Berbagi Semerbak Bunga Ilmu

SEEING THE SYSTEM (MEMAHAMI SISTEM)                                                                                                                                                     (Thomas L. Friedman, National Book Award-Winning Author of From Beirut to Jerusalem, Understanding Globalizations :  The Lexus and The Olive Tree, New York : Straus and Giroux, LLC., 1999)

  1. A.      PENDAHULUAN

Dalam dekade terakhir wacana globalisasi terus menggelinding. Wacana ini, semakin diperkaya oleh praktik-praktik hubungan antar negara-bangsa, serta diperkaya pula oleh bagaimana sistem ekonomi dunia menggeliat, menuju apa yang disebut sebagai “free trade system”. Globalisasi, sebagaimana civil society, merupakan istilah yang hadir dan segera popular pasca perang dingin.

Globalisasi bukanlah merupakan gejala yang alami seperti angin topan, badai ataupun hujan. Globalisasi adalah gejala yang merupakan hasil pemikiran dan praktek dari manusia, seberapapun kompleks proses yang membentuknya. Dalam arti ruang, globalisasi mengacu pada kenyataan bahwa dunia semakin mengecil (the shringkening world) dan merupakan suatu ruang yang tunggal (single space atau juga disebut a planetary unit) dengan kenyataan ini mau tidak mau memaksa para perencana strategi untuk berfikir dalam kerangka global. Dalam arti kesadaran, manusia sekarang ini makin sadar bahwa setiap kejadian yang terjadi dipenghujung bumi utara dapat berimplikasi terhadap belahan bumi selatan.

Thomas L. Friedman memformulasikan pemikirannya tentang globalisasi dengan membagi globalisasi ke dalam tiga tahap atau fase. Tahap pertama, globalisasi 1.0, diawali dan disimbolkan oleh Columbus tahun 1492 saat mulai melangsungkan upaya pelayaran untuk menemukan belahan bumi lainnya. Era ini mengantarkan dunia pada dunia baru, opening trade between the old world and the new world, tulis Friedman. Era ini berlangsung sampai kurun waktu tahun 1800-an, abad ke- 18. Kekuatan pemicu perubahan era ini masih relative sederhana, diilustrasikan oleh Friedman sebagai situasi yang masih bertumpu pada seberapa besarnya kekuatan muscle (otot, tenaga manusia), kekuatan kuda (horsepower), kekuatan angin (windpower), sampai akhirnya oleh kekuatan mesin-mesin yang digerakkan oleh tebaga uap (steam power).

Globalization 2.0, berlangsung kurun waktu tahun 1800-an sampai tahun 2000. Era menyempitnya dunia dari ukuran medium (medium size) menjadi ukuran yang kecil (small size), ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional kelas dunia yang berkiprah diera pasar bebas dan ditandai dengan munculnya kekuatan tenaga kerja. Era ini ditandai pertamakali oleh ekspansi perusahaan-perusahaan Belanda dan Inggris dan terjadinya revolusi industry sejalan dengan ditemukannya mesin-mesin.

Globalization 3.0, abad ke-20 dan setelahnya, era ini semakin menyempitnya ukuran dunia dari ukuran yang kecil (small size) menjadi ukuran yang sangat kecil (tiny size). Bertumpu pada kekuatan individu untuk mampu membangun kolaborasi dan kompetisi pada era global ini. Teknologi software (perangkat lunak) menjadi pemicunya. Pertanyaan pada era ini bagaimana memberdayakan individu? “Kalau globalisasi 1.0 dan 2.0 sepertinya milik bangsa Eropa dan Amerika, maka globalisasi 3.0 milik semua orang, milik semua bangsa, semua Negara, milik siapa pun tanpa mengenal diskriminasi, bukan milik Barat ataupun orang-orang kulit putih.

Globalisasi telah membuat dunia kecil, semakin tipis, semakin dekat, adalah juga lahirnya berbagai kesepakatan dalam aktivitas perdagangan dan ekonomi global yang didorong oleh lahirnya IMF, The G8, The World Bank, WTO, dan sebagainya. Ke depan, kata Friedman, globalisasi akan semakin dahsyat.

  1. B.       PEMBAHASAN

Beberapa tahun yang lalu, jurnalis senior Thomas L Friedman menulis buku Lexus and the Olive Tree. Ia mengatakan, dunia baru yang ditandai oleh globalisasi selalu ditandai oleh pertarungan dua kepentingan, yaitu antara mereka yang mengejar kekayaan (the Lexus) dan mereka yang masih bertempur mempertahankan identitas lama (pohon zaitun, the Olive). Friedman melukiskan globalisasi dari pengalamannya menikmati sushi di atas kereta api secepat peluru di Jepang, sementara bacaannya adalah konflik tiada akhir di Timur Tengah. Konflik yang mempertahankan old identity, seperti petani di Mesuji, atau petambang di Bima dan para pemburu yang kehilangan lahan di Papua dan Kalimantan.

  1. 1.      Klarifikasi Tentang Liberalisasi Di Bidang Pendidikan Dan Dampaknya Pada Pendidikan Tinggi Di Indonesia Liberalisasi Dalam Globalisasi.

Berbicara tentang liberalisasi pada masa kini harus dikaitkan dengan pembicaraan tentang globalisasi, karena liberalisasi saat ini adalah liberalisasi global, bukan liberalisasi lokal, nasional, atau bahkan regional. Oleh karena itu pembicaraan akan dimulai dengan globalisasi. Sudah cukup lama globalisasi menghubungkan dan merakit dunia dan menciptakan semacam kesatuan dari keberagaman yang ada. CocaCola, McDonald, Disney merupakan simbol proses ini, bersamaan pula dengan Sony, Shell, IBM dan sebagainya. Itu adalah produk-produk yang dikenal dan dibeli di antero dan pelosok dunia. Mereka juga perusahaan yang sangat berkuasa yang mendorong ke arah globalisasi lebih lanjut, sehingga menciptakan hukum baru, cara baru dalam makan dan minum, harapan dan impian baru, pola hidup baru, dan cara berbisnis baru. Mereka yang optimis melihat itu sebagai suatu kesempatan baru, sebagai desa dunia yang dihubungkan menjadi satu dengan internet dan dunia mendapatkan keuntungan dengan melimpahnya kesejahteraan material.

Sedangkan yang pesimis melihatnya sebagai hal yang menakutkan, dimana perusahaan raksasa bertindak sebagai tirani yang menghancurkan lingkungan, dan menghilangkan hal-hal yang sehat dan berarti bagi eksistensi manusia. Sampai hari ini, globalisasi masih menjadi wacana yang hangat antara mereka yang pro dan mereka yang kontra dan masing-masing mempunyai dasar argumentasi yang kuat. Optimisme dan pesimisme juga dihadapi oleh dunia perguruan tinggi. Tetapi sebelum menelaah hal tersebut lebih lanjut, ada baiknya kalau disinggung secara singkat apa sebetulnya yang dimaksud dengan globalisasi itu ?

’Globalization refers to global economic integration of many formerly national economies into one global economy, mainly by free trade and free capital mobility, but also by easy or uncontrolled migration. It is the effective erasure of national boundaries for economic purposes’

‘Globalization is the increasing integration of economies around the world, particularly through trade and financial flows. It also refers to the movement of people (labor) and knowledge (technology) across international borders. It refers to an extention beyond national borders of the same market forces that have operated for centuries at all levels of human economic activity.’

Globalisasi ekonomi adalah suatu proses historis, dan istilah tersebut baru digunakan secara populer sejak tahun 1980-an, sejak perkembangan teknologi yang sangat memudahkan dan mempercepat menyelesaikan transaksi internasional, baik dalam hal arus perdagangan maupun keuangan. Dengan runtuhnya sistem ekonomi sosialis, maka tinggal satu sistem ekonomi besar yang bertahan, yaitu kapitalis. Sistem kapitalis yang bersifat liberal bercirikan pasar bebas dan terbuka, serta perdagangan bebas. Inilah yang terus mendorong ke arah globalisasi. Liberalisari ekonomi adalah tahap pertama globalisasi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa globalisasi berpengaruh pada semua tingkah-laku manusia dan berdampak dalam tingkat yang berbeda pada budaya, masyarakat, dan manusia.

Memang, intensifikasi hubungan global lebih mendekatkan manusia dan budaya, namun juga bahwa budaya lokal dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, yang asing terhadap realitas yang sudah ada. Globalisasi sering dilihat orang bukan hanya sebagai gejala atau proses baru, tetapi juga sebagai ideologi baru, bahkan juga sebagai budaya baru. Sebagai ideologi, globalisasi percaya pada faham kebebasan penuh khususnya kebebasan ekonomi dan perdagangan, yang telah terbukti mampu menyejahterakan banyak negara. Tumbangnya konsep ekonomi sosialis menguatkan keyakinan ini. Globalisasi dan kebebasan adalah semacam lawan dari nasionalisme dan proteksionisme. Oleh banyak negara yang sedang berkembang, globalisasi sering dirasakan dan dianggap sebagai neoliberalisme atau neokapitalisme. Kalau diperhatikan, ada empat aspek globalisasi yaitu perdagangan, pergerakan modal, pergerakan orang, serta penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perdagangan

Negara-negara yang sedang berkembang memang telah mampu meningkatkan penyertaannya dalam perdagangan dunia, dari 19% di tahun 1971 menjadi 29% di tahun 1999, namun tampak ketimpangan untuk beberapa regional. Misalnya negara-negara ekonomi industri baru di Asia memang mengalami kemajuan, sedangkan negara-negara Afrika secara keseluruhan tetap saja mengalami kemiskinan. Peningkatan adalah terutama pada perdagangan barang-barang hasil manufaktur. Perdagangan hasil industri primer yaitu pertanian, yang paling banyak diproduksi oleh negara-negara miskin, justru mengalami kemunduran.

Pergerakan Modal

Seperti yang banyak diasosiasikan orang dengan globalisasi yaitu pergerakan modal, maka memang selama tahun 1990-an terjadi kenaikan pergerakan besar-besaran modal swasta ke negara-negara yang sedang berkembang. Tetapi sejak tahun 1980-an, bantuan resmi dari pemerintah untuk negara-negara sedang berkembang mengalami pengurangan. Mengalirnya modal swasta tersebut terutama dalam bentuk investasi modal asing secara langsung.

Pergerakan Orang

Pekerja berpindah dari satu negara ke negara lain dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik. Pergerakan pekerja ini paling banyak adalah antar negara yang sedang berkembang, tetapi juga dari negara yang sedang berkembang ke negara yang sudah maju. Globalisasi memudahkan brain drain tenaga dari negara yang sedang berkembang ke negara-negara maju, di samping juga memudahkan perpindahan pekerja dari negara-negara yang sudah maju ke negara-negara yang sedang berkembang.

Penyebaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Pertukaran informasi adalah aspek yang tidak dapat dilepaskan dari globalisasi, yang sering kali dilupakan. Misalnya investasi asing secara langsung tidak hanya membawa modal fisik, tetapi juga membawa teknologi dan ketrampilan. Teknologi dan ketrampilan ini meliputi bidang teknik manajemen, metoda produksi, pasar ekspor, kebijakan ekonomi dan sebagainya. Apabila dapat dimanfaatkan, teknologi dan ketrampilan baru ini merupakan cara dan alat yang murah bagi pengenalan dan penguasaan teknologi bagi negara-negara yang sedang berkembang.

  1. 2.      Globalisasi Dan Internasionalisasi

Istilah globalisasi sering kali dikacaukan dengan istilah internasionalisasi, sedangkan sebetulnya keduanya mempunyai arti yang sangat berbeda. Oleh karena itu perlu adanya penjelasan seperlunya mengenai dua konsep yang kelihatannya hampir sama, tetapi sangat berbeda tersebut.

  1. Internasionalisasi

Internasionalisasi adalah makin berkembangnya kerja sama internasional dalam bidang ekonomi, perdagangan, pendidikan, politik, budaya dan sebagainya. Inter-nasional berarti antar negara dan di antara negara. Unit basis masih ekonomi nasional, identitas dan budaya masih budaya nasional masing-masing. Internasionalisasi adalah kegiatan atas dasar kesadaran masing-masing, atas dasar suka rela, atas dasar pilihan tertentu, bukan suatu tindakan yang terpaksa. Dalam perdagangan internasional, kompetisi berdasarkan keunggulan kompetitif, dan tata cara dapat diatur atas kesepakatan pihak-pihak yang terkait. Dalam teori klasik Adam Smith dan Ricardo, masyarakat nasional menerima baik pekerja nasional maupun kapital nasional dan dua kelas ini bekerja-sama, meskipun kadang-kadang dengan konflik, untuk menghasilkan produk nasional dari sumberdaya nasional. Produk nasional ini bersaing dalam pasar internasional dengan produk negara lain, yang dihasilkan dengan kapital, pekerja, dan sumbedaya negara masing-masing. Ini adalah internasionalisasi dalam perdagangan. Dalam internasionalisasi, masing-masing negara masih sepenuhnya berdaulat dan mengatur persyaratan perdagangan sedemikian rupa sehingga kepentingan rakyat negara dapat tetap diperhatikan.

Dalam perguruan tinggi, internasionalisasi dapat berupa pertukaran dosen dan mahasiswa, pengadaan program penelitian bersama, bantuan program studi lanjut bagi para dosen, pengadaan program ijasah ganda (dual degree programme), program kuliah bersama, dan sebagainya. Setiap perguruan tinggi bebas untuk memilih universitas mitra di luar negeri, memilih jenis program kerja-sama, memilih waktu dan durasi kerja-sama.

  1. Globalisasi

Globalisasi menunjuk pada integrasi ekonomi secara global dari mereka yang sebelumnya berbentuk ekonomi nasional, menjadi satu kesatuan ekonomi global. Kata ’integrasi’ berasal dari kata ’integer’ yang berarti satu, lengkap, atau keseluruhan. Integrasi adalah tindakan menggabungkan menjadi satu kesatuan. Karena hanya ada satu kesatuan, maka integrasi ekonomi global akan mendisintegrasikan ekonomi nasional. Seperti dijelaskan dalam definisi di atas, globalisasi menunjuk pada integrasi ekonomi secara global dari ekonomi negara-negara menjadi satu ekonomi global, terutama melalui perdagangan bebas dan pergerakan kapital secara leluasa, tetapi juga melalui migrasi yang gampang dan tidak terkendali. Globalisasi adalah suatu fenomena ekonomi yang tidak dapat dihindari. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap setiap negara harus menghadapinya. Istilah disintegrasi ekonomi nasional tidak berarti bahwa industri dan pabrik-pabrik ditiadakan, tetapi konteks nasionalnya dihilangkan, masuk ke dalam konteks baru, yaitu konteks ekonomi global. Dalam perdagangan global, kompetisi didasarkan atas keunggulan absolut, tanpa dapat diatur oleh pihak manapun.

Dalam globalisasi baik kapital, buruh, maupun produk bebas bergerak dari satu negara ke negara lain secara global. Hal ini berlawanan dengan teori Adam Smith dan Ricardo di atas yang mengandaikan bahwa tidak ada perpindahan kapital dari satu negara ke negara lain. Dalam globalisasi, yang ada adalah kapital, buruh, dan sumber daya global yang saling bersaing di antara buruh, sumber daya alam, dan pasar di seluruh negara. Dalam globalisasi, pemerintah negara secara de facto hampir tidak berdaulat, karena tidak dapat mengatur ekonominya sesuai dengan kehendak rakyat, tetapi tunduk pada mekanisme ekonomi global. Globalisasi berada di luar wewenang negara dan pemerintah untuk mengaturnya.

Dalam konteks pendidikan tinggi, globalisasi dapat berbentuk kebebasan masuk dan beroperasinya perguruan tinggi asing ke dalam negeri tanpa dapat dicegah atau dihindarkan.

  1. 3.      Pro Dan Kontra Globalisasi

Dari penjelasan di atas, sudah terdapat hal-hal yang baik dan hal-hal yang kurang baik mengenai globalisasi dipandang dari berbagai sudut kepentingan. Pandangan dan debat antara yang pro dan yang kontra globalisasi masih terus berlangsung dengan argumentasi masing-masing. Untuk memahami beberapa pandangan dari mereka, ada baiknya pendapat dari dua kubu tersebut dikutib dan dicatat sebagai berikut.

  1. Pandangan Yang Pro Globalisasi.

Mungkin pandangan dari kubu ini dapat diwakili oleh Thomas Friedman yang menulis buku best-selling berjudul The Lexus and the Olive Tree (LOT). Thomas Friedman adalah seorang kolumnis mengenai peristiwa internasional dari New York Time, yang karena bukunya tersebut, sering kali dikira sebagai yang berwenang membicarakan mengenai globalisasi. Thomas Friedman dikenal sebagai salah satu orang yang getol mengkritik gerakan sosial baru yang anti globalisasi. Thomas Friedman, sampai April 2002, telah memenangkan tiga Pulitzer Prize. Beberapa pokok pandangan dari Thomas Friedman yang dimuat dalam LOT tersebut, antara lain menyebutkan bahwa :

Kebenaran fundamental mengenai globalisasi adalah bahwa globalisasi itu timbul dari bawah, dari tingkat jalanan, dari dasar jiwa setiap orang, dan dari aspirasi terdalam mereka. Globalisasi adalah produk dari demokratisasi di bidang keuangan, teknologi, dan informasi, tetapi yang mendorong ketiganya adalah keinginan dasar setiap manusia yaitu kehidupan yang lebih baik, kehidupan dengan pilihan lebih banyak mengenai apa yang dimakan, apa yang dipakai, dimana bertempat tinggal, kemana bepergian, bagaimana bekerja, apa yang dibaca, apa yang ditulis, dan apa yang dipelajari.

Globalisasi meningkatkan perkembangan ekonomi dan neoliberalisme adalah satu-satunya bentuk globalisasi, yang justru menguntungkan negara-negara miskin. Pengembangan teknologi informasi dan peralatan serta praktek keuangan, kekuatan-kekuatan yang mendorong globalisasi, telah membuat kapitalis global bersifat egaliter dan demokratis. Orang dapat berbicara mengenai alternatif terhadap pasar bebas dan integrasi global dan mereka dapat menuntut alternatif, mereka bahkan bersikukuh pada jalan ke tiga, tetapi sampai sekarang, jalan lain itu tidak ada.

Thomas Friedman malah menyebutkan bahwa : Globalization is not just some economic fad, and it is not just a passing trend. It is an international system, the dominant international system that replaced the Cold War system.’

Beberapa slogan yang dicanangkan oleh kelompok yang pro globalisasi ini antara lain ialah : Aliran investasi global lebih tinggi dari selama ini. Globalisasi memegang kunci untuk mengakhiri kemiskinan dunia. Perdagangan bebas membantu negara sedang berkembang untuk menyusul. Pertumbuhan itu baik untuk yang miskin. Pemrotes perdagangan bebas ’memerangi musuh yang salah alamat’ Multinasional adalah kekuatan yang positif. Globalisasi menawarkan jalan keluar dari kemiskinan. Perdagangan dunia adalah tenaga pendorong pertumbuhan.

  1. Pandangan Yang Anti Globalisasi

Sebaliknya para pendukung anti globalisasi menganggap bahwa pada pendukung globalisasi umumnya menghindari analisis kuantitatif yang seimbang dan komprehensif mengenai kemajuan ekonomi dan kesejahteraan manusia di negara-negara yang sedang berkembang sejak berkembangnya globalisasi. Tindakan menghindar tersebut jelas kelihatan, karena pemaparan angka-angka statistik perkembangan ekonomi dan indikator kesejahteraan penduduk sejak tahun 1980 di negara-negara yang belum atau sedang berkembang akan menggagalkan argumentasi mereka sendiri. Globalisasi memang meningkatkan akses perdagangan dari negara-negara maju ke pasar negara-negara yang sedang berkembang, tetapi tidak berlaku sebaliknya, karena negara yang sedang berkembang belum cukup siap dalam permodalan, teknologi produksi, pemasaran dan sebagainya. Jadi negara kaya bertambah kaya dan negara miskin bertambah miskin. Khusus mengenai LOT dari Thomas Friedman, beberapa kritik telah disampaikan, antara lain ialah :

Referensi yang digunakan Thomas Friedman bukanlah literatur ilmiah yang bergengsi di bidang ekonomi dan perdagangan, tetapi majalah seperti The Economist yang nota bene dimiliki oleh korporasi raksasa. Argumentasi Thomas Friedman tidak disertai dengan catatan kaki, grafik, dan statistik, tetapi semata-mata oleh argumentasi kualitatif yang tidak meyakinkan.  Argumentasi Thomas Friedman sangat berat sebelah dan bukunya hanya sekedar semacamwho’s who mengenai kapitalisme global. Sifat egaliter dan demokratis dari kapitalisme global hanyalah merupakan fantasi Thomas Friedman belaka karena statistik tidak mendukung pendapat itu.

Sesuai dengan data Federal Reserve, pada tahun 1998, 10% orang terkaya Amerika memiliki lebih dari 82% stock, 86% bond dan 91% dari aset bisnis. Untuk daerah-daerah tertentu, kurang dari 0,5% orang terkaya memiliki lebih dari 31% stock, hampir 32% bond, dan hampir 55% dari aset bisnis. Menurut penduduk dunia hidup di negara-negara yang paling kaya yang menerima pendapatan 74 kali lebih banyak dari 20% penduduk termiskin. Angka ini lebih buruk dibandingkan dengan data tahun 1990, dimana perbandingan masih 60 : 1 dan 30:1 pada tahun 1960. Pemujaan Thomas Friedman terhadap kebebasan dan demokrasi secara implisit disangkal sendiri dengan mengatakan bahwa : ’Tangan pasar yang tidak kelihatan tidak akan bekerja tanpa tinju yang tidak kelihatan dan tinju yang tidak kelihatan ini yang menjaga teknologi Silicon Valley adalah Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Marinir Amerika’. Argumentasi Thomas Friedman untuk mengkritik penentangnya sangatlah dangkal seperti berikut ini : 1) neoliberalisme adalah satu-satunya bentuk globalisasi, 2) globalisasi mendorong pertumbuhan ekonomi, 3) pertumbuhan ekonomi dan tetesan-kebawah adalah satu-satunya cara membantu negara yang miskin, 4) oleh karena itu neoliberlisme adalah teman terbaik yang dimiliki negara-negara miskin dan siapa yang menentang neoliberalisme, berarti menyetujui kemiskinan global.

Para pendukung anti globalisasi atau sebetulnya lebih tepat dinamakan anti pengaruh buruk globalisasi adalah para aktivis, lembaga swadaya masyarakat, dan elemen lain yang merupakan gerakan masyarakat sipil yang tumbuh dan berkembang. Gerakan-gerakan ini secara aktif melancarkan usulan-usulan yang penting untuk meningkatkan dan menjaga dunia yang lebih lestari, egaliter, dan demokratis.

  1. 4.      Tantangan Globalisasi Bagi Perguruan Tinggi

Karena globalisasi seperti dikatakan di atas tidak hanya menyangkut dan berdampak pada bidang ekonomi, tetapi pada hampir seluruh elemen kehidupan manusia, maka globalisasi juga berdampak, cepat atau lambat, pada pendidikan tinggi dan perguruan tinggi. Secara formal memang globalisasi belum menyentuh pendidikan tinggi dan perguruan tinggi, namun agaknya tidak begitu lama lagi, kekuatan dan gejala ini tidak dapat dibendung lagi. Pergerakan bebas dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan salah satu aspek penting dalam globalisasi tentu akan menyentuh pula bidang pendidikan khususnya pendidikan tinggi.

Apa yang sudah lama terjadi di bidang pendidikan tinggi adalah masih dalam tahap internasionalisasi, namun karena internasionalisasi dalam bidang ekonomi dan perdagangan sudah mulai didesak oleh globalisasi dalam bidang yang sama, maka internasionalisasi di bidang pendidikan tinggi juga sudah mulai didesak oleh globalisasi. Perlu dicatat kiranya cukup ironis bahwa di negara-negara berkembang, yang sangat getol mendesakkan globalisasi bidang pendidikan bukan menteri atau para pemimpin di bidang pendidikan, tetapi menteri dan petinggi di bidang ekonomi dan perdagangan.

Namun lepas dari semua itu, menurut Richard C. Atkinson, Presiden dari University of California globalisasi bagi perguruan tinggi juga merupakan kekuatan yang merubah perguruan tinggi dari suatu institusi yang memonopoli ilmu pengetahuan menjadi suatu lembaga dari antara sekian banyak jenis organisasi yang menyediakan informasi, dan dari suatu institusi yang selalu dibatasi oleh waktu dan geografi menjadi suatu lembaga tanpa perbatasan. Dengan demikian, bagi perguruan tinggi, globalisasi berarti : Teknologi informasi dan komunikasi, seperti Internet dan World Wide Web, menyediakan peralatan baru yang sangat ampuh dalam membentuk jaringan global untuk pengajaran dan riset. Pada saat ini proses pembelajaran mungkin masih mengandalkan landasan yang masih kurang mencukupi untuk proses interaksi berkualitas tinggi. Namun sebentar lagi pasti telah dikembangkan landasan yang lebih canggih yang menunjang tayangan audio dan vidio yang lebih baik, bereaksi secara cepat terhadap masukan mahasiswa, dan sebagainya.

Dalam lingkungan baru tersebut, suatu organisasi apakah itu universitas atau pemberi jasa informasi lainnya, dapat memenuhi kebutuhan dan meneguk pendapatan dari pasar yang ada. Universitas global akan mampu mengajar mahasiswa di mana saja dan kapan saja dan demikian juga dapat mengambil dosen dari mana saja.

Universitas tidak lagi memonopoli produksi ilmu pengetahuan. Mereka harus bersaing dengan penyedia jasa informasi dan pengetahuan lainnya yang tidak memerlukan kampus dengan segala fasilitasnya yang mahal.

Dengan demikian, di perguruan tinggi, agaknya dampak yang perlu diantisipasi dan tantangan yang perlu dihadapi sekurang-kurangnya dalam tiga bidang persaingan yaitu dalam pengelolaan perguruan tinggi, proses belajar-mengajar, dan pendidikan nilai. Disamping itu ada juga bentuk-bentuk tantangan lain yang tidak hanya dihadapi universitas negara yang sedang berkembang, tetapi juga dihadapi oleh negara yang sudah berkembang.

  1. Tantangan pada Pengelolaan

Apabila bidang pendidikan akan disamakan dengan bidang perdagangan dan ekonomi, maka prinsip pasar bebas juga harus diberlakukan. Artinya ialah bahwa setiap negara harus membuka diri seluas-luasnya terhadap masuknya perguruan tinggi, dosen, peneliti, dan sebagainya tanpa hambatan sama sekali, dalam bentuk apapun. Apakah dengan demikian akan terjadi persaingan antara perguruan tinggi dalam negeri dan perguruan tinggi asing ? Bagaimana bentuk invasi perguruan tinggi asing ke negara-negara yang sedang berkembang ? Apakah dalam bentuk investasi langsung, ataukah berbentuk usaha bersama ? Apakah para penyelenggara perguruan tinggi di negara berkembang begitu saja akan tunduk pada tekanan para pengambil keputusan di bidang ekonomi dan perdagangan ? Agaknya investasi langsung dalam bentuk brick and mortal(bangunan dan bentuk fisik) kurang memberikan keunggulan kompetitif mengingat sebagian besar biaya perguruan tinggi adalah untuk gaji para dosen.

Dengan gaji dosen asing yang begitu tinggi, agaknya sulit bersaing dengan perguruan tinggi dalam negeri, seperti Indonesia, sehingga kemungkinan besar globalisasi universitas terutama bukan dalam bentuk ini. Tetapi argumentasi ini tidak berlaku apabila ada motif lain, sekurang-kurangnya sementara, yang mengelahkan pertimbangan ekonomis. Yang sudah tampak adalah penetrasi dalam bentuk kelas jarak jauh (distant learning programme) dan universitas terbuka dengan menggunakan internet. Tetapi apakah juga bahwa universitas akan sungguh-sungguh harus bersaing dengan perusahaan penyedia informasi dan pengetahuan ? Beberapa contoh perkembangan berikut mungkin dapat dijadikan bahan renungan.

The University of Michigan adalah satu diantara universitas yang sudah memulai program pendidikan global, yang telah menghasilkan lulusan kurang lebih 14.000 mahasiswa di luar Amerika Serikat. Leicester University juga sudah cukup lama mengadakan kelas jarak jauh ini di beberapa negara termasuk Indonesia. Beberapa universitas mengembangkan lembaganya menjadi usaha mencari keuntungan seperti University of Phoenix dan Pathom.com, demikian pula Universitas 21, suatu grup yang terdiri dari 18 universitas dari Eropa, Amerika Utara, Asia, Selandia Baru, dan Australia. Mereka menyediakan dan ’menjual’ bahan kuliah, dan lisensi dalam berbagai jenis. Mengenai Universitas 21 ini, akan dibicarakan lebih lanjut di belakang.

Pada bulan April tahun 2001 yang lalu, MIT (Massachusetts Institute of Technology) menarik perhatian dunia dengan melancarkan program OpenCourseWare, yang bernilai US$ 100 juta yang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk merancangnya. MIT menyebutkan bahwa program OpenCourseWare adalah usaha untuk menciptakan sebuah model penyebaran ilmu pengetahuan oleh universitas dalam era internet, yang tersedia bagi semua orang bahan yaitu bahan kuliah yang diajarkan di MIT. Dana pengembangan sebesar itu diharapkan dapat kembali dari sumbangan para donator. Program semacam itu bukan sesuatu yang unik di Amerika karena beberapa universitas lain juga melakukannya, namun memang skala dan biayanya tidak sebesar yang di MIT. Program ini merupakan pernyataan MIT untuk tetap mempertahankan misi dasar dari universitas dalam lingkungan akademis yang makin dikomersialkan.

Pada bulan Maret tahun 2001, University of California dan sejumlah universitas di Meksiko merayakan peluncuran hubungan berkecepatan tinggi yaitu Internet2 antara California dan Meksiko. Internet2 secara revolusioner merubah aplikasi Web yang mendukung kerjasama dalam pengajaran, riset, dan usaha lain antara University of California dan universitas-universitas di Meksiko.

University of California juga melakukan percobaan kerjasama internasional dengan Universitas Kyoto dengan menggunakan hubungan berkecepatan tinggi yang dinamakan TIDE (Transpacific Interactive Distance Education). Sejak akhir tahun 1999, University of California Los Angeles (UCLA) dan Kyoto University mulai menawarkan kuliah fisika secara simultan di kedua sisi lautan Pasifik. Kuliah yang diberikan di satu universitas ditransmisikan ke universitas lain melalui hubungan berkecepatan tinggi di mana dosen dan mahasiswa dapat bertanya jawab melalui hubungan tersebut. Mata kuliah fisika telah diperluas termasuk juga kuliah linguistik terapan, studi komunikasi, dan ekonomi.

Pemerintah Indonesia sudah pasti akan memperjuangkan dalam WTO untuk ’menahan’ pengaruh globalisasi tersebut dengan misalnya mengharuskan kerja sama dengan lembaga perguruan tinggi Indonesia dan dengan berbagai peraturan lain, namun hasilnya tergantung dari kekuatan negosiasi dalam sidang-sidang WTO.

Kalau melihat 4 jenis mode globalisasi perguruan tinggi yang ditentukan oleh WTO tersebut, mode 1 (cross border supply ) dan mode 2 (consumption abroad) sudah berjalan lama dan bukan merupakan ancaman lagi. Yang perlu diwaspadai dan diantisipasi adalah mode 3 (commercial presence) dan ke 4 (presence of natural persons).

  1. Tantangan pada Proses Belajar Mengajar

Globalisasi ternyata merubah cara belajar-mengajar, dari bertatap muka dan melalui hubungan personal antara dosen dan mahasiswa menjadi hubungan maya dan nonpersonal, melalui internet, dan video jarak jauh. Dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu, ahli manajemen Peter Drucker memang pernah meramalkan :

’Thirty years from now the big university campus will be a relic. Universities won’t survive in their present form. The main reason is the shift to thecontinuing education of already highly educated adults as the center and  growth sector of education.

Tetapi apakah prediksi Peter Drucker ini memang benar ? Apakah motivasi, interaksi dengan mahasiswa lain, pengembangan kemampuan khusus, preferensi, identifikasi kecondongan, deteksi keistimewaan mahasiswa dan sejenisnya dapat diajarkan lewat internet ? Apakah perhatian, konseling, afeksi, pendidikan, pendampingan, teladan, dapat dilakukan melalui media video dan audio ? Banyak yang berpendapat bahwa ramalan Peter Drucker tidak akan terwujud. Proses belajar-mengajar tradisional masih akan tetap diperlukan dan berkembang bersamaan dengan cara baru melalui berbagai alat teknologi informasi. Proses belajar-mengajar melalui internet tidak akan dapat mengganti proses belajar-mengajar seperti sekarang ini secara tatap muda di gedung universitas. Universitas riset tidak akan tergantikan oleh universitas maya. Meskipun demikian, tantangan yang mendasar tetap harus dijawab yaitu apakah pendidikan masih dapat dilakukan melalui jarak jauh dan secara maya ? Apakah yang tinggal hanya pembelajaran saja, jadi bukan pendidikan ?

  1. Tantangan pada Pendidikan Nilai

Globalisasi sering kali menghadirkan pengetahuan dan informasi yang berlebihan yang tidak dapat ditangkap oleh orang kebanyakan yang juga tidak mampu mencerna tantangan-tantangan yang menyertainya, sehingga hidup dalam alam globalisasi merupakan risiko dan merubah identitas seseorang, tempat tinggal, dan kehidupan masa depan. Globalisasi yang tidak sempurna, yaitu yang tidak lengkap tetapi tetap berjalan terus, justru meningkatkan perbedaan antar negara, menambah ketidak seimbangan dalam segala bidang : politik, ekonomi, budaya, agama, sosial. Globalisasi yang tidak terkendali membawa ancaman dan ketakutan yang memang dapat dimengerti dalam banyak hal.

Namun gejala yang tidak dapat dihindarkan dan dibalikkan ini juga membawa harapan dan kesempatan baru. Globalisasi tidak dapat dikatakan baik atau buruk. Globalisasi akan menjadi seperti apa yang dikehendaki dan diperbuat oleh manusia. Oleh karena itu bagi mereka yang berfikir secara kritis, antisipatif, dan analitis, termasuk dunia perguruan tinggi, beberapa pertanyaan mendasar sebagai berikut perlu direnungkan: Mampukah globalisasi menjaga nilai-nilai kemanusiaan, dan sekaligus juga menghormati identitas budaya, tradisi, dan agama yang merupakan kekayaan warisan budaya manusia ? Mampukan globalisasi meletakkan fondasi yang lebih kuat untuk pengembangan budaya manusia yang otektik dan universal ? Dapatkan pendidikan mempertemukan berbagai budaya dan tradisi dalam kontak satu sama lain, menanamkan semangat keberagaman dan meningkatkan hak-hak manusia untuk memelihara identitas masing-masing, dalam dialog secara timbal balik ? Dapatkah pendidikan tinggi menjawab pertanyaan dan menanggapi tantangan atas kesatuan dan keberagaman orang dan budaya ?

Perlu diakui bahwa globalisasi dapat menularkan nilai-nilai positif tetapi juga berpotensi menawarkan nilai-nilai negatif. Nilai-nilai positif yang dimaksud misalnya etos kerja, manajemen produksi, disiplin kerja, demokrasi dalam berbagai bidang kehidupan termasuk politik, penghormatan pada hak-hak asasi manusia, kehidupan masyarakat sipil, dan sebagainya. Nilai-nilai negatif misalnya konsumerisme, hidonisme, individualisme, sekularisme, dan sebagainya.

  1. Tantangan Lain

Di samping tantangan-tantangan yang disebutkan di atas, tantangan-tangan berikut juga perlu dipikirkan, termasuk bagi universitas di negara-negara yang sudah maju dan berkembang. Tantangan yang dimaksud adalah mengenai struktur institusi dan kebiasaan cara berfikir, misalnya yang berkenaan dengan akreditasi, milik intelektual, dan universitas sebagai suatu komunitas.

Teknologi mungkin mampu menjadikan universitas bersifat global dalam jangkauannya, namun ada sesuatu yang agaknya tetap dikehendaki secara lokal, yaitu akreditasi. Apakah akreditasi dapat dilakukan universitas secara global ? Jawabannya mungkin alternatif ya, tetapi bagaimana dengan program studi seperti seni drama, seni musik ? Akreditasi tidak hanya menyangkut peraturan tetapi menyangkut kepercayaan dan reputasi.

Pembelajaran berbasis internet memang menjanjikan cara baru menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga sekaligus menciptakan hambatan baru. Tradisi lama, ialah bahwa dalam universitas, ilmu pengetahuan terbuka dan gratis untuk semua orang. Dalam era internet, dimana para dosen dan para ahli menjadi ajang perebutan antara universitas dan perusahaan penyedia jasa informasi yang nota bene mencari keuntungan, hak intelektual menjadi sangat menonjol sehingga menjurus pada privatisasi ilmu pengetahuan.

Universitas sebagai komunitas akademis dengan segala kegiatannya memberikan suasana akademis yang menunjang hasrat belajar dan meneliti. Interaksi antar mahasiswa dan antara mahasiswa dan dosen memberi sumbangan dalam pembentukan watak dan pribadi mahasiswa. Apakah hal ini masih akan terjadi apabila pengajaran dilakukan melalui internet ?

Kebanyakan tantangan di atas memang hanya dapat disampaikan dalam bentuk pertanyaan, karena jawabannya memang belum dapat diberikan secara pasti.

  1. 5.      Apa Yang Harus Diperbuat Oleh Perguruan Tinggi

Mengingat potensi dampak negatif yang begitu besar yang dihadapi di bidang pendidikan nilai di pendidikan tinggi maupun pengembangan perguruan tinggi, maka globalisasi merupakan tantangan yang cukup besar yang sedang dan masih akan dihadapi untuk masa-masa yang akan datang. Bahkan dapat dikatakan bahwa globalisasi merupakan tantangan strategis pendidikan tinggi dewasa ini. Disebut strategis, karena menyangkut kelangsungan hidup maupun kelangsungan misi yang diemban oleh pendidikan tinggi. Oleh karena itu sudah banyak perguruan tinggi atau asosiasi perguruan tinggi membicarakan dan mengantisipasi hal ini. Salah satu refleksi mengenai hal ini adalah yang dilakukan oleh sejumlah universtias Katolik yang tergabung dalam International Federation of Catholic Universities (IFCU). Pada akhir tahun 2002, IFCU menyelenggarkan konferensi di Vatikan dengan tema ’Globalization and Catholic Higher Education, Hopes and Challenges’. Refleksi ini terfokus pada tantangan perguruan tinggi di bidang pendidikan nilai, yang secara singkat dapat dirumuskan sebagai berikut yang sekaligus juga dapat merupakan sikap dasar yang harus diambil.

  1. Sikap Dasar Menghadapi Globalisasi

Dalam refleksinya tersebut, globalisasi dilihat sebagai suatu fenomena dan proses yang memunculkan berbagai wajah, berbagai pendapat dan interpretasi yang menyebabkan berbagai jenis bahkan dampak yang dramatis pada manusia, budaya, dan masyarakat. Globalisasi tidak dapat direduksi hanya sebagai ekspresi ekonomi tentang perkembangan kebebasan dan persetujuan global dalam orientasi pasar secara eksklusif dan lingkungan persaingan. Globalisasi harus dimengerti dan dianalisis sebagai fenomena multidimensional yang menyangkut berbagai bidang kegiatan dan interaksi lintas batas dan lintas kontinen, termasuk ekonomi, politik, sosial-budaya, teknologi, etik, lingkungan, dan personal. Globalisasi menghadirkan tantangan dan persoalan serius bagi masa depan universitas. Globalisasi mempertanyakan nilai-nilai utama pemberian pelayanan bagi universitas maupun masyarakat. Globalisasi menekan nilai-nilai tradisional universitas seperti otonomi, kebebasan akademik, riset dan penilaian mahasiswa di dalam pasar baru pendidikan yang mengglobal tersebut dan membutuhkan pemecahan terhadap problema-problema umum seperti mobilitas mahasiswa dan dosen, pengurangan bantuan pemerintah, relevansi kurikulum, dan munculnya universitas yang berorientasi pada keuntungan.

Dalam premisnya, IFCU mengakui bahwa gelombang globalisasi membuka kesempatan baru dan keuntungan potensial namun sekaligus juga menciptakan risiko dan ancaman. Meskipun demikian cukup alasan untuk optimis bahwa globalisasi dapat diarahkan (kembali) atau dirubah agar dapat lebih memanusiakan (humanise) orang, martabat manusia, budaya, dan masyarakat.Globalisasi menawarkan kesempatan untuk memikirkan kembali dan memperkuat peran pendidikan dan universitas, yang menawarkan kebenaran, harapan, perikemanusiaan, perdamaian, persatuan, pembangunan sosial yang berkelanjutan dan penghapusan kemiskinan, kekerasan, dan ketiadaan toleransi. Oleh karena itu pendidikan tinggi terpanggil untuk memberikan pelayanan sebagai pemberi pedoman universal dan referensi praktis untuk menanamkan dan mengembangkan globalisasi yang berkasihan (compassionate globalization).

Menanggapi kebutuhan untuk memanusiakan globalisasi di pendidikan tinggi dan merumuskan orientasi pendidikan tinggi di masa depan, IFCU selanjutnya memberikan beberapa pedoman untuk universitas-universitas Katolik. Orientasi dan pedoman yang diberikan IFCU kepada para anggotanya ini mempunyai prinsip dan nilai universal, sehingga tidak hanya berlaku untuk universitas Katolik saja, tetapi dapat juga dijadikan bahan renungan untuk universitas-universitas lain. Pedoman tersebut terdiri dari tiga bagian yaitu mengenai formasi pengembangan manusia secara utuh, transmisi ilmu pengetahuan dalam pencarian akan kebenaran, dan pelayanan kepada masyarakat.

  1. Formasi Pengembangan Manusia Secara Utuh

1)      Meningkatkan pendidikan tinggi sebagai proses dinamik yang melayani masyarakat dan secara tidak langsung menyuburkan pengembangan manusia secara utuh dan mengakui dimensi spiritual dari berbagai budaya.

2)      Menyediakan alat pendidikan mengenai disiplin, inter-disiplin, dan trans-disiplin dan merangsang pertukaran yang menyumbangkan pembentukan warganegara yang bertanggung-jawab dan mampu bersikap kritis dalam menganggapi tantangan dari realitas globalisasi.

3)      Menguatkan persona manusia untuk mengembangkan budaya damai, solider, adil, murah hati dan sebagainya, di seluruh dunia, dengan perhatian khusus pada yang paling miskin.

4)      Menyumbangkan pembentukan kemanusiaan baru dengan berfokus pada visi umum mengenai martabat persona manusia.

  1. Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Pencarian Akan Kebenaran

1)      Mengakui diversifikasi, kekhususan dan otonomi dalam pengajaran dan riset yang menyebabkan pengalaman kultural setiap universitas unik dan istimewa.

2)      Mendorong kerjasama antar departemen, antar disiplin, dan antar universitas di seluruh kontinen, dengan menggunakan teknologi dan jaringan baru, dan menggabungkan dedikasi pada kebenaran, keyakinan akal sehat, dan penguatan dalam iman.

3)      Mendukung pertukaran para pengajar dan peneliti dari berbagai negara dan bidang akademis dengan tujuan pembentukan manusia yang mampu untuk membentuk kehidupan sosial, ekonomi, dan politik dengan fokus pada analisis kritis mengenai globalisasi, berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kemanusiaan.

4)      Memperlancar dialog terbuka antara para ahli teologi, filsafat, dan ilmu pengetahuan untuk pembaharuan sikap dalam pencarian bersama akan arti.

5)      Memperkuat nilai-nilai universal dalam pendidikan akan kebenaran dengan mengintegrasikan iman dan kehidupan dengan kompetensi profesional, dengan fokus khusus pada hak-hak asasi manusia, demokrasi, perdamaian yang berkelanjutan, penghapusan kemiskinan, dan sebagainya, dengan menghadapkan tantangan masa kini mengenai globalisasi pada masyarakat.

  1. Pelayanan Kepada Masyarakat

1)      Mendorong komunitas akademik mengambil bagian dalam tanggung-jawab, dengan melakukan analisis proses globalisasi dan meningkatkan refleksi yang berorientasi pada tindakan, dalam melayani masyarakat dari dalam.

2)      Menjadi tempat dan sarana perubahan di dunia akademi, budaya, dan ilmu pengetahuan di setiap tempat di mana berada dengan membawakan nilai-nilai keagamaan dan etis yang mendukung martabat manusia persona.

3)      Menciptakan budaya komunikasi dengan penemuan ilmu pengetahuan yang tersebar melampaui kepentingan komersial dan mengarahkan riset pada hasilnya yang memihak pada kemanusiaan yang utuh.

4)      Menekankan dialog antar budaya dan antar agama sebagai sarana yang penting untuk pemahaman bersama mengenai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sama-sama digunakan serta pencapaian kebaikan bersama.

Secara umum, universitas dapat bersikap dan menghadapi tantangan negatif yang dihadapi sehubungan dengan globalisasi secara internal dengan cara tetap setia pada misi universitas pada umumnya yaitu mencari kebenaran sejati melalui ilmu pengetahuan dan penelitian, untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia serta meningkatkan penghormatan atas martabat manusia. Secara eksternal dengan memberikan inspirasi, mengajak dan mendorong masyarakat luas untuk tetap mengembangkan budaya yang mendukung keberpihakan pada peningkatan penghormatan atas martabat manusia persona. Pendidikan sejati pada hakekatnya haruslah mampu menghadirkan visi yang lengkap dan transenden mengenai manusia persona dan mendidik kesadaran manusia.

Perguruan tinggi perlu mengambil sikap positif terhadap globalisasi, meskipun tetap harus bersikap kritis. Melihat segi positif dan negatif dari globalisasi, dan mengingat bahwa globalisasi tidak dapat dihindarkan, maka tugas perguruan tinggi adalah ’memanusiakan globalisasi’ tersebut. Globalisasi dipicu oleh faktor-faktor ekonomis, tetapi dewasa ini lebih dari sebelumnya, globalisasi juga memberikan bentuk keputusan politis, hukum, dan bioetis yang sering kali merugikan kepentingan sosial dan manusia. Dunia perguruan tinggi perlu menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi keputusan ini dan memberikan kontribusi agar keputusan tersebut betul-betul merupakan perbuatan yang bermoral, keputusan yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

  1. Pendekatan Komoditisasi, Bukan Komersialisasi.

Komersialisi pendidikan merupakan debat yang panjang, yang dikhawatirkan merupakan dampak negatif pula dari globalisasi. Sebetulnya perlu dibedakan dengan tajam antara ’komersialisasi’ dan ’komotitisasi’. Pada hakekatnya, perguruan tinggi mempunyai beberapa matra yaitu pusat pendidikan tinggi, pusat pengembangan ilmu pengetahuan, agen perubahan sosial, matra etis, dan lembaga korporasi. Komoditisasi merupakan salah satu bentuk matra lembaga korporasi. Komoditisasi perguruan tinggi adalah suatu pendekatan melihat perguruan tinggi sebagai lembaga yang menawarkan komoditas berupa jasa pendidikan tinggi, yang mengalami persaingan, yang tunduk pada hukum permintaan dan penawaran, yang mengenal segmen pasar dan pangsa pasar, yang memerlukan perhitungan akuntansi biaya, yang memerlukan strategi marketing, yang harus mengusahakan tetap hidup dan berkembang, dan sebagainya.

Komoditisasi perguruan tinggi tidak hanya sah, tetapi bahkan harus dilakukan pada masa sekarang ini, sepanjang tidak melupakan matra perguruan tinggi yang lain. Sedangkan komersialisasi merupakan suatu pendekatan yang melihat penyelenggaraan perguruan tinggi sebagai suatu usaha untuk mendapatkan keuntungan bagi pribadi atau kelompok tertentu, suatu pendekatan yang sama dengan penyelenggaraan suatu perseroan terbatas. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menghadapi globalisasi dari segi ancaman eksistensi adalah menggunakan pendekatan komoditisasi ini secara lebih tajam dan profesional.

  1. Peningkatan Mutu dan APTIK Sebagai Wahana Ampuh.

Secara umum, peningkatan mutu secara terus menerus merupakan jawaban atas segala tantangan yang mempengaruhi eksistensi dan pelaksanaan misi perguruan tinggi. Dalam kaitan ini, peranan APTIK menjadi sangat strategis, karena APTIK dapat digunakan sebagai wahana untuk peningkatan mutu tersebut. Selama ini terbukti APTIK merupakan asosiasi yang tidak hanya mampu membantu para anggotanya meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan cara peningkatan pendidikan para dosen, tetapi juga merupakan wadah untuk saling bertukar pengalaman, saling belajar, dan saling membantu dalam penyelenggaraan perguruan tinggi. Oleh karena itu, apabila dalam pertemuan ini APTIK merencanakan menyusun Rencana Strategis jangka panjang, maka rencana menghadapi tantangan globalisasi secara khusus harus merupakan salah satu butir strategi yang direncanakan.

  1. C.      KESIMPULAN

Thomas L. Friedman dalam bukunya Understanding Globalizations : The Lexus and The Olive Tree ini memahami sistem melalui berbagai wacana seperti adanya praktik-praktik hubungan antar negara-bangsa, serta diperkaya pula oleh bagaimana sistem ekonomi dunia menggeliat, menuju apa yang disebut sebagai “free trade system”. Kemudian menggunakan istilah globalisasi yang sedang populer dalam penjelasannya.

Thomas L. Friedman memformulasikan pemikirannya tentang globalisasi dengan membagi globalisasi ke dalam tiga tahap atau fase. Tahap pertama, globalisasi 1.0, kedua globalization 2.0, dan ketiga globalization 3.0. Di dalam pembahasan memahami sistem ini Thomas L. Friedman menjelaskan tentang; 1) Klarifikasi Tentang Liberalisasi di Bidang Pendidikan dan Dampaknya pada Pendidikan Tinggi di Indonesia Liberalisasi dalam Globalisasi; dari sisi perdagangan, pergerakan modal, pergerakan orang, dan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). 2) Globalisasi dan Internasionalisasi. 3) Pro dan Kontra Globalisasi; yang berbicara tentang pandangan yang pro globalisasi dan pandangan yang anti globalisasi. 4) Tantangan Globalisasi Bagi Perguruan Tinggi; tantangan pada pengelolaan, tantangan pada proses belajar mengajar, tantangan pada pendidikan nilai, dan tantangan lain. 5) Apa yang Harus Diperbuat oleh Perguruan Tinggi, yaitu tentang bagaimana sikap dasar menghadapi globalisasi, formasi pengambangan manusia secara utuh, transmisi ilmu pengetahuan dalam pencarian akan kebenaran, pelayanan kepada masyarakat, pendekatan komoditisasi bukan komersialisasi, dan peningkatan mutu dan APTIK sebagai wahana ampuh.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: