Berbagi Semerbak Bunga Ilmu

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TIPE PASAR INFORMASI                                                          PADA ASPEK TARIKH KELAS XII SEMESTER 2[1] 

Oleh : Khoirawati[2]

 

A.  PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Perkembangan teknologi dan komunikasi dewasa ini menuntut perubahan struktur kurikulum dan metode pembelajaran. Model-model pembelajaran lama akan menyebabkan kejenuhan belajar bagi siswa, penggunaan waktu belajar yang tidak efektif, dan sulitnya menerapkan konsep-konsep ilmu dan pengetahuan kepada siswa.

Media Pembelajaran merupakan salah satu jawaban. Hal ini didukung dengan semakin terjangkaunya harga piranti keras (hardware) komputer dan semakin berkembangnya dunia piranti lunak (software) saat ini. Dengan demikian mendekatkan pembelajaran siswa menuju model media pembelajaran mandiri akan mendekatkan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi kepada siswa.

Atas dasar itulah, dalam rangka mengikuti Lomba Kreasi Model Pembelajaran PAI Tingkat Nasional ini kami berusaha keras membuat Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan berbasis ICT dan Joyful Learning untuk siswa SMA/SMK kelas XII dengan mengacu kepada Standar Isi tahun 2006.

Muhammad Nur, Guru Besar Bidang Pendidikan Sains pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya mengutip pendapat Richard L Arends, yang mengatakan bahwa keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu curriculum, teaching, learning, and assesment. Khusus untuk faktor yang kedua yaitu teaching, keberhasilan sangat bergantung pada model pembelajaran yang diterapkan oleh guru.[3]

Tidak ada suatu model rancangan pembelajaran yang dapat memberikan resep ampuh untuk mengembangkan suatu program pembelajaran.[4] Oleh karena itu, dalam menentukan model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran tergantung pada pertimbangan si perancang (dalam hal ini adalah guru) terhadap model yang digunakan atau dipilih. Sebutan model pembelajaran[5] karena dua alasan yaitu : pertama. Konsep model menyiratkan sesuatu yang lebih besar dari pada strategi, metode atau taktik tertentu. Kedua, konsep model pengajaran berfungsi sebagai alat komunikasi yang penting bagi guru.[6] Sebenarnya terdapat banyak model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru, namun pada kesempatan ini penulis ingin memperkenalkan sebuah model yang dinamakan model pembelajaran inkuiri dengan menggunakan trik dan taktik mengajar “pasar informasi”. Model inkuiri ini membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains yang menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.[7] Tidak sedikit peserta didik yang kurang menyukai materi sejarah apalagi dalam penyajiannya materi sejarah disajikan pada akhir semester sehingga guru dan siswa tidak punya banyak waktu lagi untuk membahasnya. Guru kurang pintar mengemas penyajian materi sejarah menjadi proses pembelajaran yang menyenangkan.

2.      Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa permasalahan, antara lain :

a.       Apakah model inkuiri tipe pasar informasi itu?

b.      Bagaimana proses penerapan model inkuiri tipe pasar informasi pada aspek tarikh kelas XII semester 2?

 

3.      Manfaat

Secara teoritis, model pembelajaran inkuiri tipe pasar informasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi  konseptual, terutama terhadap studi analisis dan pengembangan standar isi dan standar proses PAI.

Sedangkan secara praktis, model pembelajaran inkuiri tipe pasar informasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas/Kejuruan, sebagai :

1.      Salah satu model dalam proses pembelajaran khususnya materi sejarah (tarikh)

  1. Pengembangan model-model pembelajaran PAI.

 

B.       NAMA MODEL KREASI PEMBELAJARAN

            Nama model kreasi pembelajaran yang akan disajikan dalam lomba kreasi model pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis ICT Tingkat Nasional tahun 2010 ini adalah MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TIPE PASAR INFORMASI.

Model pembelajaran inkuiri[8] adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa dan antara sesama siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan.[9] Inkuiri dapat dipandang sebagai suatu strategi pembelajaran yang berorientasi kepada pengalaman siswa. Bruce Joyce dan Marsha Weil  menjelaskan :

For more than a decade, “inquiry” has been one of the rallying cries of educational reformers. However, the term has actually had different meaning to its users. To some, inquiry has meant a general position toward child-centered learning and has referd to building most facets of education around the natural inquiry of the child. To others, it has meant the use of the models of inquiry of the academic disciplines as teaching models.[10]

Menurut Joyce, lebih dari satu abad istilah inkuiri mengandung makna sebagai salah satu usaha ke arah pembaharuan pendidikan. Namun demikian, istilah inkuiri sering digunakan dalam bermacam-macam arti. Ada yang menggunakan berhubungan dengan strategi mengajar yang berpusat pada siswa, ada juga yang menghubungkan istilah inkuiri dengan mengembangkan kemampuan siswa untuk menemukan dan merefleksikan sifat-sifat kehidupan sosial, terutama untuk melatih siswa agar hidup mandiri dalam masyarakatnya.

Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama. Pertama, model inkuiri menekankan kapada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya model inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri dari inti materi pelajaran itu sendiri.

Kedua, seluruh aktivitas[11] yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga dapat diharapkan dapat menumbuhkan sikap pecaya diri (self belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.

Ketiga, tujuan dari penggunaan pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secar sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam model pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut agar menguasai materi pembelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pembelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berfikir secara optimal; namun sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berfikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka. Syaiful Sagala mengatakan bahwa proses pembelajaran yang efektif dan efisien dan hasil belajar mengajar tidak selalu optimal, karena ada sejumlah hambatan. Karena itu guru dalam memberikan materi pelajaran hanya yang berguna dan bermanfaat bagi para siswanya.[12]

Model pembelajaran inkuiri[13] merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam model ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.

 

 

Model pembelajaran inkuiri akan efektif manakala:

1.      Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam model inkuiri penguasaan materi pembelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses belajar.

2.      Jika bahan pelajaran yang akan diajukan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.

3.      Jika proses pembelajaran berangkat dari cara ingin tahu siswa terhadap sesuatu.

4.      Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Model inkuiri akan kurang berhasil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.

5.      Jika jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.

6.      Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Model ini merupakan strategi yang menekankan pada pengembangan intelektual anak. Pengembangan mental (intelektual) itu menurut Piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu maturation, physical, experience, social experience dan equilibration.[14]

Maturation atau kematangan adalah proses perubahan psikologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem syaraf. Pertumbuhan otak merupakan suatu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir (intelektual) anak. Otak bisa dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Menurut Sigelman dan Shaffer (1995), otak terdiri dari 100 miliar sel saraf (neuron) dan setiap sel saraf itu rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel saraf lainnya. Neuron terdiri dari inti sel (nucleus) dan sel body yang yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel saraf yang satu ke sel saraf yang lainnya.

Physical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang berada di sekitarnya. Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan individu memungkinkan dapat mengembangkan aktivitas/daya pikir. Gerakan-gerakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan ditransfer akan menjadi gagasan atau ide-ide. Oleh karena itu, proses belajar yang murni tak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman. Bagi Piaget, aksi atau tindakan adalah komponen dasar pengalaman.

Social experience adalah aktivitas dalam hubungan dengan orang lain. Melalui pengalaman sosial, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan atau mendengar pandangan orang lain, tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturan lain di samping aturan sendiri. Ada dua aspek pengalaman sosial yang dapat membantu perkembangan intelektual. Pertama, pengalaman sosial akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa ini diperoleh dari percakapan, diskusi dan argumentasi dengan orang lain. Aktivitas-aktivitas semacam itu pada gilirannya dapat memunculkan pengalaman-pengalaman mental yang memungkinkan atau memaksa otak individu untuk bekerja. Kedua, melalui pengalaman sosial anak akan mengurangi egocentric-nya. Sedikit demi sedikit akan muncul kesadaran bahwa ada orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya. Pengalaman yang seperti itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan konsep mental seperti misalnya kerendahan hati, toleransi, kejujuran, etika, moral, dan lain sebagainya.

Equilibration adalah proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya. Adakalanya anak dituntut untuk memperbarui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi baru yang tidak sesuai.

Atas dasar penjelasan di atas, maka dalam penggunaan model pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru. Yaitu :

1.      Berorientasi Pada Pengembangan Intelektual

Tujuan utama dari model inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, model pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses belajar dengan menggunakan model inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Makna dari “sesuatu” yang harus ditemukan oleh siswa melalui proses berpikir adalah sesuatu yang harus ditemukan, bukan sesuatu yang tidak pasti, oleh sebab itu setiap gagasan yang harus dikembangkan adalah gagasan yang dapat ditemukan.

2.      Prinsip Interaksi

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dan lingkungannya. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir melalui interaksi mereka. Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukan pekerjaan mudah. Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya interaksi hanya berlangsung antara siswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja walaupun pada kenyataannya pemahaman siswa pada substansi permasalahan yang dibicarakan sangat kurang; atau guru meninggalkan peran sebagai interaksi itu sendiri.

3.      Prinsip Bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan model ini adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan bagian dari proses berpikir. Oleh kerena itu, kemampuan guru untuk bertanya pada setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu diketahui oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, atau bahkan bertanya untuk menguji.

4.      Prinsip Belajar untuk Berpikir

Belajar bukan hanya mengingat sejumkah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak kiri maupun kanan; baik otak reptile, otak limbie, maupun otak neokortek. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukan unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsur estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.

5.      Prinsip Keterbukaan

Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang dianjurkannya.

Model Pembelajaran Inkuiri adalah salah satu strategi pembelajaran yang dianggap baru khususnya di Indonesia. Sebagai suatu strategi baru, dalam penerapannya terdapat beberapa kesulitan.

Pertama, model ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang bersandar kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Selama ini guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses penyampain informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyak merasa keberatan untuk mengubah pola cara mengajarnya. Bahkan guru yang menganggap MPI sebagai strategi yang tidak mungkin dapat diterapkan karena tidak sesuai dengan budaya dan sistem pendidikan di Indonesia. Memang, untuk mengubah suatu kebiasaan bukanlah pekerjaan mudah, apalagi sikap guru yang cenderung konvensional, sulit untuk menerima pembaruan-pembaruan.

Kedua, sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran pada guru, dengan demikian bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama. Karna budaya semacam itu sudah terbentuk dan menjadi kebiasaan, maka akan sulit mengubah pola belajar mereka dengan menjadi belajar sebagi proses berpikir, mereka akan sulit manakala disuruh untuk bertanya. Demikian juga dalam menjawab pertanyaan, walaupun pertanyaan itu sederhana. Biasanya siswa memerlukan waktu yang cukup lama untuk merumuskan jawaban dari suatu pertanyaan.

Ketiga, berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Misalnya, sistem pendidikan menganjurkan bahwa proses pembelajaran sebaiknya menggunakan pola pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir melalui pendekatan student active learning atau yang kita kenal dengan CBSA, atau melalui anjuran penggunaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), namun di lain pihak sistem evaluasi yang masih digunakan misalnya sistem ujian akhir nasional (UAN) berorientasi pada pengembangan aspek kognitif. Tentu saja hal ini bisa menambah kebingungan guru sebagai pelaksana di lapangan. Guru akan mendua hati, apakah ia akan melaksanakan pola pembelajaran dengan menggunakan inkuiri sebagai strategi pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, atau akan mengembangkan pola pembelajaran yang diarahkan agar siswa dapat mengerjakan atau menjawab soal-soal hafalan.[15]

Untuk mendukung keberhasilan model inkuiri ini, penulis menggunakan trik/taktik/strategi Pasar Informasi. Pasar Informasi yang dimaksudkan di sini adalah perdagangan informasi di ruang kelas.[16] Dalam perdagangan informasi ini tentu saja banyak hal yang akan terjadi, antara lain akan ada sedikit kekacauan dan tawar menawar untuk memperoleh barang yang bagus. Dan pada strategi pasar informasi ini memerlukan tata ruang khusus, yaitu kelas ditata seperti layaknya kondisi pasar.

Kegiatan ini dilakukan melalui serangkain tahap yang dibatasi waktu ketat. Jumlah tahap dan batasan waktu dari masing-masing bervariasi berdasarkan topiknya, kerumitan materi dan kesiapan siswa. Pada strategi Pasar Informasi ini siswa akan bekerja secara berkelompok. Dalam satu kelas dibagi beberapa kelompok disesuaikan dengan sub materi yang tersedia. Misalnya jika dalam materi terdapat lima sub materi maka siswa dibagi ke dalam 5 kelompok. Jika dalam satu kelas terdiri dari 20 orang maka tiap-tiap kelompok dibagi menjadi empat orang tiap kelompoknya.

Siswa bekerja dalam kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan satu sub materi. Materi tersebut sebaiknya berupa teks. Juga beri tiap kelompok selembar kertas burem (kertas flipchart) atau karton dan tiga atau empat spidol/pena berbeda warna.

Sebelum proses pembelajaran dimulai guru menuliskan urutan dan batas waktu dari tahap-tahap di papan tulis, OHP atau LCD sehingga siswa dapat mengikuti kegiatan dengan mudah.

Sediakan gong atau bel untuk menandai awal dan akhir tiap tahap. Di tengah-tengah tahap, beri tahu siswa seberapa banyak waktu yang tersisa. Partikular (Elemen yang terdapat di dalam aktivitas ini) adalah :

1.      Kerja individu

2.      Kerja Kelompok

3.      Bergerak

4.      Berbicara

5.      Mendengarkan

6.      Membaca

7.      Menulis

8.      Melihat

 

C.      TUJUAN PEMBELAJARAN

Secara umum setelah mengikuti proses pembelajaran ini diharapkan peserta didik mampu menceritakan sejarah perkembangan Islam di Dunia, menjelaskan contoh, dan mengambil manfaat dari Perkembangan Islam di Dunia.

Namun secara khusus, setelah mengikuti proses pembelajaran ini peserta didik diharapkan :

1.      Mampu mengembangkan pola berpikir mereka dalam memproses data secara aktif, logos, lateral, imajinatif, dedukatif, dsb.

2.      Mampu belajar menangani emosi dan menghubungkan dengan yang lainnya secara terampil, mengembangkan ciri personal positif seperti kendali diri, dan nilai-nilai seperti keadilan. (Kecerdasan emosional)

3.      Mampu menguasai sikap dan kecakapan yang membuat mereka mampu memulai mempertahankan belajar tanpa guru. (Kemandirian)

4.      Mampu terlibat dalam mutualitas, yang merupakan inti dari kerjasama dan basis dari demokrasi. (Saling ketergantungan)

5.      Mendapat pengalaman melalui sejumlah indera bersama-sama dari efek melihat, mendengar dan melakukan. (Sensasi ganda)

6.      Mendapatkan kesenangan yang nyata. (Fun)

7.      Mampu membicarakan atau menulis pikiran, seringkali dalam bentuk “draft”, sebagai suatu bagian penting dari proses penciptaan pemahaman personal. (Artikulasi)

8.      Mampu menghargai perbedaan antara sesama teman.

9.      Belajar saling hormat dan percaya dalam hal berbagi kepemimpinan.

10.  Belajar untuk selalu mengucap syukur kepada Allah Swt.

D.      SOFTWARE/PROGRAM YANG DIGUNAKAN

            Software/Program yang digunakan dalam model ini antara lain : microsoft office word 2007, power point 2007 (SK-KD, materi, dll),  windows media player (video pendukung materi), winamp (music), flash player, dan media player classic. Media atau alat peraga lain yang digunakan dalam pembelajaran ini antara lain : peta, globe, foto-foto, gambar-gambar, kertas burem (flipchart), karton, dan spidol.

E.       STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

            Standar Kompetensi : Memahami Perkembangan Islam di Dunia

Kompetensi Dasar :  1.   Menjelaskan perkembangan Islam di dunia

2.      Memberikan contoh perkembangan Islam di dunia

3.      Mengambil hikmah dari perkembangan Islam di dunia

F.       LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN 

1.      Kegiatan Awal : Berdo’a, appersepsi dan motivasi.

Tahap 1  

Menayangkan cuplikan film untuk mengondisikan dan meng-up grade otak peserta didik agar lebih siap menerima pembelajaran. Guru menunjukan pada siswa tujuan pelajaran dan tes yang akan mereka hadapi dengan menggunakan slide. Siswa diberi satu menit saja untuk membaca seluruh teks, kemudian matikan. Mereka tidak diperbolehkan mencatat. Pastikan mereka memahami bahwa mereka akan menghadapi tes ini di bawah kondisi ujian, tanpa referensi ke materi apa pun atau siapa pun, di Tahap 5.

2.      Kegiatan Inti, meliputi;

Tahap 2  

Membagi siswa menjadi 5 kelompok. Pada saat pembagian kelompok siswa diajak bermain sambil menyisipkan materi-materi untuk masing-masing kelompok. Tiap kelompok mengubah materi sumber untuk sub divisinya ke dalam tampilan visual, sebuah “poster”, yang menggunakan kertas besar dan spidol. Poster tersebut harus dirancang untuk dilihat dan dipahami pengunjung (ditahap 3). Poster ini bisa memiliki hingga sepuluh kata dan tidak lebih (sesuai menurut materi, tetapi jangan biarkan mereka memiliki terlalu banyak kata atau aktivitas ini akan rusak). Kelompok dianjurkan mengunakan sebanyak mungkin angka, diagram, simbol, gambar, grafik, kartun, sketsa dan hurup inisial, tetapi tidak lebih dari sepuluh kata. Kelompok berkolaborasi di sini, memastikan bahwa tiap orang dalam kelompok memahami materi dan berkontribusi pada “poster” ini. Jika perlu, beri tiap anggota kelompok spidol dengan warna berbeda dan hadapkan melihat ketiga warna tersebut di produk akhirnya.

“PASAR INFORMASI”

STAND 1

 

STAND 2

 

STAND 3

 

STAND 4

 

STAND 5

 

 

Mendekati akhir tahap ini, beri tiap kelompok persyaratan minimum. Ini merupakan detail spesifik yang harus dimasukan dalam poster yang akan memastikan bahwa pengunjung mendapat akses ke informasi yang benar untuk tes. Persyaratan minimum hanya dapat berupa pertanyaan yang diambil dari tes yang sesuai dengan materi tiap kelompok. Sebagai contoh: “setidaknya pastikan bahwa poster anda memberi jawaban untuk pertanyaan ini …”

Misalnya : Tokoh-tokoh Islam di Amerika adalah… dsb.

Tahap 3  

Sekarang tiap kelompok hanya memiliki sepotong informasi yang diperlukan untuk berhasil dalam tes. Jadi, kelompok harus belajar dari yang lainnya. Dalam persiapan, tiap kelompok harus menentukan siapa salah satu anggotanya yang akan tinggal dan menjadi “penjaga stand”. Anggota lainnya pergi ke luar ke “pasar” untuk mengumpulkan informasi. Penjaga stand mengiklankan bisnisnya dengan meneriakan judul sub divisi kelompoknya, sehingga pelanggan dapat menemukan jalannya. Penjaga stand menjelaskan posternya kepada pengunjung, tetapi hanya diperbolehkan menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh pengunjung. Periset yang pergi ke pasar harus mengunjungi semua sub divisi lain dari topik tersebut. Mereka harus mengatur diri mereka sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan dalam batas waktu, sehingga mungkin mereka memutuskan membagi kerja dan bekerja secara individu. Mereka semua harus mencatat sehingga mereka dapat mengajar kelompoknya secara efektif pada tahap 4. Tugas mereka adalah melihat poster kelompok lain, mencoba memahami ide-ide dan informasi yang digambarkan dan bertanya kepada penjaga stand untuk klarifikasi, penjelasan dan perluasan. Jika mereka mempunyai cukup waktu, mereka dapat pergi ke versi lain dari sub divisi yang sama untuk informasi cek silang.

Situasi Pasar

Tahap 4  

Semua kembali ke home base. Mereka yang pergi ke pasar untuk meneliti informasi sekarang bergantian mengajarkan apa yang telah mereka ketahui. Ini adalah kesempatan untuk memperjelas pemahaman. Siswa dapat kembali untuk melihat poster atau mengajukan pertanyaaan cepat untuk mengecek detail. Tujuannya adalah agar setiap orang di akhir tahap ini siap untuk tes, dorong semua anggota kelompok membuat catatan melihat dan melakukan, mendengar, membantu, menyerap informasi. Selama tahap ini, bagikan kertas tes yang menghadap ke bawah untuk tiap kelompok sebagai persiapan tahap 5.

   Tahap 5

Semua catatan, poster dan materi sumber orisinil disingkirkan. Tes ini dilakukan di bawah kondisi ujian, secara individu dan dengan tenang.

 

 

 

3.      Kegiatan Akhir

Tahap 6

Sebelum guru membahas tes, siswa diajak relaksasi dengan bernyanyi bersama-sama dengan guru. Dalam setiap kelompok, siswa sekarang menggabungkan pikiran mereka bersama untuk melihat mereka jika dapat memperoleh jawaban yang lengkap dan akurat di antara mereka. Penting bahwa mereka tidak tahu tahap ini di awal.

Akhirnya, guru membahas tes, dengan perhatian pada pertanyaan yang pada umumnya dianggap sulit oleh kelompok. Untuk tiap pertanyaan sulit ini guru minta sukarelawan mencoba menjawabnya. Kemudian, sebagai usaha terakhir, guru mengajar. Guru mengajar dengan menggunakan alat bantu pembelajaran.[17] Dengan cara ini celah diisi lubang disumbat. Kemudian di akhir pembelajaran guru mengajak siswa untuk mendengarkan sebuah kisah/cerita.

Manfaat yang dapat diambil dari kegiatan pasar informasi ini adalah :

1.      Dengan meminta siswa menyampaikan informasi menggunakan kata-kata yang terbatas, mereka dipaksa memahami materi.

2.      Kegiatan ini berjalan dengan “grain of the brain” dengan meminta siswa melihat pola dan membuat kaitan. Hal ini sangat sesuai neokorteks.

3.      Kita tahu bahwa peer teaching itu efektif. Siswa diharuskan menyampaikan materi berkali-kali.

4.      Kegiatan ini memberi siswa suatu contoh pembuatan catatan yang dapat di transfer mengidentifikasi kata-kata kunci menggunakan tatanan non-linear dan berbagai simbol.

5.      Kegiatan ini mendorong penggunaan kecerdasan visual, mendukung siswa yang tidak mudah menangkap kata, dan menarik bagi siswa lain.

6.      Ini membangun keterampilan belajar mandiri, termasuk: memilih informasi; mengajukan pertanyaan yang benar; teknik presentasi verbal dan visual; mengingat; mengenai tekanan; bekerja dalam kondisi ujian.

7.      Kegiatan ini menciptakan suatu contoh kerjasama yang saling bergantung.[18]

 

G.      PENUTUP 

Tidak ada suatu model rancangan pembelajaran yang dapat memberikan resep paling ampuh untuk mengembangkan suatu program pembelajaran. Oleh karena itu, dalam menentukan model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran tergantung pada pertimbangan si perancang (guru) terhadap model yang akan digunakan atau dipilih.

Suatu model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya. Misalnya model inkuiri. Model inkuiri ini membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains yang menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Kriteria keberhasilan dari proses belajar dengan menggunakan model inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.

 

 

 

[1] Disampaikan pada Lomba Kreasi Model Pembelajaran PAI Berbasis ICT Tingkat Nasional Tahun 2010 Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Kementerian Agama Republik Indonesia.

 

[2] Peserta lomba adalah guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK N 1 Kota Pagar Alam Sumatera Selatan.

 

[3] Mohammad Nur, Pembelajaran Langsung, (Surabaya : Pusat Sains dan Matematika Sekolah Universitas Negeri Surabaya University Press., 2000).

 

[4] Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta : Bumi Aksara, 2007), hal. 89.

 

[5] Suatu model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran lainnya. Adapun jenis model mengajar atau pembelajaran secara umum ada 4 (empat) macam yaitu : The informational models (model pemrosesan informasi), personal models (model pribadi), interactive models (model interaksi), dan behavioral model (model prilaku). MD Dahlan, Model-model Mengajar: Beberapa Alternatif Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung : Diponegoro, 1900), cet. Ke-2, hal. 21 dan 30-31.

 

[6] Richard I. Arends, Learning to Teach Belajar untuk Mengajar (terjemah Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto), (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008), cet. 1, hal. 259.

 

[7] Burhan Yasin & Agus Gerrad Senduk, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, (Malang : UM Press, 2004), hal. 19.

 

[8] Model Pembelajaran Inkuiri berangkat dari asumsi bahwa sejak lahir manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahunannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera pengecap, pendengaran, penglihatan, dan indera-indera yang lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus-menerus berkembangan dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari rasa keingintahuan itu. Dalam rangka itulah strategi/model inkuiri dikembangkan.

 

[9] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta : Prenada Media Group, 2008), hal. 194.

 

[10] Bruce Joyce, Marsha Weil and Emily Calhoun, Models of Teaching, (New York : Pearson, 2009), hal. 310.

 

[11] Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa lain. Oleh karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.

 

[12] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta, 2009), hal. 58.

 

[13] Inkuiri (menemukan) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Ibid., hal. 89.

 

[14] Wina Sanjaya, op. cit., hal. 196.

 

[15] Wina Sanjaya, op. cit., hal. 205.

 

[16] Paul Ginnis, Trik dan Taktik Mengajar: Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran di Kelas, terj. Judul asli; Teacher’s Toolkit: Classroom Achievement with Strategies for Every Learner, (Jakarta : Indeks, 2008), hal. 140.

 

[17] Alat bantu pembelajaran adalah perlengkapan yang menyajikan satuan-satuan pengetahuan melalui stimulasi pendengaran atau penglihatan atau keduanya untuk membantu pembelajaran. Alat pembelajaran itu antara lain; Terbitan Berkala, Buku, Surat Kabar, Slide, Filmstrip, Model, Grafik & Bagan, Bahan-bahan Bergambar, Globe & Peta, Tape Recorder, Disc Foto, Radio, Gambar-gambar Bergerak dan Televisi. Kochar S. K., Pembelajaan Sejarah Teaching of History, (Jakarta : Grasindo, 2008), hal. 214, 218.

 

[18] Paul Ginnis, op. cit., hal. 143.Variasi 1. Gunakan ini untuk merevisi, bukan untuk mempelajari materi baru. 2. Sebagai ganti tes tanya jawab di akhir, bisa diadakan tugas. Contohnya, untuk menulis laporan atau esai, untuk membuat serangkaian rencana dengan kata kunci, atau membuat produk. 3. Sebagai ganti memproses ulang materi sumber yang diberi oleh guru, kelompok bisa menyiapkan poster untuk menjelaskan ide mereka untuk satu desain, solusi suatu masalah, percobaan, metode riset, atau serangkaian gerakan dalam tarian. Pada tahap 4, siswa dengan tidak kalutnya mencoba saling mengajarkan fakta dan konsep, tetapi menjelaskan ide kelompok lain dan mendiskusikan yang menurut mereka terbaik. 4. Bukannya membiarkan siswa berkeliling pasar dengan menentukan rutenya sendiri dalam jangka waktu mereka sendiri, gunakan pendekatan terstruktur. Gerakakanlah siswa secara memutar dalam sirkus dari satu stand ke stand lain dalam satu internal tertentu. 5. Pertahankan aktivitas ini dalam beberapa seri pelajaran. Kelompok bisa mengambil dua atau tiga pelajaran untuk meriset materi mereka dari berbagai sumber; mereka mungkin memerlukan satu pelajaran penuh untuk menyiapkan stand mereka, yang lebih dari pada sebuah poster sederhana tetapi memiliki rekaman audio, foto, atau presentasi power point di laptop. 6. Siswa menentukan pertanyaan untuk bagian tes mereka. Kemudian dicek, dan jika perlu diperbaiki, oleh guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: