mengembangkan individu dan organisasi belajar dengan berbagai komponen yang ada di dalamnya. Yaitu pemimpin sebagai instruktur, pelatih dan mentor, pemimpin sebagai manajer pengetahuan, pemimpin sebagai co-learners dan model untuk belajar, pemimpin sebagai arsitek dan desainer, pemimpin sebagai koordinator, dan pemimpin sebagai advokat untuk belajar proses dan proyek.

Selain mengemukakan beberapa pokok pikiran yang dapat dijadikan kajian dalam penelitian ilmiah untuk sebuah learning organization, referensi literatur yang dimuat dalam tulisan ini merupakan referensi yang memang sesuai dengan pembahasan tentang kepemimpinan dalam organisasi belajar.

Sumber Bacaan

Adair,  John. (2003), Not Bosses But Leaders, London: Great Britain Clesys ltd.

Marquardt, MJ., (1996), Building the Learning Organization, New York: McGraw-Hill.

Nanus, Burt and Stephen M. Dobbs, (1999), Leaders Who Make a Difference,  Joosey-Boss Publisher.

Robbins, Stephans P., (2003), Organization Behavior, New Jersey: Pearson Education, inc.

Senge, Peter  (2000), Schools that Learn: A Fifth Disciplines Fieldbook for Educators, Parents and Everyone Who Cares About Education, New York: Doubleday.

Shelton, K (ed) (1997), A New Paradigm of Leadership: Vision of Exellence for 21st Century Organizations, Provo: Executive Exellence Publishing.

Stogdil,  Ralf M. (1974), Hand Book of Leadership, A Survey of Theory and Research.

Terry, Robert W. (1993), Authentic Leadership Courage in Action, Sab Fransisco, Josse-Boss Publisher.

Yukl, Gary. (2002), Leadership in Organization, Fifth Editation, New Jersey: Upper Saddle Rives.


[1]Stephans P. Robbins, Organization Behavior, (New Jersey: Pearson Education, inc, 2003), h. 314.

[2]Shelton, K (ed), A New Paradigm of Leadership: Vision of Exellence for 21 st Century Organization.  (Provo: Executive Exellence Publishing, 1997), h. 19.

[3]Ralf M. Stogdil (1974), Hand Book of Leadership, A Survey of Theory and Research, h. 7, dikutip langsung atau tidak langsung oleh Yayat Hayati Jatmiko, Prilaku Organisasi (Bandung: Alfabeta, 2005), h. 47.

[4]John Adair, Not Bosses But Leaders, (London: Great Britain Clesys ltd., 2003), h. 7.

[5]Robert W. Terry, Authentic Leadership Courage in Action, (San Fransisco: Josse-Boss Publisher, 1993), h. 11.

[6]Burt Nanus & Stephen, M. D, Leaders Who Make A Difference: Essential Strategies for Meeting the Nonprofit Challenge, (San Fransisco: Jossey-Bass, 1999), h. 6.

[7]Gary Yukl, Leadership in Organization. Fifth Editation, (New Jersey: Upper Saddle Rives, 2002), h. 5.

[8] Cunningham, WG. & Cordeiro, PA.,  Educational Leadership: A Problem Based Approach, (Boston, MA: Allyn & Bacon, 2003), h. 167.

[9] Ibid.

[10] Marquardt, MJ.,  Building the Learning Organization, (New York: McGraw-Hill, 1996), h. 115.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: